GAMBARAN PEMBERIAN IMUNISASI DI KELURAHAN BAROMBONG PERIODE 1 JANUARI – 31 JUNI 2009

ABSTRAK

Muhammad Anwar M.

GAMBARAN PEMBERIAN IMUNISASI DI PUSKESMAS BAROMBONG PERIODE 1 JANUARI – 31 JUNI 2009-12-10

Di Indonesia Program imunisasi sudah digalakkan sejak tahun 1977. Namun, berdasarkan data tahun 2001- 2005 kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru mengalami peningkatan. Sedangkan data mengenai cakupan imunisasi sendiri di Indonesia belum begitu jelas. Menurut WHO-UNICEF, angka cakupan imunisasi campak, yang biasa dipakai untuk menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar adalah 78% di tahun 2005. Tetapi angka cakupan imunisasi campak ini belum tentu dapat menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar yang sebenarnya.

Untuk memperoleh informasi mengenai gambaran pemberian imunisasi di puskesmas Barombong, maka dilakukan penelitian dengan metode penelitian yaitu penelitian retrospektif.

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Sekitar duapuluh tahun terakhir, secara global telah terjadi perubahan paradigma dari “pengobatan ke pencegahan” (dari kuratif ke preventif). Yang menjadi dasar pemikiran perubahan paradigma ini adalah pendapat para ahli dalam pengobatan penyakit infeksi terhadap keterbatasan pengobatan antibiotika. Telah dirasakan makin hari makin banyak antibiotika yang tidak mempan lagi menghadapi bakteri penyebab penyakit infeksi berat (resistensi bakteri). Maka upaya pencegahan melalui imunisasi merupakan pilihan tepat, sebelum anak menderita penyakit infeksi berat.

Cikal pemikiran imunisasi ini pertama kali dilaksanakan dalam tahun 1797 oleh Jenner, seorang sarjana Inggris. Ia menggoreskan cairan luka dari sapi yang menderita cacar kepada James Phipps, seorang anak lelaki berumur 8 tahun. Kemudian ternyata anak tersebut terhindar dari penyakit cacar. Dalam pikiran sarjana ini timbullah gagasan untuk melindungi tubuh manusia terhadap penyakit infeksi ganas lainnya. Imunisasi atau sering kali disebut juga vaksinasi, merupakan upaya pencegahan penyakit-penyakit infeksi yang sangat efektif. Dengan memberikan vaksin, seorang  anak akan terhindar atau hanya bergejala ringan apabila terkena penyakit infeksi berat yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh vaksin sangat kecil apabila dibandingkan dengan penyakitnya. Sedangkan dampak positifnya, imunisasi dapat dikatakan suatu “investasi” untuk menjamin kesehatan di masa depan.

Di Indonesia Program imunisasi sudah digalakkan sejak tahun 1977. Namun, berdasarkan data tahun 2001- 2005 kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru mengalami peningkatan. Sedangkan data mengenai cakupan imunisasi sendiri di Indonesia belum begitu jelas. Menurut WHO-UNICEF, angka cakupan imunisasi campak, yang biasa dipakai untuk menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar adalah 78% di tahun 2005. Tetapi angka cakupan imunisasi campak ini belum tentu dapat menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar yang sebenarnya.

Perlu diketahui bahwa pemilihan imunisasi di satu negara dapat berbeda dengan negara lain, karena kejadian penyakit di tiap negara berbeda. Misalnya imunisasi BCG atau hepatitis B tidak menjadi kewajiban di negara amerika serikat, atau beberapa negara di eropa. Namun di indonesia merupakan imunisasi wajib, mengingat penyakit tuberkulosis (TB) dan hepatitis B merupakan penyakit yang banyak dijumpai. Maka untuk anak yamg tinggal di indonesia, para orang tua harus menaati jadwal imunisasi yang telah di tentukan pemeritahdan ikatan Dokter Anak Indonesia.

Melihat kenyataan yang diatas maka saya sebagai peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang gambaran pembarian imunisasi di kelurahan Barombong periode 1 januari – 31 juni 2009.

 

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang  masalah yang telah dikemukakan di atas maka rumusan  masalah dari penelitian ini adalah :

1.    Bagaimana gambaran pemberian imunisasi di kelurahan barombong pada umumnya dan beberapa ORW dalam wilayah kerja puskesmas Barombong pada khususnya.

2.              Bagaimana tingkat keberhasilan Puskesmas Barombong dalam memberikan imunisasi terkhusus pada bayi usia 0 – 12 bulan.

I.3. Tujuan Penelitian

I.3.1. Tujuan Umum

Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi di puskesmas Barombong periode 1 Januari – 31 Juni 2009.

