Anemia pada kehamilan


anemia pada kehamilan

 

 

 

 

Pada masa kehamilan, ibu hamil banyak mengalami perubahan fungsi beberapa organ antara lain kardiovascular, sistem respirasi, urogenital, dan musculoskeletal. Salah satu yang banyak menjadi permasalahan adalah anemia pada kehamilan. untuk dapat mengetahui penyebabnya kita perlu mengetahui perubahan fisiologis peredaran darah wanita hamil.

Memasiki usia 5 minggu kehamilan, wanita hamil akan mengalami perubahan aliran darah dimana terjadi peningkatan cardiac output sebesar 30%-50 %. peningkatan ini akan mempengaruhi aliran darah ke ginjal dan ke kulit serta rahim. tujuan peningkatan cardiac output ini adalah untuk memenuhi metabolisme dan nutrisi janin serta mencegah terjadinya kekurang banyak darah pada saat persalinan terjadi. Disamping itu peningkatan cardiac output juga akan meningkatkan beban jantung, jadi ibu hamil tidak perlu khawatir jika merasa sesak dan cepat lelah karena hal tersebut dialami hampir semua ibu hamil akibat peningkatan beban jantung.

Selain peningkatan cardiac output, ibu hamil juga akan mengalami peningkatan volume plasma. volume plasma akan meningkat sebanyak 50% dimulai dari trimester pertama dan akan menetap hingga menjelang persalinan. peningkatan volume plasma ini lebih tinggi dibanding kan dengan peningkatan pembetukan sel darah merah sehingga walaupun sel darah merah juga mengalami peningkatan sebesar 20-30% tetapi tidak sebanding dengan peningkatan volume plasma. hal ini akan menyebabkan konsentrasi hemoglobin menurun sehingga terjadi anemia ringan.

anemia ringan pada kehamilan dapat tidak bergejala, diketahui hanya dengan melakukan pengambilan sampel darah. tetapi jika anemia  semakin memberat, ibu akan merasakan pusing, terputar, cepat lelah, lemas, dan sulit berkegiatan. untuk itu pada saat ibu hamil datang melakukan antenatal care sebaiknya diberikan tablet FE atau penambah darah agar terjadi anemia.

 

Posted in Artikel Kedokteran0 Comments

Penghambat Adrenergik


Obat-obatan yang tergolong dalam kelompok ini adalah alfa-blocker, beta-blocker, alfa-bet-blocker. Alfa-blocker (penyekat alfa) bekerja dalam pembuluh darah perifer, menghambat pengambilan katekolamin pada sel otot halus sehingga menyebabkan pelebaran pembuluh darah, hingga tekanan darah pun turun. Beta-blocker bekerja pada jantung untuk meringankan stres, sehingga jantung perlu lebih sedikit darah dan oksigen. Sedangkan alfa-beta-blocker bekerja dengan menghambat efek sistem saraf simpatis. Bila ada rangsangan stres, sistem saraf simpatis akan segera memberikan respon dengan meningkatkan tekanan darah. Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker yang efektif untuk pasien hipertensi pada usia muda, pasien yang pernah mengalami serangan jantung, pasien dengan denyut jantung cepat, nyeri dada, dan sakit kepala migren.

Posted in Terapi Hipertensi0 Comments

Ekshibisionisme


I. PENDAHULUAN

Ekshibisionisme (dari bahasa Latin “exhibere”: mempersembahkan, menawarkan) yang berarti suatu perilaku menyimpang dimana individu memamerkan organ-organ seksual kepada orang lain, biasanya terhadap orang asing, sehingga pelakunya bisa mendapatkan kepuasan seksual. Perilaku ini bersifat kompulsif. Pelaku yang paling banyak adalah pria. (1,2)

Meskipun seringkali para ekshibisionis mungkin tidak puas secara seksual. Namun melalui perilakunya, mereka mencoba memprovokasi reaksi-reaksi dari orang yang melihatnya menjadi terkejut, takut atau jijik, sehingga membuat mereka puas. Dengan kata lain, reaksi yang tenang dan menertawai akan menyebabkan mereka frustasi dan merasa malu. Biasanya, para penderita ekshibisionisme tidak akan menyerang atau mendekati korban mereka, tapi melarikan diri setelah memperlihatkan alat genital mereka. Beberapa diantaranya menjadi lebih terangsang dan kemudian masturbasi.(1)

Onset terjadinya paling banyak pada usia lebih muda atau sama dengan 18 tahun tapi dapat juga terjadi pada usia yang lebih tua.Kelainan ini menyebabkan distress atau penderitaan di bidang sosial, pekerjaan.atau dibidang yang lain. (1,3)

 

