KB DAN KONTRASEPSI

OLEH : RESKI AMALIYAH

STB     : 110207096

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar sukarela serta tidak bertentangan dengan agama, kepercayaan dan moral Pancasila. Dengan demikian maka bimbingan, pendidikan serta pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai dan menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk me­ningkatkan kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya menyangkut masalah teknis medis semata-mata, melainkan meliputi berbagai segi penting lainnya dalam tata hidup dan  kehidupan  masyarakat.(1)

Dibandingkan dengan spesialisasi lain, praktek obstetri di Amerika Serikat sudah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar bidang medis. Tidak satupun cabang ilmu kedokteran yang sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, agama, dan politik selain keluarga berencana. Walaupun setiap tahunnya sebagian besar wanita subur di Amerika cenderung menghindari kehamilan, mereka dan dokter mereka terus-menerus menghadapi faktor-faktor di atas. Para pemberi layanan bagi wanita harus terus memberi penyuluhan dan penerangan di bidang yang sering terjadi kesimpangsiuran pemahaman, perubahan yang terus-menerus, dan pengabaian bukti ilmiah oleh bidang hukum. Selain itu, liputan media yang tidak berimbang tentang teknologi kontrasepsi juga sangat merugikan. Bahkan di beberapa negara industri yang kaya, wanita tidak mendapatkan akses ke layanan keluarga berencana. Di Amerika Serikat, akses bagi wanita kurang mampu ke layanan semacam ini sering diputuskan lebih berdasarkan pertimbangan politik daripada medis. Untuk memperbaiki ketidakadilan ini, wanita harus berusaha agar opini mereka di ketahui oleh para legislator, petugas hukum, dan media massa. Upaya-upaya semacam ini dapat efektif, seperti dicontohkan oleh pemerintah Jepang yang baru-baru ini menyetujui kontrasepsi oral setelah tertunda selama 35 tahun.(2)

Nasehat kontrasepsi bagi wanita menjelang menopause merupakan masalah yang lebih sulit karena tidak mungkin memperkirakan kapan kesuburan berakhir. Hasil-hasil dari penelitian Metcalf (1979) mengisyaratkan bahwa apabila haid berlangsung teratur, terdapat bukti bahwa terjadi ovulasi pada setiap daur. Oligomenorea menyebabkan frekuensi haid berkurang tetapi tidak menghentikan ovulasi secara total. Bahkan munculnya semburat panas (hot flushes), terjadinya amenorea, dan meningkatnya kadar gonadotropin tidak menjamin secara mutlak bahwa kemudian tidak akan terjadi ovulasi lagi. Folikel premordial dengan oosit yang tampak normal masih mungkin dijumpai di ovarium wanita berusia 50 tahun atau lebih. (2)

Tujuan utama pelaksanaan keluarga berencana dalam Repelita I adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan ke­sejahteraan ibu dan anak, keluarga serta masyarakat pada umumnya. Dengan berhasilnya pelaksanaan keluarga berencana diharapkan angka kelahiran dapat diturunkan, sehingga tingkat kecepatan perkembangan penduduk tidak melebihi ke­mampuan kenaikan produksi. Dengan demikian taraf kehidupan dan kesejahteraan rakyat diharapkan akan lebih me­ningkat.(1)

Tidak ada satu bentuk kontrasepsi yang sempurna. Masing-masing memiliki tingkat kegagalan yang nyata, baik yang berhubungan dengan metode kontrasepsi itu sendiri maupun kesalahan manusia sebagai pengguna. Mayoritas kontrasepsi juga memiliki efek samping, bahkan beberapa di antaranya dapat berlangsung serius. Pilihan kontrasepsi yang tepat merupakan keputusan yang kompleks untuk setiap individu atau pasangan. Kita harus berupaya keras untuk mengurangi efek samping dan resiko ini hingga tingkat minimum, mengenali dan mengatasinya, dan kita harus menyadari bahwa salah satu resiko besar pada kegagalan kontrasepsi adalah kehamilan yang tidak direncanakan. (2,3)

BAB II

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI

Organ reproduksi primer terdiri dari sepasang testis pada pria dan sepasang ovum pada wanita. Organ kelamin aksesoris terdiri dari saluran reproduksi dan kelenjar yang berkaitan dengan transport, pemberian nutrisi, dan pertahanan.(4,5)

2.1  ANATOMI DAN FISIOLOGI REPRODUKSI PRIA

 

Sistem reproduksi pria terdiri dari testis, epididimis, ductus deferen, ductus ejaculatorius, urethrae, dan penis. Fungsi reproduksi penting pada pria adalah (1) pembentukan sperma (spermatogenesis) yaitu proses perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa yang berlangsung sekitar 64 hari, dan (2) penyaluran sperma pada wanita. Organ penghasil sperma, testis adalah organ lunak berbentuk oval dengan panjang 4 – 5 cm dan berdiameter 2,5 cm. Epididimis adalah tuba terlilit yang panjangnya mencapai 20 kaki (4 – 6 meter) yang terletak di sepanjang sisi posterior testis. Ductus deferen adalah kelanjutan epididimis, yang masing-masing meninggalkan skrotum, menanjak menuju dinding abdominal kanal inguinal, lalu mengalir di posterocaudal Vesica urinaria untuk bergabung dengan ductus ejaculatorius. Ductus ejaculatorius pada kedua sisi terbentuk dari pertemuan pembesaran (ampula) di bagian ujung Ductus deferen dan ductus Vesicula seminalis. Urethrae merentang dari Vesica urinaria hingga pangkal penis dan terdiri dari tiga bagian, yaitu Urethrae pars prostatica, Urethrae pars membranacea, dan Urethrae pars spongiosa. Organ yang terakhir adalah penis, penis terdiri dari 3 bagian, pangkal penis, Corpus penis, dan Glans penis.(4,5)

Sistem reproduksi pria dirancang untuk menyalurkan sperma ke saluran reproduksi wanita dalam suatu vehikulum cair, yaitu semen, yang kondusif untuk viabilitas sperma. Kelenjar seks tambahan yang utama, yang sekresinya membentuk sebagian besar semen, adalah Vesicula seminalis yang berfungsi untuk memberi nutrisi dan melindungi sperma, Glandula prostatica yang mengeluarkan cairan basa menyerupai susu yang menetralisir keasaman vagina selama senggama dan meningkatkan motilitas sperma yang akan optimum pada pH 6,0 – 6,5, serta sepasang Glandula bulbourethralis yang mensekresi cairan basa yang mengandung mukus ke dalam urethra penis untuk melumasi dan melindungi semen.(4,5)

2.1.1  Mekanisme Ereksi

Penis sebagian besar terdiri dari jaringan erektil yang terdiri dari dua buah corpus cavernosum, dan satu buah corpus spongiosum. Apabila terjadi stimulasi seksual, arteriol-arteriol yang sebelumnya kontriksi secara refleks akan berdilatasi dan jaringan erektil akan terisi oleh darah, sehingga penis melebar, memanjang, dan mengeras.(4,5)

2.2  ANATOMI DAN FISIOLOGI REPRODUKSI WANITA

 

Gambar 2. Anatomi reproduksi wanita(7)

Peran wanita dalam reproduksi lebih rumit bila dibandingkan dengan pria. Fungsi utama sistem reproduksi pada wanita adalah (1) pembentukan ovum (oogenesis); (2) menerima sperma; (3) transportasi sperma dan ovum ke tempat penyatuan (fertilisasi/pembuahan, atau konsepsi); (4) pemeliharaan janin yang sedang berkembang sampai janin tersebut dapat bertahan hidup di dunia luar (gestasi atau kehamilan), termasuk pembentukan plasenta; (5) melahirkan bayi (partus); dan (6) memberi makan pada bayi yang baru dilahirkan dengan menghasilkan susu.(4,5)

Ovarium memiliki ukuran panjang 3 – 5 cm, lebar 2 – 3 cm, dan tebal 1 cm, berbentuk seperti kacang kenari. Oviductus (Tubae uterinae atau Tuba Fallopi), yang menjemput ovum pada ovulasi dan berfungsi sebagai tempat pembuahan, memiliki ukuran panjang 10 cm dan diameter 0,7 cm, organ ini terbagi menjadi Infundibulum tubae uterinae yang menyerupai corong dengan struktur yang menyerupai jari-jari yang disebut Fimbriae tubae uterinae yang berfungsi menangkap oosit yang akan di ovulasi; Ampula tubae uterinae; dan Istmus tubae uterinae yaitu bagian tersempit dan berhubungan langsung dengan Uterus. Uterus memiliki rongga dan berdinding tebal, yang terutama berperan dalam mempertahankan janin selama perkembangannya dan mengeluarkannya pada akhir masa kehamilan, berbentuk seperti buah pir terbalik dan dalam kehamilan tidak hamil memiliki panjang 7 cm, lebar 5 cm, dan diameter 2,3 cm, bagian terbawah Uterus, Cerviks, menonjol ke dalam vagina dan memiliki sebuah lubang, Canalis cervicalis. Sperma didepositkan di vagina oleh penis selama hubungan kelamin. Canalis cervicalis berfungsi sebagai jalur untuk sperma melintasi uterus  ke tempat pembuahan di Tuba fallopi, dan sewaktu mengalami dilatasi saat prose persalinan. Vagina yaitu organ kopulasi wanita memiliki panjang 8 – 10 cm.(4,5)

Muara vagina terletak di regio perineum antara muara urethrae di bagian anterior dan anus di bagian posterior. Lubang ini ditutup secara parsial oleh himen, yang secara fisik dapat robek karena berbagai cara, termasuk hubungan kelamin yang pertama. Muara vagina dan urethra dikelilingi di sebelah lateral oleh dua pasang lipatan kulit, Labia minora dan Labia majora. Clitoris, sebuah struktur erotik kecil dan terdiri dari jaringan yang identik glans penis.(4,5)

