STROKE

 

  1. PENDAHULUAN

Menurut statistik tahunan dari organisasi kesehatan sedunia (WHO 1996), penyakit pembuluh darah otak termasuk dalam 10 penyebab kematian utama di 54 dari 57 negara. Stroke hemoragik mencakup 16,6 – 19% dari semua stroke.

Stroke adalah kematian tersering ketiga pada orang dewasa di Amerika serikat. Angka kematian setiap tahun akibat stroke baru atau rekuren adalah lebih dari 200.000. insiden stroke secara nasional diperkirakan adalah 750.000 per tahun, dengan 200.000 adalah stroke rekuren.

Stroke merupakan penyakit serebrovaskuler mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui suplai arteri otak. Istilah yang lebih lama dan masih sering digunakan adalah cerebrovascular accident (CVA).  Berdasarkan data dari seluruh dunia statistiknya bahkan lebih mencolok : penyakit jantung koroner dan stroke adalah penyebab kematian tersering pertama dan kedua serta menempati urutan kelima dan keenam sebagai penyebab kecacatan. (Murray,Lopez,1991)

  1. EPIDEMIOLOGI

Stroke adalah kematian tersering ketiga pada orang dewasa di Amerika serikat. Angka kematian setiap tahun akibat stroke baru atau rekuren adalah lebih dari 200.000. insiden stroke secara nasional diperkirakan adalah 750.000 per tahun, dengan 200.000 adalah stroke rekuren. Stroke merupakan penyakit serebrovaskuler mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui suplai arteri otak. Istilah yang lebih lama dan masih sering digunakan adalah cerebrovascular accident (CVA).

Evaluasi data base mortalitas World Health Organisation (WHO) mengisyaratkan bahwa factor utama yang berkaitan dengan “epidemi” penyakit kardiovaskular adalah perubahan global dalam gizi dan merokok ditambah urbanisasi dan menuanya populasi (WHO 1997) . insiden yang lebih tinggi ini mungkin berkaitan dengan peningkatan insiden (yang tidak diketahui penyebabnya) hipertensi pada orang amerika keturunan afrika. Walaupun orang mungkin terkena stroke pada usia berapapun,dua pertiga stroke terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Perempuan juga membentuk sekitar 43%  kasus stroke per tahun tetapi menderita 62 % kematian akibat stroke.

The national stroke Association mengajukan penjelasan bahwa risiko stroke meningkat seiring dengan usia dan bahwa perempuan hidup lebih lama dari laki-laki. Faktor resiko tambahan juga menimbulkan korban : perempuan berusia dii atas 30 tahun merokok dan mengkonsumsi kontrasepsi oral dengan kandungan estrogen yang lebih tinggi memiliki resiko stroke 22 kali lebih besar rata-rata,karena kecacatan yang sering terjadi setelah stroke dapat sangat merugikan,karena perempuan lebih besar kemungkinannya daripada pria untuk mengalami kecacatan serius setelah stroke.

Stroke adalah penyebab utama kecacatan pada orang dewasa. Empat juta orang amerika mengalami defisit neurologik akibat stroke,dua per tiga tahun bersifat sedang sampai parah (National stroke association 2001). Kemungkinan meninggal akibat stroke inisial adalah 30% sampai 35%  dan kemungkinan kecacatan mayor pada yang selamat adalah 35% sampai 40% (Wolf et al.,2000). Sampai tahun 2001,laporan tentangg insiden stroke hanya mencakup stroke simptomatik, walaupun stroke ”silent” diperkirakan 5 sampai 20 kali lebih sering terjadi (leary,saver, 2001) memperkirakan bahwa insiden pertahun stroke silent adalah lebih dari 11 juta orang.

Faktor resiko demografik mencakup usia lanjut,ras dan etnis serta riwayat stroke dalam keluarga. Kecanduan alkohol dan merokok merupakan faktor resiko utama untuk stroke adalah hipertensi kronik. Kegemukan (obesitas) merupakan faktor resiko independen untuk stroke tidak saja melalui penyakit yang diperparah dengan kegemukan seperti hipertensi,diabetes,dan peningkatan kolesterol tetapi juga melalui mekanisme lain yang belum teridentifikasi.

