GAMBARAN PENDERITA DIARE DI PUSKESMAS BAROMBONG TAHUN 2008-2009

 

ABSTRAK

Latar Belakang. Sampai saat ini, diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan pasien di puskesmas atau balai pengobatan, diare hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama kunjungan pasien ke puskesmas.

Tujuan. Untuk memperoleh informasi mengenai gambaran penderita diare di Puskesmas Barombong tahun 2008-2009 menurut variable umur, jenis kelamin, dan waktu kajadian serta hubungannya dengan musim.

Metode. Metode penelitian yang diterapkan pada penulisan ini adalah analisis retrospektif pada seluruh penderita diare yang berkunjung di Puskesmas Barombong. Waktu penelitian dari tanggal 2 – 31 November 2009 bertempat di Puskesmas Barombong Makassar.

Subjek. Semua pasien yang tercatat di rekam medik Puskesmas Barombong dengan diagnosis diare periode Januari 2008-Oktober2009.

Hasil. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas Barombong Kecamatan Tamalate Tahun 2008-2009 sebanyak 474 orang dengan rincian 277 orang pada tahun 2008 dan 197 orang pada tahun 2009 periode Januari-Oktober. Berdasarkan kelompok umur, diperoleh hasil yang tidak jauh berbeda antara tahun 2008 dan 2009. Jumlah penderita diare terbanyak terdapat pada kelompok umur < 5 tahun yaitu mencapai 59,93% (2008) dan 56,85% (Januari-Oktober 2009). Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih banyak menderita diare yaitu 59,21% (2008) dan 56,35% (2009). Angka kejadian diare berfluktuasi sepanjang periode penelitian. Pada tahun 2008, penderita diare dengan angka tertinggi terdapat pada bulan Juni sebanyak 40 orang dengan presentase 14,44% dan pada tahun 2009 periode Januari-Oktober angka penderita diare pada bulan Juni juga masih tertinggi hanya saja jumlahnya lebih sedikit dari tahun sebelumnya  yaitu sebanyak 32 orang dengan presentase 16,24%.

Kesimpulan. Jumlah penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas Barombong tahun 2008 sebanyak 277 orang dan pada tahun 2009 periode Januari-Oktober sebanyak 197 orang dengan jumlah Laki-laki lebih banyak pada kelompok umur < 5 tahun. Pada tahun 2008-2009, Angka penderita diare meningkat pada bulan Juni, diperkirakan ada hubungannya dengan peralihan musim di daerah ini.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Diare merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan  pada anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Diperkirakan anak berumur di bawah 3 tahun mengalami 2-3 kejadian diare per tahunnya. Meskipun sebagian besar diare pada anak akan sembuh sendiri (self limited), namun penanganan yang akurat tetap sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan (dehidrasi).1

Pada orang dewasa, dperkirakan setiap tahunnya mengalami diare akut atau gastroenteritis akut sebanyak 99.000.000 kasus. Di Amerika Serikat, diperkirakan 8.000.000 pasien berobat ke dokter dan lebih dari 250.000 pasien dirawat di rumah sakit tiap tahun (1,5% merupakan pasien dewasa) yang disebabkan karena diare atau gastroenteritis. Kematian yang terjadi, kebanyakan berhubungan dengan kejadian diare pada anak-anak atau lansia, dimana kesehatan pada usia pasien tersebut rentan terhadap dehidrasi sedang sampai berat. Frekuensi kejadian diare pada Negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2 sampai 3 kali dibandingkan Negara maju.2

Angka kejadian diare, di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Kasubdit Diare dan Kecacingan Depkes, I Wayan Widaya mengatakan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, utamanya disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat.3

Survei Health Service Program tahun 2006 tentang persepsi dan perilaku masyarakat mengungkapkan, Perilaku responden pada lima waktu kritis cuci tangan, tercatat 12% setelah buang air besar(BAB), 9% setelah membantu BAB bayi, 14% sebelum makan, 7% sebelum memberi makan bayi dan 6% sebelum menyiapkan makanan.4

Sampai saat ini, diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh, dari daftar urutan penyebab kunjungan pasien di puskesmas atau balai pengobatan, di daerah ini, diperoleh hasil bahwa diare hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 terbanyak penyebab utama  masyarakat berkunjung ke puskesmas. (sumber: data primer)

Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan. Melalui faktor lingkungan, seseorang yang keadaan fisik atau daya tahannya terhadap penyakit kurang, akan mudah terserang penyakit. Masalah kesehatan lingkungan utama di negara-negara yang sedang berkembang adalah penyediaan air minum, tempat pembuangan kotoran, pembuangan sampah, perumahan dan pembuangan air limbah.5

Syarat air minum ditentukan oleh syarat fisik, kimia dan bakteriologis. Syarat fisik yakni, air tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, jernih dengan suhu sebaiknya di bawah suhu udara sehingga terasa nyaman. Syarat kimia yakni, air tidak mengandung zat kimia atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan misalnya CO2, H2S, NH4. Syarat bakteriologis yakni, air tidak mengandung bakteri E. coli yang melampaui batas yang ditentukan, kurang dari 4 setiap 100 cc air.5

Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok karena kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Syarat pembuangan kotoran antara lain : tidak mengotori tanah permukaan, tidak mengotori air permukaan, tidak mengotori air tanah, kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipergunakan oleh lalat untuk bertelur atau berkembang biak, kakus harus terlindung atau tertutup, pembuatannya mudah dan murah.5

Pengumpulan sampah diperlukan tempat sampah yang terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak mudah rusak, harus tertutup rapat, dan  ditempatkan di luar rumah. Pengangkutan dilakukan oleh dinas pengelola sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pemusnahan dan pengelolaan sampah dilakukan dengan berbagai cara yakni, ditanam (Landfill), dibakar (Inceneration), dijadikan pupuk (Composting).5

Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung di dalam air limbah, maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat. Syarat pengelolaan limbah yang baik yaitu tidak mengkontaminasi sumber air minum, tidak mencemari permukaan tanah, tidak mencemari air mandi, air sungai, tidak dihinggapi serangga, tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor, tidak terbuka kena udara luar sehingga baunya tidak mengganggu.5

Tidak hanya masalah kesehatan lingkungan, kondisi lingkungan seperti keadaan perumahan juga merupakan salah satu faktor yang menentukan keadaan higiene dan sanitasi lingkungan. Adapun syarat-syarat rumah yang sehat yaitu ventilasi yang baik (Luas ventilasi kurang lebih 15-20% dari luas lantai rumah), cahaya harus cukup, luas bangunan rumah yang optimum yaitu apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2 untuk tiap orang. Jika luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah penghuni maka menyebabkan kurangnya konsumsi O2, sehingga jika salah satu penghuni menderita penyakit infeksi maka akan mempermudah penularan kepada anggota keluarga lain.5

Ada empat intervensi untuk mencegah diare yaitu pengolahan air dan penyimpanan di tingkat rumah tangga, melakukan praktik cuci tangan, meningkatkan sanitasi, dan meningkatkan penyediaan air.6

Setiap intervensi memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap diare. Data terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2006, menunjukkan bahwa berbagai intervensi perilaku melalui modifikasi lingkungan dapat mengurangi angka kejadian diare sampai dengan 94 persen melalui pengolahan air yang aman dan penyimpanan di tingkat rumah tangga dapat mengurangi angka kejadian diare sebesar 39 persen, melakukan praktik cuci tangan yang efektif dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 45 persen, meningkatkan sanitasi dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 32 persen, dan meningkatkan penyediaan air dapat menurunkan kejadian diare sebesar 25 persen.6

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan  latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan  masalah dari penelitian ini adalah : “Bagaimana Gambaran Penderita Diare di Puskesmas Barombong Makassar Tahun 2008-2009”.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1.3.1     Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi mengenai gambaran penderita diare di Puskesmas Barombong tahun 2008-2009.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.      Mengetahui jumlah penderita diare di Puskesmas Barombong menurut kelompok umur

2.      Mengetahui jumlah penderita diare di Puskesmas Barombong menurut jenis kelamin

3.      Mengetahui jumlah penderita diare di Puskesmas Barombong menurut bulan

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1        Sebagai sumber informasi atau masukan bagi masyarakat atau pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam meningkatkan upaya-upaya pencegahan penyakit diare

1.4.2        Sebagai sumber informasi dan dapat dijadikan bahan bacaan bagi peneliti berikutnya.

1.4.3        Penelitian ini merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan serta pengembangan diri khususnya dalam bidang penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tentang Diare

2.1.1 DEFINISI DIARE

Diare adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan bentuk dan konsistensi tinja menjadi cair atau setengah cair dan frekuensi buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari dengan/tanpa disertai lendir dan darah.7

Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Sedangkan menurut World Gastroenterology Organisation Global Guidelines 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari.2

Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari. Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari yang merupakan kelanjutan dari diare akut (peralihan antara diare akut dan kronik, dimana lama diare kronik yang dianut yaitu yang berlangsung lebih dari 30 hari).1

Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi. Sedangkan diare non infektif bila tidak ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus tersebut. Diare organik adalah bila ditemukan penyebab anatomic, bakteriologik, hormonal atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak dapat ditemukan penyebab organic.2

2.1.2 ETIOLOGI DIARE

Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (bakteri, parasit, virus), keracunan makanan, efek obat-obat.2

  1. Infeksi

a.       Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi bakteri (Escherichia coli, Salmonella sp, Vibrio cholera, dll), virus (rotavirus, adenovirus), parasit (cacing, protozoa).

b.      Infeksi parenteral yaitu infeksi yang berasal dari infeksi pada bagian tubuh yang lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia. Keadaan ini terutama terjadi pada pada bayi berumur dibawah 2 tahun.

2.      Makanan: Diare dapat disebabkan oleh intoksikasi makanan, baik makanan pedas maupun makanan yang mengandung bakteri atau toksin (makanan basi).

3.      Alergi. Misalnya susu sapi. Laktosa (dari susu) merupakan makanan yang baik bagi bakteri non-patogen. Laktosa akan difermentasikan menghasilkan gas lambung dan menyebabkan distensi. Akibat dari tingginya konsentrasi laktosa menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat. Keadaan hiperosmolar ini akan menyerap air dari intra selluler yang diikuti dengan peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare.

4.      Malabsorbsi : karbohidrat seperti monosakarida (glukosa, laktosa, galaktosa), disakarida (sakrosa, laktosa), lemak seperti rantai panjang trigliserida, protein seperti asam amino, laktoglobulin.

  1. Imonodefisiensi : hipogamaglobulinemia, defisiensi IgA, imunodefisiensi IgA.
  2. Terapi obat : antibiotik, kemoterapi, antacid, dll.
  3. Tindakan tertentu seperti gastrektomi, gastroenterostomi, dosis tinggi terapi radiasi.

2.1.3 PATOFISIOLOGI DIARE

Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisiologi sebagai berikut:2,8

  1. Gangguan osmotik. Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan osmotik intralumen sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus yang berlebihan disebabkan oleh obat-obat/ zat kimia yang hiperosmotik (a.l MgSO4).
  2. Gangguan sekretorik. Akibat rangsangan mediator abnormal misalnya enterotoksin, menyebabkan vili gagal mengabsorbsi natrium, sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat. Hal ini menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali.
  3. Motalitas dan waktu transit usus abnormal. Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Diare tipe ini disebabkan oleh hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorbsi yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan ini antara lain DM, pasca vagotomi, hipertiroid.
  4. Inflamasi dinding usus, disebut diare inflamatori. Disebabkan oleh adanya kerusakan mukosa usus karena proses inflamasi sehingga terjadi produksi mucus yang berlebihan, eksudasi air dan elektrolit ke dalam lumen, gangguan absorbs air-elektrolit.