2.2.1  Siklus Menstruasi

Pada wanita pascapubertas memperlihatkan perubahan siklis yang berulang-ulang dalam aksis hipothalamus-hipofisis-ovarium yang menyebabkan pematangan dan pelepasan gamet dari ovarium dan persiapan uterus untuk menunjang kehamilan jika terjadi fertilisasi. Pada keadaan tidak terjadi konsepsi, setiap siklus berakhir dengan perdarahan menstruasi.(3)

Siklus menstruasi pada manusia dibagi menjadi empat fase berdasarkan perubahan fungsional dan morfologis di dalam ovarium dan endometrium, yaitu sebagai berikut: (3,4)

2.2.1.1   Fase Folikular

Pada siklus menstruasi 28 hari, fase ini meliputi 14 hari pertama. Pada siklus menstruasi yang lebih atau kurang dari 28 hari, adanya penyimpangan lamanya siklus tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan lamanya fase folikular. (3,4)

Selama fase ini, sekelompok folikel ovarium akan lebih matang, walaupun hanya satu yang akan menjadi folikel dominan, yang disebut sebagai Folicle de graaf. (3,4)

Hari pertama perdarahan menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama fase folikular. Selama 4 – 5 hari pertama fase ini, perkembangan folikel ovarium awal ditandai oleh proliferasi dan aktivitas aromatase sel granulosa yang diinduksi oleh FSH. FSH juga menstimulasi reseptor LH yang baru pada sel granulosa, yang kemudian memulai respon LH. (3,4)

Pada hari ke 5 – 7 siklus menstruasi, folikel dominan akan menjadi matang dan berovulasi antara hari ke-13 dan 15. Selama fase folikular tengah hingga akhir, kadar estradiol dan inhibin B yang terus meningkat dalam sirkulasi akan menekan sekresi FSH, sehingga mencegah tercetusnya folikel baru. Peningkatan estradiol dalam sirkulasi yang sangat tinggi dan terus menimbulkan efek yang tidak diharapkan pada kelenjar hipofisis yaitu lonjakan LH. (3,4)

2.2.1.2   Fase Ovulatoir

Fase ini  ditandai oleh lonjakan sekresi LH hipofisis, yang memuncak saat dilepaskannya ovum yang matang melalui kapsul ovarium, yang disebabkan oleh konsentrasi estrogen plasma yang tinggi, yang menyebabkan frekuensi denyut sekresi GnRH pada hipothalamus meningkat, sehingga meningkatkan sekresi LH dan FSH. Kadar tersebut juga bekerja langsung pada Hipophisis anterior untuk secara spesifik meningkatkan kepekaan sel penghasil LH terhadap GnRH. Lonjakan LH ini hanya berlangsung satu atau dua hari pada pertengahan siklus, sesaat sebelum ovulasi. (3,4)

2.2.1.3   Fase Luteal

LH “mempertahankan” Corpus luteum; yaitu setelah memicu perkembangan Corpus luteum, LH merangsang struktur ovarium ini untuk terus-menerus mengeluarkan progesteron dan estrogen, dengan jumlah progesteron jauh lebih besar. Kadar progesteron plasma meningkat untuk pertama kalinya selama fase luteal. Selama fase folikel tidak terjadi sekresi progesteron (kecuali sedikit dari folikel yang akan pecah di bawah pengaruh lonjakan LH). Oleh karena itu, fase folikel didominasi oleh estrogen, sedangkan fase luteal didominasi oleh progesteron. (3,4)

Penurunan sesaat kadar estrogen dalam darah terjadi pada pertengahan siklus sewaktu folikel penghasil estrogen mati. Kadar estrogen kembali naik selama fase luteal karena aktivitas Corpus luteum, walaupun tidak mencapai puncak yang sama seperti fase folikel.(4)

Corpus luteum berfungsi selama dua minggu, kemudian berdegenerasi jika tidak terjadi pembuahan. Degenerasi Corpus luteum mengakhiri fase luteal dan menandai dimulainya fase folikel yang baru. (3,4)

2.2.1.4   Fase Menstruasi

Fase menstruasi terdiri dari tiga fase yaitu : (4)

2.2.1.4.1   Fase Menstruasi

Fase ini ditandai oleh pengeluaran darah dan debris endometrium dari vagina. Fase ini bersamaan dengan berakhirnya fase luteal ovarium dan permulaan fase folikel. Sewaktu Corpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi pembuahan dan implantasi ovum yang dikeluarkan dari siklus sebelumnya, kadar estrogen dan progesteron di sirkulasi turun drastis. Karena efek netto estrogen dan progesteron adalah mempersiapkan endometrium untuk implantasi ovum yang dibuahi, penarikan kembali kedua hormon steroid tersebut menyebabkan lapisan endometrium yang kaya akan nutrisi dan pembuluh darah itu tidak lagi ada yang mendukung secara hormonal. Penurunan kadar hormon-hormon ovarium itu juga merangsang pengeluaran prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh endometrium, sehingga aliran darah ke endometrium terganggu. Perdarahan yang timbul melalui disintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan yang mati ke dalam lumen uterus.(4)

Penurunan estrogen dan progesteron akibat degenerasi Corpus luteum secara simultan menyebabkan terlepasnya endometrium dan perkembangan folikel-folikel baru di ovarium di bawah pengaruh hormon-hormon gonadotropin yang kadarnya kembali meningkat. Penurunan sekresi hormon gonad meningkatkan efek inhibisi pada hipothalamus dan hipophisis anterior, sehingga sekresi FSH dan LH, folikel-folikel yang baru berkembang mengeluarkan cukup banyak estrogen untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan endometrium.(4)

2.2.1.4.2   Fase Proliferasi

Fase ini dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikel ovarium pada saat endometrium mulai mamperbaiki dirinya dan mengalami proliferasi di bawah pengaruh estrogen yang berasal dari folikel-folikel yang baru yang sedang tumbuh. Sewaktu darah haid berhenti, di uterus tertinggal satu lapisan endometrium setebal < 1 mm. Estrogen merangsang proliferasi sel epitel, kelenjar, dan pembuluh darah di endometrium sehingga ketebalan lapisan ini dapat mencapai 3 – 5 mm. Fase proliferatif yang didominasi oleh estrogen berlangsung dari akhir haid sampai ovulasi. Kadar estrogen puncak memicu lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi.(4)

2.2.1.4.3   Fase Sekresi

Fase ini bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Corpus luteum mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron bekerja pada endometrium tebal yang sudah dipersiapkan oleh estrogen untuk mengubahnya menjadi jaringan yang kaya akan pembuluh dan glikogen, disebut fase sekretorik karena kelenjar-kelenjar endometrium secara aktif mengeluarkan glikogen, atau fase progestasional (sebelum kehamilan), dalam kaitannya dengan pembentukan lapisan endometrium subur yang mampu menunjang perkembangan mudgah. Jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi, Corpus luteum berdegenerasi, dan fase folikel dan fase haid kembali dimulai.(4)

BAB III

KELUARGA BERENCANA

3.1  TUJUAN KELUARGA BERENCANA

Tujuan Program Keluarga Berencana secara makro untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka kelahiran, secara mikro mewujudkan ketahanan keluarga dan kesejahteraan masyarakat, yang  diwujudkan dalam kegiatan sebagai berikut:(9)

1.    Upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan

2.    Pengaturan kelahiran

3.    Pembinaan ketahanan keluarga

4.    Peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera

5.    Meningkatkan koordinasi dan peran serta aparatur serta masyarakat sehingga mampu mewujudkan koordinasi dalam membangun Keluarga Berencana

6.    Meningkatkan peran penyuluh dalam peningkatan capaian program

3.2  MANFAAT KELUARGA BERENCANA

Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masalah kesehatan reproduksi dibagi dalam 5 program, berdasarkan “Life Cycle Approach”, yaitu : (10)

1.    Kesehatan Ibu dan Anak

2.    Keluarga Berencana

3.    Kesehatan Reproduksi Remaja

4.    Penyakit Menular Seksual/HIV/AIDS

5.    Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut, yang terdiri dari Menopause dan Onkologi Ginekologi.