I.3.2. Tujuan Khusus

1.    Untuk mengetahui tingkat keberhasilan Puskesmas Barombong dalam memberikan imunisasi terkhusus pada bayi usia 0 – 12 bulan.

 

I.4. Manfaat Penulisan

1.      Sebagai bahan masukan bagi institusi terkait guna diharapkannya masyarakat dapat lebih memahami mengenai pentingnya imunisasi untuk menjamin kesehatan anak di masa depan.

2.      Sebagai bahan masukan bagi institusi terkait guna diharapkannya masyarakat dapat lebih memperhatikan dan menaati jadwal imunisasi yang telah di tentukan agar anak dapat terhindar dari infeksi penyakit.

3.      Penelitian ini merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan serta pengembangan diri khususnya dalam bidang penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

II.1. Definisi

Kata imun berasal dari bahasa Latin (immunitas) yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular (Theophilus, 2000; Mehl dan Madrona, 2001).

Di Indonesia imunisasi mempunyai pengertian  sebagai tindakan untuk memberikan perlindungan (kekebalan) di dalam tubuh bayi dan anak, agar terlindung dan terhindar dari  penyakit-penyakit menular dan berbahaya  bagi bayi dan anak (RSUD DR. Saiful Anwar, 2002).

Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.  Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk (Gambar 1).

Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas (gambar 2).

Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut (gambar 3).

Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan. Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan.

Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah:

1.    Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa antibodi atau antitoksin.

2.    Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.

3.     Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.

4.    Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/imunisasi ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.

  • Reaksi antigen-antoibodi merupakan mekanisme perlawanan tubuh terhadap  penyakit.
  • Kadar antibodi yang tinggi dalam darah menjamin anak anda terhindar dari penyakit.
  • Kadar antibodi yang tinggi diperoleh dengan cara pemberian imunisasi
  • Untuk mempertahankan kadar antibodi yang tinggi, diperlukan imunisasi ulang dalam waktu-waktu tertentu.

Di manakah zat anti tersebut dibentuk tubuh? Pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa , kelenjar timus dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas di seluruh jaringan tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut. “Amandel” atau tonsil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Berbagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai jenis infeksi: lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak merendah”.

II.2. KLASIFIKASI

Ada 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Berikut ini akan diuraikan arti dan perbedaan kedua jenis imunisasi tersebut.

  1. Imunisasi Aktif

Berbagai jenis vaksin yang dikemukakan di atas bila diberikan pada anak anda merupakan contoh pemberian imunisasi aktif. Dalam hal ini tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah suatu rangsangan antigen dari luar tubuh, misalnya rangsangan virus yang telah dilemahkan pada imunisasi polio atau imunisasi campak. Setelah rangsangan ini kadar anti dalam tubuh anak akan meningkat, sehingga anak menjadi imun atau kebal. Jelaslah bahwa pada imunisasi aktif, tubuh anak sendiri secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh.

  1. Imunisasi Pasif

Berlainan halnya dengan imunisasi pasif. Dalam hal ini imunisasi dilakukan dengan penyuntikan sejumlah zat anti, sehingga kadarnya dalam darah akan meningkat. Zat anti yang disuntikkan tadi biasanya telah dipersiapkan pembuatannya di luar tubuh anak, misalnya zat anti yang terdapat dalam serum kuda yang telah dimurnikan. Jadi pada imunisasi pasif, kadar zat anti yang meningkat dalam tubuh anak itu bukan sebagai hasil produksi tubuh anak sendiri, tetapi secara pasif diperoleh karena suntikan atau pemberian dari luar tubuh. Contoh imunisasi pasif ialah pemberian ATS (Anti Tetanus Serum) pada anak yang mendapat luka kecelakaan. Serum anti tetanus ini diperoleh dari darah kuda yang mengandung banyak zat anti tetanus. Contoh imunisasi pasif lain terjadi pada bayi baru lahir. Bayi itu menerima berbagai jenis zat anti dari ibunya melalui darah uri (plasenta), misalnya zat anti terhadap penyakit campak ketika bayi masih dalam kandungan ibu.

a. Vaksin BCG

Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus Calmette guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan.

Di Indonesia dan di negara sedang berkembang lainnya, TBC masih merupakan penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara yang sudah berkembang, penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan, karena dilaksanakannya imunisasi BCG dengan luas, pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan keadaan sosial ekonomi.

Seorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. Mungkin juga bayi sudah terjangkit penyakit TBC sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan, bila ibu mengidap penyakit TBC. Tetapi hal ini jarang terjadi. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat menyerang berbagai alat tubuh. Yang diserangnya ialah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang paling berat. Salah satu dari sekian banyak upaya pemberantasan penyakit TBC ialah imunisasi BCG. Dengan imunisasi BCG diharapkan penyakit TBC dapat diberantas dan kejadian TBC yang berat dapat dihindari.

