INVEKSI VIRUS HIV AIDS


INFEKSI HIV / AIDS

  1. I. PENDAHULUAN

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) pertama kali ditemukan ketika ada kasus yang tidak biasa yakni infeksi Pneumocystic carinii pada sekelompok lelaki muda yang homoseksual di Amerika Serikat pada tahun 1981. Kemudian diketahui kalau merupakan sebuah infeksi virus, pada tahun 1983 dan 1984 memiliki sejumlah nama, sebelum diberi nama Human Immunodeficeincy Virus (HIV) pada tahun 1986.1,2,3,4

Sejak ditemukan kasus AIDS di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1981 hingga saat ini penyakit ini selalu menarik perhatian dunia kedokteran maupun masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh penyakit baru ini menyebabkan angka kematian tinggi, jumlah penderita yang meningkat dalam waktu singkat, dan sampai sekarang belum dapat ditanggulangi dengan tuntas. Meskipun demikian banyak hal yang telah dipelajari, di samping masih banyak yang belum jelas. Di Jakarta telah ditemukan kasus – kasus penyakit ini dalam bentuk ringan dan berat.5

 

  1. II. ETIOLOGI

Gallo dan koleganya Montagnier berpostulasi bahwa varian T – Lymphotropic Retrovirus (HTLV) merupakan agen etiologis dari HIV. Dengan suatu alasan yang kuat bahwa HTLV yang menyebabkan leukemia sel T pada orang dewasa merupakan satu – satunya virus yang menginfeksi manusia pada T – helper limfosit, sel yang menjadi rusak atau menghilang pada orang – orang yang menderita AIDS. Selain afinitasnya tersebut, HTLV ditularkan melalui jalur yang sama dialami oleh penderita AIDS yakni melalui kontak seksual, dimana bentuk transmisi ini lebih efektif pada laki – laki, transmisi melalui darah dan transmisi dari ibu kepada bayi baru lahir.2,5,6

Retrovirus yang tidak bertransformasi berhasil diisolasi oleh para ilmuwan dari beberapa individu yang terkena AIDS atau sindrom yang berhubungan dengannya. Antibody terhadap retrovirus ini lalu memberi inspirasi nama Human Immunodeficiency Virus Type I (HIV – 1), yang dideteksi pada sebagian besar penderita AIDS atau preAIDS menggunakan berbagai macam tehnik serologis. Pada sel yang diisolasi tersebut HIV – 1 dibiarkan berkembang hingga akhirnya terungkap kalau reseptor dari virus tersebut adalah molekul CD4. Isolate HIV – 1 diperoleh dari semen dan susunan saraf pusat, dan spektrum penyakit ini bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga sindrom HIV primer, bahkan lebih lanjut dapat menyebabkan demensia.6

Virus HIV – 2 lalu diisolasikan pada daerah Afrika Barat dari Macaque dan Mangabeys (keduanya dari sejenis kera). Sehingga menimbulkan suatu kemungkinan kalau reservoir primate pada daerah Sub – Sahara Afrika merupakan sumber infeksi bagi manusia baik HIV – 1 maupun HIV – 2 yang entah bagaimana menginfeksi populasi manusia. 6

  1. III. EPIDEMIOLOGI

Dibeberapa Negara Afrika Tengah, misalnya Zaire, Rwanda dan Burundi penyakit ini merupakan penyakit heteroseksual. Jumlah penderita pria sama dengan wanita.5

JUMLAH PENDERITA HIV TAHUN 2001

  HIV rate, orang dewasa 15 – 49(%) Kasus total
Seluruh dunia 1,2 40.000.000
Sub – Sahara Afrika 9,0 29.000.000
Afrika Utara & Timur Tengah 0,3 500.000
Amerika Utara & Selatan 0,5 2.900.000
Eropa Barat 0,3 550.000
Eropa timur & Asia Tengah 0,5 1.000.000
Asia Timur & Pasifik 0,1 1.000.000
Asia Selatan & Tenggara 0,6 5.600.000
Australia & Selandia Baru 0,1 15.000
Britania Raya 0,1 30.000