 

 

 

 

 

  1. ETIOLOGI

Stroke merupakan penyakit serebrovaskuler mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui suplai arteri otak. Istilah yang lebih lama dan masih sering digunakan adalah cerebrovascular accident (CVA). Berbagai gangguan patologik misalnya hipertensi menyebabkan stroke merupakan hal yang dapat diduga reproducible dan dapat dimodifikasi.

Stroke hemoragik, yang merupakan sekitar 15% sampai 20% dari semua stroke, dapat terjadi apabila lesi vaskuler intraserebrum mengalami ruptur sehingga terjadi perdarahan kedalam ruang subaraknoid atau langsung kedalam jaringan otak.sebagian dari lesi vaskular menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) adalah aneurisma sakular (Berry) dan malformasi arteriovena (MAV). Mekanisme lain stroke hemoragik adalah pemakaian kokain atau amfetamin,karena zat-zat ini dapat menyebabkan hipertensi berat dan perdarahan intraserebrum attau subaraknoid.

Perdarahan dapat dengan cepat menimbulkan gejala neurologik karena tekanan pada struktur-struktur saraf di dalam tengkorak. Iskemia adalah konsekuensi sekunder dari perdarahan baik yang spontan maupun traumatik.Mekanisme terjadinya iskemia tersebut ada dua :

1)      Tekanan pada pembuluh darah akibat ekstravasi darah kedalam tengkorak yang volumenya tetap.

2)      Vasospasme reaktif pembuluh-pembuluh darah yang terpajan kedarah bebas di dalam ruang antara lapisan araknoid dan pia mater meningen.

Biasanya stroke hemoragik secara cepat menyebabkan kerusakan fungsi otak dan kehilangan kesadaran. Namun,apabila perdarahan berlangsung lambat, pasien kemungkina besar mengalami nyeri kepala hebat,yang merupakan skenario atas perdarahan subaraknoid (PSA).tindakan pencegahan utama untuk perdarahan otak adalah mencegah cedera kepala dan mengendalikan tekanan darah.

Perdarahan dapat terjadi dimana saja dari sistem saraf. Secara umum,perdarahan didalam tengkorak diklasifikasikan berdasarkan lokasi dalam kaitannya dengan jaringan otak dan meningen oleh tipe lesi vaskular yang ada. Tipe perdarahan yang mendasari stroke hemoragik adalah intraserebrum (parenkimatosa), intraventrikel, dan PSA. Selain lesi vaskular anatomik,penyebab stroke hemoragik adalah hipertensi, gangguan perdarahan, pemberian antikoagulan yang terlalu agresif terutama pada pasien usia lanjut dan pemakaian amfetamin dan kokain intranasal.

 

  1. KLASIFIKASI

Menurut WHO TCD-NA (The application of the international classification of disease to Neurology) Hemorragic stroke di bagi atas :

 

  1. Subarachnoid Intraserebrum (Perdarahan subaraknoid)

PSA memiliki dua kausa utama : ruptur suatu aneurisma vascular dan trauma kepala. Tempat aneurisma sakuler yang lazim,yang sebagian besar terletak di sirkulus willis. Karena perdarahan dapat masif dan ekstravasasi darah kedalam ruang subaraknoid lapisan meningen dapat berlangsung cepat, maka angka kematian sangat tinggi sekitar 50% pada bulan pertama setelah perdarahan. Penyebab tingginya angka kematian ini adalah bahwa empat penyulit utama dapat menyebabkan iskemik otak serta morbiditas dan mortalitas yang dapat terjadi lama serta perdarahan terkendali. Penyulit-penyulit tersebut adalah :

a)      Vasospasme reaktif disertai infark

b)      Ruptur ulang

c)      Hiponatremia

d)     Hidrosefalus

 

Bagi pasien yang bertahan hidup setelah perdarahan awal,rupture ulang atau perdarahan ulang adalah penyulit paling berbahaya pada masa pascaperdarahan dini (Adam et al., 1997). Vasospasme adalah penyulit yang terjadi 3 sampai 12 hari setelah perdarahan awal.seberapa luas perdarahan arteri menyebabkan iskemia dan infark bergantung pada keparahan dan distribusi pembuluh-pembuluh yang terlibat.

