BATU GINJAL


1. Etiologi:

  • Belum diketahui secara pasti
  • Banyak batu disebabkan banyak faktor
  • Analisis batu yg baik menunjukkan patogenesis mekanisme dari batu s. kemih
  • 2/3 batu s. kemih terdiri atas kalsium oksalat / campuran ka-oks & ka-fosfat dalam bentuk hidoksi apatite
  • Batu Mg-Am-Ph / struvit jmlh 15% :
  • Timbul pada pend. dg infeksi s. kemih disertai pemecahan urea o/ mikroorg dan urine yg tetap alkalis
  • Batu urat & sistin kira-kira 10%

2. Faktor-faktor yang Pengaruhi Perkembangan & Pertumbuhan Batu

A. Hiperekskresi bahan yg larut dlm urine

1. Kalsium:

Diet kalsium berlebihan

Imobilisasi yg lama

Hiperparatiroid

Hipervitaminose D

2. Oksalat, jarang

3.  Sistin, % kecil dari komposisi batu

4.   Asam urat:

–    Destruksi jaringan cepat (kemoterapi)

–    Pemakaian allopurinol

–    Diarrhea khronis / Ileostomi

5.   Matrix batu, infeksi berat

6.   Benda asing

B. Perubahan Fisis Urine

1.         Konsentrasi garam & zat organik tinggi :

–           Intake cairan kurang

–           Panas tinggi, cairan banyak keluar

2.   Rasio Mg / Kalsium, pemakaian asetosalamide (Diamox), sebabkan hiperkalsiure yg menurunkan ratio ini sehingga terbentuk batu

3. Ph Urine (mean Ph  = 5,85, dipengaruhi diet, asam/alkalis, obat

4. Nidus, pada presipitasi kristal :

– Kalsium oksalat menjadi batu

– Randall`s plaque

5. Kelainan anatomis :

– Kaliektasis

– Medulari spongi

3. GAMBARAN KLINIS

Simptom

  • Dull pain, sakit menetap dipinggang : Ada obstruksi koliks & uvj maka terjadi distensi parekim dan kapsul ginjal
  • Kolik : Hiperperistaltik & spasme otot polos & pelvis
  • Hematuri, karena iritasi batu pada mukosa dan infeksi
  • Renointestinal refleks yakni rangsangan peritoneum, sebabkan mual, muntah, dll
  • Panas & menggigil akibat infeksi

4. LABORATORIUM

  • Lekositosis, kalau ada infeksi
  • Anemia, kalau fungsi ginjal terganggu
  • Sedimen urine ada banyak lekosit, eritrosit dan bakteri
  • Ureum dan kreatinin darah meningkat

5. GAMBARAN RADIOLOGI

radiologi


1. FPA/PIV :

–        90% batu radioopaque nampak

–        Jelas menentukan lokasi batu

–        Jelas menentukan besar batu

–        Jelas menentukan jumlah batu

–        Jelas menentukan komplikasi batu

2. RPG :

–        Dilakukan kalau hasil FPA/PIV meragukan

–        Batu radiolusen nampak dengan RPG

3. USG :

–        Menentukan ada batu radiopaque/lusen

–        Sulit menentukan lokasi batu

6. DIAGNOSIS BANDING

1.        Pielonefritis akut, beri gejala sama

DD : Radiologis

2.        Tumor ginjal, beri gejala kolik bila ada sumbatan bekuan darah diureter

DD : Gambaran klinis & Radiologis

3.        TBC ginjal, gejala menyerupai

DD : ………s/d 2

7. PENGOBATAN

Konservatif

1.         Tidak dilakukan pembedahan

2.         Berantas infeksi

3.         Usahakan disolusi untuk cegah larutan

–        Minum 3 liter/24 jam

–        Irigasi dengan bahan kimia

Indikasi :

  • Batu kecil dikoliks minor
  • Orang tua dengan risiko tinggi
  • Batu terjadi karena renal tubular asidosis

Pembedahan

1. Indikasi :

–        Pengobatan konservatif tidak berhasil

–        Infeksi rekurent

–        Obstruksi

–        Follow up, batu tambah besar

2. Jenis Pembedahan :

–        Nephrolitotomi, pembedahan batu ginjal

–        Pielolitotomi, pembedahan batu pielum

Minimal invasif

Pengobatan batu ginjal tanpa bedah dengan risiko ringan :

  • Electroshock wave lithotripsi / ESWL
  • Percutaneus litotripsi / PCNL
  • Laser endoskopik / Fusolith

Posted in Artikel Kesehatan, Info Penyakit0 Comments

KANKER USUS BESAR (KOLOREKTAL) DAPAT DICEGAH


Kanker usus besar (kolorektal) adalah kanker yang dapat dicegah dan disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini. Lebih dari 90% pasien yang terdiagnosis penyakit ini memiliki harapan hidup yang lebih dari 5 tahun.

Seperti umumnya proses timbulnya kanker, kanker usus besar mulanya disebabkan oleh mutasi gen (bagian terkecil sel yang mengkode bagian pembuatan protein). Akibatnya timbul polip di dinding usus. Polip ini merupakan lesi jinak; banyak orang mempunyai polip tapi tidak menjadi kanker usus. Tapi diperkirakan 5% akan berkembang menjadi kanker. Maka, strategi pencegahan kanker usus besar adalah menghindari faktor-faktor pencetus mutasi gen dan mengetahui serta membuang polip sedini mungkin.

Hal-hal yang bisa mencegah kanker usus besar yaitu:

1.       Mengkonsumsi makanan berserat dengan jumlah cukup sebanyak 30 g/hari . kecukupan jumlah serat dapat diperoleh dari mengkonsumsi 8 porsi sayur dan buah, serta roti wholemeal.

2.       Mengurangi konsumsi daging merah. Konsumsi daging merah berhubungan dengan terbentukya senyawa N-nitroso dalam fases yang mencetuskan kanker usus besar. Konsumsi ikan dapat menurunkan resiko kanker. Untuk mengurangi konsumsi daging merah, para ahli menganjurkan konsumsi daging unggas (ayam, bebek, dsb)

3.       Menghindari obesitas. Selain factor resiko untuk penyakit jantung koroner dan diabetes tipe 2, obesitas juga diketahui faktor resiko untuk kanker usus besar, sehingga dianjurkan untuk mengurangi berat badan denga olah raga yang rutin.

4.       Hindari Menghirup Asap Rokok. Asap rokok dan produk tembakau yang lain terbukti meningkatkan resiko berbagai jenis kanker. Perokok lebih banyak mengalami polip yang berkembang menjadi kanker usus besar. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan lebih dari 100% resiko pada perokok dibandingkan yang tidak merokok.

5.       Hindari konsumsi minuman beralkohol. Selain merusak hepar (hati) juga meningkatkan resiko kanker usus besar.

Beberapa gejala kanker usus besar meliputi: Perubahan pola buang air besar, terutama feses encer lebih dari 6 minggu, perdarahan dari anus, dapat bercampur dengan feses maupun tidak, pemeriksaan skrining rutin untuk mendeteksi dini kanker ususbesar adalah dengan pemeriksaan darah samar dalam feses dan dapat dilanjutkan dengan kolonoskopi.

Posted in Info Penyakit0 Comments

case interna


PENDAHULUAN

Congestive Heart Failure adalah suatu kondisi patofisiologis dimana jantung  gagal memompakan darah yang sesuai dengan kebutuhan jaringan sekalipun aliran balik darah kejantung dalam keadaan normal ataupun bisa tetapi dengan pengisian tekanan diastole ventrikel kiri yang lebih tinggi.(1,2) Gagal jantung dapat disebabkan oleh kegagalan miokardium atau dapat juga muncul pada keadaan jantung normal akan tetapi kebutuhan jaringan meningkat. Gagal jantung selalu menyebabkan kegagalan sirkulasi tetapi kegagalan sirkulasi tidak selalu disebabkan oleh gagal jantung.(1)

Pada awalnya tubuh mempunyai mekanisme kompensasi untuk mempertahankan curah jantung yang tetap optimal sesuai dengan kebutuhan jaringan. Mekanisme-makanisme tersebut adalah mekanisme Frank Strarling yang bekerja dengan meningkatkan preload, hypertrophy dari miokardium yang mana akan memperkuat kontraktilitas dari jantung dan aktifasi system neurohormonal seperti pelepasan norephineprin dan aktivasi RAA system. Kesemua mekanisme diatas bermanfaat hanya pada awal penyakit, pada akhirnya mekanisme-mekanisme diatas malah akan memperberat gagal jantung itu sendiri.(1,3)

Diagnosis dari gagal jantung dapat didasarkan atas kriteria Framingham yaitu 2 dari kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor pada saat bersamaan.(5)

Kriteria Mayor

  1. Paroksismal nocturnal dispnea
  2. Peningkatan tekanan vena jugularis
  3. Rhonki basah tidak nyaring
  4. Kardiomegali
  5. Edema paru akut
  6. Irama derap S3
  7. Peningkatan tekanan vena › 16cm H2O
  8. Refluks hepatojugular
Kriteria minor

  1. Edema pergelangan kaki
  2. Batuk malam hari
  3. Dyspneu d’effort
  4. Hepatomegali
  5. Efusi pleura
  6. Kapasitas vital berkurang menjadi ⅓ maksimum
  7. Takikardi

Berdasarkan gejala sesak nafas New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional CHF kedalam 4 kelas(5)

Kelas I             : Bila pasien dapat melakukan aktifitas berat tanpa keluhan

Kelas II           : Bila pasien tidak dapat melakukan aktifitas lebih berat dari biasa tanpa keluhan

Kelas III          : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa keluhan

Kelas IV          : Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktifitas

Salah satu penyebab terjadinya gagal jantung adalah kelainan katup yang dapat berupa stenosis atau regurgitasi. Kelaianan ini dapat disebabkan oleh banyak hal. Berdasarkan etiologinya penyakit ini dibedakan atas rematik dan non rematik. Salah satu penyebab non rematik adalah Mitral Valve Prolaps yang akan menyebabkan terjadinya mitral insufisiensi pada beberapa pasien

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

  • Nama                           : Ny.J
  • Jenis kelamin               : Perempuan
  • Umur                           : 65 tahun
  • Alamat                                    : Desa Aska, Sinjai Selatan.
  • No. rekam medik        : 281184
  • Tanggal masuk            : 1/1/2007

ANAMNESIS

Keluhan Utama           : Berak hitam.