II. DEFINISI

                   Ekshibisionisme adalah suatu gangguan mental yang ditandai dengan adanya dorongan untuk memperlihatkan organ seksual kepada orang asing atau kepada orang banyak di tempat umum tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab. Apabila yang menyaksikan itu terkejut , takut atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.(5,8) Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kedokteran, Referat Kedokteran0 Comments

Kelebihan Berat Badan Erat Kaitannya dengan Psoriasis


Psoriasis adalah penyakit autoimun yang mengenai kulit, ditandai dengan sisik yang berlapis berwarna keperakan, disertai dengan penebalan warna kemerahan dan rasa gatal atau perih. Bila sisik ini dilepaskan maka akan timbul bintik perdarahan di kulit dibawahnya.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa menurunkan berat badan dapat mengurangi gejala Psoriasis

Penelitian ini diikuti sekelompok besar orang gemuk yang memiliki psoriasis, kondisi kulit kronis, lebih dari empat bulan, sekitar setengah dari mereka secara acak ditugaskan untuk diet rendah kalori. Mereka yang berada di kelompok diet, yang kehilangan sekitar 34 kilogram lebih daripada rata-rata rekan-rekan mereka, memiliki iritasi kulit kurang dan melaporkan peningkatan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Psoriasis, kondisi autoimun, menyebabkan merah, patch bersisik pada kulit. Semakin banyak studi telah menemukan bahwa orang dengan kondisi tersebut berada pada peningkatan risiko kelebihan berat badan atau obesitas dan lebih mungkin untuk terkena penyakit jantung.

Para penulis dari studi baru yang dipublikasikan dalam JAMA Dermatology, mengatakan hubungan antara obesitas dan psoriasis sebagian dapat dijelaskan  oleh common denominator: peradangan. Obesitas dikaitkan dengan peradangan, dan psoriasis, pernah dianggap hanya mempengaruhi kulit, sekarang dikenal menjadi cerminan peradangan kekebalan terkait sistemik dan kronis.

Posted in Artikel Kesehatan1 Comment

Manfaat Kalsium untuk Ibu Hamil


Makanan yang kaya nutrisi sangat mutlak diperlukan bagi ibu hamil. Karena nutrisi tersebut dibutuhkan bagi bayi yang sedang tumbuh didalam rahim dan kebutuhan ini pun masih berlanjut hingga ibu melahirkan dan menyusui. Dari berbagai vitamin dan mineral yang terkandung dalam makanan tersebut, salah satu mineral yang cukup penting bagi tubuh adalah kalsium.

Kiprah Kalsium

kiprah kalsium pun cukup beragam, dimana hamper sebagian besar organ tubuh membutuhkan kehadiran mineral yang satu ini, misalnya :

  1. Kalsium diperlukan untuk kontraksi otot
  2. Sistemperedaran darah dan kardiovaskular
  3. Sistem saraf
  4. Aktivitas hormonal seperti dalam proses pencernaan, metabolism karbohidrat dan lemak serta produksi air liur.
  5. Mengangkut zat-zat gizi melalui membran sel.

Namun, peran kalsium yang paling utama adalah dalam proses pembentuka tulang dan gigi, tidak itu saja, kalsium juga diperlukan sebagai penjaga kesehatan tulang dan gigi. Kandungan kalsium pada tulang dan gigi sebesar 99 %, sedangkan sisanya terletak pada darah, membrane dan struktur sel serta cairan tubuh lain. Itu sebabnya, tulang bisa dikatakan sebagai “bank kalsium” dan memiliki fungsi utama sebagai alat penopang tubuh.

Kemampuan tubuh menyerap kalsium pun dapat berubah sesuai dengan kondisi tubuh dan mineral atau vitamin lain yang ada dalam tubuh. Pada ibu hamil,penyerapan ini akan meningkat karena bayi pun memerlukan kalsium untuk proses tumbuh kembang, terutama tulang dan gigi.

Apa yang terjadi bila tubuh kekurangan kalsium Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kesehatan1 Comment

Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)


ACEI bekerja dengan menghambat pembentukan hormone angiotensin II, hormon yang menyebabkan pembuluh darah menyempit sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan dihambatnya angiotensin II, ACEI akan melebarkan pembuluh darah dan membiarkan lebih banyak darah mengalir ke jantung, sehingga menurunkan tekanan darah. Yang tergolong ACEI adalah captopril dan lisinopril. ACEI efektif diberikan pada penderita hipertensi usia muda, gagal jantung, juga pada pria yang impotensi sebagai efek samping dari obat lain.