2.1.4. PATOGENESIS DIARE

Patogenesis diare akut yaitu masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah melewati rintangan asam lambung. Jasad renik itu berkembang biak di dalam usus halus dan mengeluarkan toksin. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.2

Patogenesis diare kronik lebih kompleks dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi. Sebagai akibat diare akut dan diare kronik akan terjadi kehilangan air dan elektrolit yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa.2

2.1.4 GEJALA KLINIK

Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air dan sering berhubungan dengan malabsorbsi, dan dehidrasi sering didapatkan.2

Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan tinja berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan yang khas yaitu nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, biasa air, malabsorbsi, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik.2

Pada bayi dan anak, mula-mula akan menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau bahkan tidak ada kemudian akan timbul diare. Tinja makin cair mungkin mengandung darah atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat di absorbsi oleh usus.8

Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit, terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi akan terlihat ubun-ubun cekung. Tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering.8

Pemeriksaan Fisik

Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab diare. Status volume dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya kualitas bunyi usus dan ada tidaknya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentuan etiologi.2

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada diare adalah :2

a. Pemeriksaan Feses : Makroskopis dan mikroskopis untuk melihat adanya leukosit, eritrosit, parasit; pH bila dibawah 6,0 (asam) disertai tes reduksi positif menunjukkan adanya intoleransi glukosa; kultur feces untuk mencari bakteri penyebab diare.
b. Pemeriksaan darah : Darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na, K, Ca dan P serum pada diare yang disertai kejang).
c. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah : Untuk mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit serta fungsi ginjal.
d. Duodenal intubation : Untuk mengetahui kuman penyebab diare.
e. Kultur darah : Untuk mengetahui septikemia, studi serologi dapat mendeteksi virus.
2.1.5 PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pada diare akut antara lain :

1. Rehidrasi.

Sebelum memberikan terapi rehidrasi pada pasien, perlu dinilai dulu derajat dehidrasinya. Derajat dehidrasi terdiri dari dehidrasi ringan, sedang, berat. Dikatakan dehidrasi ringan bila pasien mengalami kekurangan cairan 2-5% dari berat badan. Sedang bila pasien kehilangan cairan 5-8% dari berat badan. Berat bila pasien kehilangan cairan 8-10% dari berat badan.2

Bila keadaan umum pasien baik dan tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat dicapai dengan minuman ringan, sari buah, sup dan keripik asin. Bila pasien kehilangan cairan yang banyak dan dehidrasi, pemberian cairan intravena dan rehidrasi oral dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan gula harus diberikan. Terapi rehidrasi oral lebih praktis dan efektif daripada cairan intravena. Cairan oral antara lain : pedialit, oralit, dll. Cairan infuse seperti Ringer Laktat. Cairan diberikan 50-200 ml/kgBB/24 jam tergantung kebutuhan dan status hidrasi.2

Pasien dengan Dehidrasi ringan sampai sedang masih dapat diberikan cairan per oral atau selang nasogastrik, kecuali bila ada kontraindikasi atau saluran cerna atas tak dapat dipakai. Pemberian oral diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi 29 gr glukosa, 3,5 gr NaCl, 2,5 gr Natrium Bikarbonat dan 1,5 gr KCl setiap liter. Sedangkan pada pasien dengan dehidrasi sedang sampai berat sebaiknya diberikan cairan melalui infuse pembuluh darah. Prinsip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan yaitu sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari tubuh.2

2.      Diet.

Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien justru dianjurkan minum minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas, makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik dan sup. Susu sapi harus dihindarkan karena adanya defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan alkohol harus dihindari karena dapat meningkatkan motalitas dan sekresi usus.2

Jenis diet yang diindikasikan untuk pasien dengan diare berat adalah Diet Sisa Rendah. Diet sisa rendah adalah makanan yang terdiri dari bahan makanan rendah serat dan hanya sedikit meninggalkan sisa. Yang dimaksud dengan sisa adalah bagian-bagian makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat di dalam susu dan produk susu serta daging yang berserat kasar. Di samping itu, makanan lain yang merangsang saluran cerna harus dibatasi.9

Tujuan Diet Sisa Rendah adalah untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses, dan tidak merangsang saluran cerna.9

Syarat-syarat Diet Sisa Rendah adalah :9

a.       Energi cukup sesuai dengan umur, gender, dan aktivitas.

b.      Protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total.

c.       Lemak sedang, yaitu 10-25% dari kebutuhan energy total.

d.      Karbohidrat cukup, yaitu sisa kebutuhan energy total.

e.       Menghindari makanan berserat tinggi dan sedang sehingga asupan serat maksimal 8 g/hari.

f.       Menghindari susu, produk susu, dan daging berserat kasar (liat) sesuai dengan toleransi perorangan.

g.      Menghindari makanan yang terlalu berlemak, terlalu manis, terlalu asam dan berbumbu tajam.

h.      Makanan dimasak hingga lunak dan dihidangkan pada suhu tidak terlalu panas dan dingin

i.        Makanan sering diberikan dalam porsi kecil.

j.        Bila diberikan dalam jangka waktu lama atau dalam keadaan khusus, diet perlu disertai suplemen vitamin dan mineral, makanan formula, atau makanan parenteral.