Anamnesis terpimpin  :

  • Dialami sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, berak berwarna hitam pekat seperti ter dan lengket. Frekuensi BAB biasa dengan konsistensi agak encer.
  • Pasien juga muntah hitam 2 hari yang lalu. Muntahannya bergumpal, nyeri ulu hati (+).
  • Demam (-), batuk (-), sesak (-), nyeri dada (-).
  • Selama ± 5 tahun, pasien sering merasakan nyeri pada persendian kedua lutut, karena itu pasien mengkonsumsi obat penghilang rasa nyeri terutama pada saat nyerinya muncul. Obat tersebut diperoleh dari Puskesmas, bentuknya kecil berwarna hijau.
  • BAK : Lancar, berwarna kuning.
  • BAB : Masih berak hitam, agak encer.
  • RPS :   Riwayat HT (-)

Riwayat DM (-)

Riwayat penyakit maag (+), obat yang sering di konsumsi adalah promag

PEMERIKSAAN FISIS

  • Status present              : sakit sedang / gizi kurang / komposmentis.

BB: 43 kg      TB: 155 cm

IMT: 17,89 kg/m2 RBW: 78,18 %

  • Tanda vital                  :  T: 100/70 mmHg.

N: 80x / menit, regular,lemah.

P : 24x / menit, Tipe : Thorakoabdominal.

S:  36,5 0 C

  • Kepala                   : Konjungtiva        : Anemis (+).

Sclera                  : Ikterus (-).

Bibir                    : Agak pucat.

Lidah                   : Kotor (-).

  • Leher                     : Deviasi trachea (-).

Massa tumor (-).

Nyeri tekan (-).

DVS R-2 cmH2O.

KGB tidak teraba.

  • Thoraks                 : I:  Simetris kiri = kanan.

P: Vocal fremitus kiri = kanan.

P: Sonor, BPH ICS VI kanan depan.

A: Vesikuler , BT =  Rh -/- , Wh -/-.

  • Jantung                  : I:  Ictus cordis ≠ nampak

P: Ictus cordis ≠ teraba.

P: Pekak, batas jantung kesan normal.

A: BJ I/II murni  reguler, bising (-).

  • Abdomen              : I:  Cembung, ikut gerak nafas.

P: Massa tumor (-), nyeri tekan (+) pada regio epigastrium

Hepar dan lien tidak teraba.

P: Tympani.

A: Peristaltik (+) kesan normal.

  • Ekstremitas           : Edema (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Laboratorium

Darah rutin: WBC=    : 9.6 x 103 /µL

RBC       : 2.29 x 106/µL

Hb          : 6.5  gr/dl

PLT        : 301 x 103 /µL

Kimia darah :  GDS                : 120 mg/dl

Ureum             : 56 mg/dl

Kreatitin          : 1,61 mg/dl

SGOT              : 18 µ/L

SGPT              : 19 µ/L

DIAGNOSIS KERJA

–          Hematemesis – melena e.c. gastropaty NSAID.

–     Suspek Osteo Arthritis

PENATALAKSANAAN AWAL

–     Diet lunak

–     IVFD RL  28 tpm.

–     Adona  1amp/ 8 jam / drips

–     Transamin 1amp/ 8 jam / drips

–     ulsikur   1amp/ 8jam / iv.

PEMERIKSAAN ANJURAN

–          kontrol DR

–          Urine Rutin

FOLLOW UP

Tanggal Perjalanan penyakit Instruksi dokter
2 Januari 2007

T: 100/70 mmHg

N: 72x /menit

P: 24 x /menit

S: 36,5o C

KU: baik

Kel: melena (+), mual (+), muntah (-), nyeri perut (+)

PF : anemis (+)

Diet lunak

IVFD  RL 28 tpm

Adona

20 November 2006

T: 100/70 mmHg

N: 92x permenit

P: 28 x permenit

S: 36,4o C

KU: Baik

Kel: Sesak + ↓↓

PF: DVS R+1 cmH2O

Bising sistolik 6/6

Rh-/-, acites +

Udem dorsum pedis +/+

Punksi acites ± 300 cc warna kuning kemerahan

Lasix 2 amp/ 12jam/ IV

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Aspilet 80mg 0-1-0

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

Anjuran : analisis cairan acites, albumin, globulin prot.total

22 November 2006

T: 110/80 mmHg

N: 100x permenit

P: 24 x permenit

S: 36,7o C

KU: Baik

Kel: Sesak ↓, perut terasa panas

Cairan asites: Keruh warna kuning kemerahan, leukosit 200/mm3, glukosa 115, protein 3,07, LDH 307, rivalta +, PMN 25, MN 75

Prot total 6,7 Albumin 3,3 Globulin 3,4

Conecta aff

Furosemide 40 mg 1-0-0

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Aspilet 80mg 0-1-0

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

Ciprofloxacin 500mg 2×1

Anjuran: HbSAg, Anti HCV

29 November 2006

T: 100/70 mmHg

N: 92x permenit

P: 24 x permenit

S: 36,8o C

KU: Baik

Kel: Bengkak diperut dan kaki

Lab: HbSAg (-), Anti HCV (-)

Rencana operasi katup

Konsul bedah thorax

Konsul gigi dan mulut

Konsul THT

Furosemide 40 mg 1-0-0

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Aspilet → stop

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

Ciprofloxacin 500mg 2×1

Anjuran: Elektrolit

6 Desember 2006

T: 110/70 mmHg

N: 80x permenit

P: 24 x permenit

S: 36,7o C

LP= 86 cm

KU: Baik

Kel: Perut besar, rasa panas (-)

Lab: WBC: 6.900 Hb: 12 Plt: 269 LED: 11/28 Ur: 28,8 Cr: 0,64 SGOT: 27 SGPT: 22

Na: 135 K: 4,1 Cl: 103

Furosemide → stop

Lasix 2 amp/12jam/IV

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

Anjuran: Kontrol DR, LED, SGOT, SGPT, Ur, Kr

12 Desember 2006

T: 110/70 mmHg

N: 90x permenit

P: 22 x permenit

S: 36,8o C

LP= 80 cm

KU: Baik

Kel: (-)

Lasix 2 amp/12jam/IV

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

16 Desember 2006

T: 110/80 mmHg

N: 96x permenit

P: 22 x permenit

S: 36,7o C

LP= 82 cm

KU: baik

Kel: (-)

Lasix 2 amp/12jam/IV

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

Anjuran: DR, GDS, SGOT, SGPT, Elektrolit, LED, PT, APTT, Ur, Kr

20 Desember 2006

T: 100/60 mmHg

N: 88x permenit

P: 24 x permenit

S: 36,7o C

LP= 84 cm

KU: baik

Kel: (-)

Lab: WBC: 6.700 RBC: 4,4×106 PLT: 192×103 Hb: 12,6 LED:8/23 Ur: 40 Kr: 1,13 SGOT: 21 SGPT: 26 GDS: 68 PT: 12,8 APTT: 30,2 Na: 137

K: 3,9 Cl: 103

Pre Opp tunggu jadwal

Lasix 2 amp/12jam/IV

Spironolakton 100 mg  1-1-0

Captopril 12,5 mg 1-0-1

Fosorbid 10 mg 1-1-1

Methioson 2×1

RESUME

Seorang pria usia 40 tahun MRS dengan keluhan dyspnea yang dialami sejak 3 hari SMRS, orthopnea (+),  PND (+). Batuk (+) disertai lendir warna putih, chest pain (-), palpitasi (-). Demam (-), mual (+), muntah (-), dyspepsia (-), ascites (+) tidak nyeri, edema dorsum pedis et pretibial (+).BAB biasa, BAK lancer warna kuning. Riwayat HT dengan obat teratur(+) sejak setahun lalu, riwayat opname dengan CHF NYHA II-III ec MI

Pada pemeriksaan fisik didapatkan status present SB/GC/CM, tanda vital TD 110/90 mmHg, Nadi 100 kali permenit, Pernapasan 36 kali permenit, suhu 36,70C. Kepala tak, leher DVS R+4 cm H2O. Thoraks rhonki basah halus pada basal kedua paru. Pada jantung batas kesan melebar disertai bising sistolik grade 4/6 dengan punctum maksimum diapeks yang menjalar ke axilla. Pada abdomen undulasi (+) hepar teraba 4 jari BAC kenyal tepi tajam NT (-). Pada ekstremitas didapatkan edema dorsum pedis et pretibial dextra dan sinistra.

