Demam Tifoid dan Paratifoid (tifoid Abdominalis)

DEFENISI

Demam tifiod dan paratifoid adalah infeksi akut usus halus. Demam pada penyakit ini merupakan demam septik namun tanpa fase menggilgil. Sinonim dari demam tifoid adalah enteric fever. Demam paratifoid menunjukkan manifestasi klinik yang sama dengan demam tifoid namun biasanya lebih ringan.

ETIOLOGI

Demam tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi dan demam paratifoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteritidis. Yaitu S.enteritidis bioserotipe A, S.enteritidis bioserotipe B, S.enteritidis bioserotipe C. Kuman-kuman ini lebih dikenal dengan nama S.paratyphi A, S.schottmuelleri, dan S.hirchfeldii

EPIDEMIOLOGI

Demam tifiod dan paratifoid merupakan endemik di Indonesia. Jarang di temukan secara epidemik, lebih bersifat sporadik dan terpencar-pencar di suatu daerah dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah. Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun. Insidens bervariasi tergantung pada sanitasi lingkungan. Perbedaan insidens juga tergantung pada penyediaan air bersih yang kurang memadai, sanitasi lingkungan dan sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan.  Namun demikian demam tifoid tidak termasuk dalam penyakit dengan mortalitas tinggi.

PATOGENESIS

Diawali dengan masuknya kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi kedalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Sebagian kuman dihancurkan dalam lambung oleh asam lambung namun sebagian dapat lolos menuju ke usus halus dan berkembangbiak. Jika respon imun humoral mukosa (IgA) usus halus kurang baik, maka kuman dapat menebus epitel usus (sel M) ke lamina propria. Di lamina propria kuman berkembangbiak dan kemudian difagosit oleh makrofag. Kuman dapat berkembangbiak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Melalui ductus torasicus kuman yang ada dalam makrofag ini masuk ke pembuluh darah ( fase asimptomatik ) dan menyebar keseluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati, dan limpa. Di organ ini kuman meninggalkan makrofag dan berkembangbiak di luar sel dan kemudian masuk kembali ke pembuluh darah dan menyebabkan bakteremia yang kedua kalinya dan menimbulkan tanda-tanda radang dan gejala sistemik.

Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembangbiak dan disekresikan secara intermitten ke lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan bersama feses dan sebagian lagi mengulangi fase yang pertama.

Terfagositnya kuman oleh makrofag menyebabkan aktifasi dan hiperkatifasi dari makrofag dan menyebabkan aktifnya mediator inflamasi seperti IL 1, PGE2, histamin dan serotonin yang kemudian menimbulkan gejala sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskular, gangguan mental dan gangguan koagulasi. Makrofag yang hiperaktif pada plaq peyeri menyebabkan hiperplasia dari jaringan usus dan merusak vaskular disekitar plaque peyeri. Dapat beresiko perforasi usus.

Kuman Salmonella typhi mengeluarkan endotoksin dan akan berikatan dengan reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatri, kardiovaskular, pernapasan, dan ganguan organ yang lain.

Manifestasi Klinis

Masa tunas demam tifoid berlangsung 10 sampai 14 hari. Gejala-gejala yang timbul amat bervariasi. Perbedaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu kewaktu. Selain itu gambaran penyakit bervariasi, dari penyakit ringan yang tidak terdignosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian.

Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah yag khas (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis, reseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.

Pemeriksaan Laboratorium

  • Biakan Darah

Biakan darah positif memastikan demam tifoid, tetapi biakan darah negatif  tidak menyingkirkan  demam tifoid. Hal ini disebabkan karena hasil biakan darah bergantung pada beberapa faktor. Hal ni desebabkan karena hasil biakan darah bergantung pada beberap faktor, antara lain : teknik pemeriksaan laboratorium, saat pemeriksaan selama peralanan penyakit, vaksinasi di masa lampau, pengobatan dengan obat anti mikroba.