Cara imunisasi: Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji Mantoux sebelum imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil uji Mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi BCG.

Reaksi imunisasi: biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar anda berkonsultasi dengan dokter.

Efek samping: umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di ketiak atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar di selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan arena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam. Dalam masalah komplikasi yang ringan ini, bila terdapat keraguan dipersilahkan anda berkonsultasi dengan dokter.

Kontra Indikasi: tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoux positif.

  • Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan sedini-dininya, dalam waktu beberapa hari setelah bayi lahir.
  • Cara pemberian imunisasi BCG bagi perorangan berlainan dengan pemberian secara massal.
  • Imunisasi BCG secara massal tanpa didahului uji Mantoux, tidak membahayakan.
  • Dengan imunisasi BCG akan anda akan bebas terjangkit penyakit TBC. Setidak-tidaknya ia terhindar dari penyakit TBC yang berat dan parah.

b. Vaksin DPT (Difteriaa, Pertusis, Tetanus)

Vaksin dan jenis vaksin: manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Dalam peredaran di pasaran terdapat 3 jenis kemasan vaksin ketiga penyakit ini. Anda dapat memperolehnya dalam bentuk kemasan tunggal khususnya bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (dikenal pula sebagai vaksin tripel).

Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan 2-3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan jarak waktu antara 2 penyuntikan 4-6 minggu. Imunisasi dasar dengan 3 kali penyuntikan lebih baik daripada dengan 2 kali penyuntikan. Untuk imunisasi massal (di sekolah, RT/RW), biasanya cukup diberikan 2 kali penyuntikan. Imunisasi ulang lazimnya diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun (sebelum masuk sekolah dasar), dan menjelang umur 10 tahun (sebelum keluar Sekolah Dasar), masing-masing hanya diberi 1 kali suntikan.

Reaksi imunisasi: reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.

Efek samping: kadang-kadang terdapat akibat samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteria dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.

Indikasi kontra: imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak. Dokter akan mempertimbangkan pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita sakit ringan.

c. Vaksin  DT (difteria, Tetanus)

Jenis vaksin: vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus. Misalnya anak anda tidak diperbolehkan atau tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteria atau tetanus.

Cara imunisasi: pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan pada imunisasi DPT.

Efek samping: akibat samping biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.

Indikasi kontra: hanya pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih dapat diberikan imunisasi DT.

d. Vaksin Difteria

Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan (=toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DPT.

Penjelasan penyakit: Di Indonesia difteri masih banyak dijumpai, bahkan mungkin timbul secara luas dalam waktu bersamaan. Di negara maju pun difteri masih belum lenyap, misalnya di Amerika Serikat masih terdapat di pelosok perkotaan yang penduduknya padat dan kurang mampu.

Penyakit difteri disebabkan oleh sejenis bakteria yang disebut Corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia berhubungan langsung dengan anak lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (carrier), yaitu dengan terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata menderita difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang carrier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi carrier.

Anak yang terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain itu pada tonil (amandel) atau tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke bagian tenggorok sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak seolah-olah tercekik dan sukar bernafas. Kegawatan lain pada difteri ialah adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat menyerang otot jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat tinggi; biasanya disebabkan anak “tercekik” oleh selaput putih pada tenggorok atau karena lemah jantung akibat racun difteri yang merusak jantung.

Cara imunisasi: pemberian imunisasi difteri biasanya dilakukan bersama-sama dengan tetanus (Vaksin DT) dan batuk rejan (vaksin DPT), sejak bayi berumur 2 bulan (lihatlah jadwal imunisasi hal. 61). Mula-mula diberikan dalam bentuk imunisasi dasar sebanyak 2-3 kali suntikan dengan jarak waktu antara 2 suntikan 4-6 minggu. Kemudian disusul dengan imunisasi ulang pada umur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun. Imunisasi ulang sewaktu diperlukan juga bila anak anda berhubungan dengan anak lain yang menderita difteri. Jadi bila anak terjangkit difteri, maka anak lain yang tinggal serumah harus mendapat imunisasi ulang meski pun belum waktunya.

Kekebalan: Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95%.

Reaksi imunisasi: Jarang terjadi, mungkin berupa demam ringan selama 1-2 hari.

Efek samping: biasanya tidak ada

Indikasi kontra: Hanya pada anak yang menderita demam tinggi atau sakit parah.

e. Vaksin Tetanus

Vaksinasi dan jenis vaksin: Seperti telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal, kombinasi dengan vaksin difteri (vaksin DT), atau kombinasi dengan vaksin difteri dan pertusis (vaksin DPT).