Pada pemeriksaan Laboratorium didapatkan SGOT dan SGPT yang agak meningkat. Pada photo thorax didapatkan cardiomegali disertai elongasi et dilatasi aorta sedang pada echocardiografi diperoleh gambaran MVP, MI, PH(PAP 60 mmHg) TI.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang maka pasien ini didiagnosis                       : Fungsional     : CHF NYHA IV

Anatomis       : MI / TI

Kausa                        : Kelainan katup jantung

DISKUSI

Keluhan utama yang dirasakan paien ini yaitu dyspnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru sehingga terjadi transudasi cairan dari pembuluh darah paru-paru kejaringan intersisiel paru. Orthopnea terutama disebabkan oleh redistribusi cairan yang mana pada posisi berdiri tertimbun dikaki dan perut sehingga akan meningkatkan aliran darah balik yang akan memperberat sesaknya. Parocsismal nocturnal dyspnea terjadi karena kombinasi dari berbagai factor yaitu menurunya tonus simpatis, aliran darah balik yang bertambah, penurunan aktivitas pusat pernafasan pada malam hari, dan edema paru. Peningkatan tekanan vena jugularis merupakan manifestasi dari meningkatnya tekanan vena sistemik akibat peningkatan tekanan dalam ventrikel dan atrium kanan. Peninggian tekanan diatrium kanan akan diikuti oleh bendungan darah divena kava dan system vena lainnya sehingga mengakibatkan juga terjadinya hepatomegali. Batuk yang timbul pada pasien ini dapat merupakan manifestasi dari kongesti paru atau dapat juga merupakan efek samping dari pemberian captopril.

Insufisiensi mitralis diduga sebagai penyebab utama terjadinya gagal jantung pada pasien ini hal ini didasarkan pada ditemukannya bising sistolik yang terjadi akibat aliran darah yang berbalik keatrium pada saat ventrikel berkontraksi oleh karena tidak sempurnanya penutupan katup mitral. MVP dicurigai sebagai penyebab regurgitasi yang terjadi hal ini sesuai dengan hasil pemeriksaan echocardiographi yang menunjukkan adanya MVP, MI, dan TI.

Prinsip penanganan pasien ditujukan untuk menghilangkan gejala serta mengatasi penyebabnya. Pemberian diuretic dimaksudkan untuk menurunkan preload yang akan mengurangi beban kerja jantung. Kombinasi antara lasix atau furosemide dengan spironolakton dimaksudkan untuk mencegah terjadinya hipokalemia. Spironolakton yang merupakan suatu antagonis aldosteron dapat mencegah ekskresi kalium sehingga mengurangi terjadinya hipokalemia selain itu spironolakton juga bisa memperkuat kerja diuretic lain. Captopril diberikan sebagai vasodilator untuk mengurangi tekanan afterload Captopril merupakan suatu ACE inhibitor yang menghambat pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II berperan pada mekanisme kompensasi pada tahap awal terjadinya gagal jantung akan tetapi pada tahap akhir akan memperburuk gagal jantung yang terjadi. Aspilet diberikan untuk mencegah terjadinya thrombus karena aliran darah yang statis pada atrium kiri akan tetapi dihentikan sebagai tindakan persiapan akan dilakukannya operasi..Antibiotic juga diberikan sebagai profilaksis sebelum dilakukan operasi atau tindakan minor lainnya untuk mencegah terjadinya endokarditis .

Terapi pembedahan dapat dengan melakukan penggantian ataupun dengan rekonstruksi dari katup. Hal ini tergantung dari morphologi dan etiologi dari lesi tersebut. Pada MVP dapat dilakukan annuloplasty, memperpendek korda dan yang lainnya sesuai keadaan katup. Penggantian katup dilakukan apabila dengan rekonstruksi sudah tidak mungkin dicapai hasil yang diinginkan. Menurut para ahli semakin cepat operasi dilakukan akan semakin baik, sebelum terjadinya disfungsi dari ventrikel kiri. Karena apabila sudah terjadi disfungsi maka biasanya sudah irreversible walaupun sudah dilakukan penggantian katup.

Posted in Kasus Medis0 Comments

Masa nifas


nifas
Masa puerperium atau masa nifas adalah masa yang dimulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
Masa nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu 5:
  • Immediate pueperium ; 24 jam pertama setelah partus, dimana komplikasi yang akut mungkin terjadi
  • Early puerperium ; seminggu postpartum
  • Remote puerperium ; waktu yang dibutuhkan untuk involusi alat-alat genital, kembalinya haid, biasanya 6 minggu pada ibu yang tidak menyusui, dan kembalinya seluruh fungsi fisiologis. Baca Selengkapnya

Posted in Karya Tulis Ilmiah0 Comments

Referat STRES DAN HIPERTENSI


STRES DAN HIPERTENSI

M. Faisal Idrus

Abstrak

 

Hubungan antara stres dan hipertensi telah lama dievaluasi secara luas. Stres secara mendadak menunjukkan peningkatan tekanan darah melalui peningkatan cardiac output dan denyut jantung tanpa pengaruh resistensi perifer total. Pada keadaan stres akut didapatkan peningkatan kadar katekolamine, kortisol, vasopresin, endorphin dan  aldosteron, yang mungkin sebagian menjelaskan mekanisme peningkatan tekanan darah. Meskipun faktor utama yang berperan karena aktivasi sistem saraf simpatis telah  didukung oleh beberapa penelitian. Penelitian-penelitian pada tikus merupakan awal dari penelitian untuk menentukan jalur-jalur khusus sistem saraf pusat, yang mengubah rangsangan yang penuh stres menjadi tanda-tanda pencetus suatu respon kardiovaskuler tanpa partisipasi kortikal. Selanjutnya, stres akut akan mengurangi ekskresi natrium ginjal, yang kontribusi peningkatan tekanan darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres yang berkepanjangan mungkin mempengaruhi orang-orang atau hewan-hewan untuk memperpanjang periode hmerupakaipertensi dan pada populasi tertentu merupakan faktor resiko perkembangan stres penginduksi hipertensi. Kemungkinan stres yang berkepanjangan menyebabkan hipertensi merupakan akibat dari faktor tropik dari neurohormonal yang  menyebabkan hipertropi atau atherosklerosis vaskuler. Karena stres juga dapat mempengaruhi pengukuran tekanan darah yang disebabkan oleh fenomena “hipertensi- mantel putih” (white-coat hipertension), pada monitoring tekanan darah pasien rawat jalan timbul sebagai gambaran penting dalam mengevaluasi pasien dengan hipertensi. (Journal of Hypertension 1990, 8 (suppl 41: S103 – 107)

 

Key word : Sistem saraf simpatis – teknik relaksasi – hiprtensi renal – cardiac output

Pendahuluan

 

Stres dan hipertensi telah lama dianggap saling berhubungan, meskipun bukti-bukti yang mendukung hubungan ini masih tetap diperdebatkan. Penelitian yang sekarang ini merupakan tinjauan respon jantung, ginjal, endokrin, dan neurology terhadap stres akut pada hewan dan manusia serta mekanisme yang mendasari stress akut yang menyebabkan kenaikan tekanan darah. Tinjauan  ini meliputi penelitian-penelitian pertanyaan apakah stres jangka panjang dapat menyebabkan hipertensi yang ireversibel dan dengan perubahan patologik yang mungkin menyebabkan hipertensi ireversibel. Pada hewan dan populasi tertentu, secara genetik hiperaktivitas sistem simpatis menentukan suatu faktor resiko untuk berkembangnya stres yang menyebabkan hipertensi (stress induced hypertension). Ditambah lagi, masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian tekanan darah selama kunjungan rutin ke dokter yang menimbulkan stres penyebab hipertensi atau “hippertensi mantel putih”. Hal ini mendukung bahwa pemeriksaan tekanan darah di rawat jalan diperlukan pasien untuk menghindari pengobatan yang tidak perlu untuk hipertensi. Akhirnya penelitian-penelitian dengan menggunakan latihan relaksasi dalam pengobatan hipertensi yang tingan perlu ditinjau kembali.