Keempat program pertama disebut sebagai Program Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE), sedangkan bila ditambah dengan program yang kelima, disebut Program Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK).(10)

Walaupun kelima program tersebut di atas sama pentingnya, dan perlu ditanggulangi, tetapi dalam penyelesaiannya, harus ada perbedaan dalam skala prioritasnya. Yang pertama harus mendapat prioritas adalah masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Karena masalah ini, yang dalam kesehari-hariannya dikenal dengan proses Kehamilan, Persalinan dan Nifas, atau proses reproduksi, akan melahirkan manusia baru yang akan menjadi generasi penerus. Jadi kita harus mengamankan proses ini sedemikian rupa, sehingga pada akhir proses, si anak lahir cukup bulan, sehat, tanpa cacat, dan si ibu tetap sehat, untuk kemudian bersama sama dengan disiplin yang lain, mempersiapkan tumbuh kembang anak tersebut menjadi Sumber Daya Manusia yang tangguh.(10)

Dalam kenyataannya, kondisi KIA kita saat ini masih memprihatinkan, terutama kalau dilihat dari proses dan hasil akhirnya. Keadaan tersebut, antara lain, disebabkan oleh tiga hal, yaitu pertama, karakteristik ibu hamil (bumil) yang tidak mendukung, seperti anemi, gizi buruk, pendidikan rendah dan ekonomis tidak mampu. Hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan dan daya tahan ibu, serta mengganggu perkembangan janin dalam rahim. Di samping itu, masih banyak bumil yang termasuk Golongan Resiko Tinggi (GRT), seperti Kehamilan Remaja yang sering disertai penyulit preeklamsi/eklamsi atau grandemulti yang dapat menyebabkan kelainan letak, plasenta previa maupun perdarahan pasca salin. semuanya dapat menimbulkan kerugian bagi ibu/anak, baik dalam bentuk morbiditas, mortalitas, perawatan yang lebih lama dengan biaya yang lebih tinggi.(10)

Kedua, masih banyak proses kehamilan, persalinan dan nifas yang berlangsung secara tidak aman, karena masih banyak bumil yang tidak mempunyai kesempatan dan akses untuk mendapat pelayanan kesehatan reproduksi yang baik pada saat mereka membutuhkannya. Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menyebabkan mereka memilih tenaga tidak terampil, dengan segala akibatnya. Andaikata suatu saat mereka dirujuk, seringkali sudah terlambat, bahkan tidak jarang dalam keadaan darurat, sehingga tujuan rujukan untuk menyelematkan ibu dan anak, sering tidak tercapai. (10)

Ketiga, sarana pelayanan kesehatan reproduksi masih kurang, baik dilihat dari segi jumlah, mutu dan penyebarannya. Hal ini diperburuk dengan cara pendekatan yang terlalu bersifat klinik, serta dedikasi dan kinerja petugas yang kurang.(10)

Keempat, masalah demografi. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang besar, lebih kurang 250 juta. Bila perbandingan laki dan perempuan sama banyak, berarti ada 125 juta perempuan, dan andaikata setengahnya merupakan Pasangan Usia Subur (PUS), berarti ada 62,5 juta perempuan yang potensial hamil, dengan segala macam akibatnya.(10)

Keluarga Berencana, termasuk salah satu program kesehatan reproduksi, dan sangat erat kaitannya dengan program KIA.(10)

Dikaitkan dengan empat masalah besar di atas, upaya revitalisasi program KB akan berdampak lebih nyata dibandingkan dengan upaya perbaikan sarana dan prasarana pelayanan KIA lainnya. Bila kita dapat memperbaiki program KB, kita akan dapat mengurangi jumlah bumil, serta memperbaiki karakteristiknya dengan menghilangkan atau mengurangi GRT, seperti Kehamilan Remaja, Kehamilan Usia Lanjut, Grandemulti dan Kehamilan yang Terlalu Sering. Di samping kita juga dapat menghindarkan kehamilan yang tidak diinginkan. Dengan demikian, mereka yang hamil, akan memasuki proses reproduksi dalam keadaan fisik dan mental yang optimal, yang berarti pula bahwa kehamilannya itu direncanakan dan dikehendaki, serta didukung oleh keadaan gizi yang cukup. Menghadapi kelompok bumil semacam ini, proses pengamanannya tidak terlalu sulit. Bila pemerintah, melalui Dinas Kesehatan, dapat membantu mereka untuk mendapat akses kepada pelayanan kesehatan reproduksi yang baik secara tepat waktu, hasilnya akan sangat memuaskan, dalam arti angka kematian ibu dan akan turun.(10)

3.3  PROGRAM KELUARGA BERENCANA

Kita sering salah kaprah dalam mengartikan dan menggunakan istilah KB. Sampai sekarang, masih banyak dokter atau bidan yang bertanya kepada pasiennya sebagai berikut : “Ibu KB-nya apa ?”. Jadi istilah KB di sini identik dengan jenis alat kontrasepsi.(10)

Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. Dalam definisi tersebut sudah termasuk : (10)

3.3.1         Hak untuk mendapat pelayanan kesehatan reproduksi seperti pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan kesehatan remaja. (10)

3.3.2         Hak asasi reproduksi, yaitu semua orang, baik laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang kelas sosial, suku, umur, agama), mempunyai hak yang sama untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta menentukan kelahiran anak dan di mana akan melahirkan. (10)

KB dimasukan dalam pelayanan kesehatan reproduksi karena KB bertujuan untuk menunda, menjarangkan atau membatasi kehamilan, bila jumlah anak dianggap cukup. Kehamilan yang diinginkan pada keadaan dan saat yang tepat, akan lebih menjamin kesehatan dan keselematan ibu dan bayi yang dikandungnya.

3.4     PERANAN KB DALAM KESEHATAN REPRODUKSI

Dilihat dari segi kesehatan reproduksi, program itu adalah bagian dari pelayanan Obstetri dalam bentuk Pengaturan Kesuburan. Kepada mereka yang terlalu subur, diberi pelayanan kontrasepsi, sedangkan mereka yang tidak atau kurang subur diberi pelayanan kemandulan. Tetapi, pelayanan kemandulan tidak pernah menjadi program nasional. Perhatian dan prioritas diberikan kepada pelayanan kontrasepsi, karena ini sejalan dengan program pengaturan kependudukan.(10)

Dahulu, orang tidak memasukkan KB dalam pelayanan Obstetri, karena Obstetri hanya memberikan pelayanan kepada bumil, dalam bentuk Maternity Care, yang terdiri dari PNC, IPC dan PPC. Tujuan dari Maternity Care yang tiga jenis itu, adalah untuk mengawasi dan mengamankan ibu dan anak, melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas, dengan cacat yang seminimal mungkin. Demikian juga dengan IC (Interval Care), pelayanan ini ditujukan kepada ibu dan anak, walaupun anaknya sudah di luar rahim. Pengertian dan Tujuannya adalah sebagai berikut :(10)

IC adalah pelayanan yang diberikan kepada PUS, di antara dua kehamilan, dengan tujuan untuk melestarikan hasil kehamilan yang lalu (anak), dan mempersiapkan kehamilan yang akan datang (ibu).” (10)

Ini berarti, setiap anak yang lahir harus bisa survive, untuk kemudian ditumbuh kembangkan menjadi generasi penerus yang tangguh. Sedangkan ibunya, seandainya masih ingin mempunyai anak lagi, harus dipersiapkan agar pada kehamilan berikutnya, tidak dibebani dengan faktor risiko, seperti spacing yang terlalu dekat, anak yang terlalu banyak atau hamil terlalu tua, di samping tentunya keadaan fisik yang optimal. Waktu antara dua kehamilan yang tepat, akan memberikan kesempatan kepada si ibu untuk memulihkan dirinya, serta waktu yang cukup untuk mengasuh anak.(10)

Karena itu, pelayanan yang diberikan pada saat IC harus mendukung kedua tujuan tadi, yaitu GOBIC-FF : (10)

3. 4. 1.        G = growth development —- anak

3. 4. 2.        O = oral rehydration —- anak

3. 4. 3.        B = breast feeding —- anak

3. 4. 4.        I = immunization —- anak

3. 4. 5.        C = contraception —- ibu

3. 4. 6.        FF= Food Fortification —- ibu dan anak.

Penggunaan kontrasepsi dalam upaya untuk menangguhkan kehamilan, dapat dilakukan di luar IC, yaitu pada perempuan yang dikawinkan pada umur muda, seperti yang masih sering terjadi di negara kita, dengan tujuan menangguhkan kehamilan, dalam upaya menghindarkan Kehamilan Remaja. Sosialisasi upaya ini harus terus menerus dilakukan, mengingat masih banyak daerah yang mengawinkan anak perempuannya tidak lama setelah mendapat haid pertama, sedangkan mereka kurang menyadari bahaya dari Kehamilan Remaja. Budaya ini berkaitan erat dengan masih adanya ketidaksetaraan gender.(10)

Adalah wajar kalau tiap perempuan berhak untuk menentukan kapan dia ingin hamil, berapa anak dan kontrasepsi apa yang diinginkannya. Tetapi dalam implementasinya, mungkin ada perbedaan bila hal ini diterapkan di negara Barat yang sekuler, dengan di Indonesia yang masih berlatar belakang budaya agamis. Di negara Barat, hak itu bisa berarti tidak perlu minta pendapat lain, sedangkan di Indonesia, masih dianggap tidak wajar kalau suami tidak tahu bahwa istrinya memakai kontrasepsi, termasuk jenis yang dipakainya.(10)

Pengertian bahwa perempuan itu berhak untuk menentukan kapan dia ingin hamil, untuk Indonesia, bisa diterima, selama perempuan itu belum hamil. Tetapi bila mereka datang dalam keadaan sudah hamil, kemudian menuntut haknya untuk tidak hamil dulu, maka masalahnya jadi lain.