Malformasi arteriovena (MAV) adalah jaringan kapiler yang mengalami malformasi kongenital dan merupakan penyebab PSA yang lebih jarang dijumpai. Dalam keadaan normal,jaringan kapiler terdiri dari pembuluh-pembuluh darah yang garis tengahnya hanya 8/1000 mm. karena ukurannya yang halus ini memiliki resistensi vascular tinggi yang memperlambat aliran darah sehingga oksigen dan zat makanan dapat berdifusi kejaringan otak. Pada MAV, pembuluh melebar sehingga darah mengalir di antara arteri bertekanan tinggi  dan system vena bertekanan rendah. Akhirnya, dinding venula melemah dan darah dapat keluar dengan cepat ke jaringan otak. Pada sebagian besar pasien perdarahan terjadi di intraparenkim dengan perembesan kedalam ruang subaraknoid. Perdarahan mungkin massif,yang menyebabkan kematian atau kecil dengan garis tengah 1 cm.

 

  1. Intracerebral haemorrhage (Perdarahan intraserebrum)

Perdarahan intraserebrum ke dalam jaringan otak paling sering terjadi akibat cedera vaskuler yang dipicu oleh hipertensi dan ruptur salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh kedalam jaringan otak. Stroke perdarahan intraserebrum paling sering terjadi pada pasien terjaga dan aktif sehingga kejadiannya sering disaksikan oleh orang lain.karena lokasinya dekat dengan arteri dalam,basal ganglia,dan kapsula interna yang sering menerima beban terbesar tekanan dan iskemia yang disebabkan oleh stroke tipe ini.dengan mengingat bahwa ganglia basal memodulasi fungsi motorik volunter dan bahwa semua saraf eferen dan eferen diseparuh korteks mengalami pemadatan untuk masuk dan keluar dari kapsula interna,maka dapat dilihat bahwa stroke disalah satu bagian ini diperkirakan menimbulkan deficit yang sangat merugikan.

Biasanya perdarahan dibagian dalam jaringan otak menyebabkan defisit neurologic fokal yang cepat dan memburuk secara progresif dalam beberapa menit sampai kurang dari 2 jam. Hemiparesis disisi yang berlawanan dan letak perdarahan merupakan tanda khas pertama pada keterlibatan kapsula interna.

Angka kematian untuk perdarahan intraserebrum hipertensif sangat tinggi mendekati 50%.perdarahan yang terjadi di ruang supratentorium diatas tentorium serebeli memiliki prognosis baik apabila volume darah sedikit. Namun perdarahan keruang infratentorium  didaerah pons dan serebelum memiliki prognosis yang jauh lebih buruk karena cepat timbul tekanan pada struktur vital dibatang otak.

Terapi untuk stroke hemoragik adalah menurunkan tekanan darah apabila hipertensi adalah kausanya dan melawan anti koagulasi apabila kausanya adalah gangguan perdarahan endogen atau akibat obat. Tidak banyak yang dapat dilakukan terhadap perdarahan yang sudah terjadi,seperti pada stroke iskemik penurunan tekanan darah yang terlalu cepat atau drastis dapat menyebabkan kurangnya perfusi atau meluasnya iskemia.

Pemantauan atau terapi pada peningkatan TIK serta evakuasi bekuan apabila tingkat kesadaran memburuk merupakan satu-satunya intervensi yang kemungkinan memberikan dampak positif pada prognosis. Pada pasien yang berusia kurang dari 40 tahun perlu dipikirkan pemakaian kokain sebagai kausa stroke yang disebabkan oleh perdarahan intraserebrum. Hubungan pasti antara kokain dan perdarahan masih kontroversial,walaupun diketahui bahwa kokain meningkatkan aktivitas saraf simpatis sehingga dapat menyebabkan peningkatan mendadak tekanan darah. Perdarahan terjadi di pembuluh intraserebrum atau subaraknoid. Biasanya terjadi aneurisma vaskular.

