TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG POLIO DI KELURAHAN SAMALEWA, KECAMATAN BUNGORO, KABUPATEN PANGKAJENE TAHUN 2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sekitar dua puluh tahun terakhir, secara global telah terjadi perubahan paradigma dari “pengobatan ke pencegahan” (dari kuratif ke preventif). Yang menjadi dasar pemikiran perubahan paradigma ini adalah pendapat para ahli dalam pengobatan penyakit infeksi terhadap keterbatasan pengobatan antibiotika. Telah dirasakan makin hari makin banyak antibiotika yang tidak mempan lagi menghadapi bakteri penyebab penyakit infeksi berat (resistensi bakteri). Maka upaya pencegahan melalui imunisasi merupakan pilihan tepat, sebelum anak menderita penyakit infeksi berat.(1)

Cikal pemikiran imunisasi ini pertama kali dilaksanakan dalam tahun 1797 oleh Jenner, seorang sarjana Inggris. Ia menggoreskan cairan luka dari sapi yang menderita cacar kepada James Phipps, seorang anak lelaki berumur 8 tahun. Kemudian ternyata anak tersebut terhindar dari penyakit cacar. Dalam pikiran sarjana ini timbullah gagasan untuk melindungi tubuh manusia terhadap penyakit infeksi ganas lainnya. Imunisasi atau sering kali disebut juga vaksinasi, merupakan upaya pencegahan penyakit-penyakit infeksi yang sangat efektif.(1)

Imunasasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit infeksi serius yang paling efektif-biaya. Integrasi praktek-praktek imunasasi menjadi pelayanan perawatan kesehatan rutin, memberikan kepada dokter anak, pengendalian sebagian besar penyakit dan mortalitas yang mengganggu Amerika Serikat dan Negara-negara lai sampai pertengahan abad ke 20. Penggunaan vaksin yang luas membawa pada pemberantasan cacar global, pelenyapan poliomyelitis dari Amerika, dan pemberantasan betul-betul poliomyelitis darp Pasifik Barat. Di Amerika Serikat, imunisasi telah hamper melenyapkan sindroma rubella congenital, tetanus dan difteria dan mengurangi insiden pertusis, rubella, campak, parotitis epidemika, dan meningitis Haemophilus influenza tipe b secara dramatis. Lebih dari 50 produk-produk biologis diizinkan di Amerika Serikat dan 11 antigen digunakan untuk imunisasi rutin bayi dan anak-anak, termasuk toksoid difteri dan tetanus dan vaksin pertusis, polio trivalent, vaksin campak, parotitis dan rubella, vaksin Hib, dan hepatitis B.(2)

Defenisi dan mekanisme. Vaksinasi berarti pemberian setiap vaksin atau toksoid. Imunisasi menggambarkan proses yang menginduksi imunitas secara artificial dengan pemberian bahan antigenic, seperti agen imunobiologis. Pemberian agen imunobiologis tidak bisa disamakan secara automatis dengan perkembangan imunitas yang cukup.(2)

Imunisasi aktif terdiri dari induksi tubuh untuk mengembangkan pertahanan terhadap penyakit dengan pemberian vaksin atau toksoid yang merangsang isistem imun untuk menghasilkan antibody dan respon imun seluler yang melindungi terhadap agen infeksi. Imunisasi pasif terdiri dari pemberian proteksi sementara melalui pemberian antibody yang dihasilkan oleh eksogen. Imunisasi pasif terjadi melalui pemindahan antibody transplasenta pada janin, yang memberikan proteksi terhadap penyakit selama 3-6 bulan pertama kehidupan, dan injeksi globulin imun untuk tujuan pencegahan spesifik.(2)

Agen imunisasi meliputi vaksin, toksoid, dan antibody yang mengandung preparat dari donor darah manusia atau binatang. Kebanyakan daria gen ini mengandung pengawet, stabilsator, antibiotic, tambahan (adjuvan), dan cairan suspensi.(2)

Pendekatan utama imunisasi aktif adalah penggunaan agen infeksi hidup, biasanya dilemahkan dan penggunaan agen yang diinaktifkan atau didetoksifikasi atau ekstraknya atau produk-produk rekombinasi spesifik (hepatitis B). kesua pendekatan telah digunakan untuk banyak pennyakit (influenza, poliomielitis). Vaksin hidup yang dilemahkan, diduga menginduksi respons imunologis yang lebih menyerupai respons yang ditimbulkan oleh infeksi alamiah daripada vaksin mati. Vaksin yang diaktifkan atau vaksin mati terdiri atas seluruh organism yang diinaktifkan (missal, vaksin pertusis), eksotoksin yang didetoksifikasi saja (missal, toksoid tetanus) atau endotoksin terikat pada protein pembawa, bahan kapsul yang dapat larut (missal, polisakharida pneumokokus) atau bahan kapsul gabungan (misal, hepatitis B) atau komponen-komponen organism (misal, subunit influenza).(2)

Dengan memberikan vaksin, seorang  anak akan terhindar atau hanya bergejala ringan apabila terkena penyakit infeksi berat yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh vaksin sangat kecil apabila dibandingkan dengan penyakitnya. Sedangkan dampak positifnya, imunisasi dapat dikatakan suatu “investasi” untuk menjamin kesehatan di masa depan.(2)

