OBSESIF KOMPULSIF

GANGUAN OBSESIF-KOMPULSIF (F42)


 

  1. I. PENDAHULUAN

Gangguan obsesif-kompulsif digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang berulang yang menghabiskan waktu yang menyebabkan distress dan hendaya yang bermakna. 1

Obsesi adalah aktivitas mental seperti pikiran, perasaan, ide, impuls yang berulang. Sedangkan kompulsi adalah pola perilaku tertentu yang berulang dan disadari seerti menghitung, memeriksa, dan menghindar. Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan dengan obsesi namun tidak selalu berhasil meredakan ketegangan. Pasien dengan gangguan ini menyadari bahwa pengalaman obsesi dan kompulsi tidak beralasan sehingga bersifat egodistonik.  1

 

  1. EPIDEMIOLOGI

Tingkat prevalensi pada umumnya diperkirakan  2 sampai 3% di Amerika Serikat, meskipun prevalensi bisa sedikit lebih rendah dalam beberapa sub kelompok etnis daratan, termasuk Amerika dan Afrika. Sejumlah peneliti memperkirakan bahwa gangguan ini ditemukan pada sebanyak 10% pasien rawat jalan di klinik psikiatri. Gambaran ini membuat OCD menjadi diagnosis psikiatri keempat terbanyak setelah fobia, gangguan terkait zat, dan gangguan depresif berat. 2

Sebagian besar gangguan dialami pada saat remaja atau dewasa muda dengan umur berkisar 18 hingga 24 tahun.1

  1. III. ETIOLOGI
  2. Faktor biologi

Neurotransmitter

a)      Sistem serotonergik

Banyak uji klinis obat yang telah dilakukan untuk mendukung hipotesis bahwa disregulasi serotonin terlibat dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dalam gangguan ini. Data menunjukkan bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi sistem neurotransmiter lainnya, tetapi keterlibatan serotonin sebagai  penyebab OCD belum jelas. Studi klinis telah menganalisis konsentrasi metabolit serotonin (misalnya, 5-hydroxyindoleacetic asam [5-HIAA]) dalam cerebrospinal fluid (CSF) serta afinitas dan jumlah ikatan trombosit dari imipramine yang telah dititrasi (Tofranil), yang berikatan dengan reuptake serotonin, dan melaporkan temuan pada pasien dengan OCD. 1

b)      Sistem noradrenergik

Saat ini, ada sedikit bukti yang ada untuk disfungsi dalam sistem noradrenergik pada OCD. Laporan yang tidak resmi menunjukkan beberapa perbaikan dalam gejala OCD dengan penggunaan clonidine oral (Catapres), obat yang mengurangi jumlah norepinefrin dilepaskan dari ujung saraf presynaptic.1

  1. Faktor Perilaku

Menurut ahli teori pembelajaran, obsesi adalah stimulus yang dipelajari. Sebuah stimulus yang relatif netral dikaitkan dengan rasa takut atau kecemasan melalui proses pembelajaran responden, yaitu dengan memasangkan stimulus netral dengan peristiwa berbahaya atau menimbulkan kecemasan. Dengan demikian, objek dan pikiran yang sebelumnya netral mampu mencetuskan kecemasan atau ketidaknyamanan.

Kompulsi yang dibentuk dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang menemukan bahwa beberapa tindakan dapat mengurangi kecemasan yang melekat pada pikiran obsesif. 1

  1. IV. GAMBARAN KLINIS

Obsesi dan kompulsi memiliki ciri tertentu yang sama . Suatu gagasan atau impuls masuk ke dalam kesadaran seseorang secara menetap. Perasaan takut dan cemas menyertai manifestasi utama dan sering menyebabkan orang mengambil tindakan balasan terhadap gagasan atau impuls awal. Obsesi atau kompulsi merupakan ego-alien; yaitu dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pengalaman diri sebagai makhluk psikologis. Tidak peduli sedemikian kuat dan memaksanya obsesi atau kompulsi, orang tersebut biasanya mengenalinya sebagai sesuatu yang aneh dan tidak rasional. Kadang-kadang pasien terlalu menilai lebih obsesi dan kompulsi. Misalnya, seorang pasien dapat memaksa bahwa kebersihan kompulsif secara moral adalah benar walaupun ia dapat kehilangan pekerjaan karena waktu dihabiskan untuk membersihkan.4