Perdarahan yang terjadi langsung kedalam ventrikel otak dijumpai yang lebih sering adalah perdarahan didalam parenkim otak yang menembus kedalam sistem ventrikel  sehingga bukti asal perdarahan menjadi kabur. Seperti pada iskemia defisit neurologik utama mencerminkan kerusakan bagian otak tertentu. Dengan demikian, gangguan lapang pandang yang terjadi pada perdarahan oksipitalis,dan kelemahan atau paralisis pada kerusakan korteks motorik lobus frontalis.

 

 

FAKTOR RISIKO

Risiko strok meningkat seiring dengan beratnya dan banyaknya faktor risiko. Data epidemiologi menunjukkan risiko untuk timbulnya serangan ulang strok adalah 30% dan populasi yang pernah menderita strok memiliki kemungkinan serangan ulang dibandingkan populasi normal. Faktor risiko strok dapat digolongkan sebagai berikut: 1.

Tidak dapat dimodifikasi : Usia , jenis kelamin, genetik,dan 2. Dapat di modifikasi : Riwayat strok,merokok, hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, Transient Ischemic Attack (TIA), hiperkolesterol, obesitas, penggunaan kontrasepsi oral.

V.        VASKULARISASI OTAK

Vaskularisasi susunan saraf pusat sangat berkaitan dengan tingkat metabolisme pada bagian tertentu dan ini berkaitan dengan banyak sedikitnya dendrit dan sinaps di daerah tersebut. Pembuluh darah utama yang menyuplai otak ialah sepasang arteria karotis interna dan sepasang arteria vertebralis. Dari kedua sumber pendarah itu akan berhubungan membentuk kolateral yang disebut sirkulus Willisi. Sistem kolateral juga dijumpai pada pembuluh-pembuluh yang berada di dalam jaringan otak. Penyaluran darah selanjutnya melalui sistem vena yang akan bermuara ke dalam sinus duramater.1,2

 

.                                   Gambar 1. Sirkulus Willisi.1

Sistem Karotis

Pembuluh utama ialah arteri carotis communis yang mempercabangkan selain arteria karotis eksterna juga arteri karotis interna yang akan banyak vaskularisasi  intrakranial terutama dalam hal ini hemisferium serebri. Cabang-cabang besar arteria karotis interna adalah: a. oftalmika, a. komunikans posterior, a. khoroidal anterior, a. serebri anterior, a. komunikans anterior, a. serebri media.

Sistem Vertebrobasiler

Sepasang arteri vertebralis kemudian bersatu menjadi arteri basilaris, akan menyuplai darah ke batang otak dan serebellum dengan tiga kelompok arteri yakni: median, paramedian, dan arteri sirkumferensial. Arteri basilaris berakhir sebagai sepasang cabang a. serebri posterior.

 

VI.       PATOFISIOLOGI

Strok hemoragik adalah suatu kondisi yang terjadi terutama disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Pembuluh darah pecah dan kemudian melepaskan darah ke otak. Penelitian menunjukkan bahwa hampir 20 persen dari strok yang terjadi merupakan strok hemoragik.

 

Gambar 2. Aneurisme yang pecah

Setelah pecahnya arteri, pembuluh darah tidak mampu membawa darah dan oksigen ke otak dan menyebabkan sel mati. Alasan lain yang dapat menyebabkan strok hemoragik adalah darah yang mengalir ke otak akibat pecahnya pembuluh darah tersebut membentuk gumpalan di dalam otak dan menyebabkan kerusakan jaringan otak. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan fungsi otak.

Perdarahan   menyebabkan   kerusakan    neurologis melalui dua cara yaitu kerusakan   otak  yang  nyata  terjadi   pada   saat perdarahan.  Ini  terutama pada kasus  dimana  hematoma meluas kemedial dan talamus serta ganglia basal rusak.. Hematoma  yang membelah korona  radiata  menyebabkan kerusakan yang kurang selluler namun mungkin  berukuran besar  dan menyebabkan penekanan serta gangguan  fungsi neurologis yang mungkin reversibel.

Gambar 3. Ruptur pembuluh darah mengakibatkan perdarahan pada otak.