Akan tetapi seperti kita ketahui, tidak ada metode kontrasepsi yang sempurna. Oleh karena itu, kita selalu akan menemukan sekelompok ibu-ibu yang gagal dalam upaya program KB-nya. Kegagalan ini bisa karena “methode failure” atau “patient failure”. Kehamilan yang terjadi ini merupakan kehamilan yang tidak direncanakan (unplanned pregnancy). Kehamilan semacam ini tidak selalu berarti kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy), karena ada ibu yang dapat menerima kenyataan ini, serta meneruskan kehamilannya tanpa permasalahan. Yang perlu diwaspadai adalah bahwa sebagian dari bumil ini mungkin termasuk GRT.(10)

 

BAB IV

KONTRASEPSI

4.1  METODE KONTRASEPSI

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah konsepsi atau terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas.(11,12)

Metode-metode dengan efektivitas bervariasi yang saat ini digunakan adalah : (11,12,13)

1.             Pantang berkala atau pantang berhubungan seksual di sekitar saat ovulasi.

2.              Koitus interuptus.

3.              Metode sawar ( barrier methods)

4.              Kontrasepsi hormonal.

5.              Alat kontrasepsi dalam rahim.

6.              Menyusui.

7.              Sterilisasi permanen.

Saat ini, berbagai kontrasepsi yang digunakan oleh pria dan wanita disajikan bermacam-macam. Penyuluhan yang efektif, serta motivasi, jelas akan mengurangi angka kegagalan yang tercantum tersebut. Wanita dewasa yang terus menggunakan salah satu metode tersebut untuk jangka waktu panjang biasanya memperlihatkan angka kegagalan yang sangat rendah. (12)

4.2  PANTANG BERKALA (RITMIK)

Secara ideal, pantang seks selama dan sekitar waktu ovulasi dapat mencegah kehamilan, prinsipnya ialah tidak melakukan persetubuhan pada masa subur istri, pasangan suami istri dilarang melakukan hubungan selama 6 hari selama 1 bulan untuk mencegah konsepsi. Karena ovulasi seorang wanita sulit untuk ditentukan secara pasti, maka diperlukan beberapa metode.(2,11,13,14,15,16,17)

Yang pertama adalah metode kalender, dengan metode ini periode pantang berkala ditentukan dengan perhitungan kalender berdasarkan siklus menstruasinya. Metode ini berpatokan pada: pembuahan bisa terjadi hanya 24 jam setelah ovulasi; spermatozoa dapat bertahan hidup selama 48 jam setelah coitus atau diejakulasikan; ovulasi terjadi pada hari ke 12 – 16 (14 ± 2 hari) sebelum haid selanjutnya.(2,11,13,14,15,16,17)

Yang kedua adalah metode irama suhu. Metode ini mengandalkan perubahan suhu tubuh basal yaitu peningkatan menetap 0,4˚F (0,2˚C) pada pagi hari yang biasanya terjadi tepat sebelum ovulasi. Sejak hari pertama kenaikan  suhu tersebut hingga hari ketiga pasangan suami-istri tidak dianjurkan untuk melakukan aktivitas seksual.(2,11,13,14,15,16,17)

Yang ketiga adalah metode irama mukus serviks. Metode ini bergantung pada kemampuan mengetahui perubahan pada jumlah dan konsistensi mukus serviks dalam siklus haid. Aktivitas seksual tidak diperbolehkan selama 4 hari setelahnya, hal ini disebut sebagai “peak mucus day”.(2,11,13,14,15,16,17)

Yang keempat adalah metode simpotermal. Metode ini mengombinasikan pemakaian metode kalender, metode irama suhu, dan metode irama mukus serviks. Karena banyak hal yang harus diawasi, metode ini lebih sulit jika dibandingkan dengan metode sebelumnya, sehingga aplikasinya masih sulit.(2,11,13,14,15,16,17)

Keuntungan

Metode kalender atau pantang berkala mempunyai keuntungan sebagai berikut: (2,11,13,14,15,16,17)

1.      Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana.

2.      Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat.

3.      Tidak membutuhkan alat atau pemeriksaan khusus dalam penerapannya.

4.      Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual.

5.      Kontrasepsi dengan menggunakan metode kalender dapat menghindari resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi.

6.      Tidak memerlukan biaya.

7.      Tidak memerlukan tempat pelayanan kontrasepsi.

Kerugian

Sebagai metode sederhana dan alami, metode kalender atau pantang berkala ini juga memiliki keterbatasan, antara lain: (2,11,13,14,15,16,17)

1.      Memerlukan kerjasama yang baik antara suami istri.

2.      Harus ada motivasi dan disiplin pasangan dalam menjalankannya.

3.      Pasangan suami istri tidak dapat melakukan hubungan seksual setiap saat.

4.      Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak subur.

5.      Harus mengamati sikus menstruasi minimal enam kali siklus.

6.      Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat).

7.      Lebih efektif bila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.

Efektifitas
Metode kalender akan lebih efektif bila dilakukan dengan baik dan benar. Sebelum menggunakanmetode kalender ini, pasangan suami istri harus mengetahui masa subur. Padahal, masa subursetiap wanita tidaklah sama. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan minimal enam kali siklus menstruasi. Selain itu, metode ini juga akan lebih efektif bila digunakan bersama dengan metodekontrasepsi lain. Berdasarkan penelitian metode kalender akan efektif tiga kali lipat bila dikombinasikan dengan metode simptothermal. Angka kegagalan penggunaan metode kalender adalah 14 per100 wanita pertahun.(2,11,13,14,15,16,17)
Hal yang dapat menyebabkan metode kalender menjadi tidak efektif adalah: (2,11,13,14,15,16,17)

1.            Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi (sperma mampu bertahan selama 3 hari).

2.            Anggapan bahwa perdarahan yang datang bersamaan dengan ovulasi, diinterpretasikan sebagai menstruasi. Hal ini menyebabkan perhitungan masa tidak subur sebelum dan setelahovulasi menjadi tidak tepat.

3.            Penentuan masa tidak subur tidak didasarkan pada siklus menstruasi sendiri.

4.            Kurangnya pemahaman tentang hubungan masa subur / ovulasi dengan perubahan jenis mukus / lendir serviks yang menyertainya.

5.            Anggapan bahwa hari pertama menstruasi dihitung dari berakhirnya perdarahan menstruasi. Hal ini menyebabkan penentuan masa tidak subur menjadi tidak tepat.

4.3  COITUS INTERUPTUS

Coitus interuptus atau pengeluaran penis dari vagina sebelum ejakulasi adalah salah satu metode kontrasepsi lama. Dengan metode ini, sebagian besar semen yang diejakulasikan di luar dari rongga vagina, sehingga akan mencegah terjadinya fertilisasi. Akan tetapi tingkat kegagalan coitus interuptus cukup tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk kontrasepsi lainnya, hal ini dapat dikaitkan dengan pengendapan semen (pra-ejakulasi) ke dalam vagina sebelum orgasme atau pengendapan semen di dekat introitus setelah hubungan seksual. Penyebab utama tingginya tingkat kegagalan coitus interuptus adalah sulitnya mengontrol diri untuk menarik penis sebelum ejakulasi.(15,16,17)

Efektifitas
Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan benar dan konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Pasangan yang mempunyai pengendalian diri yang besar, pengalaman dan kepercayaan dapat menggunakan metode ini menjadi lebih efektif.
Coitus interuptus memberikan manfaat baik secara kontrasepsi maupun non kontrasepsi.(15,16,17)

Manfaat kontrasepsi

1.      Alamiah.

2.      Efektif bila dilakukan dengan benar.

3.      Tidak mengganggu produksi ASI.

4.      Tidak ada efek samping.

5.      Tidak membutuhkan biaya.

6.      Tidak memerlukan persiapan khusus.

7.      Dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.

8.      Dapat digunakan setiap waktu.

Manfaat non kontrasepsi

1.      Adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.

2.      Menanamkan sifat saling pengertian.

3.      Tanggung jawab bersama dalam ber-KB.

Keterbatasan
Metode coitus interuptus ini mempunyai keterbatasan, antara lain:

1.      Sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan tumpahan sperma selamasenggama.

2.      Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme).

3.      Sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah interupsi coitus.

4.      Tidak melindungi dari penyakit menular seksual.

5.      Kurang efektif untuk mencegah kehamilan.

 

4.4  METODE SAWAR (BARRIER METHODS)

Metode ini aman dipakai, cukup mudah didapatkan, dan cukup efektif bila digunakan dengan benar, serta dapat mencegah penyebaran penyakit menular seksual dan hepatitis B HIV/AIDS. Akan tetapi angka kegagalan tinggi yaitu 5-20 dari 100 wanita per tahun.

Metode ini terbagi atas beberapa jenis, kondom pria, kondom wanita, diafragma, dan sumbat serviks (cervical cap): (2,11,13,14,15,16,17)

4.4.1  Kondom Pria

Kondom pria dibuat dari 3 bahan dasar, latex, polyurethan, dan jaringan hewan. Kondom lateks adalah metode kontrasepsi yang paling efektif untuk mencegah penularan infeksi menular seksual. Kondom dibuat dari jaringan hewan seperti usus domba tidak mencegah penularan infeksi menular seksual, akan tetapi kondom yang terbuat dari polyurethan dapat mencegah penularan, sayangnya kondom polyurethan memperlihatkan angka kebocoran yang secara bermakna lebih tinggi dibandingkan dengan kondom latex. Dalam penggunaannya kondom sebaiknya tidak terlalu ketat, ujungx harus lebih besar dari ujung penis sekitar setengah inci untuk mengumpulkan cairan ajaculat dan juga harus diperhatikan pada saat penarikan agar tidak menumpahkan cairan ejakulat.

 

4.4.2  Kondom Wanita

Kondom ini lembut, longgar dan memiliki dua cincin polyurethan fleksibel. Satu cincin terletak di dalam vagina pada ujung luar serviks dan berfungsi sebagai pelindung dan juga penahan. Cincin lainnya luar berada di luar vagina, sehingga memberikan perlindungan terhadap labia dan pangkal penis selama hubungan seksual. Kondom ini adalah alat yang penggunaannya satu kali saja. Pemasangan oleh seorang profesional kesehatan tidak diperlukan, karena dapat dilakukan sendiri.

 

4.4.3 Diafragma

Diafragma vagina, yang berupa kubah karet sirkular dengan garis tengah bervariasi dan diperkuat dengan cincin logam melingkar. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina sehingga serviks, forniks lateral, dan dinding vagina anterior dipisahkan secara efektif dari bagian vagina lainnya dan penis. Apanila ditempatkan dengan benar, cincin bagian superior akan terletak di forniks posterior, dan cincin inferior terletak dengan bagian dalam simpisis pubis tepat di bawah uretra. Apabila terlalu kecil, diafragmanya tidak akan mantap berada di tempatnya. Apabila terlalu besar, akan menimbulkan rasa kurang nyaman saat didorong masuk. Diafragma jangan dikeluarkan selama paling sedikit 6 jam setelah hubungan seksual.