Di Indonesia Program imunisasi sudah digalakkan sejak tahun 1977. Namun, berdasarkan data tahun 2001- 2005 kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi justru mengalami peningkatan. Sedangkan data mengenai cakupan imunisasi sendiri di Indonesia belum begitu jelas. Menurut WHO-UNICEF, angka cakupan imunisasi campak, yang biasa dipakai untuk menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar adalah 78% di tahun 2005. Tetapi angka cakupan imunisasi campak ini belum tentu dapat menggambarkan kelengkapan imunisasi dasar yang sebenarnya.(2)

Perlu diketahui bahwa pemilihan imunisasi di satu negara dapat berbeda dengan negara lain, karena kejadian penyakit di tiap negara berbeda. Misalnya imunisasi BCG atau hepatitis B tidak menjadi kewajiban di negara amerika serikat, atau beberapa negara di eropa. Namun di indonesia merupakan imunisasi wajib, mengingat penyakit tuberkulosis (TB) dan hepatitis B merupakan penyakit yang banyak dijumpai. Maka untuk anak yamg tinggal di indonesia, para orang tua harus menaati jadwal imunisasi yang telah di tentukan pemeritahdan ikatan Dokter Anak Indonesia. (2)

Melihat kenyataan yang diatas maka saya sebagai peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentangsejauh manah tingkat pengetahuan masyarakt di kampong lejang, kelurahan samalewa, kecamatan bungoro, kabupaten pangkajene periode 2010.

1.2. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan masalah mengenai “bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang polio di Kel.. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkajene. Periode Tahun 2010”.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dilaksanakan penelitian ini, meliputi :

1.      Tujuan Umum

Mengetahui  tingkat pengetahuan masyarakat tentang polio di Kel.. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkajene. Tahun 2010

2.    Tujuan Khusus

1.        Untuk mengetahui tingkat pendidikan orang tua dilokasi penelitian.

2.        Untuk mengetahuai sampai dimana tingkat pengetahuan    masyarakat mengenai polio.

1.4. Manfaat Penelitian

1.        Sebagai salah satu sumber informasi bagi instansi terkait.

2.        Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian yang sama pada lokasi dan waktu yang berbeda. Sehingga diharapkan dapat menghasilkan yang lebih akurat.

3.        Bagi peneliti, diharapkan akan menjadi pengalaman berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang tingkat pengetahuan masyarakat kampong lejang tentang polio.

4.        Merupakan pengalaman berharga utamanya dalam memperluas wawasan dan menambah pengetahuan khususnya mengenai polio.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum

Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum), berasal dari bahasa latin yang berarti medulla spinalis. Penyakit ini disebabkan oleh virus poliomyelitis pada medulla spinalis yang secara klasik menimbulkan kelumpuhan.(3)

Pada tahun 1789 Underwood yang berasal dari Inggris pertama kali menulis tentang kelumpuhan anggota badan bagian bawah (ekstremitis inferior) pada anak, yang kemudian dikenal sebagai poliomyelitis. Pada permulaan abad ke 19 dilaporkan terjadi wabah di Eropa dan beberapa tahun kemudian terjadi di Amerika Serikat. Pada saat itu banyak terjadi wabah penyakit pada musim gugur. Pada tahun 1952 penyakit polio mencapai puncaknya dan dilaporkan terdapat lebih dari 21.000 kasus polio paralitik. Angka kejadian kasus polio secara drastis menurun setelah pemberian vaksin yang sangat efektif. Di Amerika Serikat kasus terakhir virus polio liar ditemukan pada tahun 1979.(3)

Di Indonesia imunisasi polio pada program memakai oral polio vaccine (OPV) dilaksanakan sejak tahun 1980 dan tahun 1990 telah mencapai UCI. Dalam usaha eradikasi polio mencapai kemajuan sangat bermakna semenjak dilakukannya Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tiga tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 1995, 1996, dan 1997. Pada hari PIN tersebut telah diimunisasi sebanyak 22 juta anak balita di seluruh Indonesia. Setelah pelaksanaan PIN tersebut kasus polio di Ondonesia menurun drastic. Kejadian terakhir dari pemeriksaan laboratorium ditemukan 7 kasus dengan virus polio liar (tipe 1, 2, dan 3) pada tahun 1995, dan sejak itu tak pernah lagi.(3)

2.2. Etiologi

Virus polio termasuk dalam kelompok (sub-group) entero virus, family Picomavindae. Dikenal 3 macap serotype virus polio yaitu P1, P2, dan P3. Virus polio ini menjadi tidak aktif apabila terkena panas, formal dehid, klorin dan sinar ultraviolet.(3)

2.3. Epidemiologi

Infeksi virus polio terjadi di seluruh dunia, untuk Amerika Serikat transmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun 1979. Di Negara-negara Barat, eliminasi polio sejak tahun 1991. Program eradikasi polio global secara dramatis mengurangi transmisi polio liar di seluruh dunia, kecuali beberapa Negara yang sampai saat ini masih ada transmisi virus polio liar di India , Timur Tengah dan Afrika. Reservoir virus polio liar hanya pada manusia, yang sering ditularkan oleh pasien infeksi polio yang tanpa gejala. Namun tidak ada pembawa kuman dengan status karier asimtomatis kecuali pada orang yang menderita defisien system imun.(3)

