MALARIA

Malaria

Epidemiologi

Malaria merupakan penyakit endemis atau hiperendemis di daerah tropis maupun subtropics dan menyerang Negara dengan penduduk padat.

↔ Penyakit malaria di luar negeri biasanya ditemukan di Negara-negara seperti:

Meksiko, sebagian Karibia, Amerika Tengah dan Selatan, Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah, India, Asia Selatan, Indo-Cina, dan pulau-pulau di pasifik selatan.

↔ Penyakit malaria di Indonesia biasanya ditemukan di kawasan Indonesia Timur,antara lain: mulai dari Kalimantan, Sulawesi Tengah sampai Utara, Maluku, Irian Jaya dan dari lombor sampai Nusatenggara Timur serta Timor-timur merupakan daerah endemis malaria dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Beberapa daerah di Sumatera mulai dari lampung, Riau, Jambi, dan Batam.

Daur hidup

Penjelasan Bagan :

Infeksi parasit malaria pada manusia mulai bila nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan nyamuk akan melepaskan sporozoit ke dalam pembuluh darah dimana sebagian besar dalam waktu 45 menit akan menuju ke hati dan sebagian kecil akan mati di darah. Di dalam sel parenkim hati mulailah perkembangan aseksual (intrahepatik skizogoni atau pre eritrosit skizogoni).perkembangan ini membutuhkan waktu 5,5 hari untuk plasmodium falciparum dan 15 hari untuk plasmodium malariae.

Pada tahapan primer, setelah sel parenkim hati terinfeksi,maka terbentuk skizon hati yang apabila pecah akan mengeluarkan merozoit ke sirkulasi darah (Tahapan ini dilalui oleh semua jenis Plasmodium). Pada tahapan sekunder dimana pada plasmodium vivax dan ovale sebagian parasit di dalam sel hati membentuk hipnozoit yang dapat bertahan sampai bertahun-tahun,dan bentuk ini yang akan menyebabkan relaps pada malaria. Setelah berada dalam sirkulasi darah,merozoit akan menyerang eritrosit dan masuk melalui reseptor permukaan eritrosit, dimana merozoit pada saat di dalam eritrosit sudah berubah menjadi trofozoid,kemudian trofozoid akan pecah menjadi skizon kemudian skizon akan pecah menjadi merozoit yang akan menimbulkan gejala seperti malaria dsb. Pada P.vivax,reseptor permukaan eritrosi t berhubungan dengan factor antigen duffy, hal ini menyebabkan individu dengan golongan darah duffy tidak terinfeksi malaria vivax.parasit tumbuh setelah  memakan hb dan dalam metabolismenya membentuk pigmen yang disebut Hemozoin.

Pada tahapan lanjut trofozoit akan membentuk makrogametosi dan mirogametosit (dalam tubuh manusia). Setelah itu ada nyamuk lain yang dating dan menghisap darah manusia yang sudah terinfeksi, makrogametosit dan mikrogametosit akan dibah menjadi makrogamet dan mikrogamet, dimana proses ini akan berlanjut pada tubuh nyamuk yaitu di lambung nyamuk. Kemudian makrogamet dan mikrogamet akan membentuk zigot kemudian membentuk ookinet dan embentuk ookista dan akan menghasilkan sporozoit. Setelah itu prosesini akan berlanjut terus.

Patogenesis dan Patologi

Setelah melalui jaringan hati P.falciparum melepaskan 18-24 merozoit ke dalam sirkulasi. Merozoit ini akan masuk ke dalam RES dan mengalami fagositosis serta filtrasi.merozoit yang lolos dari filtrasi dan fagositosis akan menginvasi eritrosit. Selanjutnya parasit berkembang secara aseksual,bentuk aseksual ini yang bertanggng jawab dalam patogenesa terjadinya malaria pada manusia.

Sitoadhrensi. Ialah perlekatan antara  parasit dalam eritrosit (EP) stadium matur pada permukaan endotel vaskuler.perlekatan terjadi dengan cara molekul edhesi yang terletak dipermukaan knob EP melekat dengan molekul molekul adhesif yang terletak di permukaan endotel vaskuler.

Sekuestrasi. Sithoadheren menyebabkan EP matur tidak beredar kembali dalam sirkulasi. Parasit dalam eritrosit matur yang tinggal dalam jaringan mikrovaskular disebut EP matur yang mengalami sekuestraasi.

Rosseting. Ialah berkelompoknya EP matur yang diselubungi 10 atau lebih eritrosit yang non parasit.monosit dan makrofag setelah mendapat stimulasi dari malaria toksin (LPS<GPI)..sitokin ini antara lain TNF-ά, IL-1, IL-3, IL-6, LT(lymphotoxin).

Nitri oksida. diteliti bahwa nitrid oksida memberikan efek protektif karena membatasi parasit dan menurunkan ekspresi molekul adhesi.

Patologi

Studi patologi malaria hanya dapat dilakukan pada malaria falciparum karena kematian biasanya disebabkan oleh plasmodium falciparum.selain perubahan jaringan dalam patologi malaria yang penting ialah keadaan mikro-vaskuler dimana parasit malaria berada. Beberapa organ yang terlibat antara lain otak,jantung,paru,hati-limpa,ginjal,usus, dan sum-sum tulang.