Posted in Terapi Hipertensi0 Comments

HATI-HATI TOXOPLASMA DAN HEWAN PELIHARAAN ANDA


Nama ini mungkin tidak asing lagi buat kita namun hanya segelintir orang yang mengerti tentang penyakit ini. Jika anda sedang hamil, atau berencana untuk hamil ataupun sedang memelihara kucing, itu berarti anda patut untuk waspada dengan penyakit yang satu ini. Toxoplasma disebabkan oleh toxoplasma gondii . penularannya dapat terjadi melalui beberapa cara, yakni:

1.       Secara tidak sengaja menelan tinja kucing yang di dalamnya terdapat telur toxoplasma gondii, hal ini biasanya tidak kita sadari menyentuh mulut dengan tangan Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kesehatan1 Comment

Tuberkolosis Paru


tuberkolosis paruTuberkulosis paru merupakan penyakit saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis, mikobakterium humanus, dan mikobakterium  bovis. Bakteri ini merupakan bakteri tahan asam.  Mikobakterium ini masuk ke dalam paru-paru melalui udara yang dihirup kemudian akan mengalami proses yang disebut ghon atau fokus primer. Sebagian besar  (90%) akan sembuh sendiri dan 10 % akan mengalami penyebaran ke organ-organ lain. Tuberkulosis paru primer adalah peradangan yang terjadi sebelum tubuh mengalami kekebalan imunitas  terhadap mikobakterium tuberkulosis. Mikobakterium tuberculosis primer sebagian besar menyerang anak-anak 1-3 tahun . pada tahap awal dapat memberikan keluhan atau tanda-tanda seperti di bawah ini :

  • Suhu badan meningkat ringan atau subfebril (demamnya tdk terlalu tinggi)
  • Anak tampak sakit
  • Nyeri pada persendian sehingga anak tampak cerewet4.  Malaise, anoreksia, anak kelihatan lelah dan disertai keluhan nafsu makan menurun
  • Uji kulit dengan PPD (tuberculin) menunjukkan reaksi negative.

Posted in Info Penyakit0 Comments

Long Case Subdivisi Urologi


  1. I.              IDENTITAS PASIEN

Nama                 : S*** R***

Jenis Kelamin    : Laki-laki

Umur                 : 15 tahun

RM                    : ******

MRS                  : …………….

Alamat               : ……………

Rawat                : UGD RS WS

Status                 : ASKES

 

  1. II.           ANAMNESIS

Keluhan Utama : Kencing bercampur darah

Anamnesis terpimpin:

Dialami sejak 4 hari yang lalu, awalnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas (27 April 2013) di Mamuju. Setelah kecelakaan pasien sadar dan berobat ke Rumah Sakit Mamuju kemudian dilakukan tindakan pemasangan kateter di rumah sakit tersebut. Saat itu air kencing yang keluar dari kateter tampak bercampur darah dan disertai bekuan darah. Selama diobservasi di RS Mamuju pasien sadar dan melihat kencingnya yang keluar dari kateter bercampur darah. Saat itu juga pasien mengeluhkan nyeri pada pinggang sebelah kiri yang terus menerus dan tidak menjalar.

Nyeri ini dirasakan juga setelah mengalami kecelakaan dan rasanya bertambah selama dirawat di Rumah Sakit Mamuju, terutama saat pasien berusaha merubah posisi tidurnya. Selama dirawat di Rumah Sakit Mamuju pasien mendapatkan informasi tentang penyakitnya oleh dokter yang merawat dan telah diberikan pengobatan berupa antibiotik dan antinyeri, serta dianjurkan untuk mendapatkan pengobatan yang lebih lanjut di Makassar.

Pasien dan keluarga pasien setuju untuk dirujuk ke RS Awal Bros dengan menggunakan ambulans, selama dirujuk pasien dalam kondisi sadar dan dipasangi cairan infus serta dalam pengawasan perawat. Saat tiba di RS Awal Bross, kondisi pasien tetap sadar, dan air kencing yang keluar dari kateter tetap tampak bercampur darah dan disertai bekuan darah. Namun, pasien tidak sempat ditangani karena ruang perawatan terisi penuh. Selanjutnya pasien dipindahkan ke RS Ibnu Sina dengan kondisi tetap sadar dan diinformasikan untuk diberikan tindakan lebih lanjut di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Setelah tiba di RS Wahidin Sudirohusodo, pasien tetap sadar dan air kencing yang keluar dari kateter tampak masih berwarna merah.

Riwayat tidak sadar setelah kecelakaan lalu lintas tidak ada.

Riwayat kencing bercampur darah sebelum mengalami kecelakaan lalu lintas tidak ada.

Riwayat nyeri pada pinggang sebelum mengalami kecelakaan lalu lintas tidak ada.

Riwayat nyeri pada saat kencing sebelum mengalami kecelakaan lalu lintas tidak ada.