3.      Obat anti diare. Obat-obat ini dapat mengurangi gejala. Yang paling efektif yaitu derivate opioid misal laperamide, difenoksilat-atropin dan tinktur opium. Laperamide paling disukai karena tidak adiktif dan memiliki efek samping paling kecil.2

4.      Obat anti mikroba. Pengobatan dengan anti mikroba hanya diindikasikan pada pasien-pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri invasif. Obat pilihan yaitu kuinolon (seperti siprofloksasin 500 mg 2x/hari selama 5-7 hari). Obat ini baik terhadap bakteri pathogen infasif termasuk Campylobacter, Shigella, Salmonella, Yersinia, dan Aeromonas species. Sebagai alternative yaitu kotrimoksazol (trimetoprim/sulfametoksazol, 160/800 mg 2 x/hari, atau eritromisin 250-500 mg 4 x/hari). Metronidazol 250 mg 3 x/hari selama 7 hari diberikan pada pasien yang dicurigai giardiasis.2

2.1.6. PROGNOSIS

Dengan penggantian Cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan lansia.

2.1.7. KOMPLIKASI

Komplikasi dari diare yang kadang kala timbul mencakup :7
1. Dehidrasi

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak daripada pemasukan air. Derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan gejala klinis dan kehilangan berat badan. Derajat dehidrasi menurut kehilangan berat badan, diklasifikasikan menjadi empat, dapat dilihat dari tabel berikut :

Derajat dehidrasi berdasarkan kehilangan berat badan

Derajat dehidrasi Penurunan berat badan (%)
Tidak dehidrasi < 2
Dehidrasi ringan 2 – 5
Dehidrasi sedang 5-8
Dehidrasi berat 8-10

Derajat dehidrasi berdasarkan gejala klinis

Penilaian A B C
Keadaan umum Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, tidak sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut, lidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Minum seperti biasa Haus, ingin minum banyak Malas minum, tidak bisa minum
Periksa: Turgor kulit Baik (kembali cepat) Kurang-buruk (kembali lambat) Sangat buruk (kembali sangat lambat)
Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan/ sedang

Bila ada 1 tanda ditambah 1/lebih tanda lain

Dehidrasi berat

Bila ada 1 tanda ditambah 1/lebih tanda lain

2. Gangguan Keseimbangan Asam Basa

Gangguan keseimbangan asam basa yang biasa terjadi adalah metabolik asidosis. Metabolik asidosis ini terjadi karena kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja, terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan, produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal, pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.

3. Hipoglikemia

Pada anak-anak dengan gizi cukup atau baik, hipoglikemia ini jarang terjadi. Lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita kekurangan kalori protein (KKP). Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg % pada bayi dan 50 mg % pada anak-anak. Gejala hipoglikemia tersebut dapat berupa : lemas, apatis , tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.

4. Gangguan Gizi

Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan karena makanan sering dihentikan oleh orang tua. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan pengenceran. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi

Gangguan sirkulasi darah berupa renjatan atau shock hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal.

2.1.8. PENCEGAHAN

Diare mudah di cegah antara lain dengan cara:10

  1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting, yaitu: a)sebelum makan,b) setelah buang air besar, c) sebelum memegang bayi, d) setelah menceboki anak, dan e) sebelum menyiapkan makanan.
  2. Meminum air minum sehat atau air yang telah diolah antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari, atau proses klorinasi.
  3. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain)
  4. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi. Limbah manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan sayuran. Semua daging dan makanan laut harus dimasak. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak.3,4

Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya.11,8

2.2 Tinjauan Umum Tentang Faktor Resiko Diare

1. Umur

Kebanyakan episode diare terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi terjadi pada golongan umur 6-11 bulan yaitu masa pemberian makanan pendamping ASI. Hal ini terjadi karena belum terbentuknya kekebalan alami dari anak pada umur dibawah 24 bulan.

2. Jenis Kelamin

Resiko terjadinya diare pada perempuan lebih rendah daripada laki-laki, karena aktivitas anak laki-laki dengan lingkungan lebih tinggi.

3.Musim

Variasi pola musim di daerah tropis memperlihatkan bahwa diare terjadi sepanjang tahun, frekuensinya meningkat pada peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Masa peralihan musim yang biasa disebut dengan musim pancaroba biasanya diwarnai dengan timbulnya berbagai jenis penyakit, terutama pada anak-anak dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya kurang. Udara yang sebelumnya panas tiba-tiba menjadi dingin dan lembab. Kondisi tersebut membuat tubuh kurang nyaman dan mudah terserang penyakit. Penyakit yang biasanya muncul pada masa pancaroba, antara lain gangguan saluran napas, masuk angin, influenza, gangguan pencernaan seperti diare, dan tifus abdominalis.12

Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor lingkungan fisik yaitu faktor sanitasi lingkungan dan penyediaan air bersih dipengaruhi oleh musim. Adanya hujan menyebabkan perubahan suhu dan kelembapan pada udara dan tanah. Kuman penyebab diare tumbuh subur di lingkungan yang lembap dan sanitasinya tidak baik serta pada air minum yang tidak terpelihara kebersihannya. Kebanyakan pada musim penghujan saluran pembuangan air tersumbat dan menimbulkan genangan-genangan sehingga akan lebih banyak kuman yang tumbuh.12

4.Status Gizi

Status gizi berpengaruh sekali terhadap kasus diare. Pada anak yang kurang gizi akibat intake makanan yang kurang, episode diare akut lebih berat berakhir lebih lama dan lebih sering. Kemungkinan terjadinya diare persisten juga lebih sering dan disentri lebih berat. Resiko meninggal dunia akibat diare persisten atau disentri sangat meningkat bila anak sudah kurang gizi.

5.Lingkungan

Di daerah kumuh yang padat penduduk dengan sanitasi lingkungan yang jelek serta penyediaan air bersih yang kurang akan menyebabkan penyakit mudah menular. Pada beberapa tempat, Shigellosis yaitu salah satu penyebab diare merupakan endemic. Infeksi berlangsung sepanjang tahu terutama pada bayi dan anak yang berumur antara 6 bulan sampai 3 tahun.