Dalam sebuah studi oleh Baer pada tahun 1994, gejala OCD dibagi menjadi  tiga kelompok:5

  1. obsesi simetri dan akurasi sangat berkorelasi dengan perintah dan dorongan dengan sedikit pengulangan dan akumulasi ritual – namun obsesi penimbunan yang lemah berhubungan dengan obsesi dengan simetri sangat berhubungan dengan akumulasi dorongan sedikit dan pemesanan ritual.
  2. Obsesi kontaminasi dengan dorongan pembersihan yang berkorelasi, seperti yang diharapkan tapi mengejutkan. Mengingat perbedaan klinis antara pembersih dan wanita, obsesi ini juga sedikit berkorelasi dengan kinerja ritual;
  3. Seksual dan obsesi agama agak berkorelasi, dan dalam kelompok dengan obsesi agresif.

 

 

 

 

 

 

  1. V. DIAGNOSIS

Pedoman diagnostik berdasarkan PPGDJ-III :7

  • Untuk menegakkan diagnosis pasti gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya  2 minggu berturut-turut.
  • Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau menganggu aktivitas penderita.
  • Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:

a)      Harus disadari  sebagai pikiran atau impuls diri sendiri;

b)      Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.

c)      Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan untuk merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas);

d)     Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenagkan (unpleasantly repetitive).

  • Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi. Penderita  gangguan obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang (F33.-) dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya.

Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara parallel dengan perubahan gejala obsesif.

Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dulu.

Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakan hanya bila tidak ada gangguan depresi pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut timbul.

Bila dari keduanya tidak ada yang menonjol, maka lebih baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang pirmer.

Pada gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.

  • Gejala obsesif “sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organic, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.

 

Adapun kriteria diagnostic OCD yang lain adalah DSM-IV-TR yang memungkinkan klinisi merinci apakah pasien memiliki OCD tipe tilikan yang buruk jika mereka umumnya tidak menyadari obsesi dan kompulsinya berlebihan.: 3

 

Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Obsesif Kompulsif :

  1. Salah satu obsesi atau kompulsif

Obsesi didefinisikan sebagai berikut :

  1. Pikiran, impuls atau bayangan yang pernah dialami yang berulang dan menetap yang intrusive dan tidak serasi, yang menyebabkan ansietas dan distress, yang selama periode gangguan.
  2. Pikiran, impuls atau bayangan bukan ketakutan terhadap problem kehidupan yang nyata.
  3. Indvidu berusaha untuk mengabaikan dan menekan pikiran, impuls atau bayangan atau menetralisir dengan pikiran lain dan tindakan.
  4. Individu menyadari bahwa pikiran, impuls, bayangan yang berulang berasal dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan factor luar atau pikiran yang disisipkan)

Kompulsi didefinisikan oleh (1) dan (2) :

  1. Perilaku yang berulang (misalnya: cuci tangan, mengecek) atau aktifitas mental (berdoa, menghitung, mengulang kata tanpa suara) yang individu merasa terdorong melakukan dalam respon dari obsesinya, atau sesuai aturan yang dilakukan secara kaku.
  2. Prilaku atau aktifitas mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan distress atau mencegah kejadian atau situasi; walaupun perilaku atau aktifitas mental tidak berhubungan dengan cara realistic untuk mencegah atau menetralisir.
  3. Pada waktu tertentu selama perjalanan penyakit, individu menyadai bahwa obsesi dan kompulsi berlebihan dan tidak beralasan. Catatan:  keadaan ini tidak berlaku pada anak.
  4. Obsesi dan kompulsi menyebakan distress, menghabiskan waktu (membutuhkan waktu lebih dari satu jam perhari) atau menganggu kebiasaan, fungsi pekerjaan atau akademik atau aktifitas social.
  5. Bila ada gangguan lain pada aksis I, isi dari obsesi dan kompulsi tidak terkait dengan gangguan tersebut.
  6. Gangguan tidak disebabkan efek langsung dari penggunaan zat (misalnya penyalahgunaan zat,obat) atau kondisi medis umum.