Virus polio menyebar dari satu orang ke orang lain melalui jalur oro-fecal pada beberapa kasus dapat berlangsung secara oral-oral. Infeksi virus mencapai puncak pana musim panas, sedangkan pada daerah tropis tidak ada bentuk musiman penyebaran infeksi. Virus polio sangat menular, pada kontak antar rumah tangga (yang belum diimunisasi) derajat serokonversinya lebih dari 90%. Kasus-kasus polio sangat infeksiusdari 7-10 hari sebelum dan setelah timbulnya gejala, tetapi virus polio dapat ditemukan dalam tinja 3 sampai 6 minggu.(3)

2.4. Tanda-tanda klinik dan praklinik

Virus polio yang masuk akan berbiak di tenggorokan dan usus, dan tanda-tand klinik yang timbul kemudian akan sesuai dengan kerusakan anatomic yang terjadi. Biasanya, masa inkubasinya adalah 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi dalam waktu 7-21 hari. Replikasi di motor neuron terutama terjadi di sungsum tulang belakang yang menimbulkan kerusakan sel dan kelumpuhan serta atrofi otot, sedang virus yang berbiak di batang otak akan menyebabkan kelumpihan bulbar dan kelumpuhan pernafasan. Selain gejalaklinik yang akut, juga dikenal adanya post-polio syndrome (PPS) yang gejala kelumpuhannya terjadi bertahun-tahun setelah infeksi akut.(4)

Pada setiap anak yang dating dengan panas disertai sakit kepala, sakit pinggang, kesulitan menekuk leher dan punggung, kekauan oto yang diperjelas dengan tanda head drop, tanda tripod saat duduk, tanda-tanda spinal, Brudzinsky atau Kernig, harus dicurigai kemungkinan adanya poliomeilitis.(4)

Infeksi virus polio pada manusia sangat bervariasi, dari gejala yang sangat ringan sampai terjadi paralisis. Infeksi virus polio dapat diklasifikasikan menjadi minor illness (penyakit dengan gajala ringan) dan major illness (termasuk jenis non-paralitik dan paralitik).(4)

2.5. Diagnosis

Diagnosis polio dibuat berdasarkan(4) :

1.        Pemeriksaan virology dengan cara membiakkan virus polio, baik liar maupun virus vaksin. Selain tatacara laboratorik yang ketat dan standar (dengan kultur sel jaringan), kualitas specimen sangat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Specimen yang kering, tidak dingin, terkontaminasi atau pengambilan sampel setelah 2 minggu setelah lumpuh memberikan hasil biakan negative palsu. Lumpuh layuh juga dapat disebabkan oleh infeksi dengan enterovirus 71 atau Coxsackie A& atau non-polio-enterovirus yang lain. Selain biakan, identifikasi antigen dilakukan dengan pemeriksaan probe atau sequencing.

2.        Pengamatan gejala dan perjalanan klinik. Banyak sekasli kasus yang menunjukkan gejala lumpuh layuh yang termasuk dalam acute flaccid paralysis. Pemeriksaan yang teliti dan pengamatan lanjutan yang sangat membantu. Kasus klinik mirip polio (polio-compatibel) adalah kasus yang setelah 60 hari masih mempunyai paralisis residual tanpa informasi medic yang jelas, atau penderita meninggal. Sensitifitas menjadi 64% dan spesifitas 82% apabila kita menggunakan variable gabungan dengan menambahkan variable umur di bawah 6 tahun, adanya panas pada permulaan sakit, perubahan paralisis yang cepat menjadi maksimal (dalam waktu 4 hari). Cara lain adalah menambahkan variable lain misalnya penambahan pola neurologikyang dianggap khas seperti kelumpuhan proksimal, unilateral, tidak adanya gangguan sensori. Pada akhir program eradikasi sensitivitas diperlebar dengan memasukkan border-line cases, yaitu semua penderita yang lumpuh layuh akut.

3.        Pemeriksaan khusus. Pemeriksaan hantaran saraf dan elektromiografi dapat merujuk secara lebih tepat letak kerusakan saraf secara anatomic. Cara ini akan dapat memisahkan kerusakan motor neuron dengan kelainan lain akibat demyelinasi pada saraf tepi, sehingga dapat mempermudah membedakan polio dengan kelainan kerusakan lower motor neuron lain, misalnya Guillain-Barre syndrome. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan MRI dapat menunjukkan kerusakan di daerah kolumna anterior, sedangkan pemeriksaan likuor memberikan gambaran sel dan bahan kimia (kadar gula dan protein) yang sangat penting untuk menentukan kerusakan yang terjadi pada sel motor neuron.

4.        Pemeriksaan adanya gejala sisa neurologic (residual  paralysis). Pemeriksaan ini dilakukan 60 hari setelah kelumpuhan, untuk mencari deficit neurologic, misalnya mencari kelumpuhan partial atau kelemahan otot pada satu atau sekelompok otot. Pemeriksaan sebaiknya tepat waktu (jangan diundur), karena kelemahan ini bias menghilang akibat adanya kompensasi oleh otot lain atau perbaikan dari sisa otot yang masih baik. Bilamana ada keraguan sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan elektrodiagnostik.