6.Status sosial ekonomi

Status sosial ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini nampak dari ketidakmampuan kelurga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga khususnya pada anak balita sehingga mereka cenderung memiliki status gizi yang kurang bahkan buruk yang akan memudahkan balita tersebut terkena diare. Mereka yang berstatus ekonomi rendah biasanya bertempat tinggal di daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga lebih memudahkan lagi untuk terjangkit diare.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. JENIS PENELITIAN

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain penelitian survey deskriptif dengan maksud  untuk  mengetahui gambaran kasus diare di Puskesmas Barombong, Makassar. Data yang diperoleh dari hasil survey ini selanjutnya digambarkan berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai.

3.2. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang diterapkan pada penulisan ini adalah analisis retrospektif.

3.3. LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di puskesmas Barombong yang terletak di Jalan Perjanjian Bongaya No.13 Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar.

3.4. WAKTU  PENELITIAN

Waktu penelitian terhitung dari 2 – 31 November 2009

3.5. POPULASI SAMPEL

4.5.1        Populasi

Adalah semua penderita diare yang pernah berobat di Puskesmas Barombong Makassar selama periode Januari 2008 – Oktober 2009.

4.5.2        Sampel

Adalah semua pasien diare yang datang berobat di Puskesmas Barombong  periode  Januari 2008 – Oktober 2009 yang tercatat di bagian rekam medic.

3.6. PENGUMPULAN DATA

Data yang  dikumpulkan adalah data sekunder yang diambil dari bagian rekam medic di puskesmas Barombong berdasarkan kunjungan pasien periode Januari 2008 – Oktober 2009.

3.7. PENGOLAHAN DATA

D ata yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan program komputer  SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif.

 

 

 

 


BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Barombong. Waktu pelaksanaan dari tanggal 2 November sampai tanggal 31 November 2009. Tujuan penelitian untuk mengetahui angka penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas Barombong periode Januari 2008 – Oktober 2009.

a. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

 

Puskesmas Barombong di Jl. Perjanjian Bongaya No. 13

Gambar 1. Puskesmas Barombong

Puskesmas Barombong berada di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah :

a.        Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Merdeka.

b.        Sebelah timur berbatasan dengan Kanjilo Kabupaten Gowa.

c.        Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pakkatta Kabupaten Takalar.

d.       Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Puskesmas Barombong terletak di Kelurahan Barombong. Mempunyai wilayah kerja satu kelurahan. Adapun luas wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah 748.09 Ha, terdiri atas 10 RW dengan jumlah rumah 1863 buah.

Berdasarkan hasil survey tahun 2008, jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah 10714 jiwa, laki – laki sebanyak 5218 jiwa dan wanita 5496 jiwa. Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Barombong bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, tamat SD, tidak tamat SD, hingga tidak sekolah. Adapun mata pencaharian penduduk sebagian besar berturut – turut adalah pegawai negeri sipil (PNS), pegawai swasta, wiraswasta, TNI, nelayan, petani dan buruh.

Di kelurahan ini terdapat satu puskesmas induk, satu puskesmas pembantu (poskesdes), sepuluh posyandu, dan satu puskesmas keliling sebagai sarana kesehatan.

Hasil penelitian tentang kondisi lingkungan masyarakat di Kelurahan Barombong yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan peneliti diketahui bahwa usaha penyediaan air minum sudah meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini dapat dilihat dari sumber air minum masyarakat sudah memenuhi persyaratan ditunjang dengan cara pengelolaan air minum yang benar. Hal ini dikarenakan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini di Kelurahan Barombong sudah tersedia beberapa depot sumber air mineral yang membantu memenuhi kebutuhan air minum. Walaupun masih ada masyarakat yang menggunakan air sumur sebagai sumber air minum, tapi pengelolaannya sudah dilakukan dengan benar.

 

 

Ganbar 2. Sumber air minum di Kelurahan Barombong (depot air mineral, sumur, dan sumur bor)

Kondisi lingkungan masyarakat yang tergolong sedang bahkan masih ada yang buruk terletak pada masalah pengelolaan limbah, sampah, jamban dan perumahan. Lebih dari 70 % masyarakat tidak memiliki pengelolaan limbah. Limbah rumah tangga ini dibuang pada tempat terbuka dan biasanya langsung mencemari tanah. Hal ini tentu saja dapat sebagai media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera, diare, typus, media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen, tempat berkembangbiaknya nyamuk, menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak sedap, sebagai sumber pencemaran air permukaan tanah dan lingkungan hidup lainnya.

 

Gambar 3. Saluran Pembuangan Air Limbah

Masyarakat di Kelurahan Barombong hampir seluruhnya tidak memiliki tempat pembuangan sampah sendiri maupun TPA, sampah biasanya langsung dibakar. Sedangkan  masyarakat yang tinggal di daerah pesisir biasanya membuang sampah langsung ke pantai. Hal ini paling berefek negatif jika musim hujan tiba, sampah-sampah tadi akan berserakan dan potensial sekali sebagai media pertumbuhan berbagai kuman penyakit.

 

Gambar 4. Tempat Pembuangan Sampah dan Pengelolaan Sampah di Kelurahan Barombong

Untuk masalah  jamban, berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Barombong tahun 2009 di Kelurahan ini ada sekitar 58% masyarakat yang telah memiliki jamban keluarga. Sebagian masyarakat juga ada yang buang air besar di lahan terbuka seperti kebun menggunakan kantong plastik, yang kemudian di buang di semak-semak atau ke laut. Hal ini tentu sangat mengancam kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak. Sehingga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas keadaan lingkungan ini.

Gambar 5. Jamban

b. Gambaran Hasil Penelitian

Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Barombong, jumlah penderita diare sepanjang periode tersebut yang berhasil diobservasi tercatat sebanyak 474 orang dengan rincian 277 orang pada tahun 2008 dan 197 orang pada bulan Januari – Oktober 2009. Adapun hasil pengolahan data secara lengkap yang diperoleh dari penelitian ini dapat disajikan dalam table dan grafik, sebagai berikut :

UMUR

Tabel 1. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

UMUR N %
<5 tahun 166 59,93
>5 tahun 111 40,07
JUMLAH 277 100

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2008

Grafik 1. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong 2008

Dari table dan grafik 1 diatas tampak bahwa pada tahun 2008 angka penderita diare pada kelompok umur < 5 tahun lebih banyak yaitu berjumlah 166 orang (59,93%) dibandingkan dengan angka penderita diare pada kelompok umur > 5 tahun yang hanya berjumlah 111 orang (40,07%).