Sumber : UNAIDS 2002

  1. IV. CARA PENULARAN HIV / AIDS

HIV ditularkan melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi, atau dengan berbagi jarum atau syringe (terutama pada injeksi obat) dengan seseorang yang terinfeksi atau dapat terjadi meski jarang melalui skrining darah untuk deteksi antibodi HIV, melalui transfusi darah atau faktor pembekuan darah dari orang yang terinfeksi. Bayi yang lahir dari wanita yang terinfeksi HIV dapat ikut terinfeksi sebelum, selama kelahiran atau melalui air susu ibu.6

Berikut ini adalah kebiasaan yang diduga oleh kalangan awam dapat menularkan HIV padahal menurut penelitian tidak seperti itu :7

  1. Berciuman

Kontak lazim dengan cara berciuman dengan mulut yang tertutup bukan merupakan faktor resiko penularan HIV. Karena faktor potensial untuk kontak dengan darah adalah french kiss atau ciuman dengan mulut terbuka, CDC merekomendasikan untuk tidak melakukan aktivitas tersebut dengan orang yang terinfeksi. Meskipun demikian resiko mendapatkan HIV melalui french kiss sangatlah rendah. CDC hanya menemukan satu kasus infeksi HIV melalui french kiss.7

  1. Gigitan manusia

Pada tahun 1997, CDC mempublikasikan penemuan dari departemen kesehatan Negara mengenai kemungkinan transmisi darah ke darah yang terinfeksi HIV melalui gigitan manusia. Juga ada laporan dari kepustakaan medis bahwa HIV kelihatannya dapat ditularkan melalui gigitan. Trauma hebat dengan robekan jaringan yang luas serta adanya darah dilaporkan pada keadaan ini. Gigitan bukan merupakan cara yang lazim untuk penularan HIV karena faktanya banyak laporan gigitan yang tidak menghasilkan penularan HIV.7

  1. Liur, air mata dan keringat

HIV ditemukan dalam liur dan air mata dalam jumlah yang sedikit pada beberapa pasien AIDS. Tetapi penting untuk dimengerti bahwa jumlah yang kecil tidak memilki makna dalam penularan. Karena HIV tidak bisa bertahan lama dalam keringat. Kontak dengan liur, air mata, atau keringat tidak pernah menyebabkan penularan HIV.7

  1. Serangga

Berdasarkan onset epidemi HIV, ada kekhawatiran penularan penyakit melalui gigitan serangga atau serangga penghisap darah. Tetapi beberapa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di CDC dan yang lainnya menunjukkan tidak ada bukti transmisi HIV melalui serangga, bahkan didaerah yang banyak kasus AIDS dan populasi serangga yang banyak seperti nyamuk.7

 

  1. V. PATOGENESIS INFEKSI

Kelainan fundamental dari orang yang terinfeksi HIV adalah penurunan progresif jumlah CD4+ T limfosit. CD4+ T limfosit penting dalam penataan sistem imun dalam menghadapi berbagai patogen dan juga tumor ganas. Interaksi antara CD4+ sel T dengan B cells, sel natural killer, sel T sitotoksik dan monosit/makrofag diaktifkan secara primer melalui pelepasan sitokin dan faktor – faktor soluble lainnya, dan kadang – kadang melalui kontak langsung sel ke sel. Sebagai tambahan, CD4+ T mensekresikan faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan diferesiansi sel lymphoid dan sel hemapoetik, dan juga fungsi dari sel lymphoid. Sehingga jelas sudah baik kelainan kualitatif maupun kuantitatif dari populasi CD4+ sel T mempunyai efek yang sangat besar dalam sistem imun manusia.6

Sebagai tambahan kelainan imunologis akibat HIV itu sendiri, organisme lain yang bersamaan menginfeksi pasien juga dapat menekan sistem imun. Dimana kedua hal tersebut dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas, terutama pada stadium akhir penyakit. Selain akibat HIV terhadap penurunan sistem imun, ternyata patogen penyerta dapat mengubah perjalanan klinis dari orang yang terinfeksi HIV. Sebagai contoh bila ternyata kondisi tersebut dapat meningkatkan transkripsi HIV yang diamati secara in vitro. Dan ini berdampak pada pasien AIDS yang mengalami koinfeksi virus lain berupa peningkatan viremia dari HIV dan deplesi besar – besaran CD4+.2