4.4.4  Sumbat Serviks

Sumbat serviks (cervical cap) berupa rongga bercincin, fleksibel berbentuk mangkuk yang terbuat dari karet alami. Alat ini dipasang melingkari pangkal serviks. Alat ini dapat dipasang sendiri dan dibiarkan di tempatnya selama tidak lebih dari 48 jam. Sumbat serviks harus digunakan bersama dengan spermatisida.(2,11,13,14,15,16,17)

 

Gambar 7. Sumbat Serviks(21)

4.5  KONTRASEPSI HORMONAL

4.5.1  Hormon Seks

Hormon seks dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu steroid seks, gonadotropin, dan neurohormon. Hormon steroid seks berfungsi mengatur fungsi-fungsi organ reproduksi, baik pada perempuan maupun pada laki-laki, serta berperan terhadap pembentukan sifat seks sekunder pada manusia. Hormon steroid seks yang terpenting adalah estrogen, gestagen (progesteron), dan androgen. Estrogen dan gestagen adalah hormon seks wanita yang dalam jumlah kecil juga ditemukan pada laki-laki, sedangkan androgen adalah hormon seks laki-laki yang juga dalam jumlah kecil dijumpai pada perempuan.(22)

Estrogen dibagi menjadi dua jenis, yaitu estrogen alamiah dan sintetik. Jenis estrogen alamiah terpenting adalah estradiol (E­2), estriol (E3), dan estron (E4). Untuk penghantaran dalam darah, estrogen di ikat oleh protein yang khas, yaitu Sex Hormone Binding Globulin (SHBG). Estrogen baru akan dapat bekerja secara aktif setelah terlebih dahulu diubah menjadi estradiol. Estrogen dibentuk tidak hanya pada fase folikuler, melainkan juga pada fase luteal oleh sel-sel yang terdapat pada dinding folikel. Dalam jumlah yang sangat kecil estrogen diproduksi juga oleh kelenjar suprarenal oleh jaringan lemak dan sistem saraf pusat. Estrogen yang dibentuk di adrenal disebut juga sebagai estrogen residu. Selain itu, estrogen dibentuk juga oleh plasenta, dan sel-sel Leydig testis. Pada jaringan lemak dan sistem saraf pusat, estrogen yang terbentuk tersebut berasal dari proses aromatisasi steroid seks yang lain. Pada wanita, estrogen memicu pertumbuhan payudara. Pada endometrium, estrogen menyebabkan perubahan proliferatif, sedangkan pada vagina, tuba, dan uterus estrogen akan meningkatkan kemampuan kerja organ-organ tersebut. Di vagina, estrogen, terutama estradiol, menyebabkan perubahan pada selaput lendir, memperbanyak sekresi, dan meningkatkan kadar glikogen sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi. Estradiol mengubah konsistensi lendir serviks, terutama pada saat menjelang ovulasi, sehingga dapat meningkatkan perjalanan sperma dan meningkatkan kelangsungan hidupnya. Estradiol mengatur kecepatan perjalanan ovum dan mempersiapkan sperma dalam genitalia wanita agar dapat masuk ke dalam pembungkus ovum (kapasitasi). Estrogen juga ikut berperan dalam pengeluaran hormon gonadotropin. Dalam kehamilan, estrogen diproduksi oleh plasenta dan berfungsi membantu adaptasi uterus terhadap embrio yang sedang dalam pertumbuhan.(22)

Gestagen alamiah yang terpenting adalah progesteron, yang dihasilkan oleh corpus luteum dan plasenta dalam kehamilan. Progesteron menyebabkan perubahan sekretorik pada endometrium dan mengurangi kontraksi miometrium. Perubahan ini sangat penting bagi uterus untuk mempersiapkan dan mempertahankan kehamilan. Pada serviks, progesteron meyebabkan perubahan konsistensi lendir serviks menjadi lebih kental, sehingga sulit untuk ditembus oleh sperma, menghambat kapasitasi sperma, menghambat perjalanan ovum dalam tuba, apabila diberikan sebelum konsepsi, menghambat implantasi bila diberikan sebelum ovulasi.(2,11,22)

4.5.2  Hormon yang Terdapat dalam Kontrasepsi

Kontrasepsi hormonal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif dan reversibel untuk mencegah terjadinya konsepsi. Kebanyakan jenis hormon yang terkandung dalam kontrasepsi hormonal adalah jenis hormon sintetik, kecuali yang terkandung dalam depo medroksiprogesteron asetat (depo MPA), yang jenis hormonnya adalah jenis progesteron alamiah. Kebanyakan kontrasepsi hormonal diberikan secara oral (kontrasepsi oral). Sediaan yang mengandung progesteron saja dapat berupa pil, depo dalam bentuk injeksi, AKDR, atau implan. Kontrasepsi oral yang mengandung progesteron saja adalah minipil. (2,11,13,14,15,17,22)

Estrogen alamiah seperti estradiol jarang digunakan sebagai bahan kontrasepsi hormonal karena hormon jenis ini cepat sekali diserap oleh usus dan mudah dihancurkan oleh hati. Agar tidak mudah dihancurkan oleh hati, ditambahlah gugusan etinil pada C17 sehingga terbentuklah jenis estrogen sintetik dengan nama etinilestradiol. (2,22)

Gestagen adalah hormon steroid yang menyebabkan terjadinya transformasi sekretorik pada endometrium dan memiliki fungsi mempertahankan kehamilan. Progesteron alamiah banyak digunakan untuk mempertahankan kehamilan meskipun manfaatnya masih diragukan dan bahkan di beberapa negara maju penggunaan progesteron alamiah dalam kehamilan sudah tidak dianjurkan lagi. (22)

Seperti halnya estrogen alamiah, progesteron alamiah pun pada pemberian per oral akan sangat mudah diserap oleh usus dan dimetabolisme oleh hati sehingga jarang sekali digunakan sebagai kontrasepsi oral. Agar dapat digunakan secara oral, maka dilakukan perubahan pada molekul progesteron dengan menambah gugus ester, klor, atau gugus metil pada atom C17. Gestagen sintetik yang umumnya digunakan dalam kontrasepsi oral dapat berasal dari turunan progesteron dan turunan testosteron. Yang paling banyak digunakan sebagai kontrasepsi oral maupun sebagai bagian dari kontrasepsi oral adalah progesteron turunan testosteron yang disebut juga sebagai progesteron sintetik. Jenis-jenis gestagen sintetik yang banyak digunakan adalah noretisteron, norgestrel, levonorgestrel, desogestrel, gestoden, dienogest, norgestimat, klormadinon asetat, sipprotero lasetat, medroksiprogesteron asetat, mifepriston, dan danasol. (2,13,14,16,17,22,)

4.5.3  Kontrasepsi Hormonal

Kebanyakan kontrasepsi hormonal mengandung estrogen dan gestagen sintetik, tetapi ada juga kontrasepsi hormonal yang mengandung gestagen saja. Pemberiannya dapat berbentuk tablet dan berupa depo injeksi. Kontrasepsi oral biasanya dikemas dalam satu kotak yang berisi 21 atau 22 tablet, dan sebagian kecil ada yang berisi 28 tablet dengan 6 atau 7 tablet terakhir berupa plasebo sehingga tidak perlu lagi masa istirahat 6 atau 7 hari. Minipil digunakan tanpa masa istirahat yang terdiri dari 35 tablet. Sediaan estrogen-gestagen dibagi menjadi kombinasi monofasik, yang bertingkat, dan sekuensial. (2,22)

Kontrasepsi hormonal yang mengandung komponen gestagen saja adalah minipil, suspensi mikrokristal medroksiprogesteron asetat yang disuntikkan intramuskular dengan lama kerja 3 bulan-depoestrogen-progesteron, noretisteron enantat yang disuntik intramuskular dengan lama kerja 2-3 bulan, dan implan dibawah kulit dengan lama kerja bertahun-tahun. (2,22)

4.5.4  Efek Kontrasepsi

Semua organ tubuh wanita yang berada dibawah pengaruh hormon seks tentu dengan sendirinya akan dipengaruhi oleh kontrasepsi hormonal. Pada organ-organ tersebut akan terjadi perubahan-perubahan tertentu, tergantung pada dosis, jenis hormon, dan lama penggunaan. Pada endometrium terjadi perubahan sekretorik dan penggunaan pil kombinasi monofasik jangka panjang dan dapat menyebabkan atrofi endometrium, pembuluh darah tidak tumbuh lagi, atau dapat dikatakan bahwa sediaan kombinasi menyebabkan endometrium tidak aktif. (22)

Kontrasepsi hormonal dengan dosis yang besar akan  menambah jumlah haid dan siklus haid yang tidak teratur, dapat pula terjadi pendarahan bercak dan pada miometrium biasanya terjadi penebalan, terhadap serviks pemberian pil sekuensial membuat lendir serviks jernih dengan viskositas yang rendah, sedangkan pemberian pil kombinasi lendir serviks menjadi kental dan porsio terlihat livid. Tidak jarang pula wanita mengeluh keputihan dan gatal-gatal selama penggunaan kontrasepsi hormonal. (22)

4.6  ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM

Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan metode unik untuk mengendalikan kehamilan. Saat ini tersedia tiga macam AKDR yang sering digunakan, berikut ini adalah jenis-jenis AKDR :(2, 11, 14, 15, 17, 23)