Vaksin untuk imunisasi pasif dikenal dengan ATS (Anti Tetanus Serum). Serum anti tetanus ini diperoleh dengan pengolahan serum yang berasal dari kuda yang mendapat imunisasi aktif tetanus. Serum kuda yang telah diolah itu mengandung banyak zat anti tetanus. Jenis vaksin ini dapat dipakai untuk pencegahan (imunisasi pasif), maupun pengobatan.

Penjelasan penyakit: penyakit tetanus masih terdapat di seluruh dunia, karena kemungkinan anak mendapat luka tetap ada, misalnya terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah kejang dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar dibuka, serta muka yang menyeringai serupa “setan”.

Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit ini terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi baru lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Dukung memotong tali pusat dengan memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini, secara berkala Departemen Kesehatan mengadakan kursus perawatan ibu dan bayi terhadap para dukun. Upaya lain untuk pencegahannya ialah pemberian imunisasi aktif kepada ibu hamil pada trimester akhir yang persalinannya diduga akan ditolong oleh dukun.

Seandainya seorang ibu melahirkan bayi yang ditolong oleh dukun dan sebelumnya tidak pernah mendapat imunisasi tetanus, maka seharusnya bayi itu segera dibawa ke dokter/Puskesmas. Gunanya untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit tetanus dengan pemberian Serum Anti Tetanus (ATS). Cara perlindungan terhadap bayi baru lahir ini merupakan contoh suatu imunisasi pasif.

Angka kematian tetanus masih sangat tinggi, yaitu pada bayi baru lahir sebesar 80-90%, pada anak berumur 2-7 tahun sebesar 20-70%, dan pada anak berumur 8-12 tahun adalah 60%. Angka kematiannya pada orang dewasa juga masih tinggi, yaitu 70-80%.

Cara imunisasi: Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan sama dengan imunisasi difteria (lihatlah jadwal imunisasi, hal. 61). Pada imunisasi tetanus, setelah anak berumur 10 tahun masih harus tetap mendapat suntikan ulang secara berkala setiap 5 tahun selama masa hidup selanjutnya.

Pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanus dilakukan sebanyak 2 kali, masing-masing pada kehamilan bulan ke-7 dan ke-8. sevaksinasi (vaksinasi ulang) dilakukan secara berkala setiap 5 tahun.

Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir:

  • Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus pada ibu hamil menjelang kelahiran bayi.
  • Seandainya kelahiran seorang bayi ditolong oleh dukun, bayi secepatnya dibawa ke dokter/puskesmas untuk mendapat imunisasi pasif dengan serum anti tetanus.

Kekebalan: daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%.

Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat demam ringan atau rasa nyeri, rasa gatal dan pembengkakan ringan di tempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari.

Efek samping: Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak efek samping. Pada pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal seluruh tubuh, nyeri kepala, bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS seyogianya di bawah pengamatan dokter.

Indikasi kontra: tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah.

f. Vaksin Pertusis (Batuk rejan, Pertussis)

Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin terbuat dari kuman Bordetella pertusis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (vaksin DPT, vaksin tripel).

Penjelasan penyakit: penyakit batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari, disebabkan oleh kuman Bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita, bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dengan wajahnya yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi malam hari.

Bila penyakit ini diderita oleh seorang bayi, terutama yang baru berumur beberapa bulan, akan merupakan keadaan yang sangat berat dan dapat berakhir dengan kematian akibat suatu komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi ialah kejang. Kerusakan otak atau radang paru. Batuk rejan jarang berakhir dengan kematian bila terjadi pada anak yang lebih besar, dengan ketentuan kesehatan anak tersebut ada di bawah pengamatan dokter atau petugas kesehatan yang berwenang.

Cara imunisasi: Imunisasi biasanya dilakukan bersama dengan vaksinasi difteria dan tetanus, dengan cara penyuntikan vaksin DPT. Karena perjalanan penyakit pada anak berumur lebih dari 5 tahun tidak parah dan mengingat kemungkinan efek samping imunisasi pertusis pada golongan umur lanjut lebih buruk, ada pendapat untuk tidak memberikan sevaksinasi pertusis pada anak berumur lebih dari 5 tahun. Dengan demikian, imunisasi ulang hanya diberikan pada umur 1 ½ – 2 tahun dan ketika menjelang umur 5 tahun.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan. Oleh para sarjana masih sedang diteliti untuk mendapatkan jenis vaksin yang lebih murni dan berdaya proteksi lebih tinggi.

Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi dapat berupa demam selama 1-2 hari atau pembengkakan lokal di tempat suntikan.

Efek samping: walaupun jarang terjadi, mungkin dijumpai efek samping berupa kejang.