Penyebab detoriasi dari sistem imun akibat HIV bervariasi, dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk genetik dari host dan umur, tetapi mungkin gender dan pengguna narkoba tidak termasuk. Berdasarkan serokonversi, viral load dari HIV memiliki set point. Variable yang diduga menentukan set point tersebut yakni viral faktor dan faktor genetik host termasuk subtype HLA dan variasi pada permukaan sel. Set point ini berdasarkan fakta yang ada meningkat secara bertahap selama bertahun – tahun pada infeksi yang tidak diobati. Respon imun spesifik terhadap HIV setelah serokonversi sebagian dimediasi oleh CD8 sitotoksik limfosit (CTL), pusat untuk mengontrol infeksi perkembangannya sehingga viremia dapat dikendalikan dengan baik Viral load pada orang – orang tersebut rendah (terkadang tidak dapat dideteksi) dan deplesi CD4+ terjadi secara perlahan – lahan atau tidak sama sekali. Karena itu beberapa individu diistilahkan sebagai progresor lambat atau non – progresor jangka panjang.1,2,6

Pada sebagian besar pengendalian imun terhadap HIV tidak sempurna dan replikasi aktif virus terus berlanjut. Jumlah sangat besar dari virion yang berumur pendek diproduksi setiap hari. Virion – virion tersebut menghancurkan sejumlah besar sel CD4, sebagian kecil merusaknya melalui infeksi langsung. Sebagian besar dari destruksi sel CD4 akibat apoptosis, yang melibatkan pembunuhan secara autoimun atau proses lainnya yang melibatkan sel yang tidak terinfeksi HIV. Memory CD4 T – helper yakni sel spesifik untuk infeksi apabila sebelumnya pernah terpapar atau mendapatkan vaksinasi seperti pada infeksi mycobacterium dan virus herpes, secara bertahap menurun demikian pula dengan CD4. Perubahan tersebut menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi baru, reaktivasi dari sisa infeksi yang sudah tidak aktif dan perkembangan keganasan, yang sering dipicu oleh kofaktor virus.1

HIV merupakan lentivirus, sebuah subgroup dari retrovirus. Family virus ini dikenal dalam membuat infeksi laten, viremia persisten, infeksi terhadap sistem saraf dan melemahkan respon imun host. HIV memiliki afinitas tinggi terhadap CD4 T limfosit dan monosit. HIV berikatan pada sel CD4 dan berkembang didalamnya. Virus lalu mereplikasi dirinya dengan menggandakan cetakan DNA melalui reserve transcriptase. DNA virus bergabung dengan DNA host sehingga dapat terjadi replikasi lebih lanjut.3

Patofisiologi deplesi CD4+ merupakan konsekuensi dari tingginya afinitas envelope HIV terhadap molekul CD4, yang merupakan reseptor seluler untuk HIV. Pada penelitian awal ditemukan bahwa HIV khusus berkembang dalam sel CD4+, dan antibody monoclonal CD$ dapat mencegah infeksi. Beberapa epitope dari molekul CD4 penting untuk perlekatan virus, karena antibodi – antibodi dari CD4 mempunyai kapasitas yang berbeda dalam menghambat infeksi. Secara spesifik antibodi untuk T4A tetapi bukan untuk T4 dapat mencegah perlekatan HIV ke molekul CD4 dan sel yang membawa T4A tetapi bukan T4 yang terinfeksi secara in vitro. HELA line pada manusia dimana CD4- ditransfeksikan dengan klon gen CD4, menyebabkan ekspresi protein CD4 dan konsekuensi kemudahan mendapatkan infeksi HIV. Sungguh kontras karena meskipun molekul CD4 tidak dapat diinfeksi HIV tetapi dapat mendukung replikasi HIV setelah mengalami transfeksi dengan genom HIV. Ini menunjukkan kalau reseptor permukaan lainnya dapat mempermudah masuknya HIV. Diduga molekul HLA – DR dapat menjadi reseptor lain untuk HIV. Ekspresi HLA – DR ditemukan menurun secara transien setelah pemaparan virus yang berhubungan dengan penurunan persisten dari ekspresi CD4+ pada sel yang sama. Fungsi HLA – DR dalam proses infeksi untuk sementara ini masih diteliti.2