  • Uji widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella terdapat dalam serum penderita demam tyfoid, juga pada orang yang pernah ketularan Salmonella an orang yang pernah divaksinasi terhadap demam typhoid. Akibat infeksi Salmonella typhi, penderita membuat antibodi (aglutinin), yaitu : aglutinin O, aglutinin H, aglutinin Vi. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosi. Makin tinggi titernya makin besar kemungkinan pasien menderita demam tyfoid. Pada infeksi yang aktif , titer uji widal akan meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari. Peningkatan titer widal 4 kali dalam 1 minggu dianggap dengan demam tyfoid positif. Titer O > 160, titer H > 640.

Diagnosis

Biakan darah positif memastikan demam tyfoid, tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan demam tyfoid. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis demam tifoid. Peningkatan titer uji widal 4 kali lipat selama 2 sampai 3 minggu memastikan diagnosis demam tyfoid. Reaksi Widal tunggal dengan titer antibodi O à 1 : 320 atau titer antibodi H à 1 : 640 menyokong diagnosis demam tyfoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. Pada beberapa pasien uji Widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang, walaupun biakan darah positif.

Pengobatan

Pengobatan  demam tyfoid terdiri atas 3 bagian, yaitu :

  1. perawatan
  2. diet
  3. medikamentosa

  • PERAWATAN

Pasien demam tyfoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi & pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurag lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komlpikasi perdarahan usus atau perforasi usus. Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.

  • DIET

Pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada pasien demam tyfoid. Karena ada juga pasien demam tyfoid yang takut makan nasi, maka selain macam/bentuk makanan yang diinginkan, terserah pada pasien sendiri apakah mau makan bubur saring, bubur kasar atau dengan lauk pauk rendah selulosa.

  • MEDIKAMENTOSA

Obat-obat anti mikroba yang sering digunakan, ialah :

a. Kloramfenikol

Merupakan obat pilihan utama untuk demam tyfoid. Belum ada obat antimikroba lain yang dapat menurunkan demam lebih cepat dibandingkan kloramfenikol. Dosis untuk orang dewasa 4 x 500 mg sehari diberikan dalam bentuk oral atau intravena, sampai 7 hari bebas demam. Dengan penggunaan kloramfenikol, demam pada demam tyfoid turun rata-rata setelah 5 hari.

b. Tiamfenikol

Dosis yang diberikan 4 x 500 mg perhari dalan bentuk oral atau intravena, sampai 7 hari bebas demam. Komplikasi hematologis pada penggunaan timfenikol lebih jarang dari pada kloramfenikol. Dengan tiamfenikol demam pada demam tyfoid turun setelah rata-rata 5-6 hari.

c. Kotrimoksazol (kombinasi Trimetoprim & Sulfametoksazol)

Efektivitas kotrimoksazol kurang lebih sama dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang dewasa, 2 x 2 tablet sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam ( 1 tablet mengandung 80 mg trimetoprim & 400 mg sulfametoksazol). Dengan kotrimoksazol demam pada demam tyfoid turun rata-rata setelah 5-6 hari.

d. Ampisilin & Amoksisilin

Efektivitas ampisilin dan amoksisilin lebih kecil dibandingkan kloramfenikol. Indikasi mutlak penggunaannya adalah pasien demam tyfoid dengan leukopenia. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 75-150 mg/kg berat badan sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam. Demam pada demam tyfoid turun rata-rata setelah 7-9 hari.

Komplikasi

Ø  Perdarahan usus

Ø  Perforasi usus

Ø  Meningitis

Ø  Gangguan mental

Ø  Syok septik

Ø  Pneumonia

Ø  Hepatitis

Ø  Arthritis

Prognosis

Prognosis demam tyfoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi Salmonella, serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada anak-anak 2,6% dan pada orang dewasa 7,4 %, rata-rata 5,7 %.

Kategori Info Penyakit :: Kata Kunci: , , , ,demam hilang timbul, demam tinggi hilang timbul pada bayi, perbedaan paratyphi dan thypi, paratyphoid adalah, obat paratyphoid, demam yg hilang timbul, demam yang hilang timbul, apa bedanya tipus tipoid dengan paratipoid, demam tifoid dan paratifoid adalah 2012, demam paratyphoid, demam paratifoid adalah, demam paratifoid, demam hilang timbul pada anak, tifoid abdominalis0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close