GRANULOMA INGUINALE


Granuloma inguinale (GI) adalah peny. infeksi oleh bakteri yg sifatnya kronik, progressif, cukup infeksius, yg menyebabkan destruksi permukaan & pembentukan granuloma di kulit & jar. subkutan, umumnya ditularkan melalui hub. seksual.

ETIOLOGI

•  GI, peny. yg disebabkan oleh Calymatobacterium granulomatosis yg merupakan bakteri Gram negatif dgn ukuran 1,5 μm x 0,7 μm, pleomorfik, dan non motil.

•  Bakteri ini harus diisolasi dlm yolk sac embrio ayam, walaupun kemudian diketahui dpt juga tumbuh pada medium yg mengandung kuning telur.

•  Pewarnaan jar dgn menggunakan metode Wright & Giemsa, Calymatobacterium granulomatosis dpt terlihat bersama sel mononuklear yg besar yg dikenal sebagai Donovan bodies.

PATOGENESIS

Calymatobacterium granulomatosis diduga à bakteri intestinal, dgn berhasilnya diidentifikasi dari flora tinja yg nampak dgn pem. elektron mikroskop berupa bakteriofag dgn enterobacteriaceae, bakteri ini menyebabkan terjadinya peny. GI melalui autoinokulasi, atau secara seksual melalui “vagina intercourse” atau melalui “rectal intercourse” pada heteroseksual & homoseksual. Calymatobacterium granulomatosis mungkin juga menginfeksi melalui inokulasi langsung melalui kulit & mukosa yg tdk intak. Hal ini sering terjadi pada usia dewasa muda.

GAMBARAN KLINIS

Masa inkubasi biasanya antara 14-50 hari tapi bisa lebih lama, lesi yg pertama  muncul berupa nodul  yg tdk nyeri & berwarna merah cerah yg akan mengalami ulserasi dlm beberapa hari. Lesi tampak berbentuk polikistik & bisa didptkan gambaran fenomena satelit, lesi berbentuk ulkus & berwarna merah cerah, seperti daging segar. Adenopati jarang, granuloma subkutaneus pada daerah inguinal sering dlm btk pseudobubo. Pseudobubo, nodul subkutaneus yg sering diduga sebagai kelenjar limfe.

Terdapat 4 gejala klinis utama pada penyakit ini :

1.      Ulkus granulomatous

Tipe yg paling umum & paling sering ditemukan, berwarna merah terang, seperti    daging.

Non tender ulcer yg mudah berdarah saat penyentuhan & menjadi semakin parah bila tdk diterapi.

2.      Hipertrofi / ulkus vernicosa

Tipe ini terdiri dari ulkus bertepi verukoid atau ireguler yg meninggi, dengan dasar granulomatous.

Tumbuh dengan tepi yg ireguler, biasanya sangat kering & dpt terjadi edema.

3.      Nekrotik

Berbau busuk, ulkus yg dalam yg menyebabkan destruksi jaringan.

4.      Kekeringan, sklerosis atau lesi sikatriks dengan jaringan fibrous dan parut.

Secara anatomi area yg terkena pada pria à sulkus koronarius, regio subpreputium, dan anus, wanita, labium mayora, serviks & traktus genital atas. GI juga dpt mengenai tulang & hepar walaupun jarang & hal ini biasanya berhubungan dgn kehamilan & infeksi servikal. Lesi primer bisa à titik seperti papul, nodul subkutan /ulkus.

Percobaan inokular pada manusia menghasilkan lesi sesudah 21 hari.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

•          Hapusan jar. (tissue smears).

Mencari D.granulomatis dlm sel-sel mononuclear yg besar.

Bahan terdiri atas jaringan granulasi yg tipis, diambil dgn biopsy plong / scalpel dari lesi bagian dlm. Setelah kering bahan diwarnai dgn Giemsa,Wright Leishman / Gram. Dpt juga dipakai bahan dari biopsi paraffin yg diwarnai dgn HE /pewarna perak.

Biakan.

D.ganulomatis tidak dapat tumbuh pada media biasa.Dapat digunakan biakan jaringan dan telur dengan hasil terbatas.

Biopsi.

Gambaran histopatologik terdiri atas : epidermis ditengah lesi hilang, sedangkan pada tepi lesi terjadi akantosis yg kemudian menunjukkan gambaran hiperplasi pseudokarsinomatosa.

Tes Serum

Dpt ditemukan antibody ikatan komplemen terhadap D.garulomatis,tetapi sensitivitas & spesifitas terbatas.

Inokulasi.

Tidak dpt diinokulasikan pada binatang yg lebih rendah.