Selain dari deplesi limfosit CD4+, penelitian awal menunjukkan bahwa sel lain dapat juga tereliminasi oleh infeksi HIV. Pasien AIDS ditemukan mengalami pengurangan sel langerhans, yakni sel yang berfungsi untuk melindungi kulit. HIV juga menyebabkan berkurangnya kemoktaksis makrofag.2

Kelainan imunologis pada AIDS
Sel T :

Deplesi sel CD4+

Penurunan proliferasi antigen soluble

Penurunan respon bantuan dari PWM – induced immunoglobulin synthesis

Rusaknya sensitivitas tipe lambat*

Penurunan produksi γ – interferon sebagai respon terhadap antigen*

Penurunan proliferasi ke sel T mitogen alloantigen dank e anti – CD3

Penurunan respon AMLR

Penurunan sitotoksisitas mediasi sel ke sel yang terinfeksi virus

Penurunan produksi IL – 2

Limfopenia

Sel B :

Aktivasi poliklonal dengan hipergammaglobulinemia (IgG, IgA dan IgD), meningkatkan pembentukan spontan sel berbentuk plak dan proliferasi *

Penurunan respon humural terhadap imunitas*

Autoantibody yang bersirkulasi

Makrofag/monosit

Penurunan kemoktaksis

Sel Natural Killer :

Penurunan sitoksisitas*

Respon humoral lainnya :

Peningkatan produksi acid – labile γ – interferon

Peningkatan kompleks imun soluble

Penurunan α1 – thymosin

*kelainan yang khas

ketika jumlah CD4 lebih dari 350 sel/mm3 pasien biasanya asimtomatik, meskipun gejala konstitusi dari HIV atau infeksi oportunistik minuor dapat saja membutuhkan pengobatan. Infeksi oportunistik sebagai diagnostik AIDS biasanya terlihat pada jumlah CD4 kurang dari 200 sel/mm3 dan jarang terlihat pada jumlah CD4 lebih dari 500 sel/mm3. Beberapa penyakit yang menjadi indikator untuk AIDS tidak selamanya sesuai dengan perhitungan jumlah CD4 termasuk TB, Sarkoma Kaposi dan Lymphoma Non-Hodgkins, meskipun kesemuanya lebih sering terjadi pada jumlah CD4 yang rendah.1

Table: Infeksi Oportunistik pada HIV/AIDS

Pathogen Penyakit yang menyertai infeksi HIV
Bakteri

Pathogen kulit:

Staphylococcus aureus

Pathogen system pernapasan:

Streptococcus pneumonia

Haemophilus influenza

Pathogen Enterik:

Salmonella, Shigella, Campylobacter spp

Mycobacterium tuberculosis

Mycobacterium avium complex

 

 

Abses, furunkel

 

Pneumonia

 

 

Gastroenteritis, septicemia

TB pulmonal

TB non-pulmonal

Biasanya penyakit disseminate

Fungi

Pneumocystis carinii

Candida spp

Cryptococcus neoformans

Histoplasma capsulatum

 

Pneumonia

Retinitis

Ororpharyngeal candidiasis

Vulvovaginal candidiasis

Oesophageal candidiasis

Meningitis

Gejala-gejala system respirasi menyerupai TB (apabila berpergian/bagi para penduduk asal Amerika Serikat bagian tenggara)

Protozoa

Cryptosporidium, Microsporidium

Toxoplasma gondii

 

Diare kronik dan wasting

Ensefalitis

Virus

Herpes Simpleks 1 dan 2

 

Virus Varicella-zoster

 

Cytomegalovirus (CMV)

 

Lesi oral dan genital

Ensefalitis

Multidermatom Herpes Zoster

Zoster Ophtalmicus

Retinitis

Ensefalitis

Oesophagitis dan colitis

Adrenitis (kegagalan adrenal pada stadium akhir HIV)