Mekanisme trauma : Pasien sedang mengendarai sepeda motor besar menggunakan helm, dengan kecepatan tinggi dan berusaha mendahului mobil yang ada didepannya dari sisi kanan namun mobil tersebut tiba – tiba berbelok ke arah kanan sehingga pasien menabrak sisi kanan mobil tersebut. Saat tabrakan, perut pasien menghantam stir motornya dan kepala pasien menghantam kaca jendela mobil tersebut di saat yang bersamaan, dan pasien terjatuh dari motor dengan bagian badan sebelah kanan terlebih dahulu menghantam aspal. Setelah tabrakan pasien sadar dan diantar oleh teman sekolahnya ke RS Mamuju.

  1. III.        PEMERIKSAAN FISIS

Primary Survey :

Airway               : Tidak ada obstruksi

Breathing             : Simetris kiri dan kanan, tidak tampak hematom dan deformitas,   frekuensi pernapasan 22x/menit.

Circulation         : Nadi 96x/menit, kuat angkat, reguler, Tekanan darah 130/80 mmHg, capillary refill time   kurang dari 2 detik, dan akral hangat.

Disability                       : GCS 15,  (E4M6V5), Pupil isokor ukuran 2,5 mm/2,5 mm, Refleks cahaya     langsung mata kanan dan kiri ada, Refleks cahaya tidak langsung mata kanan dan kiri ada.

Enviroment        : Suhu 36,90C

Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kedokteran, Referat Kedokteran0 Comments

PEMERIKSAAN DIABETES MELITUS


Definisi Diabetes Melitus (DM) sesuai Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus 2002 adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan pada:1

  1. Kerja insulin
  2. Sekresi insulin
  3. Atau keduanya (1 dan 2)

 

Bila berlangsung terus dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan berbagai organ khususnya mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah.1

 

Definisi Diabetes Melitus (DM) menurut The American Diabetes Association (ADA) adalah jika:2

  1. Kadar GDP (Glukosa Darah Puasa) plasma > 126 mg/dL.

atau;

  1. Kadar GDS (Glukosa Darah Sewaktu) plasma > 200 mg/dL.

atau;

  1. Kadar glukosa pada 2 jam pasca TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral)    > 200 mg/dL.

 

Definisi menurut ADA:2

  • Hiperglikemia atau kadar glukosa darah diatas normal adalah jika kadar GDP  > 110 mg/dL.
    • Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) adalah jika:
  1. Kadar GDP  antara  110 – 126 mg/dL.
  2. Hasil TTGO antara  110 – 200 mg/dL.

 

Menurut Perkeni 2002 Kriteria diagnostik DM* dan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) adalah:3, 4

 

  1. Kadar GDS plasma vena > 200 mg/dL.

atau:

  1. Kadar GDP plasma vena > 126 mg/dL.

atau:

  1. Kadar glukosa plasma vena > 200 mg/dL pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO.**

 

 

*    Kriteria diagnostik tersebut harus dikonfirmasi ulang pada hari yang lain, kecuali untuk keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik berat seperti ketoasidosis, gejala klasik poliuri, polidipsi, polifagi dan BB menurun cepat.

 

 

**  Cara diagnosis dengan kriteria 3 tidak dipakai rutin di klinik.

 

Beberapa rekomendasi untuk TTGO:5

  • ADA: tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin DM tipe 1 dan 2 dan hanya digunakan untuk diagnosis DM Gestasional (DMG).
  • WHO: direkomendasikan bila tes GDP antara 110 – 125 mg/dL.
  • Konsensus Pengelolaan DM tipe 2 di Indonesia 2002: direkomendasikan bila tes GDP antara 110 – 125 mg/dL atau tes GDS antara 110 – 199 mg/dL.

 

Kriteria diagnosis TGT bila:1

  • Kadar glukosa darah post prandial yang diukur dengan TTGO adalah antara 140 – 200 mg/dL dengan atau tanpa glukosa darah puasa terganggu.
  • Kadar glukosa darah puasa antara 110 – 126 mg/dL.

 

Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa darah meningkat tetapi belum mencapai parameter untuk didiagnosis sebagai DM. 1

 

Menurut ADA tujuan terapi  DM adalah normalisasi kadar glukosa atau kendali DM. Kendali DM optimal dapat mencegah atau menunda terjadinya komplikasi makroangiopati terutama penyakit kardiovaskuler dan mikroangiopati DM (neuropati, retinopati, nefropati dan aterosklerosis).1

III. TES LABORATORIUM DM

Jenis tes pada pasien DM dapat berupa tes saring, tes diagnostik, tes pemantauan terapi dan tes untuk mendeteksi komplikasi.