Tabel 2. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

UMUR N %
<5 tahun 112 56,85
>5 tahun 85 43,15
JUMLAH 197 100

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2009

Grafik 2. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

Dari table dan grafik 2 diatas tampak bahwa tahun 2009 (Januari-Oktober) angka penderita diare pada kelompok umur < 5 tahun lebih banyak yaitu sejumlah 112 orang (56,85%) dibandingkan dengan angka penderita diare pada kelompok umur > 5 tahun yaitu hanya berjumlah 85 orang (43,15%).

JENIS KELAMIN

Tabel 3. Distribusi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

JENIS KELAMIN N %
Laki-laki 164 59,21
Perempuan 113 40,79
JUMLAH 277 100

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2008

Grafik 3. Distribusi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

 

Dari table dan grafik 3 diatas tampak bahwa pada tahun 2008 Laki-laki  lebih banyak menderita diare yaitu berjumlah 164 orang (59,21%) dibandingkan dengan perempuan berjumlah 113 orang (40,79%) dari total keseluruhan penderita diare tahun 2008 yaitu 277 orang.

Tabel 4. Distribusi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

JENIS KELAMIN N %
Laki-laki 111 56,35
Perempuan 86 43,65
JUMLAH 197 100

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2009

Grafik 4. Distribusi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

 

Dari table dan grafik 4 diatas tampak bahwa pada tahun 2009 (periode Januari-Oktober) laki-laki lebih banyak menderita diare yaitu sebanyak 111 orang (56,35%) dibandingkan dengan perempuan sebanyak 86 orang (43,65%) dari total keseluruhan penderita diare periode Januari-Oktober 2009 yaitu 197 orang.

BULAN

Tabel 5. Distribusi Penderita Diare Perbulan pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

BULAN N %
Januari 21 7,58
Februari 13 4,69
Maret 18 6,5
April 20 7,22
Mei 24 8,66
Juni 40 14,44
Juli 37 13,36
Agustus 32 11,55
September 15 5,42
Oktober 18 6,5
November 18 6,5
Desember 21 7,58
JUMLAH 277 100

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2008

Grafik 5. Distribusi Penderita Diare Perbulan pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

 

Dari tabel dan grafik 5 diatas dapat dilihat bahwa angka kejadian diare pada tahun 2008 berfluktuasi dengan angka tertinggi terjadi pada bulan Juni 40 orang (14,44%) dan terendah pada bulan Februari yaitu 13 0rang (4,69%).

Tabel 6. Distribusi Penderita Diare Perbulan pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

BULAN N %
Januari 9 4,57
Februari 13 6,6
Maret 16 8,12
April 15 7,61
Mei 22 11,17
Juni 32 16,24
Juli 30 15,23
Agustus 30 15,23
September 13 6,6
Oktober 17 8,63
JUMLAH 197 100

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2009

Grafik 6. Distribusi Penderita Diare Perbulan pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

Dari tabel dan grafik 5 diatas dapat dilihat bahwa angka kejadian diare pada tahun 2009 (Januari-Oktober) berfluktuasi dengan angka tertinggi terjadi pada bulan Juni 32 orang (16,24%) dan terendah pada bulan Januari yaitu 9 orang (4,57%).

Tabel 7. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Waktu pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

Bulan <5 tahun >5 tahun
L P L P
Januari 9 7 3 2
Februari 3 3 4 3
Maret 5 3 6 4
April 6 2 7 5
Mei 11 6 3 4
Juni 14 12 9 5
Juli 16 6 7 8
Agustus 8 10 10 4
September 10 2 2 1
Oktober 5 6 3 4
November 6 5 5 2
Desember 6 5 6 4
JUMLAH 99 67 65 46

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2008

Grafik 7. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Waktu pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Tahun 2008

Dari tabel dan grafik 7 diatas dapat dilihat bahwa angka kejadian diare tahun 2008 lebih banyak terjadi pada Laki-Laki baik pada kelompok umur < 5 tahun yaitu sejumlah 99 orang maupun pada kelompok umur > 5 tahun berjumlah 65 orang yang terjadi hampir di setiap bulan.

Tabel 8. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Waktu pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

Bulan <5 tahun >5 tahun
L P L P
Januari 4 2 2 1
Februari 7 1 3 2
Maret 7 2 4 3
April 4 3 6 2
Mei 10 7 2 3
Juni 8 10 9 5
Juli 7 6 6 11
Agustus 13 6 4 7
September 3 3 4 3
Oktober 4 5 4 4
JUMLAH 67 45 44 41

Sumber: Data Rekam Medik Puskesmas Barombong Tahun 2009

Grafik 8. Distribusi Penderita Diare Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Waktu pada Pasien yang Berkunjung di Puskesmas Barombong Periode Januari-Oktober 2009

Dari tabel dan grafik 8 diatas dapat dilihat bahwa angka kejadian diare tahun 2009 (Januari-Oktober) lebih banyak terjadi pada Laki-Laki baik pada kelompok umur < 5 tahun yaitu sejumlah 67 orang maupun pada kelompok umur > 5 tahun berjumlah 44 orang yang terjadi hampir di setiap bulan.