Leukoencephalopathy progresif multifocal

Waktu rata-rata sejak pertama kali terkena infeksi hingga munculnya AIDS berkisar pada jarak 7-10 tahun. Tetapi terlalu dini untuk membatasi periode terlama infeksi HIV, dan selain itu ada beberapa orang yang tetap asimtomatik selama beberapa dekade. Ada suatu laporan dari sekelompok laki-laki yang didiagnosis HIV seropositif, tetapi kemudian seropositif itu menghilang dan virus juga tidak dapat dideteksi dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Tidak adanya deteksi positif virus pada awal perjalanan penyakit masih merupakan hal yang bersifat kontroversial. Pada temuan terbaru sel T CD4+ berespon secara proliferative terhadap peptide gp160 dari HIV yang dideteksi pada lima orang laki-laki dengan resiko tinggi. Salah seorang diantaranya akhirnya mengalami serokonversi, tetapi yang lain tetap seronegatif dan HIV tidak terdeteksi melalui PCR. Hal tersebut dapat mengindikasikan pemulihan dari infeksi terbatas HIV atau merupakan sebab dari banyaknya terpapar antigen HIV. Jika pada pemeriksaan selanjutnya reaksi CTL tidak ditemukan, maka akan konsisten dengan laporan yang ada mengenai respon terhadap infeksi. Lalu kemudian ada lagi laporan tentang enam orang pasien HIV-1 yang tidak bergejala padahal sudah menderita dalam jangka waktu yang lama (7-10 tahun), serta tidak ada penurunan sel CD4+ padahal mereka berenam menerima produk darah dari donor yang sama yang positif HIV. Penemuan ini diinterprestasikan sebagai infeksi dari strain jinak virus, suatu interprestasi yang dapat berujung implikasi untuk pengembangan vaksin.6

  1. VI. GEJALA KLINIS

Berdasarkan keluhan pasien biasanya ditemukan :3

Konstitusional :

-          Demam

-          Penurunan berat badan

-          Keringat malam

Gejala pada mata :

-          Penglihatan kabur

-          Penglihatan kelihatan menyebar

Telinga, hidung dan tenggorokan :

-          Disfagi

-          Sariawan

System respirasi :

-          Nafas pendek / sesak saat beraktivitas

-          Batuk

-          Nyeri dada

System gastrointestinal

-          Diare

-          Nyeri abdomen

-          Muntah

Lesi kulit dan rash

Gejala neurologis :

-          Sakit kepala

-          Perubahan status mental / demensia

Gejala psikiatrik :

-          Depresi

-          Gagasan bunuh diri

 

Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan :

Kepala, nata, telinga, hidung dan tenggorokan :

-          Oral candidiasis

-          Oral hairy leukoplakia

-          Retina dengan gambaran cottage cheese atau ketchup appearance

Leher :

-          Adenopathy persisten generalisata

-          Meningismus (lebih sering tidak bila ada meningitis crytococcal)

Paru – paru :

-          Normal

-          Ronkhi kering

-          Perubahan konsolidasi

Abdomen :

-          Nyeri tekan (contoh apabila ada penkreatitis atau penyakit traktus biliaris)

-          Hepatosplenomegali

 

Neurologis :

-          Kebingungan

-          Demensia

-          Fokal defisit

Kulit :

-          Rash makulopapular

-          Eosinophilic folicullitis

-          Herpes simpleks kronik

-          Sarcoma Kaposi

-          Molluscum contangiosum

-          Bacillary angiomatosis

-          Erupsi obat

 

  1. VII. DIAGNOSIS

Untuk menegakkan diagnosis AIDS berdasarkan gejala klinis, adanya gejala konstitusional, serta infeksi oportunistik dan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium tetapi ada juga pasien yang tidak bergejala tetapi ditemukan dalam pemeriksaan laboratorium. Sementara itu diagnosis jumlah CD4<200 sel/mm3 sebagai AIDS hanya dipakai di Amerika Serikat, tidak untuk Eropa. Tes laboratorium yang digunakan adalah:

  1. Antibody HIV (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Tes ini sensitivitas dan spesifitasnya lebih dari 95 %, hasilnya dilaporkan sebagai reaktif atau nonreaktif. Tes reaktif harus diulang, untuk mengkonfirmasi harus dilakukan berulang-ulang.