 

Hemodinamik Kardiovaskuler Pada Stres Akut

 

            Dalam tinjauan ini stres didefinisikan sebagai akibat yang ditimbulkan oleh faktor psiko-emosional yang mengganggu keseimbangan kardiovaskuler pada hewan. Pengaruh dari stres akut pada sistem kardiovaskuler digambarkan secara baik dalam penelitian dari Brod dkk (1959). Brod dkk (1) mengevaluasi subjek-subjeknya sebelum dan selama stres emosional akut yang disebabkan kebutuhan subjek untuk melakukan pengurangan dua detik (2 s) selama empat menit. Selama stres ini rata-rata tekan an arterial meningkat dari 100 mgHg sampai 120 mgHg, tekanan darah meningkat karena peningkatan curah jantung (cardiac output), tanpa perubahan tahanan perifer total. Meskipun tahanan perifer total tidak dipengaruhi oleh stres, aliran darah regional dipengaruhi dengan cara yang berbeda. Aliran darah meningkat ke otot-otot, jantung, dan otak se rta berkurang dalam pembuluh darah splanchnic dan ginjal. Respon terhadap stres mental ini sangat mirip dengan perubahan hemodinamik yang disebabkan oleh olah raga ringan. Falkner dkk (2) menemukan bahwa peningkatan tekanan darah pada manusia adalah reversible dan berhubungan dengan peningkatan denyut jantung. Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kedokteran, Karya Tulis Imiah, Referat Kedokteran0 Comments

HATI-HATI TOXOPLASMA DAN HEWAN PELIHARAAN ANDA


Nama ini mungkin tidak asing lagi buat kita namun hanya segelintir orang yang mengerti tentang penyakit ini. Jika anda sedang hamil, atau berencana untuk hamil ataupun sedang memelihara kucing, itu berarti anda patut untuk waspada dengan penyakit yang satu ini. Toxoplasma disebabkan oleh toxoplasma gondii . penularannya dapat terjadi melalui beberapa cara, yakni:

1.       Secara tidak sengaja menelan tinja kucing yang di dalamnya terdapat telur toxoplasma gondii, hal ini biasanya tidak kita sadari menyentuh mulut dengan tangan Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kesehatan1 Comment

GAGAL JANTUNG (CARDIAC FAILURE)


jantung

Kegagalan  jantung  (payah jantung) yaitu  istilah  yang ditujukan  kepada kegagalan miokardium  yang  diperlihatkan oleh  berbagai keluhan dan tanda-tanda klinik akibat  penyakit dasarnya. Dalam keadaan ini Cardiac Output tak memenuhi   kebutuhan tubuh.
Berkurangnya cardiac Output pada payah jantung  menyebabkan penurunan “Renal Blood Flow” dan “Glomerular Filtration Rate). Perubahan2 dalam Hemodinamik ginjal ini  dihubungkan  dengan  Retensi Natrium  dan  air .   Meningkatnya volume darah sering dijumpai pada payah jantung  yaitu  meningkat sebanyak 10-20% pada  payah  jantung  sedang-berat  sampai 30-50% pada payah jantung  berat  atau  Refrakter. Sebagai  tambahan volume cairan  ekstravaskuler   bertambah  akibat meningkatnya tekanan kapiler.

Pengelolaan diitetik  :
Pada  umumnya  tindakan  ditujukan  kepada  meningkatnya  Cardiac Output atau menurunnya kerja jantung.

Pembatasan  Natrium merupakan salah satu cara yang  penting dalam pengobatan payah jantung.
Obat-obat  diuretika menyebabkan  kehilangan K, Mg dan Zn  melalui  urine.  Oleh  karena itu keseimbangan  mineral2  ini  perlu diperhatikan. Demikian pula obat digitalis bisa menyebabkan   Hipokalemia .

Tambahan   : PJK (penyakit jantung koroner) atau PJI  (penyakit  jantung  iskemik) meliputi  sindrom  klinik  akibat kegagalan  arteri koronaria mengsuplai darah yang  cukup ke  miokardium.  Dalam  istilah ini  termasuk Infark Miokard ,  Angina Pectoris  dan ”  Sudden Death ”  (kematian  mendadak) tanpa infark.
Dalam fase akut penyakit jantung, infark miokard,  gagal jantung kongestif, modifikasi diitetik diperlukan.

Energi   :
Pengurangan energi makanan selama  beberapa  hari setelah serangan jantung dianjurkan, apalagi pada penderita yang gemuk.

Bentuk makanan  : Pada tahap permulaan bentuk makanan  lunak atau  mudah dicerna, mencegah  digunakannya  tenaga  untuk makan.

Diit pada penyakit jantung

Tujuan  :
1.Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan jantung
2.Menurunkan berat badan bila penderita terlalu gemuk
3.Mencegah / menghilangkan penimbunan Natrium dan air.

Syarat-syarat  :
1.Energi rendah, terutama pada penderita yang terlalu gemuk
2.Protein dan Lemaksedang
3.Cukup Vitamin dan Mineral
4.Rendah garam bila ada hipertensi dan atau  udem
5.Mudah dicerna, tidak merangsang dan tidak  menimbulkan gas
6.Porsi kecil dan diberikan sering

Macam-macam diit dan indikasi pemberiannya  :

Diit Jantung I  :
Diberikan kepada penderita dengan infark miokard akut  atau gagal  jantung  kongestif berat. Diberikan berupa 1  –  1,5  liter cairan sehari selama 1 – 2 hari pertama bila  penderita dapat menerimanya.
Makanan ini sangat rendah energi (835 Cal).

Diit Jantung II  :
Diberikan  berangsur dalam bentuk lunak, setelah fase  akut dapat di atasi. Menurut beratnya Hipertensi atau Udem  yang  menyertai  penyakit, makanan diberikan sebagai Diit Jantung II  Rendah  Garam. Makanan ini rendah  energi  (1325  Cal),Protein, Thiamin.

Diit Jantung III  :
Diberikan sebagai makanan perpindahan dari diit Jantung  II
atau kepada penderita penyakit jantung tidak terlalu berat. Makanan diberikan dalam bentuk mudah cerna berbentuk  lunak  atau biasa. Makanan  ini  rendah energi (1756 Cal), tetapi  cukup  zat2 gizi  lainnya,  diberikan sebagai diit jantung  III  rendah  garam.

Diit Jantung IV  :
Diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diit Jatung  III atau  kepada penderita penyakit jantung  ringan.  Diberikan dalam bentuk biasa. Menurut beratnya Hipertensi atau  Udem  yang  menyertai  penyakit, makanan diberikan  sebagai  Diit  Jantung IV Rendah Garam. Makanan ini cukup energi dan  zat2  gizi.
Nilai Energi : 2023 Cal.

Makanan yang boleh dan tidak boleh diberikan  :

Golongan
Bahan Makanan
Makanan yang boleh diberikan Makanan yang  tidak boleh diberikan
Sumber   Hidrat   Arang

Sumber   Protein Hewani

Sumber   Protein  Nabati

Sumber   Lemak

Sayuran

Buah- buahan

Bumbu-   bumbu

Minuman

Beras, bulgur, singkong, talas,     kentang, makaroni, mie, bihun,   roti, biskuit, tepung2an, gula.

Daging sapi kurus, ayam, bebek terbatas.
Kacang-kacangan kering, maksimum 25g sehari; tahu, tempe   dan oncom.

Minyak, margarin, mentega sedapat mungkin tidak digunakan     untuk menggoreng, kelapa, santan encer dalam jumlah terbatas.

Sayuran yg tidak mengandung      gas: bayam, kangkung, buncis,kacang panjang, tauge, labu siamoyong, tomat, wortel, dsb.

Semua buah :nangka, adpokat hanya diberikan dalam jumlah terbatas.

Bumbu dapur, seperti:pala,  kayu manis, asam, gula, garam.

Teh encer,coklat,sirop,susu   dalam jumlah terbatas.

Kue-kue yg terlalu manis  dan gurih,
seperti: “cake”  tart, dodol dsb.

Semua daging berlemak, ham, ikan,telur

Goreng-gorengan,santan  kental.

Sayuran yang menimbulkan  gas, seperti: kol, sawi, lobak.

Lombok dan bumbu lain yg            merangsang.

Kopi, the kental, minuman    yg mengandung soda dan alkohol

Posted in Info Penyakit0 Comments

LAPORAN KASUS ABSES HEPAR


LAPORAN KASUS HEPATOMA

 hepa

 

 

 

  1. IDENTITAS PASIEN

 

NAMA                                                :Tn. A

KELAMIN                                         :Laki-laki

UMUR                                                :53 tahun

ALAMAT                                           :Dulang Toraja

RUMAH SAKIT                                : RS WS

TANGGAL MRS                               :12 Maret 2012

DOKTER RUANGAN                      :

 

  1. ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)

 

Keluhan Utama           : Benjolan pada perut kanan atas

Anamnesis Terpimpin  :

Dialami sejak ± 3 bulan yang lalu. Benjolan tersebut awalnya kecil dan semakin hari dirasakan semakin membesar sejak ± 1 bulan terakhir. Benjolan disertai dengan rasa nyeri pada daerah perut bagian kanan atas tetapi tidak menjalar ke tempat lain. Nyeri bersifat hilang timbul dan dirasakan seperti tertusuk. Nyeri ulu hati (-). Mual (-) Muntah (-). Nafsu makan menurun sejak ± 1 bulan terakhir. Pasien merasakan ada penurunan berat badan tetapi tidak diketahui berapa banyak penurunan berat badannya. Demam (-). Riwayat demam (+) ± 1 bulan yang lalu, tidak terus-menerus selama ± 1 minggu. Demam turun sendiri tanpa obat penurun panas. Sakit kepala (-). Batuk (-) Sesak (-) Nyeri dada (-).

BAB : Biasa, warna coklat. Riwayat BAB hitam (-)

BAK : Lancar, warna seperti teh pekat dialami sejak ±1 bulan yang lalu. Nyeri saat berkemih (-). Riwayat kencing berpasir (-) darah (-).