 

2.6. Pemeriksaan Penunjang

A. Darah Tepi Perifer

Tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk diagnosis poliomeilitis pada gejala awal, sama seperti virus lainnya. Pemeriksaan darah perifer mungkin dalam batas normal atau terjadi leukositosis pada fase akut mayor illness yaitu 10.000-30.000/µl dengan predominan PMN.(4)

B. Cairan Serebrospinal

Pada 90% kasus mayor illness, terjadi peningkatan jumlah sel bervariasi 20-300 sel/µl, pada umumnya dalan 72 jam pertama terjadi dominasi PMN, selanjutnya dominasi limfosit dan jumlah sel menurun pada minggu ke-2 menjadi 10-15/µl. terdapat penurunan kadar gula likuor dan peninggian kadar protein 30-200mg/dl pada minggu ke-2, dan kembali normal dalam sebulan.(4)

C. Pemeriksaan Serologik

Diagnosis poliomeilitis ditegakkan berdasarkan peninggian titer antibody 4x atau lebih antara fase akut dan konvalesens, yaitu dengan cara pemeriksaan uji netralisasi dan uji fiksasi komplemen. Karena complement fixing antibody mempunyai waktu yang lebih pendek dibandingkan filter netralisasi, dan lebih kuat maka dapat ditentukan adanya infeksi polio baru bial terdapat peninggian tes fiksasi komplemen. Sangat membantu bila wabah disebabkan oleh type tertentu atau oleh NPE yang lain.(4)

D. Isolasi Virus

Penderita mulai mengeluarkan virus ke dalam tinja saat sebelum fase paralitik terjadi. Pada isolasi feses yang diambil 10 hari dari awitan dari gejala neurologic, 80-90% positif untuk virus polio, oleh karena itu ekskresi terjadi intermiten maka yang sebainya diambil 2 atau lebih specimen dalam beberapa hari. Ekskresi dari faring dan cairan serebrospinal jarang menghsilkan virus dan mempengaruhi cara vaksinasi.(4)

2.7. Diagnosis Banding

Untuk menegakkan diagnosis klinis secara tepat terhadap poliomeilitis paralitik agak sulit. Sebagai pegangan praktis, apabila dijumpai penyakit akut lain yang menyebabkan nyeri kepala hebat, nyeri leher, ddemam dan paralisis flasid yang asimetris tanpa menyebabkan kehilangan sensorik, yang diikuti kenaikan leukosit pada cairan likuor. Diagnosos banding adalah(4) :

1.        Sindrom Gullain-Barre. Paralitis dapat diduga post-infection polyneuropathy (Sindrom Gullain-Barre) jika terdapat sedikit perubahan system saraf sensorik. Biasanya pada polineuropati, rasa lemah yang timbul simetris, tidak dijumpai demam. Likuor jarang menunjukkan pleiositosis dan sering terjadi peningkatan protein likuor > 100 mg/dl.

2.        Meilitis transversa akut. Kelainan pada saraf sensorik dan motorik setinggi segmen spinal yang bersangkutan, yang mengalami peradangan.

3.        Epidemic neuromistenia (Iceland disease) dan pleurodinia (Bornholm’s disease). Pola epidemiologi, abnormalitas likuor yang kurang dan tidak adanya paralisis motor neuron digunakan untuk membedakan dengan poliomyelitis.

4.        ADEM (acute demyelinating encephalomyelopathy)

5.        Ensefalitis akibat virus lain.

Pada kasus jarang, infeksi dengan virus lain dapat menyebabkan nyeri paralitik yang mirip poliomyelitis paralitik. Baik coxsachie virus maupun echo virus dilaporkan juga menyebabkan ensefalitis, terutama ngejala dan tanda dari motor neuron. Walaupun jarang, jika disertai dengan paralisis yang berat.(4)

2.8. Pengobatan

Terapi poliomyelitis tak ada yang spesifik, tetapi tergantung penyulit yang terjadi. Inhibisi metabolic untuk mencegah serangan virus ke susunan saraf yang dilakukan in-vitro tidak dapatdikerjakan pada manusia. Pemberian immunoglobulin mungkin dapat mencegah penyebaran hematogen ke susunan saraf, tatapi bila fase paralitik telah terjadi, sudah terlambat. Selain fisioterapi dan ortopedi perlu diperhatikan fungsi yang lain. Mana jemen pengobatan suportif yang baik (respirasi buatan pada anak) gangguan respirasi/kardiovaskuler.(4)

A. Fase Pre-paralitik

Selama epidemic polio semua penderita dengan gejala sistemik yang tak spesifik harus diperhatikan kemungkinan terjadi paralisis. Tirah baring merupakan pengobatan yang penting untuk menjaga terjadinya footdrop, bila anak tampak gelisah dapat diberikan sedative ringan seperti diazepam, pada otot yang sakit diberikan kompres buli-buli panas, dan apat diberikan antipiretik bila demam.(4)