DIAGNOSIS

Secara klinik ditegakkan berdasarkan riwayat & gambaran klinis apakah berada / pernah dari daerah endemis. Secara laboratoris dgn menemukan badan-badan Donovan pada spesimen yg diambil baik secara hapusan maupun biopsi kmd diwarnai dengan Wrigh / Giemsa. Gambaran karakteristik disini berupa hiperplasia pseudoepitheliomna pada epidermis. Adanya mikroabses yg terdiri dari netrofil & sel-sel mononukllear besar serta banyaknya badan Donovan dlm sitoplasma.  Penggunaan tes serologis seperti fiksasi komplemen hanya mempunyai sedikit nilai diagnostik.

DIAGNOSIS BANDING

1. Herpes Genitalis

2. Sifilis

3. Lymfogranuloma Venereum

4. Ulkus Molle

PENATALAKSANAAN

Terapi Sistemik

  1. Kotrimoksasol, (Trimetoprim 160 mg & sulfametoksasol 800 mg)

•          Dianjurkan 240 mg, 2 x/hr, selama 1–2 minggu.

•          Puncak konsentrasi metophrim dlm darah terjadi  dalam 2 jam sedangkan sulfamethoxasole dlm 4 jam setelah dosis tunggal oral.

•          Jika 800 mg sulfamethoxasole diberikan dgn 160 mg trimetoprim 2 x/hr, maka puncak konsentrasi obat dlm plasma + 40 & 2 ug/ml.

2.      Ampisilin.

Dapat diberikan dgn dosis 500 mg 4 x/hr selama 2 minggu.

Diabsorpsi baik dgn pemberian secara oral, dan dosis 0,5 mg mencapai pouncak kadar plasma 3 ug/ml setelah 2 jam / waktu paruhnya berkisar antara 1 – 1,5 jam.

3.      Gentamisin.

Diberikan 1 mg/kg BB secara IM 2 x/hr selama 2 – 4 minggu.

Dengan penyuntikan akan menghasilkan puncak konsentrasi serum + 50 -56 ug/ml atau waktu paruhnya berkisar 0,5 sampai 2 jam.

4.      Tetrasiklin.

Dianjurkan : 500 mg 4 x/hr, selama 10 – 20 hari. Tetrasiklin à drug of choice untuk GI.

Tetrasiklin bersifat bakteriostatik, apabila diberikan dosis tunggal peroral à puncak konsentrasi tercapai dlm 2 – 4 jam. Tetrasiklin mempunyai waktu paruh 6 – 12 jam dianjurkan penggunaannya 2- 4 x/hr.

Penggunaan 250 mg setiap 6 jam menghasilkan konsentrasi plasma 2 – 2,5 ug/ml.

5.      Eritromisin.

Dianjurkan : 5 mg 4 x/hr selama 2 – 3 minggu.

Eritromisin bersifat bakteriostatik tetapi dpt pula bersifat bakterisidal pada konsentrasi tinggi. Pada umumnya konsentrasi inhibisi minimum (MIC) dari eritromisin dlm plasma < 2 ug/ml.

Perlu dipertimbangkan penggunaannya pada wanita hamil.

6.      Kloramfenikol.

Diberikan 500 mg 3 x/hr selam 2 – 4 minggu.

Kloramfenikol diabsorpsi cepat dlm traktus gastro intestinal dan puncak konsentrasi 10 – 13 ug/ml, yg terjadi setelah 2 – 3 jam dalam dosis 1 gr.

Terapi Topikal

•          Dpt diberikan kompres hangat dgn kompleks iodim polivynilpyrolidone, quinolol sulfat / dgn potassium permanganat.

•          Sekalipun tanda-tanda penyembuhan lesi sudah terjadi seminggu setelah R/, terapi tetap perlu dilanjutkan u/ mencegah relaps.

Terapi Pembedahan

•          Dapat dilakukan pada komplikasi GI seperti elefantiasis, striktur dan abses pelvis.

Posted in Artikel Kesehatan, Info Penyakit1 Comment

Pengguna Alat Pacu Jantung Tak Boleh Kelelahan


Innalillahi wainna ilaihi rajiun, telah berpulang salah satu putra terbaik bangsa Bapak Taufik Kiemas sabtu 8 Juni 2013 di general hospital Singapura. Suami dari mantan presiden Ri ke 5 Megawati Soekarno Putri ini meninggal dikarenakan penyakit jantung, komplikasi dan gangguan ginjal yang dideritanya.