 

TES SARING

Tes-tes saring pada DM adalah:1

  • GDP
  • GDS
  • Tes Glukosa Urin:

–  Tes konvensional (metode reduksi/Benedict)

–  Tes carik celup (metode glucose oxidase/hexokinase)

 

 

TES DIAGNOSTIK

Tes-tes diagnostik pada DM adalah:1

  • GDP
  • GDS
  • GD2PP (Glukosa Darah 2 Jam Post Prandial)
  • Glukosa jam ke-2 TTGO

TES MONITORING TERAPI

Tes-tes monitoring terapi  DM adalah:1

  • GDP                            :  plasma vena, darah kapiler
  • GD2 PP                       :  plasma vena
  • A1c                              :  darah vena, darah kapiler

 

TES UNTUK MENDETEKSI KOMPLIKASI

Tes-tes untuk mendeteksi komplikasi adalah:1

  • Mikroalbuminuria        :  urin
  • Ureum, Kreatinin, Asam Urat
  • Kolesterol total            :  plasma vena (puasa)
  • Kolesterol LDL           :  plasma vena (puasa)
  • Kolesterol HDL          :  plasma vena (puasa)
  • Trigliserida                  :  plasma vena (puasa)

IV.  NILAI RUJUKAN DAN INTERPRETASI TES DM

Nilai rujukan Tes Glukosa Darah:1

Tes Sampel (mg/dL) (mmol/L)
GDS

 

Plasma vena Darah kapiler < 110

<   90

< 6,1

< 5,0

GDP

 

Plasma vena Darah kapiler < 100

<   90

< 5,6

< 5,0

GD2PP

 

Plasma vena Darah kapiler < 140

< 120

< 7,8

< 6,7

 

Catatan: Untuk satuan SI Unit dalam mmol/L, satuan dalam mg/dL dikali dengan faktor 0, 05551.

Interpretasi Tes Glukosa Darah:1, 3

Tes Sampel Bukan DM Belum Pasti DM
DM
(mg/dL) (mmol/L) (mg/dL) (mmol/L) (mg/dL)
(mmol/L)
GDS

 

Plasma vena

Darah kapiler

< 110

<   90

< 6,1

< 5,0

110–199

90–199

6,1–11,0

5,0–11,0

> 200

> 200

> 11,1

> 11,1

GDP

 

Plasma vena

Darah kapiler

< 110

<   90

< 6,1

< 5,0

110–125

90–109

6,1–7,0

5,0–6,1

> 126

> 110

> 7,0

> 6,1

GD2PP

 

Plasma vena

Darah kapiler

< 140

< 120

< 7,8

< 6,7

140–200

120–200

7,8–11,1

6,7–11,1

> 200

> 200

> 11,1

> 11,1

 

Interpretasi TTGO (WHO):5

Kriteria GDP
0 jam 2 jam
  (mg/dL) (mmol/L) (mg/dL) (mmol/L)
GDPT > 110 serta < 126 6,1 > serta < 7,0 < 140 < 7,8
TGT < 126 < 7,0 > 140 serta < 200 7,8 > serta < 11,1
DM > 126 > 7,0 > 200 > 11,1

 

 

Interpretasi Tes Glukosa Urin Kualitatif:1

Warna : Interpretasi: (1+) s/d ( 4+) mungkin/diduga DM
Hijau kekuningan dan keruh Positif +      (1+): sesuai dengan 0,5–1 % glukosa
Kuning keruh Positif ++    (2+): sesuai dengan 1–1,5 % glukosa
Jingga / warna lumpur keruh Positif +++  (3+): sesuai dengan 2–3,5 % glukosa
Merah keruh Positif ++++(4+): sesuai dengan > 3,5 % glukosa

Interpretasi Tes Glukosa Urin Semikuantitatif:1

Hasil: Interpretasi : + s/d ( 4+ ) mungkin / diduga DM
+ : sesuai dengan    50 – < 250   mg/100ml    glukosa
  Positif +         (1+) : sesuai dengan   250 – < 500   mg/100ml    glukosa
Positif ++       (2+) : sesuai dengan   500 – < 1000 mg/100ml    glukosa
Positif +++     (3+) : sesuai dengan 1000 – < 2000 mg/100ml    glukosa
Positif ++++   (4+) : sesuai dengan       > 2000      mg/100ml    glukosa

Nilai Rujukan Varian HbA:1

Jenis HbA
Nilai rujukan Pada DM
A1a
1,6 % 2,5 %
A1b 0,8 % 3,9 %
A1c 5,0 % 8,0 – 11,9 %
A1 total 5,5 – 8,0 % 10,9 – 15,5 %

 

 

Interpretasi Tes A1c:3

 

Kriteria Pengendalian
Kriteria A1c (%)
Baik <  6,5
Sedang 6,5 –  8
Buruk >  8

Interpretasi Tes Albuminuria: 3

Kategori
Urin 24 jam
Urin  dalam waktu tertentu
Urin sewaktu
mg/24jam mg/menit mg/mg kreatinin
Normal < 30 < 20 < 30
Mikroalbuminuria 30 – 299 20 – 199 30 – 299
Makroalbuminuria > 300 > 200 > 300

 

