Kista Bartolini dan Abses Bartolini

kista bartolini

Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.
Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina. kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina, tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.

Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan, seperti Escherichia coli. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Namun, kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut.

Patofisiologi

Tersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan retensi  dari sekresi, dengan akibat berupa pelebaran duktus dan pembentukan kista. Kista  tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan abses bisa berkembang dalam  kelenjar. Kelenjar Bartholin sangat sering terinfeksi dan dapat membentuk kista atau  abses pada wanita usia reproduksi. Kista dan abses bartholin seringkali dibedakan  secara klinis.

Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat, sehingga  menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan.Sumbatan ini biasanya  merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma. Kista bartholin  dengan diameter 1-3 cms eringkali asimptomatik. Sedangkan kistayang berukuran  lebih besar, kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia. Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar, atau kista  yang terinfeksi. Pasien dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva  yang akut dan bertambah secara cepat dan progresif. Abses kelenjar Bartholin  disebakan oleh polymicrobial.

 

2.6. Gejala klinis

Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:

  • Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral.
  • Dispareunia
  • Nyeri pada waktu berjalan dan duduk
  • Nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat  mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses)

 

2.7. Diagnosa

Untuk menegakkan diagnosa kista bartolini dapat ditegakkan dengan :

a.      Anamnesa

Pada anamnesa biasanya ditemukan gejala klinis, berupa :

  • Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral.
  • Dispareunia
  • Nyeri pada waktu berjalan dan duduk
  • Nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat  mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses)

b.      Pemeriksaan ginekologi

Hasil pemeriksaan ginekologi yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bartholin adalah sebagai berikut:

  • Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit, unilateral, dan tidak disertai dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya.
  • Jika berukuran besar, kista dapat tender.
  • Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulent

Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap abses Bartholin sebagai berikut:

  • Pada perabaan teraba massa yang tender, fluktuasi dengan daerah sekitar yangeritema dan edema.
  • Dalam beberapa kasus, didapatkan daerah selulitis di sekitar abses.
  • Demam, meskipun tidak khas pada pasien sehat, dapat terjadi
  • Jika abses telah pecah secara spontan, dapat terdapat discharge yang purulen

 

Kista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya. Karena kelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause, suatu pertumbuhan massa pada wanita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda – tanda keganasan, terutama bila massanya bersifat irreguler, nodular, dan keras.

c.       Pemeriksaan Penunjang

Apabila pasien dalam kondisi sehat, afebris; tes laboratorium darah tidak diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. Kultur bakteri dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses Bartholin.

2.8. Diagnosa banding

Beberapa jenis lesi vulva dan vagina dapat menyerupai kista Bartholin. Beberapa diantaranya adalah:

1.Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaseous ini merupakansuatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik. Pada keadaan terinfeksi,diperlukan incisi dan drainase sederhana.

2.Dysontogenetic cysts merupakan kista jinak yang berisi mukus dan berlokasi pada introitus atau labia minora. Terdiri dari jaringan yang menyerupai mukosa rektum,dan seringkali asimptomatik

3.Hematoma pada vulva. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat berolahraga,kekerasan.

4. Fibroma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan. Indikasi untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri, pertumbuhan yang progresif, dan kosmetik.

5. Hidradenoma merupakan tumor jinak yang dapat muncul pada labia majora dan labiaminora. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi apabila timbul perdarahan dandiangkat bila timbul gejala

Tindakan Operatif 

1.Incisi dan Drainase

Meskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang cepat dan mudah dilakukan serta memberikan pengobatan langsung pada pasien, namun prosedur iniharus diperhatikan karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses. Ada studiyang melaporkan, bahwa terdapat 13% kegagalan pada prosedur ini.

2.Word Catheter

Word catheter ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an. Merupakan sebuah kateter kecil dengan balon yang dapat digembungkan dengan saline pada ujung distalnya, biasanya digunakan untuk mengobati kista dan abses Bartholin. Panjang dari kateter karet ini adalah sekitar 1 inch dengan diameter No.10 French Foley kateter. Balon kecil di ujung Word catheter dapat menampung sekitar 3-4 mL larutan saline

Marsupialisasi

Alternatif pengobatans elain penempatan Wordcatheter adalah  marsupialisasi dari kista Bartholin . Prosedur ini tidak boleh dilakukan  ketika terdapat tanda- tanda abses akut.

Eksisi (Bartholinectomy)

Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak  berespon terhadap drainase, namun prosedur ini harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif.

Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan, maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi umum

Pengobatan Medikamentosa

1. Ceftriaxone

Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan efisiensi broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif, efficacy yang lebih rendah terhadap bakteri gram-positif, dan  efficacy yang lebih tinggi terhadap bakteri resisten. Dengan mengikat pada satu atau lebih penicillin-binding protein, akan menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose .

2. Ciprofloxacin

Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Merupakan antibiotik tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan, oleh sebab itu akan menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri.Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari

3. Doxycycline

Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan  dengan 30S dan50S subunit ribosom dari bakteri. Diindikasikan untuk Ctra chomatis.

Dosisyang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari

4. Azitromisin

Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedangyang disebabkan oleh beberapa strain organisme. Alternatif monoterapi untukC trachohomatis.

Dosisyang dianjurkan: 1 g PO 1x

Komplikasi

  • Komplikasi yang paling umum dari absesBartholin adalah kekambuhan.
  • Pada beberapa kasus dilaporkan necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses.
  • Perdarahan, terutama pada pasien dengan koagulopati.
  • Timbul jaringan parut.

2.11.Prognosis

Jika abses dengan didrainase dengan baik dan kekambuhan dicegah, prognosisnya baik. Tingkat kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%

 

Kategori Artikel Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , , , , ,askep malaise, cara memakai obat cuci telinga, laporan pendahuluan abses coli, purulent adalah, penyebab tubo abses adalah, Patofisiologi kista payudara pdf, patofisiologi dari kista hepar, kista di mons pubis, abses coli, benjolan kecil di slangkangan, benjolan kecil bernanah di selangkangan, benjolan bernanah di selangkangan, benjolan bernanah di selakang, artikel makalah tumor uterus, tubo ovarial abses adalah0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close