Beliau  telah dimakamkan Minggu 9 Juni 2013 di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Sebelumnya Taufik Kiemas telah menjalani perawatan selama lima hari seusai mendampingi wakil presiden Boediono meresmikan Situs Rumah Pengasingan Bung Karno dan Monumen Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur Sabtu, tanggal 1 Juni 2013 lalu.

Almarhum yang masih menjabat sebagai ketua MPR memang menderita gagal jantung. Diketahui beliau pernah menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung tahun 2005 kemudian dikarenakan aktifitasnya yang padat menyebabkan beliau harus menjalani operasi lagi untuk pergantian baterai alat pacu jantung 2011 yang lalu.

Semangatnya membuatnya lupa bahwa terlalu capek dan kelelahan membuat kondisinya menjadi sangat rentan mengingat beliau sudah menggunakan alat pacu jantung. Seperti yang dikutip dari kompas online, menurut dr H Aulia Sani, SpJP (K), FCJJ, FIHA, ahli jantung dari  RSJ Harapan Kita ;

“Kalau sudah memasang alat pacu jantung memang sebaiknya tidak terlalu capek. Tidak ada ukuran bakunya, tetapi biasanya tubuh sudah memberikan sinyal,”

Pasien yang sudah memakai pacemaker, sebenarnya disarankan untuk menghindari aktivitas berat dan berlebihan. Sangat disarankan untuk pasien yang telah menggunakan alat pacu jantung untuk sering mengontrol dan memeriksakan diri minimal satu kali sebulan. Nantinya irama jantung pasien akan di periksa menggunakan electrocardiograph (EKG). Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Bebas0 Comments

Penghambat Adrenergik


Obat-obatan yang tergolong dalam kelompok ini adalah alfa-blocker, beta-blocker, alfa-bet-blocker. Alfa-blocker (penyekat alfa) bekerja dalam pembuluh darah perifer, menghambat pengambilan katekolamin pada sel otot halus sehingga menyebabkan pelebaran pembuluh darah, hingga tekanan darah pun turun. Beta-blocker bekerja pada jantung untuk meringankan stres, sehingga jantung perlu lebih sedikit darah dan oksigen. Sedangkan alfa-beta-blocker bekerja dengan menghambat efek sistem saraf simpatis. Bila ada rangsangan stres, sistem saraf simpatis akan segera memberikan respon dengan meningkatkan tekanan darah. Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker yang efektif untuk pasien hipertensi pada usia muda, pasien yang pernah mengalami serangan jantung, pasien dengan denyut jantung cepat, nyeri dada, dan sakit kepala migren.

Posted in Terapi Hipertensi0 Comments

Obesitas Sentral Penyebab Utama Resistensi Insulin dan Sindrom Metabolik


Obesitas SentralObesitas menurut badan kesehatan dunia WHO telah menjadi epidemic global di seluruh dunia. Tidak tanggung-tanggung angkanya kini telah mencapai 300 juta orang untuk kategori orang dewasa. Angka tersebut cukup fantastis mengingat obesitas adalah pintu masuk datangnya berbagai macam penyakit. Sayangnya kebanyakan orang kurang memahami hal ini, itu sebabnya jumlah orang yang mengalami kenaikan berat badan terus bertambah dan berbanding terbalik dengan orang yang sukses menurunkan berat badannya. Jika anda mengalami kenaikan berat badan sebaiknya anda perlu berhati-hati sebab penyakit mematikan seperti jantung dan stroke siap mengintai anda.

Namun dari kesemuanya ada hal unik yang perlu diperhatikan. Penelitian baru menyebutkan bahwa tingkat kesehatan tidak dapat diprediksi dari angka BMI (Body Mass Index) semata.  Yang terpenting adalah perhatikan seberapa besar prosentasi lemak yang tersimpan dalam tubuh.

Memiliki berat badan yang ideal namun lingkar pinggang masih tertimbun lemak juga masih beresiko terkena penyakit mematikan.  Tidak perlu khawatir karena semua pasti ada solusinya. Kuncinya adalah dengan meningkatkan massa otot khususnya daerah perut dan sekitarnya, anda sudah dapat menurunkan resiko terserang penyakit mematikan tersebut.

Pastinya anda bertanya-tanya kenapa harus daerah perut dan sekitarnya? Jawabnya, Timbunan lemak diperut atau yang lebih dikenal dengan obesitas sentral  merupakan penyebab terjadinya sindrom metabolik dan resistensi insulin. Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Bebas0 Comments

Hindarilah makanan ini saat Anda hamil


diet hamil

Aturan emas untuk diet saat hamil adalah makanlah diet yang seimbang. itu artinya ibu hamil harus banyak makan buah-buahan dan sayuran, protein, karbohidrat dan cairan yang cukup.