GDP (mg/dl)   80 – 109   110 – 125   ³ 126
GD2 jam (mg/dl)   80 – 144   145 – 179   ³ 180
A1c ( % )   < 6,5   6,5 – 8   > 8
Kolesterol Total (mg/dl)   < 200   200  – 239   ³ 240
Kolesterol LDL (mg/dl)   < 100   100  – 129   ³ 130
Kolesterol HDL (mg/dl)   > 45        
Trigliserida (mg/dl)   < 150   150 – 199   ³ 200
Mikroalbuminuria   < 30 mg/24jam (< 20 mg/menit)   30–300 mg/24jam

(20–200 mg/menit)

  > 300 mg/24jam

(> 200 mg/menit)

IMT (kg/m2)   18,5 – 23   23 – 25   > 25
Tekanan Darah (mmHg)   < 130/80   130–140/80–90   > 140/90
 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TES SARING: GDP, GDS, GLUKOSA URIN

Tujuan:1

Untuk mendeteksi kasus DM sedini mungkin, sehingga dapat dicegah kemungkinan terjadinya komplikasi kronik akibat penyakit ini.

 

Indikasi:3

Bila terdapat salah satu faktor resiko DM sebagai berikut:

  • Usia > 45 tahun
  • Berat Badan (BB) lebih: BB >110 % BB idaman atau IMT > 23 kg/m2.
  • Hipertensi (>140/90 mmHg).
  • Riwayat DM dalam garis keturunan.
  • Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BB lahir bayi  > 4000 g.
  • Kolesterol HDL < 35 mg/dL, dan atau Trigliserida > 250 mg/dL).

Keterangan : IMT= BB/TB2 (Berat Badan/Tinggi Badan kuadrat).

TES DIAGNOSTIK: GDP,GDS,GD2PP,GLUKOSA Jam ke-2 TTGO

Tujuan: 1

Untuk memastikan diagnosis DM pada individu dengan keluhan klinis khas DM atau mereka yang terjaring pada tes saring.

 

Indikasi:1

  • Ada keluhan klinis khas DM: poliuria, polidipsi, polifagia, lemah,          penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
  • Tes saring (lihat juga indikasi pada tes saring) menunjukkan hasil:

a. GDS:           plasma vena   =  110 – 199 mg/dL  (6,1–11,0 mmol/L)

darah kapiler  =    90 – 199 mg/dL  (5,0–11,0 mmol/L)

atau

b. GDP:           plasma vena   =  110 – 125 mg/dL  (6,1–7,0 mmol/L)

darah kapiler  =    90 – 109 mg/dL  (5,0–6,1 mmol/L)

atau

c. Tes urin glukosa / reduksi positip.

 

  • Indikasi  Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) bila:

a.   Keluhan klinis tidak ada, dan pada tes diagnostik pertama:

GDS:   plasma vena     = 110 – 199 mg/dL  (6,1–11,0 mmol/L)

GDP:   plasma vena     = 110 – 125 mg/dL  (6,1–7,0   mmol/L)

b.  Tes diagnostik pertama :

GDS:   plasma vena     = > 200 mg/dL  (11,1 mmol/L)

GDP:   plasma vena     = > 126 mg/dL  (7,0 mmol/L)

 

Setelah diulang :

GDS:   plasma vena     = < 200 mg/dL (11,1 mmol/L)

GDP:   plasma vena     = < 126 mg/dL  (7,0 mmol/L)

(lihat algoritme)

  1. DM Gestasi

 

TES MONITORING TERAPI: GDP, GD2PP, A1c dan TES UNTUK MENDETEKSI KOMPLIKASI DM: Tes Mikroalbuminuria (MAU), Ureum, Kreatinin, Asam Urat dan Tes Fraksi Lipid.

 

Tujuan:1

Memantau keberhasilan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi kronik DM.

 

Indikasi:1

Individu yang didiagnosis DM, Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), atau GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) pada tes saring.

 

Langkah-langkah pelaksanaan pengendalian DM adalah sebagai berikut:1

  • Tes glukosa darah (GDP, GD2PP) frekuensinya tergantung kebutuhan pasien.
  • Tes A1c , 2 – 4 kali setahun.
  • Edukasi pasien DM  tentang penanganan diabetes, sekali setahun.
  • Edukasi pasien DM tentang terapi dan diet, sekali setahun.
  • Pemeriksaan mata, sekali setahun.
  • Pemeriksaan kaki, 1–2 kali setahun oleh dokter, setiap hari oleh pasien.
  • Skrining nefropati diabetika dengan tes mikroalbuminuria, sekali setahun.
  • Pemeriksaan tekanan darah, sesering mungkin.
  • Tes fraksi lipid, sekali setahun.