RPS :  Riwayat hipertensi (-). Riwayat DM (-). Riwayat penyakit jantung (-). Riwayat penyakit kuning (-). Riwayat alkohol (+) sejak ± 20 tahun yang lalu, pasien minum alkohol 1 atau 2 kali dalam seminggu tetapi kalau ada pesta kadang bisa habis sampai ± 5 liter satu kali minum. Baca Selengkapnya

Posted in Kasus Medis0 Comments

Tes Dengue pada Demam berdarah (Rapid Tes)


rapid tes dengue

Pendahuluan

Virus demam dengue tergolong dalam kelompok flavivirus yang tersebar luas secara epidemik dan epidemik diseluruh daerah tropik dan sub tropik di dunia. Virus dengue ditularkan melalui nyamuk aedes, vektor nyamuk yang paling berperan di daerah urban dan padat dalam Aedes aegypti. virus dengue bergejaa khas seperti demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, nyeri tulang belakang dan tungkai, limfadenopati, dan bintik-bintik makulopapiler

virus dengue di daerah endemik biasanya merupakan infeksi sekunder dan di daerah non-endemik biasanya infeksi primer. respon antibodi spesifik memungkinkan diagnosis dan pembedaan infeksi primer (IgM) dan infeksi sekunder (IgG). Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kesehatan0 Comments

GAMBARAN PEMBERIAN IMUNISASI DI KELURAHAN BAROMBONG PERIODE 1 JANUARI – 31 JUNI 2009


ABSTRAK

Muhammad Anwar M.

GAMBARAN PEMBERIAN IMUNISASI DI PUSKESMAS BAROMBONG PERIODE 1 JANUARI – 31 JUNI 2009-12-10

Di Indonesia Program imunisasi sudah digalakkan sejak tahun 1977. Namun, berdasarkan data tahun 2001- 2005 kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru mengalami peningkatan. Sedangkan data mengenai cakupan imunisasi sendiri di Indonesia belum begitu jelas. Menurut WHO-UNICEF, angka cakupan imunisasi campak, yang biasa dipakai untuk menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar adalah 78% di tahun 2005. Tetapi angka cakupan imunisasi campak ini belum tentu dapat menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar yang sebenarnya.

Untuk memperoleh informasi mengenai gambaran pemberian imunisasi di puskesmas Barombong, maka dilakukan penelitian dengan metode penelitian yaitu penelitian retrospektif.

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Sekitar duapuluh tahun terakhir, secara global telah terjadi perubahan paradigma dari “pengobatan ke pencegahan” (dari kuratif ke preventif). Yang menjadi dasar pemikiran perubahan paradigma ini adalah pendapat para ahli dalam pengobatan penyakit infeksi terhadap keterbatasan pengobatan antibiotika. Telah dirasakan makin hari makin banyak antibiotika yang tidak mempan lagi menghadapi bakteri penyebab penyakit infeksi berat (resistensi bakteri). Maka upaya pencegahan melalui imunisasi merupakan pilihan tepat, sebelum anak menderita penyakit infeksi berat.

Cikal pemikiran imunisasi ini pertama kali dilaksanakan dalam tahun 1797 oleh Jenner, seorang sarjana Inggris. Ia menggoreskan cairan luka dari sapi yang menderita cacar kepada James Phipps, seorang anak lelaki berumur 8 tahun. Kemudian ternyata anak tersebut terhindar dari penyakit cacar. Dalam pikiran sarjana ini timbullah gagasan untuk melindungi tubuh manusia terhadap penyakit infeksi ganas lainnya. Imunisasi atau sering kali disebut juga vaksinasi, merupakan upaya pencegahan penyakit-penyakit infeksi yang sangat efektif. Dengan memberikan vaksin, seorang  anak akan terhindar atau hanya bergejala ringan apabila terkena penyakit infeksi berat yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh vaksin sangat kecil apabila dibandingkan dengan penyakitnya. Sedangkan dampak positifnya, imunisasi dapat dikatakan suatu “investasi” untuk menjamin kesehatan di masa depan.

Di Indonesia Program imunisasi sudah digalakkan sejak tahun 1977. Namun, berdasarkan data tahun 2001- 2005 kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru mengalami peningkatan. Sedangkan data mengenai cakupan imunisasi sendiri di Indonesia belum begitu jelas. Menurut WHO-UNICEF, angka cakupan imunisasi campak, yang biasa dipakai untuk menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar adalah 78% di tahun 2005. Tetapi angka cakupan imunisasi campak ini belum tentu dapat menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar yang sebenarnya.

Perlu diketahui bahwa pemilihan imunisasi di satu negara dapat berbeda dengan negara lain, karena kejadian penyakit di tiap negara berbeda. Misalnya imunisasi BCG atau hepatitis B tidak menjadi kewajiban di negara amerika serikat, atau beberapa negara di eropa. Namun di indonesia merupakan imunisasi wajib, mengingat penyakit tuberkulosis (TB) dan hepatitis B merupakan penyakit yang banyak dijumpai. Maka untuk anak yamg tinggal di indonesia, para orang tua harus menaati jadwal imunisasi yang telah di tentukan pemeritahdan ikatan Dokter Anak Indonesia.

Melihat kenyataan yang diatas maka saya sebagai peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang gambaran pembarian imunisasi di kelurahan Barombong periode 1 januari – 31 juni 2009.

 

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang  masalah yang telah dikemukakan di atas maka rumusan  masalah dari penelitian ini adalah :

1.    Bagaimana gambaran pemberian imunisasi di kelurahan barombong pada umumnya dan beberapa ORW dalam wilayah kerja puskesmas Barombong pada khususnya.

2.              Bagaimana tingkat keberhasilan Puskesmas Barombong dalam memberikan imunisasi terkhusus pada bayi usia 0 – 12 bulan.

I.3. Tujuan Penelitian

I.3.1. Tujuan Umum

Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi di puskesmas Barombong periode 1 Januari – 31 Juni 2009.

I.3.2. Tujuan Khusus

1.    Untuk mengetahui tingkat keberhasilan Puskesmas Barombong dalam memberikan imunisasi terkhusus pada bayi usia 0 – 12 bulan.

 

I.4. Manfaat Penulisan

1.      Sebagai bahan masukan bagi institusi terkait guna diharapkannya masyarakat dapat lebih memahami mengenai pentingnya imunisasi untuk menjamin kesehatan anak di masa depan.

2.      Sebagai bahan masukan bagi institusi terkait guna diharapkannya masyarakat dapat lebih memperhatikan dan menaati jadwal imunisasi yang telah di tentukan agar anak dapat terhindar dari infeksi penyakit.

3.      Penelitian ini merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan serta pengembangan diri khususnya dalam bidang penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

II.1. Definisi

Kata imun berasal dari bahasa Latin (immunitas) yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular (Theophilus, 2000; Mehl dan Madrona, 2001).

Di Indonesia imunisasi mempunyai pengertian  sebagai tindakan untuk memberikan perlindungan (kekebalan) di dalam tubuh bayi dan anak, agar terlindung dan terhindar dari  penyakit-penyakit menular dan berbahaya  bagi bayi dan anak (RSUD DR. Saiful Anwar, 2002).

Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.  Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk (Gambar 1).

Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas (gambar 2).

Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut (gambar 3).

Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan. Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan.

Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah:

1.    Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa antibodi atau antitoksin.

2.    Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.

3.     Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.

4.    Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/imunisasi ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.

  • Reaksi antigen-antoibodi merupakan mekanisme perlawanan tubuh terhadap  penyakit.
  • Kadar antibodi yang tinggi dalam darah menjamin anak anda terhindar dari penyakit.
  • Kadar antibodi yang tinggi diperoleh dengan cara pemberian imunisasi
  • Untuk mempertahankan kadar antibodi yang tinggi, diperlukan imunisasi ulang dalam waktu-waktu tertentu.

Di manakah zat anti tersebut dibentuk tubuh? Pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa , kelenjar timus dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas di seluruh jaringan tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut. “Amandel” atau tonsil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Berbagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai jenis infeksi: lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak merendah”.

II.2. KLASIFIKASI

Ada 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Berikut ini akan diuraikan arti dan perbedaan kedua jenis imunisasi tersebut.

  1. Imunisasi Aktif

Berbagai jenis vaksin yang dikemukakan di atas bila diberikan pada anak anda merupakan contoh pemberian imunisasi aktif. Dalam hal ini tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah suatu rangsangan antigen dari luar tubuh, misalnya rangsangan virus yang telah dilemahkan pada imunisasi polio atau imunisasi campak. Setelah rangsangan ini kadar anti dalam tubuh anak akan meningkat, sehingga anak menjadi imun atau kebal. Jelaslah bahwa pada imunisasi aktif, tubuh anak sendiri secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh.

  1. Imunisasi Pasif

Berlainan halnya dengan imunisasi pasif. Dalam hal ini imunisasi dilakukan dengan penyuntikan sejumlah zat anti, sehingga kadarnya dalam darah akan meningkat. Zat anti yang disuntikkan tadi biasanya telah dipersiapkan pembuatannya di luar tubuh anak, misalnya zat anti yang terdapat dalam serum kuda yang telah dimurnikan. Jadi pada imunisasi pasif, kadar zat anti yang meningkat dalam tubuh anak itu bukan sebagai hasil produksi tubuh anak sendiri, tetapi secara pasif diperoleh karena suntikan atau pemberian dari luar tubuh. Contoh imunisasi pasif ialah pemberian ATS (Anti Tetanus Serum) pada anak yang mendapat luka kecelakaan. Serum anti tetanus ini diperoleh dari darah kuda yang mengandung banyak zat anti tetanus. Contoh imunisasi pasif lain terjadi pada bayi baru lahir. Bayi itu menerima berbagai jenis zat anti dari ibunya melalui darah uri (plasenta), misalnya zat anti terhadap penyakit campak ketika bayi masih dalam kandungan ibu.

a. Vaksin BCG

Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus Calmette guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan.