4.6.1  Progestasert

Progestasert. Ko-polimer etilen vinil asetat berbentuk T ini memiliki batang vertikal yang mengandung 38 mg progesteron dan barium sulfat dalam dasar silikon. Alat ini mengeluarkan progesteron sekitar 65 µg/hari ke dalam rongga uterus selama 1 tahun. Jumlah ini tidak memengaruhi kadar progesteron plasma. Alat ini memiliki panjang 36 mm dan lebar 32 mm, dan terdapat benang hitam atau biru tua yang melekat ke pangkal batang. (2, 14, 15, 17, 23)

 

4.6.2  AKDR Levonorgestrel

AKDR Levonergestrel. Alat ini serupa dengan progestasert, tatapi mengandung levonergestrel. Alat ini berisi 52 mg levonergestrel dalam bentuk polietillen T dengan ukuran 32 mm x 32 mm dan yang memiliki benang monopilament vertikal di ujungnya. (2, 14, 15, 17, 23)

 

Gambar 9. AKDR Levonoegestrel (25)

4.6.3  Copper T 380A

Copper T 380A. Alat ini terdiri dari polietilen dan barium sulfat. Batangnya dibalut oleh 314 mm2 kawat tembaga halus, dan kedua lengan masing-masing mengandung 33 mm2 gelang tembaga, sehingga total tembaga adalah 380 mm2. Dari pangkal batang menjulur 2 helai benang berwarna putih kekuningan. (2, 14, 15, 17, 23)

 

Gambar 10. Coppert T 380A (26)

Ketiga alat ini yang kerjanya memberikan respon peradangan lokal intens, terutama alat yang mengandung tembaga memicu aktifasi lisosom dan peradangan yang bersifat spermisidal. Endometrium juga menjadi sangat tidak rama bagi inflatasi sekalipun pembuahan dan transfor tuba sudah berhasil. (2, 15, 23)

 

Efek Samping Minor

Gabungan kontrasepsi hormonal mempengaruhi hampir setiap sistem dalam tubuh. Kontrasepsi steroid dimetabolisme oleh hati dan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lipid, plasma protein, asam amino, vitamin dan faktor pembekuan.(2, 15, 23)

Banyak efek samping yang dilaporkan, khususnya sakit kepala, penambahan berat badan dan kehilangan libido, adalah umum di kalangan wanita tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Mereka mungkin berkaitan langsung dengan kontrasepsi steroid termasuk retensi cairan, mual dan muntah, chloasma, mastalgia dan pembesaran payudara. Semua kecuali chloasma (yang semakin buruk dengan bertambahnya waktu) meningkat dalam waktu 3 sampai 6 bulan. Dosis estrogen yang berbeda atau jenis progestogen atau cara pemberian yang berbeda dapat membantu jika waktu saja tidak dapat memecahkan masalah. Untuk wanita penggunan pil dengan keluhan mual yang persisten, menjadi indikasi pemberian patch. Efek samping (nyata atau dirasakan) sering mengakibatkan penghentian penggunaan; 73% wanita Inggris pada semua umur mengeluhkan terjadinya penambahan berat badan sebagai suatu kelemahan dari penggunaan pil.(2, 15, 23)

 

Penyakit Kardiovaskuler

Telah lama diketahui bahwa risiko terjadinya emboli deep-venous thrombosisandpulmonary meningkat pada wanita yang menggunakan pil oral kombinasi. Ini berhubungan dengan dosis estrogen, dan jumlahnya secara substansial telah diturunkan dengan formulasi yang mengandung dosis rendah estradiol ethinyl yaitu 20-35 µg. Bahkan dengan risiko yang meningkat, kejadian dengan menggunakan pil oral kombinasi hanya 3-4 per 10.000 perempuan per tahun. Selain itu, risikonya lebih rendah dari taksiran kehamilan 5-6 per 10.000 wanita per tahun. Risiko terjadinya tromboemboli berkurang dengan cepat ketika pil oral kombinasi dihentikan. (2, 15, 23)

Mereka yang paling berisiko untuk terjadinya trombosis vena dan emboli ialah wanita dengan defisiensi protein C atau S. Faktor klinis lain yang meningkatkan risiko trombosis vena dan emboli dengan menggunakan pil oral kombinasi adalah hipertensi, obesitas, diabetes, merokok, dan gaya hidup kurang gerak. Penggunaan kontrasepsi selama sebulan sebelum dilakukannya operasi besar meningkatkan dua kali lipat risiko tromboemboli pasca operasi. The American College of Obstetricians and Gynecologists (2007c) merekomendasikan menyeimbangkan risiko tromboemboli dengan wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan selama 4 sampai 6 minggu diperlukan untuk membalikkan efek trombogenik dari pil oral kombinasi sebelum operasi. (2, 15, 23)

Penggunaan pil oral kombinasi meningkatkan resiko dari stroke iskemik yang berlipat ganda, namun terjadinya risiko stroke perdarahan tetap tidak berubah. Merokok dan hipertensi meningkatkan risiko stroke tiga sampai sepuluh kali. Namun, stroke juga jarang terjadi pada wanita usia reproduksi. (2, 15, 23)

Neoplasia Ganas

Pil oral kombinasi dapat mengurangi risiko beberapa kanker dan dapat juga meningkatkan risiko beberapa kanker lainnya pula. Sebagian besar data yang didapat berhubungan dengan penggunaan pil oral kombinasi dengan dosis tinggi estrogen dan progestin yang tinggi, namun penelitian menunjukkan bahwa sediaan dosis yang lebih rendah juga cenderung memiliki efek yang sama pada risiko kanker. (2, 15, 23)

 

Kanker Payudara

Analisis dari 54 studi menemukan terjadinya peningkatan risiko kanker payudara yang kecil (resiko relatif = 1,24). Risiko kelebihan tersebut terjadi pada wanita dengan penyakit lokal, dan terdapat penurunan nilai pada penyakit metastatik. (2, 15, 23)

Pengamatan bahwa durasi penggunaan pil oral kombinasi tidak meningkatkan risiko kanker payudara menyangkal berpendapat sebelumnya. Risiko kanker payudara menghilang setelah 10 tahun penghentian penggunaan pil. Dengan demikian, wanita yang menggunakan pil dari usia 15 sampai usia 35 tahun memiliki risiko kanker payudara yang sama pada usia 50 sebagai wanita sebanding dengan wanita yang tidak pernah menggunakan pil oral kombinasi. Karena insiden kanker payudara masih rendah pada usia saat menggunakan pil oral kombinasi adalah hal yang umum, sehingga efek yang kecil akan mempengaruhi jumlah wanita yang relatif kecil. Misalnya, di antara wanita yang berhenti menggunakan pil oral kombinasi pada usia 25 tahun, risiko kumulatif dari usia 25 sampai 34 tahun diperkirakan didiagnosis kanker yaitu 1 per 10.000 wanita. Pada wanita yang menghentikan penggunaan pil oral kombinasi pada usia 40, ketika tingkat insidensi lebih tinggi, diperkirakan akan terjadi 19 kasus kanker yang didiagnosis pada usia 40 sampai 49 tahun. (2, 15, 23)

 

Kanker Serviks

Data risiko kanker serviks pada pengguna pil juga sulit diinterpretasikan karena metode penghalang memberikan perlindungan dan setiap hubungan yang diidentifikasi dalam studi epidemiologi berhubungan juga dengan hasil penyesuaian perilaku seksual yang buruk. 10 studi kasus meta-analisis baru-baru ini, wanita infeksi yang persisten dari infeksi virus papiloma manusia (HPV) yang menggunakan kontrasepsi hormonal (terutama kombinasi) lebih dari 5 tahun memiliki risiko relatif kanker serviks yang meningkat dari 2.8. Penggunaan kontrasepsi hormonal selama lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko relatif sampai 4.0. Jadi, meskipun adanya kekhawatiran bahwa perilaku seksual yang buruk di kalangan wanita yang menggunakan metode kontrasepsi berbeda mungkin menjadi pengganggu, bukti yang terjadi dijumlahkan dan didapatkan adanya asosiasi yang berarti antara penggunaan pil oral kontrasepsi dengan kanker serviks. (2, 15, 23)

Bukti saat ini menunjukkan peningkatan risiko adenokarsinoma antara pengguna jangka panjang tetapi ini adalah tumor yang langka. (2, 15, 23)

 

Kanker Ovarium, Endometrium Dan Colon

Terdapat bukti yang substansial menggunakan pil oral kombinasi dapat melindungi terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium. Terdapat juga pengurangan 50% risiko kanker ovarium epitelial setelah 5 tahun penggunaan pil oral kombinasi. Efek perlindungan berlangsung selama setidaknya 10 tahun setelah penggunaan pil dihentikan. Efeknya mungkin berhubungan dengan pengurangan jumlah ovulasi, dan oleh karena itu terdapat kasus ruptur kapsul ovarium. Penggunaan pil oral kombinasi juga mengurangi risiko kanker endometrium. Efeknya sangat berhubungan dengan lamanya penggunaan (pengurangan resiko 20% setelah 1 tahun, 50% setelah 4 tahun) dan tetap berlanjut selama 15 tahun setelah berhenti minum pil KB. Terdapat juga beberapa bukti yang menyatakan bahwa pil oral kombinasi mungkin juga memberi perlindungan terhadap kanker colon. (2, 15, 23)