Lantas adakah makanan yang perlu dihindari saat hamil? jawabnya ya, ada. kemdati sedikit, makanan dan minuman itu harus diketahui agar kehamilan anad tidak di rusak olehnya. Berikut beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari walau jangan sampai membuat anda takut makan saat hamil Baca Selengkapnya

Posted in Artikel Kedokteran0 Comments

Liver Cirrhosis, Definition and Diagnosis


Introduction
Definition :
Fibrosis & nodular regeneration resulting from hepatocellular injury
Epidemiology :
Cirrhosis & CLD accounted for > 25.000 death & 375.000 hospitalization

Etiology

¡  Alcohol

¡  Virus Hepatitis : chronic HBV,HCV, HDV infection

¡  Autoimmune hepatitis  (female, ?IgG, +ANA, +ASMA)

¡  Cogenital : hemocromatosis, wilson’s disease, -?1antitrypsin deficiency, cogenital hepatic fibrosis

¡  Metabolic disease : NASH/NAFLD

¡  Biliary tract disease : PBC/PSC, secondary biliary cirrhosis (calculus, neoplasm,post-op stricture, biliary atresia)

¡  Vascular disease : Budd-Chiari syndrome, R-side  heart failure, constrictive pericarditis

¡  Cryptogenic : may reflect terminal progression of NAFLD or some may be non/missed diagnosed AIH

Pathopysiology Baca Selengkapnya

Posted in Informasi kesehatan0 Comments

Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)


ACEI bekerja dengan menghambat pembentukan hormone angiotensin II, hormon yang menyebabkan pembuluh darah menyempit sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan dihambatnya angiotensin II, ACEI akan melebarkan pembuluh darah dan membiarkan lebih banyak darah mengalir ke jantung, sehingga menurunkan tekanan darah. Yang tergolong ACEI adalah captopril dan lisinopril. ACEI efektif diberikan pada penderita hipertensi usia muda, gagal jantung, juga pada pria yang impotensi sebagai efek samping dari obat lain.

Posted in Terapi Hipertensi0 Comments

Tujuh Menit Untuk Tubuh Sehat


Hanya butuh tujuh menit.  Itulah waktu yang dibutuh untuk melakukan  latihan intensif dari program Chris Jordan. Program ini  sengaja ia desain untuk kliennya yang ingin tetap sehat dan juga baik untuk menurunkan berat badan.  Hanya butuh mengulang beberapa repetisi gerakan setidaknya dua atau tiga kali dan latihan pun berakhir. Simple bukan?

Menghasilkan keringat, otot terlatih dan hanya butuh ruang yang sedikit untuk berolahraga bahkan alat yang digunakan pun sangat sederhana. Latihan ini hanya menggunakan kursi dan memanfaatkan berat badan anda.

Pelatihan yang diberi nama “High-intensity circuit training” ini memperkenalkan bagaimana memanfaatkan waktu dengan se-efesien mungkin untuk hasil latihan yang efektif.  Chris Jordan dalam the American College of Sports Medicine’s Health & Fitness Journal menuliskan kombinasi dari gerakan aerobic dan pertahanan tubuh adalah sebuah gerakan yang high intensive dan gerakan ini lebih bermanfaat untuk kesehatan daripada cara yang pernah dilakukan orang sebelumnya.

Posted in Tips Sehat0 Comments

Syarat Rumah Sehat


Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain, posisi garis sempadan jalan, kontruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.

Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayan dan penghawaan yang cukup.

Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.

?

Posted in Informasi kesehatan0 Comments

LAPORAN KASUS EPISODE DEPRESI BERAT TANPA GANGGUAN PSIKOTIK


LAPORAN KASUS NON PSIKOTIK


EPISODE DEPRESI BERAT TANPA GEJALA PSIKOTIK (F32.2)

  1. I. IDENTITAS PASIEN

Nama                                 : Ny.E

Jenis Kelamin                    : Perempuan

Umur                                 : 28 Tahun

Status perkawinan             : Menikah

Agama                               : Islam

Warga Negara                   : Indonesia

Pendidikan Terakhir          : SMA

Pekerjaan                           : Ibu Rumah Tangga

Alamat                              :Perumnas Antang Blok I no. 13

Datang ke poli jiwa           : 26 september 2011

 

LAPORAN PSIKIATRIK

Diperoleh dari aloanamnesis dari Ny. Anwar, 58 tahun, ibu rumah tangga, alamat Jl.Perumnas antang Blok I no. 13 Makassar, ibu kandung pasien.