Indikasi kontra: imunisasi pertusis tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah, anak dengan gejala penyakit saraf, atau anak yang pernah kejang, juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal, atau pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan.

g. Vaksin Poliomielitis

Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis. Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II dan III, yaitu:

  1. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk). Cara pemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan.
  2. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan II yang masih hidup, tetapi dilemahkan (vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan.

Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin. Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin. Di beberapa negara dikenal “Tetra vaccine” yang mengandung 4 jenis vaksin, yaitu kombinasi DPT dan polio, cara pemberiannya dengan suntikan.

Cara imunisasi: di Indonesia dipakai vaksin Sabin yang diberikan melalui mulut. Imunisasi dasar diberikan ketika anak berumur 2 bulan, sebanyak 2-3 kali. Jarak waktu antara 2 pemberian ialah 4-6 minggu. Sevaksinasi diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun (lihatlah jadwal imunisasi, hal 61). Vaksin polio dapat diberikan bersama dengan vaksin DPT. Pada pemberian vaksin polio perlu diperhatikan bayi yang masih mendapat ASI. Karena ASI mengandung zat anti terhadap polio, maka dalam waktu 2 jam setelah minum vaksin polio bayi tersebut tidak diberi ASI dahulu. Zat anti yang terdapat dalam ASI akan menghancurkan vaksin polio, sehingga imunisasi polio menjadi gagal. Sebenarnya masalah ini masih dipertentangkan. Pada saat ini, banyak sarjana berpendapat bahwa tidak ada pengaruh ASI terhadap imunisasi polio. ASI dapat diberikan seperti biasa, karena sifat dan jenis antibodi pada ASI berlainan.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100%.

Reaksi imunisasi: biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan terdapat berak-berak ringan.

Efek samping: Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping. Bila ada, mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya.

Indikasi kontra: Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan. Demikian pula pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan tidak diberikan polio. Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat ialah kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam atau diare ringan, imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya.

  • Vaksin Campak (Morbili)

Vaksinasi dan jenis vaksin: Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secar aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering di kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubela (campak Jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama MMR (Measles Mumps-Rubela Vaccine).

Cara imunisasi: Bayi yang baru lahir telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur 6 bulan biasanya bayi itu tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan adanya kekebalan pasif ini sangatlah jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari 6 bulan.

Kekebalan: Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi, yaitu 96-99%. Menurut penelitian, kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup, sama langgengnya dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah.

Reaksi imunisasi: Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan nampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan.

Efek samping: Sangat jarang, mungkin terdapat kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak, berupa ensefalitis atau ensefalopati, dalam waktu 30 hari setelah imunisasi. Demikian pula dapat terjadi akibat samping lain pada jaringan otak yang dikenal dengan istilah SSPE (subacute sclerosing panencephalitis). Kejadiannya sangat jarang (1 diantara 1 juta penderita campak).

Indikasi kontra: Menurut WHO (1963), indikasi kontra hanya berlaku terhadap anak yang sakit parah, yang menderita TBC tanpa pengobatan, atau yang menderita kurang gizi dalam derajat berat. Vaksinasi campak sebaiknya juga tidak diberikan pada anak dengan penyakit defisiensi kekebalan. Juga tidak diberikan pada anak yang menderita penyakit keganasan atau sedang dalam pengobatan penyakit keganasan. Karena belum terkumpulnya cukup informasi ilmiah, sebaiknya imunisasi campak pada ibu hamil ditangguhkan. Pada anak yang pernah kejang, imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dengan pengawasan dokter.

  • Vaksin Hepatitis B

Vaksinasi dan jenis vaksinasi: Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Penyakit ini dalam istilah sehari-hari lebih dikenal  dengan nama penyakit lever. Jenis vaksin ini baru dikembangkan dalam waktu 10 tahun terakhir, setelah diteliti bahwa virus hepatitis B mempunyai kaitan erat dengan terjadinya penyakit lever tadi. Vaksin terbuat dari plasma carrier hepatitis B yang sehat dengan cara pengolahan tertentu. Dari bahan plasma tersebut dapat dipisahkan dan dimurnikan bagian virus yang dapat dipakai dalam pembuatan vaksin lebih lanjut. Di kalangan masyarakat dikhawatirkan pemakaian vaksin yang terbuat dari plasma karena adanya berita akibat samping berupa penyakit AIDS. Namun setelah pemakaiannya yang lebih dari 10 tahun, ternyata tidak didapatkan adanya efek samping yang berarti. WHO melaporkan pula bahwa pemakaian vaksin tersebut cukup aman dan bebas dari penyakit AIDS.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar antara 94-96%.

Reaksi imunisasi: Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain yang mungkin terjadi ialah demam ringan.

Efek samping: Selama pemakaian 10 tahun ini, tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti. Berbagai suara di masyarakat tentang kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS, merupakan pemberitaan yang dibesar-besarkan. Dengan penelitian yang luas, WHO tetap menganjurkan pelaksanaan imunisasi hepatitis B.