 

 


BAB V

PEMBAHASAN

5.1. Pembahasan Penelitian

Dari hasil pengumpulan data yang telah dilaksanakan di Puskesmas Barombong Kecamatan Tamalate Periode Januari 2008-Oktober 2009 dan setelah dilakukan pengolahan data, maka selanjutnya dilakukan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan variable yang diteliti, antara lain:

5.1.1. UMUR

Pada tahun 2008, penderita diare terbanyak terdapat pada kelompok umur < 5 tahun yaitu berjumlah 166 anak dengan presentase mencapai 59,93% dari total keseluruhan penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas Barombong. Sedangkan pada kelompok umur > 5 tahun angka penderita diare lebih sedikit yaitu 111 orang dengan presentase 40,07%.

Pada tahun 2009 Periode Januari-Oktober, angka penderita diare juga masih lebih banyak terjadi pada kelompok umur < 5 tahun hanya saja dengan jumlah yang sedikit lebih menurun dari tahun 2008 yaitu berjumlah 112 anak (56,85%), sedangkan pada kelompok umur > 5 tahun hanya 85 orang dengan  presentase 43,15% yang menderita diare.

Tingginya jumlah penderita pada kelompok umur < 5 tahun dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu faktor dari ibu mencakup pengetahuan, perilaku dan hygiene ibu dan faktor dari anak mencakup status gizi dan pemberian asi eksklusif.

Perilaku hidup bersih yang dilakukan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dalam mencegah terjadinya penyakit diare pada bayi dan balita. Salah satu perilaku hidup bersih yang umum dilakukan seorang ibu adalah mencuci tangan sebelum memberikan makan pada anaknya dan mencuci botol bayi dengan bersih. Hal tersebut sangat membantu dalam pencegahan penyakit diare. Status gizi anak juga memberikan pengaruh yang besar dalam terjadinya diare. Rendahnya status gizi pada bayi dan balita merupakan faktor resiko yang rentan untuk menyebabkan penyakit diare.

Pada masa dua tahun pertama kehidupan balita mudah terinfeksi bakteri misalnya pada proses pengenalan makanan yang terpapar bakteri tinja, kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi merangkak. Selain itu karena masih tingginya perilaku hidup yang tidak sehat, rendahnya sanitasi lingkungan, kurangnya pengetahuan tentang pencegahan diare oleh ibu-ibu serta semakin terperosoknya perekonomian rakyat, sehingga pemanfaatan pelayanan kesehatan dan usaha pencegahan terhadap penyakit semakin berkurang.5

Selain itu, kebiasaan hidup anak juga juga perlu diperhatikan. Apakah anak tersebut selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum makan ataupun menggunting kuku. Karena jika hal sepele tersebut diabaikan maka kuman akan mudah masuk ke dalam tubuh terutama pada usia balita karena daya tahan tubuh mereka masih rendah.

Penderita diare pada kelompok umur > 5 tahun menunjukkan hasil yang lebih rendah, hal ini dapat disebabkan karena anak maupun penderita dewasa pada kelompok umur ini lebih dapat menjaga hygiene masing-masing dan kesadaran akan kebersihan sudah ada. Diare pada orang dewasa biasanya disebabkan karena infeksi virus, bakteri maupun parasit, dapat juga terjadi karena keracunan dan factor alergi. Biasanya pencemaran terjadi secara oral karena makanan yang tidak hygienis atau kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan.

5.1.2. JENIS KELAMIN

Pada tahun 2008, Laki-laki  lebih banyak menderita diare yaitu berjumlah 164 orang dengan presentase 59,21% dibandingkan dengan perempuan berjumlah 113 orang (40,79%) dari total keseluruhan penderita diare tahun 2008 yaitu 277 orang.

Pada tahun 2009 Periode Januari-Oktober, Laki-laki masih mendominasi angka penderita diare di Puskesmas Barombong. Dari data yang ada, diperoleh hasil sebanyak 111 orang (56,35%) laki-laki menderita diare dibandingkan dengan perempuan yang hanya berjumlah 86 orang (43,65%) dari total keseluruhan penderita diare periode Januari-Oktober 2009 yaitu 197 orang. Hal ini terjadi pada kelompok umur < 5 tahun maupun > 5 tahun.

Jenis kelamin sebenarnya tidak berhubungan secara langsung sebagai penyebab timbulnya diare. Hanya saja kemungkinan secara kebetulan saat penelitian dilakukan, laki-laki lebih banyak yang menderita diare dibandingkan dengan perempuan. Hal ini dapat dihubungkan dengan aktifitas laki-laki yang lebih banyak di luar rumah.

5.1.3. BULAN

Angka kejadian diare berfluktuasi sepanjang periode penelitian. Pada tahun 2008, penderita diare dengan angka tertinggi terdapat pada bulan Juni sebanyak 40 orang dengan presentase 14,44% dan pada tahun 2009 periode Januari-Oktober diperoleh hasil yang sama yaitu sebanyak 32 orang dengan presentase 16,24%.

Jumlah penderita diare yang terendah pada tahun 2008 ditemukan pada bulan Februari sejumlah 13 orang dengan presentase 4,69%, dan pada tahun 2009 Periode Januari-Oktober jumlah penderita diare terendah ditemukan pada bulan Januari yaitu 9 orang (4,57%).

Angka penderita diare di Puskesmas Barombong meningkat pada bulan Juni diperkirakan ada hubungannya dengan peralihan musim. Diperkirakan musim Hujan di wilayah Barombong terjadi antara bulan Januari-Juni dan musim kemarau terjadi antara bulan Juli-Desember.

Diare di Indonesia dapat ditemukan sepanjang tahun, namun dapat mengalami kenaikan frekuensi oleh pengaruh musim. Pada musim kemarau, sumber air bersih sangat terbatas dan sanitasi lingkungan sangat buruk hal ini merupakan salah satu faktor resiko terjadinya diare. Sementara, pada musim penghujan banyak sumber air yang tercemar oleh genangan air kotor dan keadaan udara menjadi sangat lembab sehingga dapat memicu pertumbuhan bakteri.