 

  1. II. Riwayat penyakit
    1. A. Keluhan Utama

Sering melamun

  1. B. Riwayat gangguan sekarang

Keluhan dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien  sering melamun karena memikirkan anaknya,  ia tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mendapatkan nafkah dari suaminya selama 2 tahun. Pasien berpisah dengan suami karena ada ketidakcocokan dengan keluarga suami terutama mertua dan tante dari suami. Sekarang suami pasien telah mengirimkan surat cerai. Karena tidak bisa bercerita pasien tiba-tiba menangis di mesjid saat selesai sholat tarwih, dia menganggap masalah yang dihadapinya sekarang adalah kesalahannya dan merasa mungkin karena pernah berdosa kepada orang tuanya. Sejak saat itu perasaan pasien sering tidak enak namun tidak tahu bagaimana membahasakannya. Terkadang pasien merasa takut saat pasien merasa penyakitnya akan datang. Terkadang pikirannya terasa kosong, tidak tau harus melakukan apa, pasien sulit berkonsentrasi. Pasien sulit memulai tidur, jika tertidur, pasien sering terbangun tengah malam dan tidak dapat tertidur lagi dan nafsu makan pasien menurun. Pasien menikah sejak tahun 1997 di palopo dan sejak itu pasien tinggal bersama mertua dan bertetangga dengan tante dari suami pasien. Pasien dijodohkan dengan suaminya yang merupakan keluarga jauhnya. Tante suaminya selalu ingin mencampuri semua urusan rumah tangga pasien. Sejak itu hubungan pasien dengan tante dan mertuanya kurang baik. Sedang suami juga diam saja, terlalu menurut kepada tantenya. Pasien pernah berobat di puskesmas.

Hendaya Disfungsi

Hendaya sosial                        : +

Hendaya pekerjaan                 : +

Hendaya waktu senggang       : +

 

Faktor Stressor psikososial      : Masalah keluarga

 

  1. C. RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA
  • Riwayat penyakit terdahulu :

-          Trauma (-)

-          Infeksi   (-)

-          Kejang   (-)

  • Riwayat Penggunaan zat Psikoaktif

-          Narkotika (-)

-          Merokok  (-)

-          Alkohol     (-)

  • Riwayat Gangguan Psikiatrik sebelumnya :

Pasien tidak memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya

 

 

  1. D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
    1. Riwayat prenatal dan perinatal (0-1)

Pasien lahir dengan kondisi normal, cukup bulan dan proses persalinan dibantu oleh bidan. Sewaktu hamil, ibu pasien dalam keadaan sehat, ibu tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok.

  1. Riwayat masa kanak-kanak (sejak lahir hingga usia 1-3 tahun)

Pasien mendapat ASI sampai umur ± 2 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan baik, seperti anak sebayanya.

  1. Riwayat masa kanak pertengahan (4-11 tahun)

Pasien masuk SD umur 6 tahun, prestasi di sekolah biasa-biasa saja, pertumbuhan dan perkembangan baik seperti anak sebayanya.

  1. Riwayat masa kanak akhir dan remaja ( 12-18 tahun)

Pasien melanjutkan sekolah sampai tamat SMA, prestasi biasa saja. Hubungan dengan teman sebaya baik, namun pasien dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan tidak senang bergaul.

  1. Riwayat masa dewasa
    1. Riwayat Pendidikan

Setelah tamat SMA pasien ingin melanjutkan pendidikan di bangku kuliah namun dijodohkan oleh tantenya.

  1. Riwayat Pekerjaan

Pasien pernah menjadi SPG saat tamat SMA.

  1. Riwayat pernikahan

Pasien telah menikah sejak tahun 1997 dan mempunyai 2 orang anak (♀ , ♂   )

  1. Riwayat kehidupan keluarga

Pasien merupakan anak ke-3 dari 6 bersaudara (♀  , ♂  , , ♂  , ♂, ♂  )

Hubungan dengan keluarga baik. Riwayat gangguan yang sama pada keluarga tidak ada.

  1. Situasi sekarang

Pasien tinggal dengan ibu, ayah, saudara, ipar, dan dua orang anaknya.

  1. Persepsi pasien tentang dirinya

Pasien menyadari bahwa apa yang dialaminya sudah mengganggu aktivitas dan berharap keluhannya dapat teratasi.

 

III. AUTOANAMNESA

DM      : Assalamu’alaikum bu, saya uni ,dokter muda yang bertugas di sini. Dengan ibu siapa?

P           : Er dok

DM      : Oke, ibu er. Ada yang bisa saya bantu bu?

P           : Sering lain-lain perasaan ku dok.