B. Fase Paralitik

Selama fase akut dapat diberi analgetik non narkotik. Rasa nyeri pada otot dikurangi dengan mengurangi manipulasi. Dianjurkan fisioterapi dimulai pada masa konvalesens untuk mencegah kontraktur. Pemberian cairan suplemen bila per-oral kurang dan pemberian enema bila obstipasi. Setelah fase akut lewat, mulai dilakukan fisioterapi aktif. Konsultasi ortopedi dapat dilakukan segera tetapi operasi, biasanya dilakukan 1-2 tahun setelah awitan. Braces mungkin dapat dipakai untuk mengkompensasi kelemahan otot.(4)


BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1. Gambaran Wilayah

Pembagian wilayah Kel.Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep. Dengan Batas Wilayah sebagai berikut :

Tabel. 1

Batas Wilayah

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

BATAS DESA/KELURAHAN KECAMATAN
Sebelah Utara Kel. Mangngalekana Labakkang
Sebelah Selatan Kel. Mappasaile Pangkajene
Sebelah Timur Kel. Sapanang Bungoro
Sebelah Barat Desa. Bowong cindea

Bori Appaka

Bungoro

Sumber : Data Sekunder, 2009

Kel. Samalewa adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Kelurahan Samalewa terletak kurang lebih 52 km dari ibukota Propinsi Sulawesi Selatan yaitu Makassar, dengan lama jarak tempuh ke ibu kota provinsi dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 2 jam.

 

 

Adapun Luas Wilayah menurut penggunaan sebagai berikut :

Tabel. 2

Luas wilayah menurut penggunaan

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Luas Pemukiman 33.8 ha/m2
Luas Persawahan 47.68 ha/m2
Luas Perkebunan -
Luas Kuburan 12.35 ha/m2
Luas Taman -
Perkantoran Pemerintahan 10 ha/m2
Luas Prasarana Umum lainnya 43.2 ha/m2
Total Luas 147.03 ha/m2

Sumber : Data Sekunder, 2009

 


3.2. Potensi Sumber Daya Manusia

Adapun potensi sumber daya manusia di Kel. Samalewa sebagai berikut :

Tabel 3

Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Jumlah laki – laki 4524 orang
Jumlah Perempuan 4703 orang
Jumlah Total 9245 orang
Jumlah Kepala Keluarga 2246 KK
Kepadatan Penduduk 900 / Km

Sumber : Data Sekunder, 2009


Tabel 4

Distribusi Penduduk Menurut Usia

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Usia Laki – Laki Perempuan
0 – 15 898 Orang 980 Orang
16 – 30 1352 Orang 1311 Orang
31 – 45 1078 Orang 1055 Orang
46 – 60 815 Orang 749 Orang
61 – 75 576 Orang 701 Orang
TOTAL 4719 Orang 4796 Orang

 

Sumber : Data Sekunder, 2009

Jumlah penduduk kel. Samalewa sampai pada tahun 2009 adalah 9245 jiwa dengan rincian sebagai berikut: laki-laki sebanyak 4524 jiwa, perempuan sebanyak 4703 jiwa. Keseluruhannya merupakan Warga Negara Indonesia.


3.3.    Keadaan Sosial Ekonomi/ Budaya

1.    Pendidikan

Sarana pendidikan yang ada di Kel. Samalewa adalah sebagai berikut :

Tabel. 5

Distribusi Sarana Pendidikan

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Sarana Pendidikan Jumlah
TK 2
SD 4
SLTP 2
SLTA 4
SLTP Terbuka 1
Tempat Bermain Anak 1

Sumber : Data Sekunder, 2009

 

Adapun tingkat pendidikan masyarakat Kel. Samalewa dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 6

Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Tingkat Pendidikan Laki – Laki Perempuan
Tamat SD 426 Orang 501 Orang
Tamat SLTP 321 Orang 342 Orang
Tamat SLTA 336 Orang 354 Orang
Tamat D1 25 Orang 30 Orang
Tamat D2 11 Orang 10 Orang
Tamat D3 13 Orang 15 Orang
Tamat S1 145 Orang 151 Orang
Tamat S2 11 Orang 55 Orang
Jumlah Total 1288 Orang 1458 Orang

Sumber : Data Sekunder, 2009

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk dengan pendidikan tamat SD ataupun sementara menjalani pendidikan SD memiliki jumlah terbanyak yaitu 301 orang atau sekitar 36,13 % dari jumlah penduduk. Yang dalam hal ini sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat itu sendiri.

 

 

 

2.    Adat Istiadat

Budaya yang ada dan bertahan hingga kini masih bertumpu pada adat Makassar begitu pula dalam melaksanakan aktivitasnya. Penduduk di Desa Maritengngae mayoritas berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Makassar sebagai bahasa sehari-hari.

3.    Agama

Masyarakat di Kel. Samalewa sebagian besar memeluk agama Islam. Adapun Pembinaan dan Pendididkan Spiritual yang tersedia, adalah sebagai berikut.