Indikasi kontra: imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B ini dapat diberikan kepada ibu hamil dengan nama aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.

3. IMUNISASI YANG DIANJURKAN

Di Indonesia saat ini, dalam bidang imunisasi Departemen Kesehatan masih memberikan prioritas utama terhadap 6 jenis penyakit yang tergabung dalam Program Pengembangan Imunisasi. Sesuai dengan perkembangan pola hidup masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi, akan terjadi pula perubahan dalam pola penyakit. Hepatitis B misalnya, istilah awamnya “penyakit lever”, muncul sebagai penyakit baru di negara yang beriklim tropis. Penyakit ini 20 tahun lalu jarang terdengar di masyarakat, tetapi sejak beberapa tahun terakhir ini mulai dirasakan dampak negatifnya. Surat kabar sering memberitakan tentang kematian beberapa tokoh masyarakat karena mengidap “sakit lever”. Memang demikian kenyataannya. Dari laporan yang dibuat WHO, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara dengan kejadian penyakit hepatitis yang tinggi.

Demikian pula halnya dengan penyakit lain. Campak Jerman, misalnya tidak mustahil dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi masalah yang cukup serius. Penyakit tifus dan paratifus sebenarnya tidak tergolong ke dalam penyakit yang berat, khususnya pada anak. Namun demikian tifus dan paratifus merupakan penyakit endemik yang cukup menggelisahkan masyarakat.

Dengan memperhatikan pola penyakit pada saat ini serta kemungkinan perkembangannya pada kurun waktu 10-20 tahun mendatang, penulis menggolongkan beberapa penyakit berikut ini ke dalam kelompok imunisasi yang dianjurkan, yaitu penyakit: tifus, paratifus A-B-C, gondong/bengok, rabies, campak Jerman (rubela) dan hepatitis B.

Vaksin terhadap penyakit tersebut di atas telah beredar di Indonesia. Sebagian diproduksi di dalam negeri dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Sebagian lagi masih harus diimpor sehingga biaya imunisasinya cukup tinggi. Sebagai seorang ibu yang memberikan penuh kasih sayang terhadap anaknya, seandainya ada kesempatan dipersilakan untuk mendapatkannya. Setinggi-tingginya biaya vaksinasi, vaksinasi jauh lebih murah dan lebih aman dari pengobatan. Jenis vaksin yang tergolong cukup mahal ialah vaksin gondong/bengok, campak Jerman dan MMR. Vaksin hepatitis B ada;ah yang paling mahal. Dengan ditemukannya cara pembuatan vaksin yang baru, diharapkan harganya menjadi lebih murah.

 

 

4. IMUNISASI LAIN

Selain dari yang telah diuraikan di atas, berbagai jenis vaksinasi dapat dilaksanakan di luar negeri. Beberapa diantaranya bahkan dianjurkan untuk golongan masyarakat tertentu, karena tingginya kejadian penyakit ada golongan masyarakat tersebut. Pelaksanaan imunisasi selanjutnya tergantung dari keadaan setempat dan akibat penyakit di negara tersebut, serta kebijaksanaan Pemerintah yang bersangkutan. Karena pemakaian jenis vaksin ini terbatas dan kurang meluas, maka harganya pun cukup tinggi.

Selanjutnya dalam golongan ini dimasukkan pula beberapa jenis vaksin yang di Indonesia dewasa ini pemakaiannya jarang sekali dan mungkin sudah tidak dianjurkan lagi. Penyajiannya dalam buku kecil ini hanya sekedar untuk diketahui dan menjadi bahan dokumentasi.

Dalam golongan vaksin ini di antaranya akan diuraikan vaksin kolera, cacar, dan sampar yang pemakaiannya sudah dihentikan, serta vaksin demam kuning, radang otak, influenza, hepatitis A, Staphylococcus dan Strepotococcus yang penggunaannya masih ada tetapi sangat jarang.

BAB III

PROFIL PUSKESMAS

III.1. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS BAROMBONG

Puskesmas Barombong di Jl. Perjanjian Bongaya No. 13

Puskesmas Barombong

KEADAAN GEOGRAFIS

Puskesmas Barombong berada di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah :

a.        Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Merdeka.

b.        Sebelah timur berbatasan dengan Kanjilo Kabupaten Gowa.

c.        Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pakkatta Kabupaten Takalar.

d.       Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.

