NIKOTIN OBAT BERBAHAYA

Nikotin : Obat Keras Di Asia

Perlu Tinjauan Kebijakan Dan Terapi

Oleh : M. Faisal Idrus

Pendahuluan


Meskipun tembakau telah digunakan sejak ratusan tahun yang lampau, namun baru akhir pertengahan abad ke 20 diketahui sebagai penyebab penyakit dan kematian. Penemuan ini tidak hanya didasarkan hasil observasi empiris semata, tapi juga melalui riset perilaku yang dilakukan di negara berkembang (1). Sejak itu telah dilakukan langkah-langkah yang berkaitan pemastian bahwa tembakau berhubungan dengan penyakit. Misalnya, suatu akibat serius dan masyarakat melakukan tindakan pencegahan merokok sigaret, banyak negara berkembang telah mengelola pengurangan jumlah pemakai rokok sigaret. Hasil akhir dari tindakan ini ditunjukkan oleh hasil riset baru-baru ini, dimana dicatat adanya pengurangan penyakit sekunder akibat merokok sigaret di negara berkembang (2).

Sayangnya, ini tidak demikian di negara-negara berkembang di Asia Tenggara, bertentangan dengan di negara-negara berkembang tersebut penggunaan rokok sigaret cendrung meningkat dari pada menurun. Misalnya hasil riset yang dilakukan pada tahun 1980an ditemukan bahwa dalam periode lima tahun jumlah perokok di wilayah tersebut meningkat 57% (3,4). Ini merupakan peringatan bagi WHO untuk melakukan penelitian menilai peningkatan jumlah pemekai sigaret akan meningkat jumlah kematian di dunia, oleh karena kanker paru-paru dan penyakit kardiovaskuler yang berhubungan dengan sigaret, mencapai 3.3 juta pada tahun 2025. 80 % dari jumlah kematian ini terjadi dinegara berkembang (5).

Ketidaktahuan

Data kematian yang diakibatkan oleh sigaret bukanlah data baru pada orang-orang di negara berkembang. Beberapa pemimpin dan professional menyadari akibat merokok bagi kesehatan di Asia Tenggara. Meskipun masih banyak yang tidak ingin mengakui konsekwensi yang demikian. Sebagai akibat sikap ini belum ada kebijakan pencegahan yang serius terhadap penggunaan sigaret di Negara ini. Lagi pula, nikotin telah dianggap sebagai obat pelarian yang membutuhkan pengobatan khusus. Sampai sekarang, misalnya rokok sebagai pelarian dari apa yang dinamakan sebagai obat ketergantungan yang memiliki sifat adiktif seperti heroin dan kokain.

Masalah Sosial Ekonomi dari Tembakau

Kurangnya efek-efek intoksikasi akibat tembakau menyebabkan rokok sigaret diterima di banyak komunitas. Penggunaannya tidak terbatas pada aktivitas rekreasi, tapi juga pada saat-saat khusus atau acara-acara tertentu, misalnya orang-orang Melayu menggunakan tembakau pada acara penikahan mereka. Bagi mereka, tembakau perlu untuk disediakan pada saat pernikahan. Rokok biasanya ditempatkan dikotak khusus yang disebut ّ Tepak Sireh” bersama-sama dengan buah pinang dan daun sirih. Mereka juga menyediakan rokok bila mengadakan “Kenduri”. Penggunaan tembakau menjadi penting karenanya tuan rumah merasa malu apabila tak ada rokok dalam acara itu. Acara-acara seperti itu dapa dijumpai pada banyak kebudayaan-kebudayaan lain dinegara-negara lain di Asia Tenggara.

Sejak pabrik-pabrik  tembakau disadari bahwa tembakau telah diterima oleh masyarakat barat. Strategi  promosi telah dialihkan  kenegara-negara berkembang. Dalam kenyataan jutaan dollar telah dibelanjakan untuk iklan promosi sigaret di negara ini. Beberapa pabrik bahkan menganjurkan para petani di negara berkembang untuk menanam tembakau sebagai pengganti tanaman lainnya

Kuatnya penerimaan rokok oleh komunitas masyarakat bersama faktor ekonomi telah menyebabkan peningkatan penjualan rokok di negara-negara berkembang yang merupakan kompensasi dari kehilangan penjualan di negara maju. Pabrik rokok tidak hanya mempromosikan rokoknya saja tapi juga meyakinkan masyarakat dan pemerintah bahwa rokok adalah sesuatu yang dibolehkan. Perusahaan ini mengatakan bahwa industri tembakau adalah penting bagi pertumbuhan ekonomi negara, tanpa itu akan membahayakan banyak perdagangan. Banyak juga perusahaan mengklaim bahwa petani-petani yang telah mengganti tanaman mereka dengan tembakau kemiskinan jika pengawasan terganggu. Meskipun para petani yang menanam tembakau masih banyak yang berada dibawa garis kemiskinan dan kenyataannya banyak dari mereka yang meninggal karena akibat dari merokok sigaret. Berbeda sekali dengan perusahaan rokok yang mendapat keuntungan sangat besar.