Infeksi

Ada data yang bertentangan mengenai peran pil oral kombinasi dengan kandidiasis vulvovaginal yang episodik, walaupun laporannya menyatakan jumlahnya lebih rendah dari vaginosis bakteri. Sebagian besar tetapi tidak semua studi menunjukkan peningkatan laju infeksi Chlamydia trachomatis pada pengguna pil oral kombinasi, tetapi tidak dengan Neisseria gonorrhoeae, ditemukan bahwa pil oral kombinasi tidak menurunkan kejadian penyakit radang panggul (PID) tetapi memodifikasi keparahan klinis. Beberapa tetapi tidak semua studi menunjukkan bahwa pil oral kombinasi meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus human immunodeficiency (HIV) dan perjalanan penyakitnya

 

4.7  AMENORRHEA LAKTASI

Peningkatan kadar prolaktin dan penurunan GnRH dari hipotalamus selama menyusui dapat menekan proses ovulasi. Hal ini menyebabkan pelepasan dan penghambatan pematangan folikel. Durasi penekanan ini bervariasi dan dipengaruhi oleh frekuensi dan lamanya menyusui dan lamanya waktu sejak lahir, yaitu 6 bulan setelah persalinan. Ibu tidak bisa menggunakan metode ini bila bayinya hanya disusui selama 3 – 4 jam siang hari dan mendapat makanan tambahan sebagai pendamping ASI.(2, 14, 15, 17)

Menyusui eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid dan waktunya kurang dari enam bulan pasca persalinan. Efektifnya dapat mencapai 98%. MAL efektif bila menyusui lebih dari delapan kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi. (2, 14, 15, 17)

Pada wanita pospartum konsentrasi esterogen, progesteron, dan prolaktin (PRL) yang tinggi selama kehamilan turun secara drastis. Tanpa menyusui, kadar gonadotropin meningkat pesat, konsentrasi PRL kembali ke normal dalam waktu sekitar 4 minggu dan pada minggu ke-8 pascapartum, sebagian besar wanita yang memberi susu formula pada bayinya memperlihatkan tanda-tanda perkembangan folikel dan akan berevolusi tidak lama kemudian.
Sebaliknya, pada wanita yang menyususi, konsentrasi PRL tetap meninggi selama pengisapan sering terjadi dan pada setiap kali menyusui terjadi peningkatan sekresi PRL secara akut. Walaupun konsentrasi Follicle Stimulating Hormone (FSH) kembali ke normal dalam beberapa minggu pascapartum, namun konsentrasi Luteinizing Hormone (LH) dalam darah tetap tertekan sepanjang periode menyusui. Yang penting, pola pulsasi normal pelepasan LH mengalami gangguan dan inilah yang diperkirakan merupakan penyebab mendasar terjadinya penekanan fungsi normal ovarium. Wanita yang menyusui bayinya secara penuh atau hampir penuh dan tetap amenore memiliki kemungkinan kurang dari 2 % untuk hamil selama 6 bulan pertama setelah melahirkan. (2, 14, 15, 17)

Keuntungan

Untuk Bayi :

1.      Mendapat kekebalan pasif (mendapat antibody perlindungan lewat ASI).

2.      Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tubuh kembang bayi yang optimal.

3.      Terhindar dari keterpurukan terhadap kontaminasi dari air susu lain atau formula atau alat minum yang dipakai.

Untuk Ibu :

1.      Mengurangi resiko anemia

2.      Meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi

3.      Menghemat pengeluaran keluarga untuk membeli susu formula.

Kekurangan:

1.      Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan

2.      Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial

3.      Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid sampai dengan 6 bulan

4.      Tidak melindungi terhadap IMS termasuk hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS

 

Kontraindikasi :

1.      Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.

2.      Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.

3.      Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.

4.      Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan.

 

4.8  STERILISASI PERMANEN

Sterilisasi secara bedah adalah bentuk kontrasepsi yang populer pada pasangan usia reproduksi. Prosedur untuk melakukan sterilisasi telah terkenal dalam beberapa tahun terakhir. Jutaan pasangan telah memilih sterilisasi untuk mengontrol kesuburan mereka, sehingga menjadi metode kontrasepsi yang paling sering digunakan. Permintaan untuk sterilisasi wanita secara dramatis meningkat, dan sekarang prosedur pembedahan ketiga yang paling umum dilakukan pada perempuan. Sterilisasi tuba merupakan prosedur yang relatif sederhana dan merupakan metode aman dan efektif. Prosedur ini dapat dilakukan secara rawat jalan atau rawat inap, baik menggunakan pendekatan perut, vagina, histeroskopi, atau laparoskopi dan dapat dilakukan baik sebagai postpartum atau operasi interval. pilihan prosedur tergantung pada fasilitas yang tersedia, waktu, dan pengalaman ahli bedah. Namun sterilisasi bisa dilakukan tidak hanya pada wanita saja, pada pria pun bisa dilakukan sterilisasi.(2, 13, 14, 15, 16, 27)

4.8.1 Sterilisasi Pria

Metode ini dilakukan melalui insisi kecil di skrotum, lumen vas deferens dirusak untuk menghambat perjalanan sperma dari testis dengan cara melakukan ligasi atau pengikatan pada vas deferens. Prosedur ini biasanya dilakukan dalam 20 menit dengan menggunakan anastesi lokal. Teknik yang di lakukan adalah teknik tanpa pisau (no-scalpel vasectomy). Pilihan kontrasepsi ini diindikasikan pada pria yang tidak mau memiliki anak lagi. Kontraindikasi pada pria dengan kelainan anatomi, hydroceles dan varicoceles, paska trauma yang menyebabkan jaringan parut pada skrotum, atau infeksi akut pada kulit skrotum.(2, 13, 14, 15, 29)

 

Keuntungan :

o    Tidak akan mengganggu ereksi, potensi seksual, produksi hormon.

o    Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi. Dapat digunakan seumur hidup.

o    Tidak menggangugu kehidupan seksual suami istri.

o    Tidak mengganggu produksi ASI (untuk kontap wanita).

o    Lebih aman (keluhan lebih sedikit)

o    Lebih praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan)

o    Lebih efektif (tingkat kegagalannya sangat kecil)

o    Lebih ekonomis (hanya memerlukan biaya untuk sekali tindakan)

o    Tidak ada mortalitas/kematian.

o    Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit.

o    Tidak ada resiko kesehatan.

o    Tidak harus diingat-ingat, tidak harus selalu ada persediaan.

o    Sifatnya permanen.

Kerugian

o    Memerlukan operasi bedah

o    Prosedur ini hanya untuk pasangan yang sudah memutuskan untuk tidak akan punya anak lagi.

o    Harus dengan tindakan pembedahan.

o    Harus memakai kontrasepsi lain (kondom) selama beberapa hari atau minggu sampai sel mani menjadi negatif.

o    Tidak dapat dilakukan dengan orang yang masih ingin mempunyai anak lagi.

Efek Samping dan Komplikasi :

  1. Efek Samping :
    • Timbul rasa nyeri.
    • Abses pada bekas luka.
    • Hematoma atau membengkaknya kantung biji zakar karena pendarahan.
  2. Komplikasi :
    • Pendarahan
    • Peradangan bila sterilisasi/ alat proses kurang

4.8.2  Sterilisasi Wanita

Teknik-teknik yang sedang populer atau digunakan dalam sterilisasi wanita ada beberapa macam yang akan diuraikan di bawah ini: (2,27, 28)

4.8.2.1   Teknik Irving

Teknik ini merupakan prosedur yang paling kecil kemungkinan kegagalannya. Prosedurnya berupa pemutusan tuba fallopi dan pemisahan tuba bagian medial dari mesosalping secukupnya sehingga membentuk suatu segmen medial tuba. Puntung distal dari medial tuba ditanam di dalam suatu terowongan di miometrium di belakang uterus, dan ujung proksimal segmen tuba distal ditanam dalam mesosalping.

 

4.7.2.2   Teknik Pomeroy

Ini adalah metode pemisahan tuba yang paling sederhana dan cukup efektif. Untuk mengikat lengkung tuba harus digunakan catgut polos, karena dasar ilmiah prosedur ini adalah absorpsi cepat ligasi dan kemudian pemisahan ujung-ujung tuba yang terpotong.

 

4.7.2.3   Teknik Parkland

Teknik ini dirancang untuk menghindari aproksimasi ujung-ujung tuba fallopi yang dipotong seperti pada teknik Pomeroy. Dibuat sebuah insisi kecil di dinding abdomen infraumbilikus. Tuba fallopi diindentifikasi dengan menjepit bagian tengah dengan sebuah klem Babcock dan memastikannya melalui identifikasi langsung fimbria di bagian distal. Hal ini mencegah kesalahan identifikasi ligamentum rotundum sebagai bagian tengah tuba fallopi. Apabila secara tidak sengaja tuba fallopi terjatuh, prosedur identifikasi harus diulang kembali dari awal.

Kemudian dilakukan perforasi di tempat avaskular di mesosalping dekat tuba fallopi dengan sebuah hemostat kecil, dan rahang hemostat dibuka untuk memisahkan tuba fallopi dan mesosalping di dekatnya sepanjang sekitr 2,5 cm. Tuba fallopi yang sudah dibebaskan diikat di bagian proksimal dan distal dengan benang kromik 0, dan segmen ditengah sekitar 2 cm dieksisi dan diperiksa untuk melihat ada tidaknya perdarahan.

 

4.8.2.4   Teknik Madlener

Teknik ini serupa dengan teknik Pomeroy, tetapi lengkung tuba dihancurkan dan diligasi dengan benang yang tidak dapat diserap dan tidak dilakukan reseksi.