Tabel. 7

Sarana Pembinaan & Pend. Spiritual

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Pembinaan & Pendidikan Spiritual Jumlah Hasil yang di capai
MTsn 48 kelompok  
Pengajian Desa 28 Unit Bebas Buta Aksara
Rukun Kematian 5 Unit  
Mesjid 8 Unit  
Remaja Mesjid 8 Unit Juara 3 Ting. Provinsi

Sumber : Data Sekunder, 2009

4.    Transportasi

Sarana transportasi di Kel. Samalewa terbilang lancar. Alat transportasi yang digunakan oleh penduduk setempat antara lain kendaraan roda empat (angkutan perdesaan), kendaraan roda  tiga (bentor), kendaraan roda dua (ojek), becak dan Dokar.

 

 

5.    Mata Pencaharian

Adapun mata pencaharian penduduk Kel. Samalewa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel. 8

Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Jenis Pekerjaan Laki – laki Perempuan
Petani 205 Orang -
Buruh Tani 265 Orang 250 Orang
Pegawai Negri Sipil 256 Orang 225 Orang
Pengrajin Industri Rumah Tangga 25 Orang 115 Orang
Pedagang keliling 210 Orang 350 Orang
Dokter Swasta 1 Orang 2 Orang
Bidan Swasta - 2 Orang
Perawat Swasta 2 Orang -
Pembantu Rumah Tangga - 150 Orang
TNI 70 Orang -
POLRI 10 Orang -
Pensiunan TNI/POLRI/PNS 40 Orang 15 Orang
Pengusaha Kecil dan Menengah 450 Orang 485 Orang
Notaris 1 Orang -
Dukun Kampung Terlatih - 3 Orang
Dosen Swasta 5 Orang 2 Orang
Arsitektur 10 Orang -
Karyawan Swasta 560 Orang 260 Orang
Buruh Kasur 464 Orang -
Ibu Rumah Tangga - 2834 Orang
TOTAL 2756 Orang 4693 Orang

Sumber : Data Sekunder, 2009

3.4. Sarana dan Prasarana Kesehatan

1. Prasarana Kesehatan

Prasarana Kesehatan yang terdapat di kel. Samalewa sebagai berikut :

Tabel. 9

Prasarana Kesehatan

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. PangkepTahun 2009

Puskesmas 1
Apotik 1
Posyandu 8
Toko Obat 2
Kantor Praktek Dokter 3
Rumah Bersalin 2

Sumber : Data Sekunder, 2009

 

 

 

2. Sarana Kesehatan

Kel. Samalewa merupakan salah satu bagian dari Kec. Bungoro, di wilayah ini terdapat puskesmas yang merupakan salah satu wadah pelayanan kesehatan bagi masyarakat kel. Samalewa. Puskesmas ini tergolong sangat aktif. Di Desa ini juga memiliki 8 posyandu bukan hanya wadah kesehatan untuk bayi dan ibu, tetapi juga merupakan wadah untuk kesehatan lansia

Tabel. 10

Sarana Kesehatan

Kel. Samalewa, Kec. Bungoro, Kab. Pangkep Tahun 2009

Jumlah Dokter Umum 1
Jumlah Dokter gigi 2
Bidan 4
Perawat 10
Jumlah Dokter Prakter 2
Laboratorium 1

Sumber : Data Sekunder, 2009


BAB IV

KERANGKA KONSEP

4.1. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diterliti

Variabel Independen Variabel dependen

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 : Skema Pola Pikir Variabel Penelitian

Keterangan :

: Yang diteliti

: Yang tidak diteliti

4.2 Definisi operasional dan Kriteria Objektif

1. Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.(5)

Kriteria Objektif :

ü  Kurang       : Bila tidak tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

ü  Baik           : Bila tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan

Perguruan Tinggi

2. Pengetahuan

Pengetahuan imunisasi dasar lengkap mengenai Tetanus, Polio, Campak, Hepatitis, Varisela.

Kriteria Objektif :

ü  Kurang            : Bila responden memperoleh kurang dari 60% tentang    pengetahuan.

ü  Baik     : Bila responden memperoleh lebih dari 60% tentang pengetahuan.

3.   Imunisasi

Imunasasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit infeksi serius yang paling efektif.(2)

ü  Kurang     : Bila responden melakukan imunisasi tidak lengkap atau           tidak diimunisasi.

ü  Baik         : Bila responden melakukan imunisasi lengkap.


BAB V

METODE PENELITIAN

5.1     Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian  deskriptif yang dimaksudkan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang Polio di kelurahan Samalewa, kecamatan Bungoro, kabupaten Pangkajene.

5.2 Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi penelitian di kelurahan samalewa, kecamatan bungoro, kabupaten pangkajene. Penelitian di laksanakan selama 40 hari.  (15 maret – 24 april tahun 2010).

5.3  Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu yang ada di Kelurahan Samalewa, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene  periode tahun 2010.

2. Sampel

Sampel yang diambil adalah wanita yang memiliki anak di Kelurahan Samalewa , Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene tahun 2010.

5.4  Pengumpulan Data

Data primer melalui kuisioner yang dibagikan kepada masyarakat Kelurahan Samalewa,Kecamtan Bungoro, Kabupaten Pangkajene periode tahun 2010.