  1. Antibodi HIV (Western Blot)

Hasil tes adalah positif, negative atau tidak dapat ditentukan. Hasil tidak dapat ditentukan akibat reaksi nonspesifik HIV-negatif serta dengan beberapa protein AIDS. Hasil yang tidak dapat ditentukan harus diulang dalam 3-6 bulan. CDC merekomendasikan HIV positif, jika hasil reaksi positif ditambah setidaknya ditemukan 2 dari 3 protein virus yakni; P24, Gp41, Gp 120/160(1,3,)

 

Test Laboratorium Untuk HIV  
Test skrining :

Enzyme immunoassay (EIA)

 

 

 

Rapid Test

 

 

 

 

Tes Saliva

 

Detuned Assay

Tes untuk antibody spesifik terhadap virus

Negative pada beberapa hari pertama serokonversi

Sensitivitas dan spesifitas > 99 %

Dapat mendeteksi anti HIV-2 atau anti-HIV grup O

Generasi keempat EIA juga mendeteksi p24 antigen

Merupakan tes EIA atau aglutinasi latex yang dapat mengeluarkan hasil dalam 10 menit tetapi biasanya dikonfirmasi dengan tes standar. Dapat digunakan di klinik PMS, atau klinik Obgin dengan prevalensi populasi yang tinggi.

Sensitifitas dan spesifitas  sama baiknya dengan tes serum

Sensitifitas yang rendah EIA dapat digunakan secara kombinasi dengan assay konvensional untuk menentukan apakah infeksi HIV baru saja didapat, untuk estimasi epidemologis dari insidens, dan untuk diagnosis terhadap infeksi yang baru saja terjadi

Test Konfirmasi

Western Blot atau immunoblot

 

 

 

Deteksi DNA atau RNA HIV

 

 

 

 

 

 

 

Antigen HIV p24

 

Protein HIV berkaitan dengan bagian nitroselulose tempat berikatan dengan antibody HIV

Antibody terhadap 2 dari 3 yakni P24, gp41 dan gp 120/160 adalah diagnostic. Hasil yang tidak dapat ditentukan menunjukkan adanya serokonversi

Polymerase chain reaction atau branched DNA (bDNA) assay mendeteksi adanya dan kuantitas RNA HIV: viral load test. Digunakan jika untuk mengkonfirmasi infeksi ketika tes-tes skrining samara-samar, dan sebagai pemeriksaan pengganti. Batas deteksi lebih rendah biasanya 400 atau 50 kopi/ml, tetapi yang tersedia biasanya 5 kopi/ml.

Deteksi antigen p24 melalui EIA berguna untuk diagnose infeksi primer HIV dan sebagai pemeriksaan pengganti terhadap progresi penyakit jika tidak tersedia pemeriksaan HIV RNA.

 

Tes antibody HIV memiliki window period selama 3 bulan. Itu berarti bahwa serokonversi antibody dapat saja tidak terjadi sampai diatas 3 bulan setelah memperoleh virus. Sehingga tepat tindakan untuk menunda atau mengulang tes.1

 

  1. VIII. TERAPI

Keputusan untuk memulai terapi pada infeksi kronik HIV merupakan suatu hal yang kompleks. Pasien harus didukung dengan penuh dan diberikan pengobatan pada waktu yang tepat. Pada pasien dengan AIDS, atau dengan gejala-gejala problematik HIV yang signifikan, manfaat potensional dari pengobatan terlihat jelas dan keputusan untuk memulai tetapi dapat langsung dilakukan. Pada kasus lain, analisis resiko/manfaat kurang jelas baik kepada pasien maupun dokter yang mengobati. Beberapa pasien dapat saja menolak tetapi meskipun ada gejala-gejala yang signifikan dan immunosupresi yang berat. Keputusan yang jelas kepada pasien harus ditetapkan dan hubungan timbal balik dari suatu terapi harus ditegakkan. Panduan pengobatan harus diinterpretasikan kedalam hubungan terhadap individu. Perbedaan panduan pengobatan di Inggris dan Amerika Serikat mencerminkan suatu fakta bahwa waktu optimal untuk memulai terapi pada individu yang asimtomatik belum jelas benar. Meskipun demikian pada sebagian besar pasien, indikasi pengobatan bila;

-       Pada AIDS atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan HIV

-       Pada pesawat asimtomatik dengan jumlah CD<200 sel/mm3

-       Pada beberapa pasien dengan jumlah CD4 200-350 sel/mm3 (1,2,3)

Kombinasi obat yang direkomendasikan untuk lini pertama di Inggris adalah kombinasi dua NRTI dan satu NNRTI. Pilihan lain yang memuaskan terhadap banyak pasien adalah dua NRTI plus satu or dua protease inhibitor, atau tiga NRTI. Informasi terhadap pasien mengenai penyakit, obat yang diberikan dan efek samping harus disampaikan dengan cepat dan jelas.1

Tabel obat NRTI

Nama Obat Keterangan
Zidovudine NRTI pertama yang dilisensikan untuk mencengah transmisivertial dan profilaksis pasca pemaparan.