Peningkatan penyakit yang disebabkan merokok sigaret akan terjadi ketidak seimbangan diantara kelompok sosial ekonomi rendah. Kenyataan ini berdasarkan penelitian yang menunjukkan bah wa pengguna sigaret kebanyakan adalah dari kelompok sosialekonomi rendah dan daerah pedesaan (3). Apa yang lebih ditekankan adalah bahwa orang-orang ini sekarang berusaha sungguh-sungguh untuk membebaskan diri mereka  sendiri dari problem yang berhubungan dengan penyakit endemik dan malnutrisi, dan komplikasi sekunder dari sigaret akan mengakibatkan penderitaan berkelanjutan. Merokok mungkin akan menjadi batu sandungan bagi tercapainya tujuan WHO “Sehat bagi semua pada tahun 2000” di Asia Tenggara dan negara-negara berkembang lainnya.

Nikotin Adalah Obat

Kita tahu bahwa pengguna sigaret merupakan suatu pokok persoalan multi-faktor yang melibatkan faktor ekonomi, politik dan social, tapi inti persoalannya terletak pada nikotin  yang didapatkan didalam sigaret. Nikotin dapat diartikan sebagai obat yang dapat menyebabkan masalah kerinduan (craving) dan ketergantungan seperti yang ditemukan pada pengguna heroin dan kokain. Kerinduan (craving) nikotin berkaitan dengan berbagai aktivitas subtipe reseptor niktin didalam otak. Proses ini ditengahi oleh reseptor asetil kholin yang menyebabkan craving, dan berakibat dalam perkembangan suatu sindroma putus zat (withdrawal syndrome) (6).

Nikotin juga merupakan suatu penguatan primer yang kuat sebagaimana yang ditunjukkan pada binatang percobaan. Sifat ini sama-sama dimiliki oleh obat-obat lain seperti heroin dengan jalan mana binatang percobaan terlihat sebagai pengurus obat dirinya sendiri sesuai dengan pemberiannya.

Seperti halnya dengan obat-obat lain yang menyebabkan sindroma ketergantungan, nikotin juga menyebabkan gejala ketergantungan. Gejala ini meliputi iritabilitas, insomnia, kegelisahan dan depresi. Gejala ini dapat menjadi berat dimana pemakai sigaret didapatkan kesulitan menguasai dan gejalanya dapat menjadi suatu rintangan untuk menghentikan merokok. Gejala putus zat biasanya mulai satu sampai dua hari setelah pengurangan asupan sigaret dan membaik hanya dalam jangka waktu dua minggu sesudahnya (7).

Nikotin – Obat Keras

Banyak orang-orang yang telah menjadi perokok kesulitan berhenti meskipun  motivasi mereka sangat kuat. Tentu saja ada satu diantara tiga pengguna sigaret mampu  untuk berhenti merokok sebelum berusia 60 tahun. Angka remisi jauh lebih rendah dari kecanduan heroin yang 75 % berhenti pada saat mereka mencapai usia 40 tahun dan 95 % bebas dari heroin pada usia 57 tahun (8).

Lebih lanjut hal ini didukung oleh data penelitian terakhir yang menunjukkan bahwa 57 % dari pencandu heroin dan kokain menyatakan bahwa lebih sulit berhenti daripada heroin atau kokain (9).

Perkembangan gejala-gejala putus zat, kompulsi dan kerinduan sigaret bergabung untuk selanjutnya menjadi kebiasaan. Ketiga factor ini juga ada pada tipe kecanduan yang lain. Meskipun, kerinduan dan kompulsi nikotin lebih buruk dari kecanduan obat-obatan yang lain, bahkan menybabkan 38 % dari mereka yang terus menerus merokok terkena serangan jantung ketika sementara dirawat dirumah sakit, termasuk yang keluar dari ICU (8).

Tinjauan Kebijakan Obat

Pada saat kita menganggap nikotin adalah obat yang memerlukan perhatian khusus. Kemungkinan tidak benar jika kita mengelompokkan nikotin sebagai obat lunak ketika kita menganggap berbagai implikasinya telah ada pada kesehatan kita. Penegakan dari suatu kebijakan yang jelas dan juga terintegrasi dengan pusat perawatan bagi perokok harus dipertimbangkan secara serius. Misalnya kita harus menyusun kebijakan untuk berhenti mempromosikan hasil tembakau di mass media, dan melarang untuk menjual rokok kepada anak-anak harus ditegaskan. Bila perlu, pemerintah menegakkan  hukum lebih keras agar membuat yakin bahwa pengendalian ini dilaksanakan.