5.2. Keterbatasan Penelitian

Adapun keterbatasan penelitian, antara lain:

  1. Waktu penelitian yang sangat singkat, menyebabkan peneliti tidak dapat menyelesaikan pengumpulan data sampai akhir periode 2009 sehingga perbandingan data 2008-2009 tidak sempurna.
  2. Data yang diperoleh langsung dari buku Registrasi pasien dan dihitung secara manual sehingga kesalahan dalam perhitungan jumlah pasien diare kemungkinan ada.
  3. Kurang lengkapnya data dari kantor BMG mengenai curah hujan.
  4. Masih terdapat banyak factor-faktor lain yang turut mendukung dan memicu terjadinya diare seperti tempat kejadian, factor pendidikan, sanitasi lingkungan, perilaku hidup bersih, dan lain-lain yang karena keterbatasan waktu, dana dan tenaga semua variable tersebut tidak dapat diteliti.

 

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain. Tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan mengenai beberapa gambaran penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas Barombong Kecamatan Tamalate periode Januari 2008-Oktober 2009, maka dapat disimpulkan :

  1. Jumlah penderita diare menurut kelompok umur paling banyak ditemukan pada kelompok umur < 5 tahun yaitu sebanyak 166 anak dengan presentase mencapai 59,93% dari total keseluruhan penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas Barombong pada tahun 2008 dan 112 anak dengan presentase 56,85% pada tahun 2009. Sedangkan pada kelompok umur > 5 tahun angka penderita diare lebih sedikit yaitu 111 orang dengan presentase 40,07% pada tahun 2008 dan 85 orang (43,15%) pada tahun 2009.
  2. Jumlah penderita diare menurut jenis kelamin yang berkunjung ke Puskesmas Barombong pada tahun 2008 yaitu Laki-laki  lebih banyak menderita diare berjumlah 164 orang dengan presentase 59,21% dibandingkan dengan perempuan berjumlah 113 orang (40,79%) dari total keseluruhan penderita diare tahun 2008 yaitu 277 orang. Sedangkan pada tahun 2009 Periode Januari-Oktober, Laki-laki masih mendominasi angka penderita diare di Puskesmas Barombong. Dari data yang ada, diperoleh hasil sebanyak 111 orang (56,35%) laki-laki menderita diare dibandingkan dengan perempuan yang hanya berjumlah 86 orang (43,65%) dari total keseluruhan penderita diare periode Januari-Oktober 2009 yaitu 197 orang. Hal ini terjadi baik pada kelompok umur < 5 tahun maupun > 5 tahun.
  3. Jumlah penderita diare menurut waktu kejadian, pada tahun 2008 paling banyak ditemukan pada bulan Juni sebanyak 40 orang dengan presentase 14,44% dan pada tahun 2009 periode Januari-Oktober diperoleh hasil yang sama yaitu meningkat pada bulan Juni sebanyak 32 orang dengan presentase 16,24%. Jumlah penderita diare yang terendah pada tahun 2008 ditemukan pada bulan Februari sejumlah 13 orang dengan presentase 4,69%, dan pada tahun 2009 Periode Januari-Oktober jumlah penderita diare terendah ditemukan pada bulan Januari yaitu 9 orang (4,57%). Angka kejadian diare cenderung meningkat pada peralihan musim hujan ke musim kemarau (Januari-Juni)/ Musim Buah.

6.2. SARAN

1. Mengingat diare lebih banyak menyerang bayi dan balita, maka perlu diadakan pencegahan berupa penyuluhan-penyuluhan bagi ibu dan anak mengenai perilaku hidup sehat, Hygiene individu, Kesehatan Ibu dan Anak, Gizi, dan lain-lain.

2. Pemerintah agar lebih memperhatikan program kesehatan lingkungan melalui pembangunan jamban percontohan disertai sosialisasi tentang persyaratan sanitasi jamban kepada masyarakat sehingga masyarakat diharapkan dapat mengupayakan kondisi jamban yang memenuhi syarat.

3. Mengingat angka kejadian diare yang berfluktuasi sepanjang periode, maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai factor-faktor lain yang mempengaruhi diare, terutama sanitasi lingkungan dan hygiene individu.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Anwar, Indra N.C. dkk. Bunga Rampai Masalah Kesehatan Dari Dalam     Kandungan Sampai Lanjut Usia.Jakarta:FKUI,2007.

2.      Sudoyo, Aru W. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI,2006.

3.      http://www.depkes.go.id/2007/01/19/angka-kejadian-diare-masih-tinggi/index.php.htm

4.      http://pusat data dan informasi PERSI.htm

5.      Notoatmodjo S. Ilmu Kesehatan Masyarakat .Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

6.      http://togarsilaban.com/2008/03/19/lingkungan-sanitasi-buruk-ancam-kehidupan.htm

7.      Asnil P, Noerasid H, Suraatmadja S. Gastroenteritis akut. Dalam: Suharyono, Boediarso aswitha, Halimun EM (editors). Gastroenterologi anak praktis. Jakarta : Balai penerbit FKUI, 2003.

8.      Procop GW, Cockerill F. Enteritis Caused by Escherichia coli & Shigella & Salmonella Species. In: Wilson WR, Drew WL, Henry NK,et al, Editors. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease, New York: Lange Medical Books, 2003.

9.      Almatsier, Sunita. Penuntun Diet Edisi Baru.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

10.  Depkes RI, 2005a, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1216/MENKES/SK/XI/2001 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare,Edisi ke-4, Jakarta.

11.  Lung E, Acute Diarrheal Disease. In: Friedman SL, McQuaid KR, Grendell JH, editors. Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology. 2nd edition. New York: Lange Medical Books, 2003.

12.  http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=80560&lokasi=lokal

Kategori Karya Tulis Ilmiah :: Kata Kunci: , , , , ,contoh karya tulis ilmiah penyakit diare, daftar bst barombong 2014, data depkes tentang keputihan, fatofisiologi diare, karya tulis ilmiah tentang penyakit diare, patofisiologi diare 20140 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close