TES GLUKOSA DARAH: GDS, GDP, GD2PP, TTGO

Hal-hal yang penting mengenai tes glukosa darah:1

  • Menggambarkan faktor resiko penyakit kardiovaskuler dan berbagai penyakit dengan mortalitas tinggi.
  • Glukosa post prandial merupakan prediktor mortalitas yang lebih baik dibanding glukosa puasa.
  • Glukosa post prandial juga berhubungan dengan kematian non kardiovaskuler
  • Peningkatan kadar glukosa post prandial sejalan dengan tingkat mortalitas.

PRAANALITIK.

Persiapan pasien untuk tes glukosa darah:1

  • GDP :

–    Pasien dipuasakan 8 – 12 jam sebelum tes.

–    Semua obat dihentikan dulu, bila ada obat yang harus diberikan  ditulis pada formulir permintaan tes.

 

  • GD2PP:

–     Dilakukan 2 jam setelah tes GDP.

–    Pasien diberikan makanan yang mengandung 100 gram karbohidrat sebelum tes dilakukan.

 

  • TTGO (WHO, 1994):3

–    Tiga (3) hari sebelum tes makan seperti biasa (karbohidrat cukup).

–    Kegiatan jasmani seperti yang biasa dilakukan.

–    Puasa minimal 8 jam dimulai malam hari sebelum tes dilakukan, minum air

putih diperbolehkan.

 

TES GLUKOSA URIN: BENEDICT, CARIK CELUP

a.   TES  BENEDICT (Kualitatif).

PRAANALITIK.

  • Persiapan Pasien:1

Sama dengan persiapan pasien pada tes glukosa darah puasa dan tes glukosa darah    post prandial.

Nilai Rujukan: 1

Glukosa Negatif: bukan DM bila hasil tes urin berwarna biru, sesuai dengan < 0,5 % glukosa.

PASCAANALITIK.

Interpretasi:1

 

Warna : Interpretasi: (1+) s/d ( 4+) mungkin/diduga DM
Hijau kekuningan dan keruh Positif +      (1+): sesuai dengan 0,5–1 % glukosa
Kuning keruh Positif ++    (2+): sesuai dengan 1–1,5 % glukosa
Jingga / warna lumpur keruh Positif +++  (3+): sesuai dengan 2–3,5 % glukosa
Merah keruh Positif ++++(4+): sesuai dengan > 3,5 % glukosa

b.  TES CARIK CELUP (Semi Kuantitatif).

PRAANALITIK.

  • Persiapan Pasien: Sama dengan persiapan pasien pada tes Benedict.

PASCAANALITIK.

Interpretasi:1

 

Hasil: Interpretasi : + s/d ( 4+ ) mungkin / diduga DM
+ : sesuai dengan    50 – < 250   mg/100ml    glukosa
  Positif +         (1+) : sesuai dengan   250 – < 500   mg/100ml    glukosa
Positif ++       (2+) : sesuai dengan   500 – < 1000 mg/100ml    glukosa
Positif +++     (3+) : sesuai dengan 1000 – < 2000 mg/100ml    glukosa
Positif ++++   (4+) : sesuai dengan       > 2000      mg/100ml    glukosa

TES A1c

Hemoglobin pada orang dewasa terdiri dari HbA (95 – 100 %), HbA2  2 – 3 %) dan HbF (< 1 %). HbA terdiri dari HbAo dan HbA1. HbAo merupakan fraksi HbA yang tidak mengalami glikosilasi (92 – 94,5 %) sedangkan HbA1 adalah fraksi HbA yang mengalami glikosilasi (5,5 – 8,0 %).1

 

Hb terglikosilasi (Glycosilated Hemoglobin) adalah hemoglobin yang terikat dengan glukosa dan atau karbohidrat lainnya terhadap gugus amino. HbA1 adalah serangkaian HbA yang terglikosilasi dimana karbohidrat berikatan secara spesifik pada N terminal valin dari rantai b.1

 

HbA1 terdiri dari tiga varian yaitu HbA1a, HbA1b dan HbA1c. HbA1c menunjukkan presentase terbesar (80 %) dari HbA1 total dalam eritrosit, oleh karena itu maka tes HbA1c yang paling sering dilakukan.1

 

Varian HbA1 Komponen
A1a1 Fruktosa -1,6- bifosfat berikatan pada HbA1
A1a2 Glukosa -6- fosfat berikatan  pada HbA1
A1b Jenis karbohidrat yang berikatan belum jelas
A1c Glukosa berikatan pada HbA1c

 

Hb A1c (Hemoglobin Adult 1c) atau A1c adalah HbA1 yang terikat secara spesifik dengan glukosa pada N-terminal valin dari rantai b membentuk  pre-HbA1c yang tidak stabil (basa schiff) dan selanjutnya melalui penyusunan kembali dengan reaksi ‘Amadori’  membentuk SA1c (ketoamin) yang stabil.1