Pada perdarahan intraserebral (ICH), perdarahan terjadi secara langsung ke dalam parenkim otak. Mekanisme yang biasa dianggap kebocoran dari arteri intraserebral kecil rusak oleh hipertensi kronis. mekanisme lainnya termasuk diatesis pendarahan, antikoagulasi iatrogenik, amiloidosis otak, dan penyalahgunaan kokain. perdarahan intraserebral memiliki predileksi dalam otak, termasuk talamus, putamen, otak kecil, dan batang otak. Selain daerah otak terluka oleh pendarahan, otak sekitarnya dapat rusak oleh tekanan yang dihasilkan oleh efek massa hematoma. Kenaikan umum dalam tekanan intrakranial dapat terjadi.

Strok akut sering terjadi saat atau setelah  latihan fisik.  Sekitar  dua pertiga akan  mengalami  perburukan neurologis  progresif  dan sepertiganya  dalam  defisit maksimal saat datang kerumah sakit. Penurunan kesadaran terjadi pada 60% dan duapertiganya jatuh kedalam  koma. Nyeri kepala, mual disertai muntah terjadi pada 20-40% kasus.   Gejala  ini  karena  peninggian   TIK   akibat perdarahan. Kejang jarang terjadi, sekitar  7-14%. Gejala  dan tanda lainnya bergantung ukuran dan  lokasi spesifik  dari  bekuan  darah.  Tanda  khas  perdarahan ganglia basal, biasanya putaminal, adalah defisit motor kontralateral  dan gaze ipsilateral  dengan  perubahan sensori,  visual  dan perilaku. Perubahan  pupil  terjadi akibat  herniasi unkal lobus  temporal  mengakibatkan midline shift.

 

Gejala afasia bila hemisfer dominan terkena.

 

 

 

Gambar 4. Perdarahan intraserebral dan perdarahan subaraknoid.

Perdarahan subarachnoid adalah suatu kondisi berupa perdarahan yang terjadi dalam jarak antara bagian atas otak dan tulang tengkorak. Penyebab paling umum strok hemoragik subarachnoid adalah aneurisma. Hal ini ditandai oleh pembengkakan abnormal dari pembuluh darah di dalam otak diikuti oleh pecahnya pembuluh darah yang bengkak. Pendarahan intraserebral terjadi karena pendarahan antara otak dan jaringan. Sebagian besar perdarahan intraserebral disebabkan oleh perubahan drastis dalam fungsi arteri. Hal ini juga bisa terjadi karena hipertensi jangka panjang. Namun, banyak penyebab potensial lainnya yaitu penyakit seperti kanker dan tumor otak.

 

VII.     GEJALA KLINIS

Gejala strok bisa dibedakan atas tanda akibat lesi dan tanda yang diakibatkan oleh komplikasinya. Gejala akibat lesi bisa sangat jelas dan mudah untuk didiagnosa, akan tetapi bisa sedemikian tidak jelas sehingga diperlukan kecermatan tinggi untuk mengenalinya. Pasien bisa datang dalam keadaan sadar dengan keluhan lemah spearuh badan pada saat bangun tidur atau sedang bekerja, akan tetapi tidak jarang pasien datang dalam keadaan koma sehingga memerlukan penyingkira diagnosis banding sebelum mengarah ke strok. Jenis hemoragik seringkali ditandai dengan nyeri kepala hebat terutama terjadi saat bekerja.1,3,5,6,7

Gejala-gejala umum strok dapat berupa,Kekakuan tiba-tiba, paralisis, atau kelemahan  pada muka, lengan atau kaki terutama hanya pada satu sisi badan,Masalah baru berhubungan dengan kemampuan berjalan dan keseimbangan,Perubahan penglihatan tiba-tiba,Berbicara sambil meneteskan liur atau sulit berbicara,Memiliki masalah berbicara atau memahami pernyataan sederhana, atau merasa bingung,Sakit kepala hebat yang timbul tiba-tiba yang berbeda dengan sakit kepala sebelumnya,1,3,5,8,9

Gejala-gejala pada strok hemoragik (disebabkan oleh perdarahan dalam otak) dapat mirip dengan strok iskemik tetapi dapat dibedakan dengan gejal-gejala yang berhubungan dengan tekanan intracranial yang tinggi di dalam otak, seperti nyeri kepala hebat, mual dan muntah, kekakuan pada leher, kejang, parese ringan dapat berkembang menjadi ketidakmampuan pada lengan dan kaki pada satu sisi.