GAMBAR PETA KELURAHAN BAROMBONG KECAMATAN TAMALATE

KOTA MAKASSAR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Barombong

Puskesmas Barombong terletak di Kelurahan Barombong mempunyai wilayah kerja satu kelurahan. Adapun luas wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah 748.09 Ha dengan jumlah rumah 1863 buah. Kelurahan Barombong terdiri atas 10 ORW yaitu

§  ORW 1        :   Barombong

§  ORW 2        :   Bungaya

§  ORW 3        :   Pattukangang

§  ORW 4        :   Bontokapetta

§  ORW 5        :   Bontoa

§  ORW 6        :   Kaccia

§  ORW 7        :   Tomposappa

§  ORW 8        :   Sumanna

§  ORW 9        :   Timbuseng

§  ORW 10      :   Banyoa

KEADAAN DEMOGRAFI

Berdasarkan hasil survey tahun 2008, jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Barombong adalah 10714 jiwa, laki – laki sebanyak 5218 jiwa dan wanita 5496 jiwa.

A. TINGKAT PENDIDIKAN DAN MATA PENCAHARIAN

Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Barombong bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, tamat SD, tidak tamat SD, hingga tidak sekolah. Adapun mata pencaharian penduduk sebagian besar berturut – turut adalah nelayan, PNS, pegawai swasta, wiraswasta, TNI, petani dan buruh.

B. UPAYA KESEHATAN

Puskesmas Barombong memiliki 9 ruangan yang terdiri atas Ruang Periksa/Ruang Dokter, Ruang Suntik, Ruang Kepala Puskesmas, Kamar KIA dan KB, Laboratorium, Poliklinik Gigi, Kamar Obat, Ruang Kartu, dan 1 buah WC.

 

 

 

 

 

 

Gambar  Denah Puskesmas Barombong

Sarana / fasilitas Kesehatan Puskesmas Barombong :

NO. KESEHATAN JUMLAH
1 Puskesmas Induk 1
2 Puskesmas Pembantu (Poskesdes) 1
3 Posyandu 10
4 Puskesmas Keliling 1

Tabel 4. Sarana / fasilitas Kesehatan Puskesmas Barombong

C. VISI DAN MISI PUSKESMAS BAROMBONG

1.    Visi Puskesmas Barombong.

§  Indonesia Sehat 2010.

2.    Misi Puskesmas Barombong.

§  Pelayanan kesehatan terdepan.

§  Melaksanakan pelayanan prima.

Visi dan misi tersebut dilakukan dengan cara melaksanakan enam upaya kesehatan wajib dan lima upaya kesehatan pengembangan.

Enam upaya kesehatan wajib Puskesmas Barombong adalah sebagai berikut :

1.      Upaya Promosi Kesehatan.

2.      Upaya Kesehatan Lingkungan.

3.      Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana.

4.      Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat.

5.      Upaya pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.

6.      Upaya Pengobatan.

Lima Upaya Kesehatan Pengembangan yaitu :

1.      Upaya Kesehatan Sekolah.

2.      Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat.

3.      Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.

4.      Upaya Kesehatan Usia Lanjut.

5.      Unit Pembinaan Pengobatan Tradisional.


BAB IV

METODE PENELITIAN

IV.1. JENIS PENELITIAN

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain penelitian survey deskriptif dengan maksud  untuk  mengetahui gambaran pemberian imunisasi di kelurahan barombong, Makassar. Data yang diperoleh dari hasil survey ini selanjutnya digambarkan berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai.

IV.2. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang diterapkan pada penulisan ini adalah metode analisis retrospektif.

IV.3. LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di puskesmas Barombong yang terletak di jalan Perjanjian Bongaya No.13 Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar.

IV.4. WAKTU  PENELITIAN

Waktu penelitian terhitung dari tanggal  1 januari – 31 juni 2009.

IV.5. POPULASI SAMPEL

1.    Populasi

Adalah semua pasien yang datang untuk imunisasi di posyandu kelurahan barombong      periode 1 januari – 31 juni 2009

2.    Sampel

Adalah semua pasien yang datang untuk imunisasi dan mempunyai catatan di        puskesmas periode 1 Januari – 31 Juni 2009.

 

IV.6. PENGUMPULAN DATA

Data yang  dikumpulkan adalah data sekunder. Data sekunder dari data mengenai imunisasi yang tercatat pada rekapitulasi laporan imunisasi puskesmas Barombong periode 1 Januari – 31 juni 2009.

IV.7 PENGOLAHAN DATA

Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan program komputer SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada Puskesmas Barombong Kecamatan Tamalate Kota  Makassar dari tanggal 1 Januari – 31 Juni 2009, mengenai pemberian imunisasi khususnya usia 0 – 12 bulan di Kelurahan Barombong periode 1 Januari – 31 Juni 2009.  Jumlah bayi yang meliputi wilayah kerja Puskesmas Barombong sebanyak 227 bayi.