Mempunyai penetrasi SSP yang bangus; bukti menunjukkan bermanfaat untuk demensia karena AIDS. Bermanfaat untuk trombositopenia akibat HIV.

Efek samping berupa lelah, malaise dan mual (biasanya hilang setelah 4 minggu), anemia karena supresi terhadap sumsum tulang (3 bulan setelah memulai terapi, terutama tahap lanjut penyakit) dan meskipun jaringan dapat menyebabkan miopati. Pigmentasi di kuku dan kulit ekstremitas yang dapat terjadi pada orang kulit coklat atau hitam.

Lamivudine Mutasi tunggal pada situs 184 menyebabkan resistensi, jadi harus merupakan bagian dari regimen supresif maksimal.

Aktif terhadap hepatitis B, jadi berguna pada pasien dengan koinfeksi tetapi ada masa penghentiannya (dekompensasi hepatik).

Sangat baik ditoleransi, memiliki waktu paruh pendek dan efek jangka panjang yang jarang.

Stavudine Efek jangka pendek sedikit.

Efek jangka panjang termasuk neuropati perifer. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa stavudine yang lebih kuat menyebabkan perkembangan lipoatrofi dibandingkan NRTI yang lain.

Efektif terhadap virus yang telah resisten terhadap AZT.

Didanosine Poten sebagai kombinasi dengan AZT. Waktu paruh intraseluler yang lama. Efek samping gastrointestinal (contohnya diare) sehingga mengurangi ketaatan minum obat. Berbentuk tablet yang dapat dikunyah sehingga dapat digunakan sebagai dosis sekali sehari. Harus diminum 30 menit sebelum atau 2 jam setelah makan. Efek samping utama adalah pankreatitis, jadi jangan diberikan dengan orang dengan riwayat minum alcohol atau yang banyak meminum alkohol.
Zalcitabine Efektif tetapi sekarang jarang digunakan. Neuropati perifer dan ulserasi oral adalah efek samping yang paling signifikan .
Abacavir Mempunyai efek yang luar biasa terhadap viral load dibandingkan NRTI yang lain, tetapi dapat terjadi hipersensitivitas pada 9 % pasien, bermanifestasi sebagai demam, rash, gejala-gejala gastrointestinal atau respirasi. Dapat fatal jika obat diteruskan, atau bila dihentikan atau diberikan kembali.

 

Table obat NNRTI

Nama Obat Keterangan
Nevirapine Dimulai dengan dosis 200 mg sekali sehari selama 2 minggu, lalu ditingkatkan ke dosis teraupetik bila tidak ada rash. Awasi LFT dua minggu. LFT yang tidak normal bukan alas an penghentian, tetapi 1-5 % pasien harus berhenti karena masalah biokimia tubuh atau hepatitis.

Interaksi dengan PI (mengurangi kemampuan). Mengurangi derajat methadone.

Efavirenz Beberapa penelitian cohort dapat menyebabkan dan mempertahankan suprsi virus lebih baik dibandingkan nevirapine. Tetapi uji klinis acak yang terkontrol hasilnya tidak mendukung pendapat ini.

Waktu paruh lebih dari 40 jam, sehingga disebut sebagai pemaaf atau yang terlambat atau kehilangan dosis

Efek samping neuropsikiatrik dapat parah tetapi biasanya membaik pada permulaan 2-4 minggu.

Depresi gagasan bunuh diri ddan gejala kekaburan terhadap kepribadian kadang-kadang dilaporkan berbulan-bulan pada saat terapi.

 

 

 

 

Table Obat Protase Inhibitor (PI)

Nama Obat Keterangan
Ritonavir Diberikan dengan selang 2 jam dari Didanosine. Banyak insiden efek samping GI, khususnya diare. Kelainan lipid (terutama trigliserida). Paraetesia perifer dan sirkumoral

Penghambat poten sitokrom p450; interaksi ganda obat. Dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan apabila digunakan sendirian; 300 mg bd selama 2 hari, 400 mg bd selama 3 hari, 500 mg bd selama 7 hari, kemudian dosis penuh.