Gambar 15. Teknik Madlener (34)

Keuntungan
1.  Tekniknya mudah sehingga dapat dilakukan oleh dokter umum di rumah sakit kabupaten atau puskesmas dengan perlengkapan dan peralatan bedah sederhana.
2.  Dapat dilakukan pasca persalinan, pasca keguguran, dan masa interval; indikasi kontra yang mutlak tidak banyak; dilakukan dengan anestesi local atau kombinasi dengan analgesia neuroleptik; prosedur dilakukan tanpa tinggal dirumahsakit.
3.  Luka pembedahan hanya kecil sehingga ketakutan akan pembedahan kurang, parutnya kecil sehingga dapat diterima dari segi kosmetik.
4.  Waktu pembedahan singkat, kegagalan teknik rendah.
5.   Angka kegagalan pembedahan tubektomi rendah.

Kerugian
1.   Pemberian anestesi yang kurang memadai;
2.   Obesitas berlebihan sehingga irisan atau luka pembedahan tidak kecil lagi;
3.   Adanya perlengketan yang tidak diduga sebelum melakukan pembedahan.

Komplikasi
Komplikasi pembedahan tubektomi minilap jarang terjadi, walaupun demikian tindakan ini haruslah dilakukan dengan hati-hati karena merupakan pembedahan intraperitoneal maka haris siap sedia untuk mengatasi komplikasi yang mungkin terjadi.
1.    Komplikasi pada waktu pembedahan: Perforasi rahim karena pemasangan atau sewaktu memutar elevator rahim; perlukaan kandung kemih jika irisan supra pubik terlalu rendah; perlukaan usus (sangat jarang); perdarahan biasanya akibat robeknya mesosalping; komplikasi anestesi; dan syok;
2.    Komplikasi pasca pembedahan tubektomi; rasa nyeri, hematoma subkutan, infeksi pada luka irisan atau abses, luka pembedahan terbuka, dan perdarahan intra abdominal.

 

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian keluarga berencana dan kontrasepsi pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan program keluarga berencana secara makro untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka kelahiran, secara mikro mewujudkan ketahanan keluarga dan kesejahteraan masyarakat. Dan untuk mewujudkan semua itu maka diciptakanlah alat kontrasepsi yang merupakan upaya untuk mencegah konsepsi atau terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen, jenisnya pun beraneka ragam, pantang berkala atau pantang berhubungan seksual di sekitar saat ovulasi, coitus interuptus, metode sawar ( barrier methods), kontrasepsi hormonal, alat kontrasepsi dalam rahim, menyusui, serta sterilisasi permanen.

Akan tetapi, tidak ada satu pun bentuk kontrasepsi yang sempurna. Masing-masing memiliki tingkat kegagalan yang nyata, baik yang berhubungan dengan metode kontrasepsi itu sendiri maupun kesalahan manusia sebagai pengguna. Mayoritas kontrasepsi juga memiliki efek samping, bahkan beberapa di antaranya dapat berlangsung serius. Pilihan kontrasepsi yang tepat merupakan keputusan yang kompleks untuk setiap individu atau pasangan. Kita harus berupaya keras untuk mengurangi efek samping dan resiko ini hingga tingkat minimum, mengenali dan mengatasinya, dan kita harus menyadari bahwa salah satu resiko besar pada kegagalan kontrasepsi adalah kehamilan yang tidak direncanakan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1.        Keluarga Berencana. [online]. 2005 Juli 7 [cited 2010 Nov 10]; Available from: URL : http://www.bkkbn.com/keluargaberencana.html

 

2.        Cunningham, F. G; Gant, N. F; Levono, K. J; et all [ed]. Obstetri Williams Vol. 2. Edisi. 21. Jakarta, Indonesia: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006. h. 1696 – 1747

 

3.        Heffner, L. J; Schust, D.J [ed]. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta. Erlangga: 2008. h. 38 – 39, 58

 

4.        Sloane, E. [ed]. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004. h. 345 – 363

 

5.        Sherwood, L [ed]. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. h.690 – 736

 

6.        Dahardin Imam. Alat Reproduksi Pria. [online] 2010 Maret 03 [cited 2010 Nov 28]; available from URL:  http://wordpress.com/2010/03/organ-rep-pria1.html

 

7.        Lestari Puji. Alat Reproduksi Wanita. [online] 2010 Maret 03 [cited 2010 Nov 28]; available from URL:  http://2.bp.blogspot.com/organ-wanita

 

8.        Mahmud Irmayani. Siklus Haid. [online] 2010 Mei 23 [cited 2010 Des 01]; available from URL: http://blog.unila.ac.id/kusuma/2010/05/23/files/2010/05/hormones1.html

 

9.        Anonim. Tujuan dan Sasaran Badan Keluarga Berencana. [online] 2009 Feb 19 [cited 2010 Des 06]; available from: URL : http://www.magelangkab.go.id/index1.php

 

10.    Djamhoer Martaadisoebrata. Peranan Program Keluarga Berencana dalam Kesehatan Reproduksi, Khususnya Kesehatan Ibu dan Anak. [online] 2009 Dec  09 [cited 2010 Dec 06]; available from: URL: http://www.magelangkab.go.id/index.php

 

11.    Wiknjosastro, H; Saifuddin, A. B; Rachimhadhi, T. [ed]. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARJO; 2006. h. 905, 906, 916.

 

12.    Suherman, S. K. Estrogen dan Progestin, Agonis dan Antagonisnya in: Gunawan, S. G; Setiabudy, R; Nafrialdi, dkk, [ed]. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: FK-UI: 2007. h. 455 – 467

 

13.    Mishell, D. R. Family Planning, Contraception, Sterilization, and Pregnancy Termination in: Katz, V. L; Lentz, G. M; Lobo, R. A, et all [ed]. Comprehensive Gynecology. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2007. p. 275 – 319

 

14.    Nelson, A. L. Family Planning: Contraception, Sterilization, and Abortion in Hacker, N. F; Moore, J. G; Gambone, J. C. [ed]. Essentials of Obstetrics and Gynecology 4th edition. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2004. p. 341 – 350

 

15.    Callahan, T. L; Caughey, A. B; Heffner, L. J. [ed]. Blueprint Obstetrics & Gynecology. United States  America: Blackwell Publishing; 2004. p. 208 – 224

 

16.    Alam, N. [ed]. Obstetrics and Gynecology. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2007. p. 167 – 171

 

17.    Samra-Latif Omnia M. Contraception. [online]. 2010 Nov 16 [cited 2010 Nov 21]; available from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/contraception

 

18.    Doughlas Amber. Kondom Pria. [online]. [cited 2010 Des 1]; available from URL: http://www.google.co.id/article/kondom+pria

 

19.    Doughlas Amber. Kondom Wanita. [online]. [cited 2010 Des 1]; available from URL: http://www.google.co.id/article/kondom+wanita

 

20.    Doughlas Amber. Difragma Wanita. [online]. [cited 2010 Des 1]; available from URL: http://www.google.co.id/article/diafragma

 

21.    Doughlas Amber. Cervical Cap. [online]. [cited 2010 Des 1]; available from URL: http://www.google.co.id/article/cervical+cap

 

22.    Baziad, A. [ed]. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta: PT BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARJO; 2008. h. 1 – 3, 11 – 63

 

23.    Barhan, S; Duke, J. Modern Concepts in Intrauterine Devices in. Falcone,T; Hurd, W .W. [ed]. Clinical Reproductive Medicine and Surgery. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2007. p. 405 – 416.

 

24.    Byrd Anabelle. Progetasert. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL : http://www.google.co.id/article/progestasert

 

25.    Hodgins Angela. AKDR Levonorgestrel. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL : http://www.google.co.id/article/levonorgestrel

 

26.    Brennan Nicholas. Copper T 380A. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL : http://www.google.co.id/article/coppert380a

 

27.    Stovall, T. G; Saunders, E. J. Surgical Sterilization in. Falcone, T; Hurd, W. W, [ed]. Clinical Reproductive Medicine and Surgery. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2007. p. 417 – 427

 

28.    Zurawin Robert K. Tubal Sterilization. [online]. 2009 Oct 5 [cited 2010 Nov 21]; available from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/tubalsterilization

 

29.    Stockton M David. Vasectomy, No Scalpel: Treatment and Medication. [online]. 2010 Sep 13 [cited 2010 Dec 5]; available from URL: http://emedicine.medscape.com/article/148512-treatment

 

30.    Stockton M David. Vasektomi. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL: http://pennstatehershey.org/healthinfo/graphics/images/en/10332.html

 

31.    Brown Robert. Teknik Irving. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL: http://www.glowm.com/resources/glowm/graphics/figures/v6/0390/003f.html

 

32.    Brown Robert. Teknik Pomeroy. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL: http://www.glowm.com/resources/glowm/graphics/figures/v6/0390/001f.html

 

33.    Brown Robert. Teknik Parkland. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL: http://www.womenshealthsection.com/content/art_images/gyn029b_l.html

 

34.    Brown Robert. Teknik Madlener. [online] [cited 2010 Des 1]; available from : URL:http://www.glowm.com/resources/glowm/graphics/figures/v6/0390/002f.html

Kategori Karya Tulis Ilmiah :: Kata Kunci: , , , , , , ,pengertian hemiparese, pengertian perimetrium, anatomi stetoskop, anatomi fisiologi ileus, ekstremitas superior dan inferior, Peran kontrasepsi terhadap KB, Materi tentang peran kontrasepsi terhadap kb, kb gelang biru kontrasepsi, peran alat kontrasepsi dalam keluarga berencana, study kasus kb coitus interuptus1 Komentar

One Response to “KB DAN KONTRASEPSI”

  1. brandon1960 says:

    A spare adress includes that that power-law leave contains the subdivision as for the meaning, season a freehearted nova creates that that teach in atm alerts the scuffle pertaining to that evaluation. http://mitosuz.com

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close