 

Tes Hb A1c atau tes A1c merupakan pedoman untuk  memonitor terapi DM karena dengan tes A1c dapat diperoleh informasi rata-rata kadar glukosa darah selama 40 – 60 hari terakhir, sesuai  dengan  waktu  paruh  eritrosit dan untuk mengetahui kualitas pengendalian glukosa darah pada pasien DM dalam kurun waktu tersebut. Pada tes A1c  kadar glukosa  tidak dipengaruhi oleh fluktuasi glukosa harian.1

 

Frekuensi tes A1c disesuaikan dengan kebutuhan pasien secara individual diantaranya:1

Terapi berdasarkan tipe DM
Frekuensi yang di rekomendasikan
DM tipe 1 dengan terapi minimal / sedang 3 –  4 kali pertahun
DM tipe 1 dengan terapi intensif setiap 1 –  2 bulan
DM tipe 2 2 kali pertahun untuk pasien stabil
DM pregestasi setiap 1 –  2 bulan
DM gestasi setiap 1 –  2 bulan

Keterangan :

–         DM dengan terapi minimal atau sedang; DM yang mendapatkan terapi insulin dengan MSI (Multipel  Subcutaneus Insulin).

–         DM dengan terapi intensif; DM yang mendapat terapi insulin dengan MSI dan CSII (Continue Subcutaneus Insulin Infus).

 

PRAANALITIK.

Persiapan Pasien: Pasien tidak perlu dipuasakan.1

 

Nilai Rujukan:1

 

Jenis Hb
Nilai rujukan Pada DM
A1a
1,6 % 2,5 %
A1b 0,8 % 3,9 %
A1c 5,0 % 8,0 – 11,9 %
A1 total 5,5 – 8,0 % 10,9 – 15,5 %

PASCAANALITIK.

Interpretasi:3

 

Kriteria Pengendalian
Kriteria A1c (%)
Baik <  6,5
Sedang 6,5 –  8
Buruk >  8

 

 

Kendali DM dengan kadar  A1c 7,0 – 7,9% dapat menurunkan resiko:1

–          Komplikasi DM 12 %

–          Komplikasi Mikrovaskuler 25 %

–          Ekstraksi katarak 24 %

–          Infark Miokard 16 %

–          Retinopati (dalam waktu 12 tahun) 21 %

–          Albuminuria (dalam waktu 12 tahun) 33 %

 

Penanganan dini dan pengendalian penyakit metabolik dapat mencegah penyakit jantung koroner.1

Hal yang harus diperhatikan pada tes A1c:1

  • Berbagai kasus yang menyebabkan penurunan kualitas hidup eritrosit dapat menurunkan persentase kadar A1c seperti anemi hemolitik atau penyebab hemolitik lain , kehamilan, perdarahan akut dan kronik, dll.
  • Nilai A1c tidak akurat bila ada varian Hb antara lain HbF (>10 %), dapat menurunkan kadar A1c. HbS dan HbC dapat meningkatkan hasil tes kadar A1c. Kadang-kadang varian N-terminal rantai B juga dapat mempengaruhi.
  • Tes A1c dapat mendiagnosis DM tapi tidak menggantikan kedudukan tes glukosa harian darah dan urin.

 

 

TES MIKROALBUMINURIA

 

Deteksi dini Nefropati DM dapat dilakukan dengan tes mikroalbuminuria. Menurut   Ad Hoc Comittee of the Council on Diabetes Mellitus of the National Kidney Foundation di AS indikasi tes mikroalbuminuria sebagai berikut:1

Tes skrining mikroalbuminuria metode carik celup:

–         Untuk pasien DM tipe 1 (pada  masa remaja/pubertas atau setelah 5 tahun didiagnosis sebagai DM), tanpa adanya proteinuria, frekuensi tes sekali setahun.

–         Untuk pasien DM tipe 2 (setahun setelah didiagnosis sebagai DM), frekuensi tes sekali setahun.

 

PRAANALITIK.

Persiapan pasien:

Tidak ada persiapan khusus, dan tidak ada variasi diurnal pada mikroalbuminuria DM.1

 

Nilai rujukan:1

< 20 mg/L (< 0,02 g/L) atau < 30 mg/24jam ( < 0,03  g/24jam)

 

 

PASCAANALITIK.

Interpretasi:

Tabel Klasifikasi Albuminuria.3

Kategori
Urin 24 jam
Urin  dalam waktu tertentu
Urin sewaktu

(rasio albumin kreatinin)

mg/24jam mg/menit mg/mg kreatinin
Normal < 30 < 20 < 30
Mikroalbuminuria 30 – 299 20 – 199 30 – 299
Makroalbuminuria > 300 > 200 > 300

 

Posted in Artikel Kedokteran3 Comments

Page 1 of 3112345...102030...Last »