Saquinavir HGC hanya dapat diberikan bersama RTV. Efek samping: diare, mual dan dapat terjadi nyeri abdomen.
Indinavir Terjadi kristalisasi di saluran kemih. Menyebabkan terjadinya batu ginjal (nyeri pinggang, hemanturia) yang terjadi pada 4 % atau lebih jika dibooster dengan ritonavir. Membutuhkan intake cairan yang tinggi (>1,5 L per hari) dan waspada terhadap tanda-tanda dehidrasi apabila pasien berpergian, diare atau muntah. Efek samping: kulit kering, perubahan kuku dan rambut rontok
Nelfinavir Telah digunakan sebagai lini pertama obat protease karena resistensi terhadap nelfinavir tidak menyebabkan resistensi terhadap protease inhibitor lainnya. Efek samping berupa diare pada 60 % pasien.
Lopinavir/ritonavir Bukti menunjukkan efek antivirus yang lebih baik daripada PI tunggal (nelfinavir). Efek samping berupa gangguan lipid. Efektif terhadap virus yang sudah resisten terhadap PI lainnya.
Amprenavir Beban berat diminum jika diberikan sendiri (8 kapsul dua kali sehari). Tidak disetujui sebagai lini pertama tetapi karena kurang efektif dibandingkan PI lainnya atau efavirenz. Efek samping; diare dan mual terutama pada permulaan terapi.
Fos-amprenavir Obat pendahuluan dari amprenavir dengan beban minum lebih kecil.
Atazanavir Memiliki efek samping lebih ringan terhadap serum lipid dibandingkan PI lainnya.

Hiperbilirubinemia pada lebih dari 30 %, jarang terjadi jaundice. Resistensi obat tidak menyebabkan resistensi terhadap protease lainnya.

 

XI.  KEEFEKTIFAN KONDOM TERHADAP INFEKSI HIV

Kondom diklasifikasikan sebagai peralatan medis yang diatur oleh Food and Drug Administration (FDA). Produsen kondom di Amerika Serikat melakukan tes terhadap setiap kondom dari bahan latex untuk tahu apakah ada cacat atau tidak termasuk adanya lubang sebelum dipasarkan. Penggunaan yang sesuai dan konsisten dari kondom latex atau kondom polyurethane (sejenis plastik) ketika melakukan hubungan seksual baik lewat vagina, anal, atau oral dapat sangat mengurangi resiko seseorang mendapatkan tertular penyakit menular seksual, termasuk infeksi HIV.8

Agar kondom dapat menyediakan perlindungan maksimum, kondom harus digunakan secara konsisten (setiap saat) dan dengan benar. Beberapa penelitian menunjukkan kalau dengan pengggunaan yang benar dan konsisten terhadap kondom latex tingkat kerusakannya kurang dari 2 persen. Bahkan ketika kondom rusak, tetapi sebuah penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah kerusakan terjadi sebelum ejakulasi.8

Ketika kondom digunakan dengan tepat, terbukti dapat mencegah kehamilan sampai 98 persen terhadap pasangan yang menggunakannya sebagai satu-satunya metode kontrasepsi. Serupa dengan penelitian yang menunjukkan bahwa orang aktif seks yang menggunakan kondom latex terbukti mendapatkan perlindungan tinggi terhadap berbagai jenis penyakit menular seksual, termasuk infeksi HIV.7,8

Kategori Referat Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , ,askep dyspnea, contoh jurnal tentang HIV, contoh laporan kasus tentang hiv, artikel promkes hiv aids, contoh pendahuluan makalah hiv aids, karya ilmiah tentang virus dan bakteri, makalah dan askep furunkel1 Komentar

One Response to “INVEKSI VIRUS HIV AIDS”

Trackbacks/Pingbacks

  1. [...] dapat menyebabkan sel-sel otak rusak. Virus dapat menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat yang bersifat lambat dan kronik (menahun). [...]


Leave a Reply

Dijual Cepat **
BTN ASABRI, MAROS

************
Baca Juga Artikel Menarik Ini close