Dengan tilikan buruk: jika untuk sepanjang episode individu tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsinya berat dan tidak beralasan.

  1. VI. DIAGNOSIS BANDING

-          Keadaan Medis

Persyaratan diagnostic DSM-IV-TR pada distres pribadi dan gangguan fungsional membedakan OCD dengan pikiran dan kebiasaan yang sedikit berlebihan atau biasa.  Gangguan neurologis utama dipertimbangkan dan diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan “tic” lainnya, epilepsy lobus termporalis dan kadang-kadang-kadang trauma serta komplikasi pascaensefalitis. 4

 

 

-          Gangguan Tourette

Gejala khas gangguan Tourette adalah tik motorik dan vocal yang sering terjadi gejala bahkan setiap hari. Gangguan Tourete dan OCD memiliki awitan dan gejala yang serupa. Sekitar 90 peresen orang dengan gangguan Tourette memiliki gejala kompulsif dan sebanyak dua pertiga memenuhi kriteria diagnostik OCD.4

-          Keadaan Psikiatri lain

Keadaan psikiatri lain yang dapat terkait erat dengan OCD adalah hipokondriasi, gangguan dismorfik tubuh, dan mungkin gangguan pengendalian impuls lain, seperti kleptomania dan judi patlogis. Pada semua gangguan ini, pasien memiliki berulang (contohnya kepedulian akan tubuh) atau perilaku berulang (contohnya mencuri). 4

 

  1. VII. PERJALANAN GANGGUAN DAN PROGNOSIS

Lebih dari separuh pasien dengan OCD memiliki awitan gejala yang mendadak. Awitan gejala untuk sekitar 50 hingga 70 persen pasien terjadi setelah peristiwa yang penuh tekanan, seperti kehamilan, masa seksual, atau kematian kerabat. Karena banyak orang tetap merahasiakan gejalanya, sering terdapat penundaan 5 hingga 10 tahun sebelum pasien datang untuk mendapatkan perhatian psikiatri, walaupun penundaan mungkin memendek dengan meningkatnya keaspadaan terhadap gangguan ini. Sekitar 20-30 pasien mengalami perbaikan gejala yang signifikan dan 40 hingga 50 persen mengalami perbaikan sedang. Sisa 20 sampai 40 persen tetap sakit atau mengalami perburukan gejala.

 

  1. VIII. TERAPI
  2. Psikoterapi

Psikoterapi suportif secara pasti memiliki tempat, terutama pada pasien OCD yang walaupun gejalanya memiliki keparahan yang beragam, mampu bekerja dan melakukan penyesuaian sosial. Dengan kontak regular dan terus-menerus dengan orang yang professional, tertarik, simpatik, dan member semangat, pasien mungkin mampu berfungsi dengan bantuan ini. Kadang-kadang ketika obsesional dan anxietas mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleransi, pasien perlu dirawat inap sampai tempat singgah di institusi dan penjauhan dari stress lingkungan mengurangi gejala hingga tingkat yang dapat ditoleransi.4,6

  1. Farmakologi

Efektivitas farmakoterapi terhadap OCD terbukti melalui banyaknya percobaan klinis. Pendekatan standarnya adalah memulai dengan SSRI atau clomipramine dan kemudian berpindah strategi farmakologis lain jika obat spesifik serotonin tidak efektif.

-          Selective Serotonine Reuptake Inhibitor. SSRI telah disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi OCD. Dosis yang lebih tinggi sering diperlukan untuk memberikan efek yang lebih menguntungkan, seperti fluoxetin 80 mg perhari. Walaupun SSRI menyebabkan gangguan tidur, mual dan diare, sakit kepala, anxietas  dan kegelisahan. Efek samping ini sering sementara dan umumnya tidak menyulitkan daripada efek samping obat trisiklik seperti clomipramine. Hasil klinis terbaik didapatkan ketika SSRI dikombinasikan dengan terapi perilaku.