DM      : Lain-lain bagaimana bu? Ada yang ibu cemaskan?

P           : Saya pikirkan anak-anakku dok, masih kecil-kecil baru saya tidak punya kerja

DM      : Suami ta’ mana bu?

P          : Sudah lama pisah dok

DM      : Kalau bisa tau, pisahnya karena apa dan sudah berapa lama?

P      : Ada masalah dengan keluarganya suamiku, sekitar dua tahunmi saya kembali ke rumahnya orang tuaku dok.

DM      : Oh begitu, ibu tidak sering melamunji?

P           : Sering dok, baru kalau saya melamun tiba-tiba kayak kosong pikiranku

DM      : Bisa di jelaskan kosong bagaimana yang kita’ maksud bu? Apa kita’ pikir kalau sedang melamun bu??

P           : Tidak tau dok, tiba-tiba kayak kosong saja dok, saya pikirkanji ini masalahku dok.

DM     :Mungkin kita pernah merasa mendengarkan bisikan-bisikan di telingata’ atau melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat?

P          : Tidak pernahji dok.

DM      : Oh, bagaimana awal mulanya ini bu? Sejak kapan ibu mulai sering melamun seperti ini?

P           : Waktu bulan puasa kemarin dok saya pergi taraweh di mesjid, tiba-tiba saya menangis lama sekali dok.

DM      : Memangnya apa yang ibu rasakan?

P         : Saya pikir mungkin masalahku ini karena ada dosaku sama orangtuaku, mungkin memang ada salahku sampai mertuaku seperti ini.

DM          : memangnya mertuanya kenapa bu kalau boleh tau?

P         : Sepertinya terlalu mencampuri urusan rumah tangga kami dan suami saya selalu menurut apa kata keluarganya

DM         : Dalam hal apa saja itu bu?

P             : Soal gaji biasa dok, keluarganya suamiku tau semua pemasukan suamiku, sedang saya istrinya tidak tau.

DM      : oh, begitu, ibu makan dan tidurnya bagaimana bu?

P          : Makan yah agak kurang nafsu dok, tidur juga susah dan agak terbangun-bangun kaget dok.

DM      : Kalau terbangun bisa tidur kembali?

P           : Susah dok

DM      : Bagaimana perasaanta’ sekarang bu?

P          : Sedihka pikir masalahku dok

DM      : Bagaimana dengan pekerjaan sehari-hari bu? Terganggu tidak dengan masalah ini?

P          : Kadang-kadang dok, saya kayak bingung mau bikin apa.

DM      : Tidak cepat capek ji bu?

P          : Lemas badanku dok, kayak tidak bertenaga.

DM      : Kalau sedang tidak berkegiatan, ibu biasanya bikin apa?

P          : Paling nonton TV

DM      : Masih menikmati acara televisi jeki’ bu?

P          : Biasaji dok, tidak terlalu kuperhatikan juga

DM      :Ibu suka kumpul dengan tetangga?

P           : Tidak dok, saya malas keluar rumah.

DM      : Sejak ada masalah ini?

P          : Dari dulu ji dok, tidak terlalu suka bergaul.

DM      : Oh ya, jadi selama 2 tahun ini masih sering bertemu dengan suami?

P           : Sudah tidak dok, saya sudah tidak ada juga keinginan kembali.

DM      : Memangnya kenapa bu?

P          : Sudah ada katanya juga surat cerai keluar

DM      : Oh, begitu. Ibu saya dengar dulu dijodohkan ya dengan suami?ibu setuju?

P           : Iya dok, pasrah saja

DM      :Ttapi setelah menikah ibu senang  dengan suami?

P           : Iya, dia sebetulnya orang baik tapi begitulah terlalu menurut dengan keluarganya.

DM      : Ada lagi yang bisa kita sampaikan?

P          : Kadang tiba-tiba saya rasa takut

DM      : Takut dengan apa bu?

P          : Tidak tau juga

DM      : Kalau ada perasaan takut begitu, jantungnya berdebar-debar tidak bu? atau tangannya dingin?

P          : Tidakji dok

DM      :Oh, baiklah, masih ada bu.

P          : Tidak adami dok

DM      : Terimakasih bu sudah mau berbincang-bincang

P          : Sama-sama dok

  1. IV. STATUS MENTAL
    1. a. Deskripsi Umum

-       Penampilan: seorang wanita dengan penampilan sesuai umur, berperawakan tinggi dan agak kurus, berambut pendek sebahu dan berkulit putih. Pasien mengenakan baju kuning lengan pendek dan jelana jeans.