Di Indonesia dan di negara sedang berkembang lainnya, TBC masih merupakan penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara yang sudah berkembang, penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan, karena dilaksanakannya imunisasi BCG dengan luas, pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan keadaan sosial ekonomi.

Seorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. Mungkin juga bayi sudah terjangkit penyakit TBC sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan, bila ibu mengidap penyakit TBC. Tetapi hal ini jarang terjadi. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat menyerang berbagai alat tubuh. Yang diserangnya ialah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang paling berat. Salah satu dari sekian banyak upaya pemberantasan penyakit TBC ialah imunisasi BCG. Dengan imunisasi BCG diharapkan penyakit TBC dapat diberantas dan kejadian TBC yang berat dapat dihindari.

Cara imunisasi: Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji Mantoux sebelum imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil uji Mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi BCG.

Reaksi imunisasi: biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar anda berkonsultasi dengan dokter.

Efek samping: umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di ketiak atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar di selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan arena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam. Dalam masalah komplikasi yang ringan ini, bila terdapat keraguan dipersilahkan anda berkonsultasi dengan dokter.

Kontra Indikasi: tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoux positif.

  • Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan sedini-dininya, dalam waktu beberapa hari setelah bayi lahir.
  • Cara pemberian imunisasi BCG bagi perorangan berlainan dengan pemberian secara massal.
  • Imunisasi BCG secara massal tanpa didahului uji Mantoux, tidak membahayakan.
  • Dengan imunisasi BCG akan anda akan bebas terjangkit penyakit TBC. Setidak-tidaknya ia terhindar dari penyakit TBC yang berat dan parah.

b. Vaksin DPT (Difteriaa, Pertusis, Tetanus)

Vaksin dan jenis vaksin: manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Dalam peredaran di pasaran terdapat 3 jenis kemasan vaksin ketiga penyakit ini. Anda dapat memperolehnya dalam bentuk kemasan tunggal khususnya bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (dikenal pula sebagai vaksin tripel).

Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan 2-3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan jarak waktu antara 2 penyuntikan 4-6 minggu. Imunisasi dasar dengan 3 kali penyuntikan lebih baik daripada dengan 2 kali penyuntikan. Untuk imunisasi massal (di sekolah, RT/RW), biasanya cukup diberikan 2 kali penyuntikan. Imunisasi ulang lazimnya diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun (sebelum masuk sekolah dasar), dan menjelang umur 10 tahun (sebelum keluar Sekolah Dasar), masing-masing hanya diberi 1 kali suntikan.

Reaksi imunisasi: reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.

Efek samping: kadang-kadang terdapat akibat samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteria dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.

Indikasi kontra: imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak. Dokter akan mempertimbangkan pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita sakit ringan.

c. Vaksin  DT (difteria, Tetanus)

Jenis vaksin: vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus. Misalnya anak anda tidak diperbolehkan atau tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteria atau tetanus.

Cara imunisasi: pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan pada imunisasi DPT.

Efek samping: akibat samping biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.

Indikasi kontra: hanya pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih dapat diberikan imunisasi DT.

d. Vaksin Difteria

Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan (=toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DPT.

Penjelasan penyakit: Di Indonesia difteri masih banyak dijumpai, bahkan mungkin timbul secara luas dalam waktu bersamaan. Di negara maju pun difteri masih belum lenyap, misalnya di Amerika Serikat masih terdapat di pelosok perkotaan yang penduduknya padat dan kurang mampu.

Penyakit difteri disebabkan oleh sejenis bakteria yang disebut Corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia berhubungan langsung dengan anak lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (carrier), yaitu dengan terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata menderita difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang carrier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi carrier.

Anak yang terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain itu pada tonil (amandel) atau tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke bagian tenggorok sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak seolah-olah tercekik dan sukar bernafas. Kegawatan lain pada difteri ialah adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat menyerang otot jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat tinggi; biasanya disebabkan anak “tercekik” oleh selaput putih pada tenggorok atau karena lemah jantung akibat racun difteri yang merusak jantung.

Cara imunisasi: pemberian imunisasi difteri biasanya dilakukan bersama-sama dengan tetanus (Vaksin DT) dan batuk rejan (vaksin DPT), sejak bayi berumur 2 bulan (lihatlah jadwal imunisasi hal. 61). Mula-mula diberikan dalam bentuk imunisasi dasar sebanyak 2-3 kali suntikan dengan jarak waktu antara 2 suntikan 4-6 minggu. Kemudian disusul dengan imunisasi ulang pada umur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun. Imunisasi ulang sewaktu diperlukan juga bila anak anda berhubungan dengan anak lain yang menderita difteri. Jadi bila anak terjangkit difteri, maka anak lain yang tinggal serumah harus mendapat imunisasi ulang meski pun belum waktunya.

Kekebalan: Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95%.

Reaksi imunisasi: Jarang terjadi, mungkin berupa demam ringan selama 1-2 hari.

Efek samping: biasanya tidak ada

Indikasi kontra: Hanya pada anak yang menderita demam tinggi atau sakit parah.

e. Vaksin Tetanus

Vaksinasi dan jenis vaksin: Seperti telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal, kombinasi dengan vaksin difteri (vaksin DT), atau kombinasi dengan vaksin difteri dan pertusis (vaksin DPT).

Vaksin untuk imunisasi pasif dikenal dengan ATS (Anti Tetanus Serum). Serum anti tetanus ini diperoleh dengan pengolahan serum yang berasal dari kuda yang mendapat imunisasi aktif tetanus. Serum kuda yang telah diolah itu mengandung banyak zat anti tetanus. Jenis vaksin ini dapat dipakai untuk pencegahan (imunisasi pasif), maupun pengobatan.

Penjelasan penyakit: penyakit tetanus masih terdapat di seluruh dunia, karena kemungkinan anak mendapat luka tetap ada, misalnya terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah kejang dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar dibuka, serta muka yang menyeringai serupa “setan”.

Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit ini terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi baru lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Dukung memotong tali pusat dengan memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini, secara berkala Departemen Kesehatan mengadakan kursus perawatan ibu dan bayi terhadap para dukun. Upaya lain untuk pencegahannya ialah pemberian imunisasi aktif kepada ibu hamil pada trimester akhir yang persalinannya diduga akan ditolong oleh dukun.

Seandainya seorang ibu melahirkan bayi yang ditolong oleh dukun dan sebelumnya tidak pernah mendapat imunisasi tetanus, maka seharusnya bayi itu segera dibawa ke dokter/Puskesmas. Gunanya untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit tetanus dengan pemberian Serum Anti Tetanus (ATS). Cara perlindungan terhadap bayi baru lahir ini merupakan contoh suatu imunisasi pasif.

Angka kematian tetanus masih sangat tinggi, yaitu pada bayi baru lahir sebesar 80-90%, pada anak berumur 2-7 tahun sebesar 20-70%, dan pada anak berumur 8-12 tahun adalah 60%. Angka kematiannya pada orang dewasa juga masih tinggi, yaitu 70-80%.

Cara imunisasi: Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan sama dengan imunisasi difteria (lihatlah jadwal imunisasi, hal. 61). Pada imunisasi tetanus, setelah anak berumur 10 tahun masih harus tetap mendapat suntikan ulang secara berkala setiap 5 tahun selama masa hidup selanjutnya.

Pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanus dilakukan sebanyak 2 kali, masing-masing pada kehamilan bulan ke-7 dan ke-8. sevaksinasi (vaksinasi ulang) dilakukan secara berkala setiap 5 tahun.

Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir:

  • Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus pada ibu hamil menjelang kelahiran bayi.
  • Seandainya kelahiran seorang bayi ditolong oleh dukun, bayi secepatnya dibawa ke dokter/puskesmas untuk mendapat imunisasi pasif dengan serum anti tetanus.

Kekebalan: daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%.

Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat demam ringan atau rasa nyeri, rasa gatal dan pembengkakan ringan di tempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari.

Efek samping: Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak efek samping. Pada pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal seluruh tubuh, nyeri kepala, bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS seyogianya di bawah pengamatan dokter.

Indikasi kontra: tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah.

f. Vaksin Pertusis (Batuk rejan, Pertussis)

Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin terbuat dari kuman Bordetella pertusis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (vaksin DPT, vaksin tripel).

Penjelasan penyakit: penyakit batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari, disebabkan oleh kuman Bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita, bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dengan wajahnya yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi malam hari.

Bila penyakit ini diderita oleh seorang bayi, terutama yang baru berumur beberapa bulan, akan merupakan keadaan yang sangat berat dan dapat berakhir dengan kematian akibat suatu komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi ialah kejang. Kerusakan otak atau radang paru. Batuk rejan jarang berakhir dengan kematian bila terjadi pada anak yang lebih besar, dengan ketentuan kesehatan anak tersebut ada di bawah pengamatan dokter atau petugas kesehatan yang berwenang.

Cara imunisasi: Imunisasi biasanya dilakukan bersama dengan vaksinasi difteria dan tetanus, dengan cara penyuntikan vaksin DPT. Karena perjalanan penyakit pada anak berumur lebih dari 5 tahun tidak parah dan mengingat kemungkinan efek samping imunisasi pertusis pada golongan umur lanjut lebih buruk, ada pendapat untuk tidak memberikan sevaksinasi pertusis pada anak berumur lebih dari 5 tahun. Dengan demikian, imunisasi ulang hanya diberikan pada umur 1 ½ – 2 tahun dan ketika menjelang umur 5 tahun.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan. Oleh para sarjana masih sedang diteliti untuk mendapatkan jenis vaksin yang lebih murni dan berdaya proteksi lebih tinggi.

Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi dapat berupa demam selama 1-2 hari atau pembengkakan lokal di tempat suntikan.

Efek samping: walaupun jarang terjadi, mungkin dijumpai efek samping berupa kejang.

Indikasi kontra: imunisasi pertusis tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah, anak dengan gejala penyakit saraf, atau anak yang pernah kejang, juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal, atau pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan.

g. Vaksin Poliomielitis

Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis. Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II dan III, yaitu:

  1. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk). Cara pemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan.
  2. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan II yang masih hidup, tetapi dilemahkan (vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan.

Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin. Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin. Di beberapa negara dikenal “Tetra vaccine” yang mengandung 4 jenis vaksin, yaitu kombinasi DPT dan polio, cara pemberiannya dengan suntikan.

Cara imunisasi: di Indonesia dipakai vaksin Sabin yang diberikan melalui mulut. Imunisasi dasar diberikan ketika anak berumur 2 bulan, sebanyak 2-3 kali. Jarak waktu antara 2 pemberian ialah 4-6 minggu. Sevaksinasi diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun (lihatlah jadwal imunisasi, hal 61). Vaksin polio dapat diberikan bersama dengan vaksin DPT. Pada pemberian vaksin polio perlu diperhatikan bayi yang masih mendapat ASI. Karena ASI mengandung zat anti terhadap polio, maka dalam waktu 2 jam setelah minum vaksin polio bayi tersebut tidak diberi ASI dahulu. Zat anti yang terdapat dalam ASI akan menghancurkan vaksin polio, sehingga imunisasi polio menjadi gagal. Sebenarnya masalah ini masih dipertentangkan. Pada saat ini, banyak sarjana berpendapat bahwa tidak ada pengaruh ASI terhadap imunisasi polio. ASI dapat diberikan seperti biasa, karena sifat dan jenis antibodi pada ASI berlainan.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100%.

Reaksi imunisasi: biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan terdapat berak-berak ringan.

Efek samping: Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping. Bila ada, mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya.

Indikasi kontra: Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan. Demikian pula pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan tidak diberikan polio. Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat ialah kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam atau diare ringan, imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.

  • Vaksin Campak (Morbili)

Vaksinasi dan jenis vaksin: Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secar aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering di kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubela (campak Jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama MMR (Measles Mumps-Rubela Vaccine).

Cara imunisasi: Bayi yang baru lahir telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur 6 bulan biasanya bayi itu tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan adanya kekebalan pasif ini sangatlah jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari 6 bulan.

Kekebalan: Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi, yaitu 96-99%. Menurut penelitian, kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup, sama langgengnya dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah.

Reaksi imunisasi: Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan nampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan.

Efek samping: Sangat jarang, mungkin terdapat kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak, berupa ensefalitis atau ensefalopati, dalam waktu 30 hari setelah imunisasi. Demikian pula dapat terjadi akibat samping lain pada jaringan otak yang dikenal dengan istilah SSPE (subacute sclerosing panencephalitis). Kejadiannya sangat jarang (1 diantara 1 juta penderita campak).

Indikasi kontra: Menurut WHO (1963), indikasi kontra hanya berlaku terhadap anak yang sakit parah, yang menderita TBC tanpa pengobatan, atau yang menderita kurang gizi dalam derajat berat. Vaksinasi campak sebaiknya juga tidak diberikan pada anak dengan penyakit defisiensi kekebalan. Juga tidak diberikan pada anak yang menderita penyakit keganasan atau sedang dalam pengobatan penyakit keganasan. Karena belum terkumpulnya cukup informasi ilmiah, sebaiknya imunisasi campak pada ibu hamil ditangguhkan. Pada anak yang pernah kejang, imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dengan pengawasan dokter.

  • Vaksin Hepatitis B

Vaksinasi dan jenis vaksinasi: Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Penyakit ini dalam istilah sehari-hari lebih dikenal  dengan nama penyakit lever. Jenis vaksin ini baru dikembangkan dalam waktu 10 tahun terakhir, setelah diteliti bahwa virus hepatitis B mempunyai kaitan erat dengan terjadinya penyakit lever tadi. Vaksin terbuat dari plasma carrier hepatitis B yang sehat dengan cara pengolahan tertentu. Dari bahan plasma tersebut dapat dipisahkan dan dimurnikan bagian virus yang dapat dipakai dalam pembuatan vaksin lebih lanjut. Di kalangan masyarakat dikhawatirkan pemakaian vaksin yang terbuat dari plasma karena adanya berita akibat samping berupa penyakit AIDS. Namun setelah pemakaiannya yang lebih dari 10 tahun, ternyata tidak didapatkan adanya efek samping yang berarti. WHO melaporkan pula bahwa pemakaian vaksin tersebut cukup aman dan bebas dari penyakit AIDS.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar antara 94-96%.

Reaksi imunisasi: Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan.

Efek samping: Selama pemakaian 10 tahun ini, tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti. Berbagai suara di masyarakat tentang kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS, merupakan pemberitaan yang dibesar-besarkan. Dengan penelitian yang luas, WHO tetap menganjurkan pelaksanaan imunisasi hepatitis B.

Indikasi kontra: imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B ini dapat diberikan kepada ibu hamil dengan nama aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.

3. IMUNISASI YANG DIANJURKAN

Di Indonesia saat ini, dalam bidang imunisasi Departemen Kesehatan masih memberikan prioritas utama terhadap 6 jenis penyakit yang tergabung dalam Program Pengembangan Imunisasi. Sesuai dengan perkembangan pola hidup masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi, akan terjadi pula perubahan dalam pola penyakit. Hepatitis B misalnya, istilah awamnya “penyakit lever”, muncul sebagai penyakit baru di negara yang beriklim tropis. Penyakit ini 20 tahun lalu jarang terdengar di masyarakat, tetapi sejak beberapa tahun terakhir ini mulai dirasakan dampak negatifnya. Surat kabar sering memberitakan tentang kematian beberapa tokoh masyarakat karena mengidap “sakit lever”. Memang demikian kenyataannya. Dari laporan yang dibuat WHO, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara dengan kejadian penyakit hepatitis yang tinggi.

Demikian pula halnya dengan penyakit lain. Campak Jerman, misalnya tidak mustahil dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi masalah yang cukup serius. Penyakit tifus dan paratifus sebenarnya tidak tergolong ke dalam penyakit yang berat, khususnya pada anak. Namun demikian tifus dan paratifus merupakan penyakit endemik yang cukup menggelisahkan masyarakat.

Dengan memperhatikan pola penyakit pada saat ini serta kemungkinan perkembangannya pada kurun waktu 10-20 tahun mendatang, penulis menggolongkan beberapa penyakit berikut ini ke dalam kelompok imunisasi yang dianjurkan, yaitu penyakit: tifus, paratifus A-B-C, gondong/bengok, rabies, campak Jerman (rubela) dan hepatitis B.

Vaksin terhadap penyakit tersebut di atas telah beredar di Indonesia. Sebagian diproduksi di dalam negeri dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Sebagian lagi masih harus diimpor sehingga biaya imunisasinya cukup tinggi. Sebagai seorang ibu yang memberikan penuh kasih sayang terhadap anaknya, seandainya ada kesempatan dipersilakan untuk mendapatkannya. Setinggi-tingginya biaya vaksinasi, vaksinasi jauh lebih murah dan lebih aman dari pengobatan. Jenis vaksin yang tergolong cukup mahal ialah vaksin gondong/bengok, campak Jerman dan MMR. Vaksin hepatitis B ada;ah yang paling mahal. Dengan ditemukannya cara pembuatan vaksin yang baru, diharapkan harganya menjadi lebih murah.

 

 

4. IMUNISASI LAIN

Selain dari yang telah diuraikan di atas, berbagai jenis vaksinasi dapat dilaksanakan di luar negeri. Beberapa diantaranya bahkan dianjurkan untuk golongan masyarakat tertentu, karena tingginya kejadian penyakit ada golongan masyarakat tersebut. Pelaksanaan imunisasi selanjutnya tergantung dari keadaan setempat dan akibat penyakit di negara tersebut, serta kebijaksanaan Pemerintah yang bersangkutan. Karena pemakaian jenis vaksin ini terbatas dan kurang meluas, maka harganya pun cukup tinggi.

Selanjutnya dalam golongan ini dimasukkan pula beberapa jenis vaksin yang di Indonesia dewasa ini pemakaiannya jarang sekali dan mungkin sudah tidak dianjurkan lagi. Penyajiannya dalam buku kecil ini hanya sekedar untuk diketahui dan menjadi bahan dokumentasi.

Dalam golongan vaksin ini di antaranya akan diuraikan vaksin kolera, cacar, dan sampar yang pemakaiannya sudah dihentikan, serta vaksin demam kuning, radang otak, influenza, hepatitis A, Staphylococcus dan Strepotococcus yang penggunaannya masih ada tetapi sangat jarang.

BAB III

PROFIL PUSKESMAS

III.1. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS BAROMBONG

Puskesmas Barombong di Jl. Perjanjian Bongaya No. 13

Puskesmas Barombong

KEADAAN GEOGRAFIS

Puskesmas Barombong berada di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah :

a.        Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Merdeka.

b.        Sebelah timur berbatasan dengan Kanjilo Kabupaten Gowa.

c.        Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pakkatta Kabupaten Takalar.

d.       Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.