-          Clomipramine, adalah obat pertama yang disetujui U.S FDA untuk terapi OCD. Penggunaan dosisnya  harus dititrasi meningkat selama 2 hingga 3 minggu untuk menghindari efek samping gastrointestinal dan hipotensi ortostatik. Obat ini juga menimbulkan sedasi dan efek kolinergik yang bemakna, termasuk mulut kering dan konstipasi. Seperti SSRI, hasil terbaik bersal dari kombinasi obat dengan terapi perilaku.

  1. Terapi Perilaku

Walaupun sedikit perbandingan satu persatu yang telah dilakukan, terapi perilaku sama efektifnya dengan farmakoterapi pada OCD, dan sejumlah data menunjukkan bahwa efek menguntungkan bertahan lama dengan adanya terapi perilaku. Dengan demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi pilihan OCD. Terapi perilaku dapat dilakukan di lingkungan rawat jalan dan rawat inap. Pendekatan perilaku yang penting di dalam OCD adalah pajanan dan pencegahan respons. Desensitasi, penghentian pikiran, pembanjiran, terapi implosi dan aversive conditioning juga telah digunakan pada pasien  OCD. Di dalam terapi perilaku, pasien harus benar-benar berkomitmen terhadap perbaikan. 4

 

  1. IX. KESIMPULAN

Obsesif kompulsi terbagi atas dua yaitu obsesif dan kompulsi. Sebuah obsesi adalah pikiran berulang dan mengganggu, perasaan,dan ide  Kompulsi adalah perilaku yang berulang, disengaja atau tindakan mental orang yang merasa dipaksa untuk melakukan, biasanya dengan sebuah keinginan untuk melawan (misalnya mencuci tangan). Diantara orang dewasa, laki-laki dan perempuan sama-sama cenderung terkena, tetapi diantara remaja, laki-laki lebih lazim terkena daripada perempuan. Usia rerata awitan sekitar 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki usia sedikit lebih awal (laki-laki sekitar 19 tahun) daripada perempuan (sekitar 22 tahun).. Etiologi gangguan obsesif-kompulsif yaitu factor biologi (Neurotransmitter: Sistem noradrenergik dan Sistem serotonergik) dan faktor perilaku. Obsesi atau kompulsi merupakan ego-alien; yaitu dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pengalaman diri sebagai makhluk psikologis. Tidak peduli sedemikian kuat dan memaksanya obsesi atau kompulsi, orang tersebut biasanya mengenalinya sebagai sesuatu yang aneh dan tidak rasional. Kadang-kadang pasien terlalu menilai lebih obsesi dan kompulsi. Misalnya, seorang pasien dapat memaksa bahwa kebersihan kompulsif secara moral adalah benar walaupun ia dapat kehilangan pekerjaan karena waktu dihabiskan untuk membersihkan. Diagnosis gangguan obsesif-kompulsif berdasarkan PPGDJ-III. Terapi dapat berupa psikoterapi suportif, farmakologi, dan terapi perilaku.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Elvira, SD. Hadisukanto, G. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2010
  2. Ebert.M H. Current Diagnosis & Treatments in Psychiatry . McGraw-Hill’s Acces Medicine: 2005
  3. Sadock.BJ, Sadock. VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins: 2007
  4. Sadock, Benjamin. Buku Ajar Psikiatri Klinis ed. 2. Jakarta: 2009
  5. Anonym. Symptom of OCD- Stanford university. Available from : www.ocd.stanford.edu.
  6. McLean, PD. Woody, S.R. Anxiety Disorder in Adults. Oxford University Press: 2001
  7. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPGDJ-III. Jakarta:2003
  8. Paige, LZ. Obsessive-Compulsive Disorder. Principal Leadership : September 2007
  9. Mckay, Dean. Taylor, Steven. Abramowitz, JS. Obsessive-compulzive Disorder vol 374 : August 2009

Kategori Artikel Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , , ,ispa dengan teori blum, GANGUAN PINATRAL0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close