 

 

5.5 Instrumen Penelitian

Instrumen atau alat pengumpul data primer yang digunakan adalah kuesioner yang diisi oleh responden, berisi kuis Pengetahuan, Pendidikan, Imunisasi dan juga menggunakan data sekunder.

5.6  Pengolahan dan Penyajian Data

Pengolahan data dilakukan secara manual dan elektronik dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasannya.


BAB VI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6.1. Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelurahan samalewa, kecamatan bungoro, kabupaten pangkajene pada tanggal 15 maret -25 april 2010 dengan jumlah responden 30 orang.

Untuk menjamin jawaban responden mendekati validitas dan reabilitas dilakukan :

1.        Memberikan penjelasan sebelum dan selama pengisian kuesioner kepada responden.

2.        Memberikan waktu yang cukup untuk mengisi kuesioner yaitu sekitar 15 menit.

3.        Mengusahakan agar responden menjawab sesuai hati nurani tidak ada paksaan dari orang lain.

Selanjutnya, setiap jawaban diperiksa dengan saksama secara manual. Data yang diperoleh kemudian diolah sesuai dengan tujuan penelitian dan disajikan dan disajikan dalam bentuk table.

 

 

 

 

 

 

VI.1. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Tabel 11.

Distribusi responden berdasarkan pendidikan

Pendidikan Jumlah
N %
Tidak sekolah 0 0
SD 18 60,00
SMP 7 23,33
SMA 5 16,67
Perguruan Tinggi 0 0
Total 30 100

Sumber : Data primer

Table 1 menunjukan bahwa berdasarkan pendidikan, responden  tidak sekolah 0 (0%), responden sekolah dasar 18 (60,00%), responden sekolah menengah pertama 7 (23,33%), responden sekolah menengah atas 5 (16,67%) dan responden perguruan tinggi 0 (0%). Ini menunjukan responden sekolah dasar lebih banyak dibandingkan sekolah menengah pertama dan sekolah menegah atas.


VI.2. Karakteristik responden melakukan imunisasi pada anaknya

Tabel 12.

Distribusi responden melakukan imunisasi pada anaknya

Defenisi Imunisasi Jumlah
N %
Ya 12 40,00
Tidak 18 60,00
Total 30 100

Sumber : Data primer

Table menunjukan bahwa dari 30 responden terdapat 12 (40%) yang melakukan imunisasi pada anaknya dan sebanyak 18 (60%) yang tidak melakukan imunisasi pada anaknya.


VI.3. Karakteristik responden berdasarkan imunisasi lengkap

Tabel 13.

Distribusi Responden berdasarkan pengetahuan mengenai imunisasi lengkap

Tempat Jumlah
N %
baik 11 36,67
Tidak 19 63,33
Total 30 100

Sumber : Data primer

Dari table di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang mengetahui imunisasi lengkap hanya 11 (36,67) dan yang tidak mengetahui imunisasi dasar lengkap ada 19 (63,33%), jadi cenderun lebih banyak responden yang tidak mengetahui imunisasi lengkap.


VI.4. Karakteristik responden berdasarkan tempat imunisasi

Tabel 14.

Distribusi Responden Mengenai pengetahuan tempat imunisasi

Tempat Jumlah
N %
Rumah Sakit 0 0
Puskesmas 2 6,67
Posyandu 19 63,33
Tidak pernah 9 30,00
Total 30 100

Sumber : data primer

Dari table di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang menggunakan rumah sakit sebagai tempat imunisasi 0 (0%), puskesmas 2 (6,67%), posyandu 19 (63,33%) dan yang tidak pernah 9(30%). Jadi,jika kita tinjau dari dari segi tempat-tempat imunisasi ternyata ada beberapa yang tidak pernah membawa anaknya ke tempat imunisasi.


VI.5. Karakteristik responden mengenai wawasan dari polio

Tabel 15.

Distribusi Responden Mengenai wawasan dari polio

Defenisi Polio Jumlah
N %
Baik 11 36,67
Tidak 19 63,33
Total 30 100

Sumber : Data primer

Table menunjukan dari 30 responden hanya 11(36%) yang baik mengenai wawasan dari polio dan 19(63,33%) yang tidak mengetahui wawasan dari polio.


VI.6 Karakteristi responden mengenai manfaat imunisasi polio

Tabel 16.

Distribusi Responden berdasarkan pengetahuan mengenai Manfaat imunisasi polio

Manfaat Vaksin Polio Jumlah
N %
Baik 10 33,33
Tidak 20 66,67
Total 30 100

Sumber : Data primer

Table menunjukan dari 30 responden hanaya 10 (33,33%) yang baik mengetahui manfaat dari imunisasi polio yaitu mencegah terjadinya penyakit lumpuhan dan 20 (66,67%) yang tidak mengetahui manfaat dari imunisasi polio.


6.2. Pembahasan

6.2.1. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Setelah dilakukan penelitian tentang pengetahuan masyarakat tentang polio di Kelurahan Samalewa, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene pada tanggal 15 Maret sampai 24 April 2010, rata-rata responden hanya tamatan Sekolah Dasar.

Jika ditinjau dari segi defenisi pendidikan, Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.(6)

6.2.2. Karakteristik responden melakukan imunisasi pada anaknya

Imunasasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit infeksi serius yang paling efektif.