-       Kesadaran                                                : baik

-       Perilaku dan aktivitas psikomotor           : tenang

-       Pembicaraan                                            : Spontan, lancar, dan intonasi pelan

-       Sikap terhadap pemeriksa                        : kooperatif

  1. b. Keadaan afektif (mood), perasaan, dan empati

-Mood          : sedih

- Afek           : Depresi

- Empati       : dapat dirabarasakan

c.   Fungsi Intelektual (kognitif):

- Taraf pendidikan, pengetahuan, dan kecerdasan: sesuai dengan taraf pendidikan

- Daya konsentrasi                           : baik

-Orientasi (waktu, tempat, orang)    : baik

- Daya ingat                                     : baik

- Pikiran Abstrak                              : Baik

- Bakat kreatif                                  : Tidak ada

- Kemampuan menolong diri sendiri            : baik

d.      Gangguan persepsi

- Halusinasi          : tidak ada

- Ilusi                     : tidak ada

- Depersonalisasi   : Tidak ada

-Derealisasi            : Tidak ada

e.  Proses berpikir

1. Arus pikiran                    :

- Produktivitas                 : cukup

- Kontinuitas                    : relevan, koheren

- Hendaya berbahasa        : tidak ada

2. Isi Pikiran

- Preokupasi                      : tidak ada

- Gangguan isi pikiran       : tidak ada

f.  Pengendalian Impuls         : baik

g.  Daya Nilai

- Norma sosial          : baik

- Uji daya nilai         : baik

- Penilaian realitas    : baik

h. Tilikan (insight) : Derajat 6 (pasien sadar dirinya sakit dan butuh pengobatan)

 

i. Taraf Dapat Dipercaya

Dapat dipercaya

  1. V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT

Pemeriksaan fisik dan neurologis:

  1. Status interna

Keadaan umum pasien tampak agak kurang bersemangat, kesadaran komposmentis TD: 100/80 mmHg, N : 74x/menit, P : 16x/menit, S : 36,2. Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterus, cor dan pulmo dalam batas normal, ekstremitas atas dan bawah tidak ada kelainan.

  1. Status neurologis

Gejala ransang selaput otak berupa KK(-), KS (-), pupil bundar dan isokor 2,5 mm/2,5 mm, Refleks cahaya (+)/(+), fungsi motoris dan sensoris keempat ekstremitas dalam batas normal, tidak ada reflex patologis.

 

  1. VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Tampak seorang wanita berumur 28 tahun berpakaian rapi datang ke RS dengan keluhan sering melamun. Keluhan dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien  sering melamun karena memikirkan anaknya,  ia tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mendapatkan nafkah dari suaminya selama 2 tahun. Pasien berpisah dengan suami karena ada ketidakcocokan dengan keluarga suami terutama mertua dan tante dari suami. Sekarang suami pasien telah mengirimkan surat cerai. Karena tidak bisa bercerita pasien tiba-tiba menangis di mesjid saat selesai sholat tarwih, dia menganggap masalah yang dihadapinya sekarang adalah kesalahannya dan merasa mungkin karena pernah berdosa kepada orang tuanya. Sejak saat itu perasaan pasien sering tidak enak namun tidak tahu bagaimana membahasakannya. Terkadang pasien merasa takut saat pasien merasa penyakitnya akan datang. Terkadang pikirannya terasa kosong, tidak tau harus melakukan apa, pasien sulit berkonsentrasi. Pasien sulit memulai tidur, jika tertidur, pasien sering terbangun tengah malam dan tidak dapat tertidur lagi dan nafsu makan pasien menurun. Pasien menikah sejak tahun 1997 di palopo dan sejak itu pasien tinggal bersama mertua dan bertetangga dengan tante dari suami pasien. Pasien dijodohkan dengan suaminya yang merupakan keluarga jauhnya. Tante suaminya selalu ingin mencampuri semua urusan rumah tangga pasien. Sejak itu hubungan pasien dengan tante dan mertuanya kurang baik. Sedang suami juga diam saja, terlalu menurut kepada tantenya. Pasien pernah berobat di puskesmas. Dalam pemeriksaan status mental didapatkan penampilan sesuai umur, berperawakan tinggi dan agak kurus, berambut pendek sebahu dan berkulit putih, pasien mengenakan baju kuning lengan pendek dan jelana jeans, aktivitas psikomotor saat wawancara tenang, afek depresi, mood sedih, empati dapat dirabarasakan. Fungsi intelektual sesuai taraf pendidikan, konsentrasi baik, orientasi dan daya ingat baik, pikiran abstrak baik, bakat kreatif tidak ada dan kemampuan menolong diri sendiri baik, produktivitas cukup, kontinuitas relevan dan koheren, tidak terdapat gangguan persepsi. Pengendalian impuls dan daya nilai baik, tilikan derajat 6 dengan taraf dapat dipercaya. Pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan kelainan.