Adapun hasil pengolahan data secara lengkap yang diperoleh berdasarkan jenis imunisasi yang diberikan dari data sekunder dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel I. Distibusi pemberian imunisasi BCG di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 8 6,72%
2. Februari 17 14,29%
3. Maret 21 17,65%
4. April 29 24,37%
5. Mei 20 16,80%
6. Juni 24 20,17%
  Total 119 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi laporan imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin BCG di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan april dengan angka 24,37% dan terendah pada bulan januari dengan angka 6,72%.

Tabel II. Distibusi pemberian imunisasi Hep.B di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari - -
2. Februari - -
3. Maret 6 25,00%
4. April 5 20,83%
5. Mei 8 33,34%
6. Juni 5 20,83%
  Total 24 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin Hep.B di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan mei dengan angka 33,34% dan terendah pada bulan januari dan februari dengan angka 0%.

Tabel III. Distibusi pemberian imunisasi DPT di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 34 12,14%
2. Februari 39 13,93%
3. Maret 62 22,14%
4. April 28 10,00%
5. Mei 52 18,57%
6. Juni 65 23,22%
  Total 280 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin DPT di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan Juni dengan angka 23,22% dan terendah pada bulan April dengan angka 10%.

Tabel IV. Distibusi pemberian imunisasi Polio di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 43 10,46%
2. Februari 56 13,63%
3. Maret 65 15,82%
4. April 89 21,65%
5. Mei 71 17,27%
6. Juni 87 21,17%
  Total 411 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin Polio di puskesmas barombong dengan presentase tertinggi yaitu pada bulan April dengan angka 21,65% dan terendah pada bulan januari dengan angka 10,46%.

Tabel V. Distibusi pemberian imunisasi Campak di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

No Bulan Jumlah Persentase
1. Januari 9 11,54%
2. Februari 10 12,82%
3. Maret 21 26,92%
4. April 15 19,23%
5. Mei 14 17,95%
6. Juni 9 11,54%
  Total 78 100%

Sumber : Data sekunder Rekapitulasi Laporan Imunisasi puskesmas Barombong

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa pemberian vaksin Campak di puskesmas barombong dengan persentase tertinggi yaitu pada bulan maret dengan angka 26,92% dan terendah pada bulan januari dan Juni dengan angka 11,54%.

Grafik.1 Distibusi Program Pengembangan Imunisasi  di puskesmas Barombong periode Januari – Juni 2009

Dari grafik diatas terlihat bahwa persentase pemberian vaksin imunisasi tertinggi di puskesmas Barombong pada periode Januari -  Juni 2009, yaitu pada pemberian vaksin Hep.B, dengan persentase 33,34%  pada bulan Mei, dan persentase terendah yaitu juga pada pemberian vaksin Hep.B dengan persentase 0% pada bulan Januari dan Februari.

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

VI.1. KESIMPULAN

1.    Pemberian Imunisasi pada jumlah anak di kelurahan barombong terdapat ketidak-aturan dalam tiap bulannya, terlihat dari jumlah anak yang di imunisasi dengan    angka yg di targetkan

2.    Terdapat Peningkatan Jumlah anak yang diberikan Imunisasi dari bulan januari 2009          sampai dengan juni 2009 pada wilayah Kerja Puskesmas Barombong

 

VI.2. SARAN

1. Meningkatkan penyuluhan mengenai pentingnya penggunaan Imunisasi terutama untuk mencegah anak dari bahaya penyakit infeksi.

2. Meningkatkan kerjasama dengan seluruh karyawan puskesmas dalam pendataan oleh warga kelurahan Barombong untuk mengetahui pertambahan anak di kelurahan Barombong.

3. Mengadakan kerjasama dengan praktek dokter swasta atau tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berada di wilayah kerja Puskesmas Barombong dalam pemberian imunisasi selain yang disediakan di posyandu dan puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, DSOG. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008.

2.      Baziad Ali. 2002. Kontrasepsi Hormonal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.

  1. Anonim Kontrasepsi Hormonal. Available from: http://medisdankomputer.co.cc.  Access on: March 18; 2009.

4.      Anwar Indra Nurzam Chalik, dkk. 2007. Bunga Rampai Masalah Kesehatan dari Dalam Kandungan Sampai Lanjut Usia. Balai Penerbit Fakultas Kedokteeran Universitas Indonesia: Jakarta.

5.      Anonim Mengenal Aneka Alat kontrasepsi. Available from: http://karyatulisilmiahkeperawatan.blogspot.com. Access on: March 12; 2009.

6.      Anonim Mengenal Kontrasepsi. Available from: http://puskesmas-oke.blogspot.com. Access on:  Dec 23; 2008.

7. Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan. 1998.

Kategori Karya Tulis Ilmiah :: Kata Kunci: , , , ,imunisasi retrovirus, imunisasi mri, imunisasi retirovirus0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close