GAMBAR PETA KELURAHAN BAROMBONG KECAMATAN TAMALATE

KOTA MAKASSAR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Barombong

Puskesmas Barombong terletak di Kelurahan Barombong mempunyai wilayah kerja satu kelurahan. Adapun luas wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah 748.09 Ha dengan jumlah rumah 1863 buah. Kelurahan Barombong terdiri atas 10 ORW yaitu

§  ORW 1        :   Barombong

§  ORW 2        :   Bungaya

§  ORW 3        :   Pattukangang

§  ORW 4        :   Bontokapetta

§  ORW 5        :   Bontoa

§  ORW 6        :   Kaccia

§  ORW 7        :   Tomposappa

§  ORW 8        :   Sumanna

§  ORW 9        :   Timbuseng

§  ORW 10      :   Banyoa

KEADAAN DEMOGRAFI

Berdasarkan hasil survey tahun 2008, jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah 10714 jiwa, laki – laki sebanyak 5218 jiwa dan wanita 5496 jiwa.

A. TINGKAT PENDIDIKAN DAN MATA PENCAHARIAN

Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Barombong bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, tamat SD, tidak tamat SD, hingga tidak sekolah. Adapun mata pencaharian penduduk sebagian besar berturut – turut adalah nelayan, PNS, pegawai swasta, wiraswasta, TNI, petani dan buruh.

B. UPAYA KESEHATAN

Puskesmas Barombong memiliki 9 ruangan yang terdiri atas Ruang Periksa/Ruang Dokter, Ruang Suntik, Ruang Kepala Puskesmas, Kamar KIA dan KB, Laboratorium, Poliklinik Gigi, Kamar Obat, Ruang Kartu, dan 1 buah WC.

 

 

 

 

 

 

Gambar  Denah Puskesmas Barombong

Sarana / fasilitas Kesehatan Puskesmas Barombong :

NO. KESEHATAN JUMLAH
1 Puskesmas Induk 1
2 Puskesmas Pembantu (Poskesdes) 1
3 Posyandu 10
4 Puskesmas Keliling 1

Tabel 4. Sarana / fasilitas Kesehatan Puskesmas Barombong

C. VISI DAN MISI PUSKESMAS BAROMBONG

1.    Visi Puskesmas Barombong.

§  Indonesia Sehat 2010.

2.    Misi Puskesmas Barombong.

§  Pelayanan kesehatan terdepan.

§  Melaksanakan pelayanan prima.

Visi dan misi tersebut dilakukan dengan cara melaksanakan enam upaya kesehatan wajib dan lima upaya kesehatan pengembangan.

Enam upaya kesehatan wajib Puskesmas Barombong adalah sebagai berikut :

1.      Upaya Promosi Kesehatan.

2.      Upaya Kesehatan Lingkungan.

3.      Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana.

4.      Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat.

5.      Upaya pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.

6.      Upaya Pengobatan.

Lima Upaya Kesehatan Pengembangan yaitu :

1.      Upaya Kesehatan Sekolah.

2.      Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat.

3.      Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.

4.      Upaya Kesehatan Usia Lanjut.

5.      Unit Pembinaan Pengobatan Tradisional.


BAB IV

METODE PENELITIAN

IV.1. JENIS PENELITIAN

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain penelitian survey deskriptif dengan maksud  untuk  mengetahui gambaran pemberian imunisasi di kelurahan barombong, Makassar. Data yang diperoleh dari hasil survey ini selanjutnya digambarkan berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai.

IV.2. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang diterapkan pada penulisan ini adalah metode analisis retrospektif.

IV.3. LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di puskesmas Barombong yang terletak di jalan Perjanjian Bongaya No.13 Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar.

IV.4. WAKTU  PENELITIAN

Waktu penelitian terhitung dari tanggal  1 januari – 31 juni 2009.

IV.5. POPULASI SAMPEL

1.    Populasi

Adalah semua pasien yang datang untuk imunisasi di posyandu kelurahan barombong      periode 1 januari – 31 juni 2009

2.    Sampel

Adalah semua pasien yang datang untuk imunisasi dan mempunyai catatan di        puskesmas periode 1 Januari – 31 Juni 2009.

 

IV.6. PENGUMPULAN DATA

Data yang  dikumpulkan adalah data sekunder. Data sekunder dari data mengenai imunisasi yang tercatat pada rekapitulasi laporan imunisasi puskesmas Barombong periode 1 Januari – 31 juni 2009.

IV.7 PENGOLAHAN DATA

Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan program komputer SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Barombong Kecamatan Tamalate Kota  Makassar dari tanggal 1 Januari – 31 Juni 2009, mengenai pemberian imunisasi khususnya usia 0 – 12 bulan di Kelurahan Barombong periode 1 Januari – 31 Juni 2009.  Jumlah bayi yang meliputi wilayah kerja Puskesmas Barombong sebanyak 227 bayi.

Adapun hasil pengolahan data secara lengkap yang diperoleh berdasarkan jenis imunisasi yang diberikan dari data sekunder dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel I. Distibusi pemberian imunisasi BCG di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 8 6,72%
2. Februari 17 14,29%
3. Maret 21 17,65%
4. April 29 24,37%
5. Mei 20 16,80%
6. Juni 24 20,17%
  Total 119 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi laporan imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin BCG di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan april dengan angka 24,37% dan terendah pada bulan januari dengan angka 6,72%.

Tabel II. Distibusi pemberian imunisasi Hep.B di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari - -
2. Februari - -
3. Maret 6 25,00%
4. April 5 20,83%
5. Mei 8 33,34%
6. Juni 5 20,83%
  Total 24 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin Hep.B di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan mei dengan angka 33,34% dan terendah pada bulan januari dan februari dengan angka 0%.

Tabel III. Distibusi pemberian imunisasi DPT di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 34 12,14%
2. Februari 39 13,93%
3. Maret 62 22,14%
4. April 28 10,00%
5. Mei 52 18,57%
6. Juni 65 23,22%
  Total 280 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin DPT di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan Juni dengan angka 23,22% dan terendah pada bulan April dengan angka 10%.

Tabel IV. Distibusi pemberian imunisasi Polio di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 43 10,46%
2. Februari 56 13,63%
3. Maret 65 15,82%
4. April 89 21,65%
5. Mei 71 17,27%
6. Juni 87 21,17%
  Total 411 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin Polio di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan April dengan angka 21,65% dan terendah pada bulan januari dengan angka 10,46%.

Tabel V. Distibusi pemberian imunisasi Campak di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 9 11,54%
2. Februari 10 12,82%
3. Maret 21 26,92%
4. April 15 19,23%
5. Mei 14 17,95%
6. Juni 9 11,54%
  Total 78 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin Campak di puskesmas barombong dengan persentase tertinggi yaitu pada bulan maret dengan angka 26,92% dan terendah pada bulan januari dan Juni dengan angka 11,54%.

Grafik.1 Distibusi Program Pengembangan Imunisasi  di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

Dari grafik diatas terlihat bahwa persentase pemberian vaksin imunisasi tertinggi di puskesmas Barombong pada periode Januari –  Juni 2009, yaitu pada pemberian vaksin Hep.B, dengan persentase 33,34%  pada bulan Mei, dan persentase terendah yaitu juga pada pemberian vaksin Hep.B dengan persentase 0% pada bulan Januari dan Februari.

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

VI.1. KESIMPULAN

1.    Pemberian Imunisasi pada jumlah anak di kelurahan barombong terdapat ketidak-aturan dalam tiap bulannya, terlihat dari jumlah anak yang di imunisasi dengan    angka yg di targetkan

2.    Terdapat Peningkatan Jumlah anak yang diberikan Imunisasi dari bulan januari 2009          sampai dengan juni 2009 pada wilayah Kerja Puskesmas Barombong

 

VI.2. SARAN

1. Meningkatkan penyuluhan mengenai pentingnya penggunaan Imunisasi terutama untuk mencegah anak dari bahaya penyakit infeksi.

2. Meningkatkan kerjasama dengan seluruh karyawan puskesmas dalam pendataan oleh warga kelurahan Barombong untuk mengetahui pertambahan anak di kelurahan Barombong.

3. Mengadakan kerjasama dengan praktek dokter swasta atau tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berada di wilayah kerja Puskesmas Barombong dalam pemberian imunisasi selain yang disediakan di posyandu dan puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, DSOG. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008.

2.      Baziad Ali. 2002. Kontrasepsi Hormonal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.

  1. Anonim Kontrasepsi Hormonal. Available from: http://medisdankomputer.co.cc.  Access on: March 18; 2009.

4.      Anwar Indra Nurzam Chalik, dkk. 2007. Bunga Rampai Masalah Kesehatan dari Dalam Kandungan Sampai Lanjut Usia. Balai Penerbit Fakultas Kedokteeran Universitas Indonesia: Jakarta.

5.      Anonim Mengenal Aneka Alat kontrasepsi. Available from: http://karyatulisilmiahkeperawatan.blogspot.com. Access on: March 12; 2009.

6.      Anonim Mengenal Kontrasepsi. Available from: http://puskesmas-oke.blogspot.com. Access on:  Dec 23; 2008.

7. Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan. 1998.

Posted in Karya Tulis Ilmiah0 Comments

Page 1 of 3112345...102030...Last »
Baca Juga Artikel Menarik Ini close