 

  1. VII. EVALUASI MULTIAKSIAL : (sesuai PPDGJ-III)
  • Aksis I

Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan  status mental, didapatkan gejala klinis yang bermakna berupa pasien sering melamun, pikiran kosong, nafsu makan menurun, aktivitas psikomotor menurun, susah memulai tidur dan jika terbangun susah untuk tidur kembali, sulit berkonsentrasi sehingga pasien dapat disimpulkan mengalami gangguan jiwa. Pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita, sehingga didiagnosis gangguan jiwa non psikotik. Pada pemeriksaan status  internus dan neurologi tidak ditemukan adanya kelainan , sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan sehingga dapat didiagnosis gangguan jiwa non psikotik non organik. Dari autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan tiga gejala utama depresi yang dialami sejak 1 bulan  berupa kehilangan minat dan kegembiraan, mudah lelah, dan afek hipotimia, disertai gejala tambahan berupa sulit berkonsentrasi, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, psikomotor menurun, tidur terganggu dan jika terbangun sulit untuk tidur lagi, serta nafsu makan berkurang sehingga berdasarkan PPDGJ III dapat didiagnosis sebagai Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32-2).

  • Aksis II

Ciri kepribadian skizoid

  • Aksis III

Tidak ada diagnosis

  • Aksis IV

Stressor berupa  masalah keluarga

  • Aksis V

GAF Scale pasien ini adalah 60-51. Gejala sedang , disabilitas sedang.

  1. VIII. DAFTAR PROBLEM
    1. Organobiologik

Pasien tidak ditemukan kelainan fisik bermakna, diduga ada kelainan neurotransmiter sehingga pasien membutuhkan farmakoterapi.

  1. Psikologik

Ditemukan adanya gejala depresi sehingga pasien memerlukan psikoterapi untuk menghilangkan masalah.

  1. Sosiologik

Ditemukan adanya hendaya dibidang pekerjaan dan waktu senggang sehingga memerlukan sosioterapi.

  1. IX. PROGNOSIS

Bonam

Faktor Pendukung            :

  • Stressor psikologik yang jelas
  • Tidak ada riwayat keluarga dengan keluhan yang sama
  • Keinginan pasien untuk sembuh
  • Memiliki support keluarga yang baik untuk mendukung kesembuhan pasien

Faktor penghambat       :

  • Stressor masih berlangsung
  • Ekonomi rendah

 

  1. X. TINJAUAN PUSTAKA

Gejala utama pada episode depresif baik pada derajat ringan, sedang, maupun berat adalah sebagai berikut:

-          Afek depresif

-          Kehilangan minat dan kegembiraan

-          Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya berupa:

-                      Konsentrasi dan perhatian berkurang

-                      Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

-                      Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

-                      Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

-                      Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

-                      Tidur terganggu

-                      Nafsu makan berkurang

Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya dua minggu, akan tetapi bila gejala amat berat dan beronset cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.

Sesuai dengan pedoman diagnostic bahwa harus adanya semua gejala utama depresi ditambah sekurang-kurangnya 4 gejala lainnya, dan beberapa diantaranya dalam intesitas berat. Berdasarkan gejala yang dialami pasien diagnosis mengarah pada episode depresif berat tanpa gejala psikotik.

  1. XI. RENCANA TERAPI
    1. Farmakoterapi
  • Amitriptilin 25 mg 0-1-1
  1. Psikoterapi
  • Ventilasi : memberikan kesempatan pada pasien untuk menceritakan keluhan dan isi hati sehingga perasaan pasien menjadi lega
  • Konseling : memberikan pengertian pada pasien tentang penyakitnya dan pasien memahami kondisi dirinya sendiri lebih baik dan menganjurkan  untuk berobat teratur
  1. Sosioterapi
  • Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang sekitar tentang penyakit pasien sehingga tercipta dukungan sosial dalam lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses penyembuhan.

 

  1. XII. FOLLOW UP

Pasien diminta untuk rutin datang kontrol dan pastikan pasien meminum obatnya. Selain itu, memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakit serta efektivitas terapi dan efek samping dari obat yang diberikan.

 

 

 

 

Posted in Kasus Medis0 Comments

Page 1 of 2912345...1020...Last »
Dijual Cepat **
BTN ASABRI, MAROS

************
Baca Juga Artikel Menarik Ini close