Penelitian lebih mendalam perlu dilakukan untuk menetralkan iklan yang dinyatakan oleh perusahaan-peruasahaan sigaret. Ini dapat dilakukan melalui survey sikap masyarakat atau bahkan pendidikan masyarakat luas akan bahaya merokok.

Pengguna Sigaret Dapat Diobati

Telah banyak diutarakan mengenai komplikasi fisik dari penggunaan sigaret. Informasi ini tidak hanya akrab bagi dokter tetapi juga dikenal baik oleh masyarakat. Meskipun kebanyakan masih tidak mau mencoba berbagai macam peengobatan khusus karena mereka terus menerus menggunakan sigaret. Satu alasan yang menyebabkan mereka merasa bahwa ini adalah kebiasaan yang dokter sendiri tidak dapat berbuat untuk banyak menolong.

Apakah jelas bahwa setiap profesional, khususnya pusat perawatan kesehatan primer (primery health care) atau puskesmas dapat berperan penting dalam pengobatan para perokok. Tidak perlu bahwa semua perokok harus dirawat oleh psikolog dan psikiater yang berpengalaman. Apakah professional kesehatan perlu melakukan pemeriksaan kesehatan bagi pasien rokok dan memberikan saran sederhana bagaimana caranya mereka dapat mereka dapat berhenti merokok. Hampir setiap pengobatan yang memberikan harapan positif  dan dorongan semangat telah memperlihatkan beberapa pengaruh yang menolong perokok sigaret berhenti. Sebagai contoh : saran sederhana untuk menghentikan merokok dari dokter dengan resep dokter berupa permen kunyah nikotin atau koyok kulit nikotin, dapat menghasilkan kira-kira 9% abstinensi jangka panjang (10). Meskipun pandangan pertama secara sekilas ini tidak nampak sangat mengesankan, jika setiap orang pada pusat kesehatan primer menganjurkan 9 % dari perokok berhenti, kira-kira 1 juta perokok akan berhenti dari kebiasaan ini setiap tahun.(11).

Simpulan

Berdasarkan definisi perilaku psikofarmakologi tidak diragukan lagi bahwa nikotin dapat dianggap suatu obat yang menyerupai ketergantungan atau obat yang ketergantungannya sangat besar. Hanya bia dijelaskan dalam istilah faktor ekonomi dan sosial nampaknya “lunak”. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa setiap obat yang ketergantungan sangat besar pengaruhnya pada kesehatan. Nikotin merupakan penyebab masalah kesehatan terbesar, khususnya di negara-negara berkembang. Oleh karena itu mengejutkan bahwa konsekwensi yang demikian dapat diabaikan pada tingkat kebijaksanaan ekonomi dasar. Semenjak penyakit sekunder orang yang merokok sigaret dapat dicegah. Saat ini adalah saatnya para profesional merencanakan strategi untuk mengurangi jumlah perokok di daerah ini.

(disadur dari Mohd Hussain Habil, Medical Progress January, 1994).

Daftar Pustaka

  1. Doll R, Peto R. Motility in relation to smokinand g 20 years observation on British Doctors, British Medical Journal 290-1525, 1976.
  2. Simpson D. the anti-smoking movement. National and International. In Glass 1 (Ed). The International Handbook of addiction behavior., 320-325, Rouledge London and News York,1991.
  3. Chapman S, Wong L. Tobacco control  in the Three World : A resource atlas. 163-167, IOCU, Penang,1990,
  4. Lee PH. Smooking in developing countries : Real cause of concern ? Medical Progress 6(11) : 5,1989.
  5. Tominaga S.  ‘Spread of smokingto the developing countries’. In Zaridze D, Peter R (Eds). Tobacco : A mayor international health hazard. WHO IARC Scientific Publication 74:25, 1985.
  6. Sioleman P. ‘Behavioural pharmacology of nicotine : Implication for multiple brain nicotine receptor’. In Biology of Nicotine Dependence. Ciba Foundation Symposium, pp 3 – 22. John Wiley and Sons,1990
  7. Cumming M, et al. Report of smoking withdrawal symptoms over a 21 day periode of abstinence. Addictive Behaviour 10:373, 1985.
  8. Winnick C. ‘Maturing out of narcotic addiction’. Bulletin on Narcotics 14, 1962
  9. Kozlowski LT, et al. Comparing tobacco cigarette dependence with other drug dependences’. Journal of the American Medical Association 261: 898, 1989.
  10. Hajek P. Withdrawal oriented therapy for smokers. British Journal of Addiction 84:591, 1989.
  11. Ramstorm L, et al. (Eds). Guidelines on smoking cessation for the primary health care team. WHO and IUAC, 1988

Kategori Referat Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , , ,makala tentang nikotin, makalah tetang niotin0 Komentar

Leave a Reply