Sitokin. Sitokin terbentuk dari sel endotel

Gejala Klinis

  • Menggigil/dingin
  • Panas
  • Keringat
  • Apireksi
  • Malaise
  • Mual Dan Muntah
  • Anoreksia
  • Sefalgi
  • Nyeri tulang
  • Mialgi
  • Splenomegali
  • Anemi

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PEMERIKSAAN TETES DARAH UNTUK MALARIA

Pemeriksaan tetes darah tepi untuk menentukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatip tidak mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darag tepi 3 kali dan hasil negatif malah diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh tenaga laboratorik yang berpengalaman dalam pemeriksaan parasit malaria. Pemeriksaan pada saat penderita demam atau panas dapat meningkatkan kemungkinan diketemukannya parasit. pemeriksaan dengan stimulasi adrenalin 1 : 1000 tidak jelas manfaatnya dan sering membahayakan terutama penderita dengan hipertensi. Pemeriksaan parasot malaria melalui aspirasi sumsum tulang hanya untuk maksud akademis dan tidak sebagai cara diagnosa yang praktis. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui :

  • Tetesan Preparat Darah Tebal

Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah dibuat khususnya untuk studi lapangan. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk kemudahan identifikasi parasit. pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang pandang dengan pembesaran kuat). Preparat dinyatakan negatif setelah diperiksa 200 lapang pandang dengan pembesaran kuat 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. Hitung parasit dapat dilakukan pada tetes darah tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Bila leukosit 1.000 /ul darah maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per mikro-liter darah.

  • Tetesan Darah Tipis

Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit ditentukan. Kepadatan parasit  dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat dilakukan berdasarkan jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1.000 sel darah merah. Bila jumlah parasit > 100.000 /ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung parasit penting untuk menentukan prognosa penderita malaria, walaupun komplikasi juga dapat timbul dengan jumlah parasit yang minimal. Pengecatan dilakukan dengan cat Giemsa, atau Leishman’s atau Field’s dan juga Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang umum dipakai pada beberapa laboratorium dan merupakan pengecatan yang mudah dengan hasil yang cukup baik.

  • Tes Antigen : P-F test

Yaitu mendeteksi antigen dari P.Falciparum (Histidine Rich Protein H). Deteksi sangat cepat hanya 3 – 5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat khusus. Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar di pasaran yaitu dengan metode ITC-Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari plasmodium  (pLDH) dengan cara immunochromatographic telah dipasarkan dengan nama test OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0 – 200 parasit / ul darah dan dapat membedakan apakah infeksi P. falciparum atau P. vivax . Sensitivitas sampai 95% dan hasil positif adalah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal sebagai tes cepat (rapid test). Tes ini tersedia dalam berbagai nama tergantung pabrik pembuatnya.

  • Tes Serologi

Tes serologi mulai diperkenalkan tahun 1962 dengan memakai tehnik indirec fluorecent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostik sebab antibodi baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemologi atau alat uji saring donor darah. Titer > 1 : 200 dianggap sebagai infeksi baru; dan test > 1 : 20 dinyatakan positip. Metode-metode tes serologi antara lain indirect haemagglutination test, immuno-precipitation techniques, ELISA tes, radio-immunoassay.

  • Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)

Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan teknologi amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup cepat dan sensivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. tes ini baru dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.

TERAPI DAN PENATALAKSANAAN

Terapi malaria tergantung dari spesies malarianya. Resistensinya terhadap obat antimalaria merupakan masalah yang cukup berat dalam penanganan malaria falciparum, terutama di Asia Tenggara.

  • P.ovale, P. vivax, dan P. malariae : terapi dengan klorokuin selama 3 hari berturut-turut untuk menghilangkan infeksi sel darah merah. Primakuin dibutuhkan bentuk pada infeksi oleh P.vivax dan P.ovale untuk menghilangkan bentuk yang dorman di hati. Keadaan glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) pasien perlu diperiksa untuk menghindari terjadinya hemolisis akibat pemberian primakuin.
  • P. falciparum tanpa komplikasi : resistensi terhadap klorokuim ditemukan di sebagian besar daerah di dunia. Kuinin oral perlu diberikan selama 7 hari; biasanya dikombinasikan dengan doksisiklin. Obat lain termasuk neflokuin, derivat artemisin, dan atovakuon-proguanil.
  • Infeksi P. falciparum berat : kuinin intravena perlu diberikan. Dosis ‘loading’ memungkinkan konsentrasi terapi tercapai dalam waktu yang lebih singkat. Derivat artemisin parenteral efektif namun saat ini belum memperoleh lisensi di Inggris.

Terapi suportif sangat penting, termasuk menjaga keseimbangan cairan untuk mencegah gangguan ginjal atau edema paru. Hipoglikemia sering terjadi dan perlu diantisipasi. Peran transfusi tukar pada malaria berat belum terbukti dan masih diperdebatkan kegunaannya. Banyak yang menggunakannya pada pasien dengan manifestasi malaria berat dan jumlah parasit yang tinggi (> 10% sel darah merah terinfeksi).

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS

Sebagian besar pasien menjadi afebris dan tidak ditemukan parasit dalam tubuhnya dalam waktu 2-3 hari. Terdapat rasio kematian yang tinggi pada kasus malaria berat, terutama pada pasien non-imun. Obat antimalaria harus diteruskan sampai tuntas; apabila terjadi terapi tidak adekuat, atau apabila parasitnya resisten secara parsial terhadap obat yang digunakan, maka dapat terjadi infeksi kembali (rekrudesensi).

Kategori Artikel Kedokteran :: ,artikel malaria, pemeriksaan lab malaria0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close