Dari hasil penelitian didapatkan 12 (40%) yang melakukan imunisasi pada anaknya dan sebanyak 18 (60%) yang tidak melakukan imunisasi pada anaknya, Ini menunjukan banyak responden yang tidak melalukan imunisasi pada anaknya.

6.2.3. Karakteristik responden berdasarkan imunisas dasar lengkap

Dari table di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang mengetahui imunisasi lengkap hanya 11 (36,67) dan yang tidak mengetahui imunisasi dasar lengkap ada 19 (63,33%), Ini menunjukkan lebih banyak responden yang tidak mengetahui imunisasi lengkap.

Imunisasi ada yang dilakukan dengan cara disuntik, ada pula yang diteteskan ke mulut. Saat ini, berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 8 imunisasi yang perlu dilakukan bagi bayi yang berusia 0 bulan hingga anak berumur 12 tahun. Yaitu imunisasi Hepatitis B, Polio/DPT, BCG, TBC, campak, tetanus fteria dan batuk rejan.(7)

6.2.4 Karakteristik Responden berdasarkan tempat imunisasi

Dari data yang diperoleh, responden yang menggunakan rumah sakit sebagai tempat imunisasi 0 (0%), puskesmas 2 (6,67%), posyandu 19 (63,33%) dan yang tidak pernah 9(30%). Ini menunjukan tenyata masih ada orang tua yang tidak mengikutkan anaknya untuk imunisasi.

Setiap anak, begitu ia dilahirkan, apalagi dalam kondisi sehat, perlu diimunisasi. Dan adalah kewajiban Orang tua untuk membawa anak-anaknya, ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) atau rumah sakit, untuk memperoleh imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).(7)

6.2.5. Karakteristik responden mengenai wawasan dari polio

Dari hasil penelitian responden hanya 11(36%) yang baik mengenai wawasan dari polio dan 19(63,33%) yang tidak mengetahui wawasan dari polio. Ini menunjukan masih ada yang belum mengetahui wawasan dari polio.

Polio (Poliomielitis) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan saraf) dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen, kelumpuhan atau kematian.(8)

6.2.6. Karakteristik responden mengenai manfaat imunisasi polio

Dari hasil penelitian responden hanaya 10 (33,33%) yang baik mengetahui manfaat dari imunisasi polio yaitu mencegah terjadinya penyakit lumpuhan dan 20 (66,67%) yang tidak mengetahui manfaat dari imunisasi polio. Ini menunjukan masih ada masyarakat yang belum mengetahui manfaat dari polio.

Virus polio berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus, lalu masuk ke aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan kelumpuhan otot tangan dan kaki. Bila mengenai otot pernapasan,penderita akan kesulitan bernapas dan bisa meninggal.Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. Setelah demam 2-5 hari, umumnya akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun tak semua orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan virus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh si anak. Nah, imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio.(8)


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

1.        Berdasarkan tingkat pendidikan rata–rata responden hanya tamatan Sekolah Dasar.

2.        Sebagian responden tidak melalukan imunisasi pada anaknya.

3.        Sebagian responden belum mengetahui mana yang termasuk imunisasi dasar lengkap.

4.        Pengetahuan responden mengeanai tempat imunisasi, sebagian besar mengantarkan anak ke posyandu.

5.         Sebagian responden masih kurang wawasannya mengenai polio.

6.        Sebagian responden belum mengetahui manfaat dari vaksin polio

7.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis dapat memberikan saran sebagai berikut :

1.        Meningkatkan penyuluhan mengenai pentingnya penggunaan Imunisasi terutama untuk mencegah anak dari bahaya penyakit infeksi.

2.        Melihat masih ada masyarakat yang belum mengetahui imunisasi dan polio di Kelurahan Samalewa, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dapat dilakukan penelitian ulang bagi peneliti yang berminat sehingga dapat mengengetahui perkembangan pengetahuan masyarakat.

 


DAFTAR PUSTAKA

1.       Danusantoso Halim, Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Hipokrates: Jakarta, 2000; 93-132

2.       Nelson. Waldo E, Nelson Texbook of Pediatrics, Buku Kedokteran EGC Vol.2, Jakarta, 2000.

3.       Soeyitno. Hariyon, Raanuh.I.G.N, Buku Imunisasi Indonesia, Satgas Imunisasi IDI, Jakarta.2001.

4.       S, Poorwo Soedarmo, Buku Ajar Infeksi & Pedatri Tropis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Jakarta, 2002.

5.       Pendidikan [Online]. Cited 2010 May 1st available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan

6.             Pengetahuan [Online]. Cited 2010 May 1st available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan

7.             Imunisasi Yang Diperlukan Anak [Online]. Cited 2010 May 1st available from: http://www.indosiar.com/pedulikasih/index.php/info-medis/52-imunisasi-yang-diperlukan-anak

8.             Polio [Online]. Cited 2010 May 1st available from: http://medicastore.com/penyakit/40/Polio.html

Kategori Karya Tulis Ilmiah :: Kata Kunci: , , , ,pathway parotitis, cara pengendalian virus polio, etiologi polio, kumpulan jurnal ilmiah bronchitis0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close