Efek Diabetes Pada Ibu dan Janin

diabetes gestasional
American DiabetesAssociation (1999a) telah menyimpulkan bahwa hiperglikemia puasa didefinisikan sebagai lebih dari105mg /dL dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian janin selama4 sampai 8minggu terakhirkehamilan.Efeksampingibumencakuppeningkatan frekuensihipertensi danmakrosomia.11
Selama kehamilan yang sehat, kadar gula darah puasa menurun secara progresif ke nilai sangat rendah dari 74 ± 2,7 (standar deviasi [SD]) mg / dL. Namun, nilai-nilai puncak gula darah postprandial jarang melebihi 120 mg / dL. Profil glikemik normal selama kehamilan telah terbukti mengurangi tingkat makrosomia. Secara spesifik, ketika GD2PP di bawah 120 mg / dL, sekitar 20% dari janin menunjukkan makrosomia. Jika GD2PP berkisar hingga 160 mg / dL maka makrosomia meningkat menjadi 35%.6
Makrosomia didefinisikan oleh American College of Obstetricians dan Gynecologists (2000) sebagai bayi yang berat lahir melebihi 4500 g. Titik fokus perinatal adalah menghindari pelahiran sulit akibat makrosomia, disertai trauma lahir karena distosia bahu. Kecuali otak, sebagian besar organ janin dipengaruhi oleh makrosomia yang sering (tetapi tidak selalu) menjadi ciri khas janin dari wanita diabetik. Modanlow dkk (1982) serta McFarland dkk(2000) mengamati bahwa bayi makrosomik dari ibu diabetik secara antropometris berbeda dari bayi besar untuk usia kehamilan lainnya.
Faktor resiko bayi makrosomia adalah wanita diabetes dan wanita obesitas. Hipotesis Pederson mengatakan peningkatan konsentrasi glukosa pada ibu diabetes menyebabkan janin hyperglikemia.Hipotesis ini menyatakan bahwa pankreas janin mampu merespon hiperglikemia sejak minggu ke-20kehamilan, dan hal ini menyebabkan hiperinsulinemia janin. Kemudian janin menggunakan glukosa untuk meningkatkancadangan lemak. Hiperinsulinemia inidapat menyebabkanneonatal hipoglikemia. Janin makrosomia mungkin melibatkan protein glukosa dan metabolisme lemak. Resistensi insulin ibu dikaitkan denganpeningkatan trigliserida VLDL dan peningkatan transpor energi untukjanin. Resistansi insulin dapat menyebabkan peningkatan jumlah protein, yang pada gilirannya dapat menyebabkan hiperinsulinemia janin.Memang, risiko janin makrosomia lebih besar untuk bayi dari ibu non-diabetes obesitas dibandingkanbayi seorang ibu kurus dengan diabetes gestasional.12
Secara spesifik, mereka yang ibunya mengidap diabetes mengalami pengendapan lemak berlebihan di bahu dan badan, sehingga rentan mengalami distosia bahu. Demikian juga, Bernstein dan Catalano (1994), dengan menggunakan ukuran ketebalan lipatan kulit subskapula dan triseps, mendapatkan bahwa bayi gemuk dari ibu diabetik lebih sering memerlukan seksio sesarea atas indikasi disproporsi sefalopelvik. Untungnya, distosia bahu jarang terjadi, bahkan pada wanita dengan diabetes gestasional. Sebagai contoh, Magee dkk (1993) mendiagnosis distosia bahu pada 3 persen wanita dengan diabetes kelas A1. 6,11
Makrosomia pada bayi-bayi ini sesuai dengan asosiasi yang sudah lama diketahui antara hiperinsulinemia janin yang disebabkan oleh hiperglikemia ibu, yang akhirnya akan merangsang pertumbuhan somatik berlebihan. Demikian juga, hiperinsulinemia pada janin dapat memicu hipoglikemia dalam beberapa menit setelah lahir. Insiden sangat bervariasi bergantung pada ambang yang digunakan untuk mendefenisikan hipoglikemia neonatus yang signifikan. Menurut American Diabetes Association (1995), kadar yang kurang dari 35 mg/dl pada bayi aterm adalah abnormal. 11
Kadar yang lebih rendah dianggap abnormal pada janin preterm, karena simpanan glikogen belum mencapai kadar aterm. Magee dkk. (1993) melaporkan bahwa 4 persen bayi dari wanita dengan diabetes gestasional memerlukan terapi glukosa intravena untuk hipoglikemia.11
Terdapat banyak bukti bahwa insulin dan insulin-like growth factor 1 (IGF-1, faktor pertumbuhan mirip-insulin 1) dan II (IGF-II) berperan dalam mengatur pertumbuhan janin. Insulin disekresi oleh sel-sel β pankreas janin terutama selama waktu kedua gestasi, dan dianggap merangsang pertumbuhan somatik dan pengendapan lemak. Faktor-faktor pertumbuhan ini, yang secara struktural adalah polipeptida mirip-proinsulin, diproduksi oleh hampir semua organ janin dan merupakan perangsang kuat diferensiasi dan pembelahan sel. Verbaeghe dkk. (1993) mengukur konsentrasi insulin dan faktor pertumbuhan seperti insulin (C-peptida) dalam serum tali pusat sepanjang gestasi pada wanita tanpa diabetes dan mendapatkan bahwa kadar berkorelasi dengan berat lahir. Bayi besar untuk usia kehamilan mengalami peningkatan faktor-faktor tersebut secara signifikan.11
Dibandingkan dengan intoleransi glukosa, kegemukan ibu merupakan faktor risiko independen dan lebih penting untuk memiliki bayi besar pada wanita dengan diabetes gestasional (Leonardi dan Bottoms, 1996; Lucas dkk., 1993). Selain itu, kegemukan ibu sendiri merupakan faktor perancu penting dalam diagnosis diabetes gestasional. Johnson dkk. (1987) melaporkan bahwa 8 persen dari 588 wanita yang beratnya lebih dari 125 kg mengalami diabetes gestasional Efek merugikan pada ibu mencakup peningkatan frekuensi hipertensi dan perlunya seksio sesarea.11

Kategori Artikel Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , , ,obat esilgan 2mg, obat frisium, ciri-ciri okupasional, efek samping esilgan 2mg, efek obat dumolid, seseorang yang tuli sejak lahir biasanya juga bisu mengapa demikian?, pil leksotan, hemiparese duplex, jurnal singkat, soap fibroadenoma, contoh judul kti imunoserologi, KTI penyakit konstipasi balita, contoh sap tbc, contoh jurnal singkat, indikasi senam lansia, CONTOH MAKALAH PSIKIATRI, contoh kasus soap fibroadenoma, Makalah Psikologis Kedokteran, makalah bayi meninggal mendadak, makalah bayi mati mendadak0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close