 

 

Tabel 1. Perbedaan perdarahan Intra Serebral dan Perdarahan Subaraknoid

Gejala PIS PSA
Timbulnya

Nyeri Kepala

Kesadaran

Kejang

Tanda rangsangan Meningeal.

Hemiparese

Gangguan saraf otak

Dalam 1 jam

Hebat

Menurun

Umum

+/-

++

+

1-2 menit

Sangat hebat

Menurun sementara

Sering fokal

+++

+/-

+++

 

VIII.    DIAGNOSIS

Diagnosis ditujukan untuk mencari beberapa keterangan, antara lain apakah pasien menderita strok atau bukan. Anamnesis riwayat awal dapat menuntun dokter untuk menentukan kausa paling mungkin dari strok yang dialami pasien. Dari anamnesis akan ditelusuri mengenai gejala awal, waktu awitan, aktivitas penderita saat serangan, gejala lain seperti sakit kepala, mual, muntah, gangguan visual, penurunan kesadaran serta faktor risiko strok seperti adanya riwayat hipertensi, penggunaan obat obatan seperti kokain dan amfetamin, adanya riwayat penyakit perdarahan sistemik termasuk penggunaan antikoagulan mengisyaratkan suatu tanda strok hemoragik. Setelah anamnesis dilakukan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik meliputi penilaian tanda vital, pemeriksaan kepala dan leher  misalnya cedera kepala akibat jatuh, pemeriksaan thoraks, abdomen, kulit, dan ekstremitas.

Pemeriksaan neurologis sebagai penilaian yang biasa dilakukan seperti pemeriksaan saraf kranialis, rangsang selaput otak, sistem motorik, refleks, koordinasi, sensorik, dan fungsi kognitif. Dapat juga dilakukan penilaian cepat dengan teknik FAST, yaitu Face dengan meminta pasien untuk senyum dan perhatikan sisi yang lemah, Arm meminta  pasien untuk mengangkat kedua tangannya dan perhatikan tangan mana yang terjatuh lebih dulu, Speech meminta pasien untuk mengucapkan satu kalimat ringkas dan perhatikan adanya perkataan atau pengulangan yang kurang tepat, Time yakni jika ada pasien menunjukkan gejala di atas , maka sangat bermakna untuk melakukan penatalaksanaan segera. Biasanya perdarahan di bagian dalam jaringan otak menyebabkan defisit neorologik fokal yang cepat dan memburuk secara progresif dalam beberapa menit sampai kurang dari dua jam. Hemiparesis di sisi yang berlawanan dari letak perdarahan merupakan tanda khas pertama pada keterlibatan kapsula interna. Perdarahan pada ruang subaraknoid ditandai dengan adanya nyeri kepala yang sangat hebat dan tanda kaku kuduk positif

Bila penilaian cepat menunjukkan strok, maka harus segera ditentukan jenis, letak, dan luas lesi. Diagnosis secara pasti melalui pencitraan tomografi komputer (CT scan), walaupun pada beberapa keadaan seringkali tidak didapatkan abnormalitas, sehingga harus diulang 24 jam kemudian.

CT scan dapat mendeteksi lebih dari 90% kasus PSA dengan ruptur aneurisma berry. PSA pada tampilan CT Scan dapat terlihat gumpalan pada ruang subarachnoid pada sisterna basal dan sulcus atau gumpalan darah dengan diameter >1mm di fissura cerebral. Adanya koleksi darah pada sisterna subarakhnoid, didasar otak bisa dideteksi pada hari-hari pertama setelah perdarahan. Beberapa hari sampai minggu, tampak pembesaran ruang subarachnoid karena pengisian dari methemoglobin atau formasi methemoglobin . pasien yang dicurigai PSA juga dapat dilakukan diagnosis pasti dengan cara punksi lumbal apabila pada hasil CT scan meragukan atau tidak menunjukkan tanda perdarahan yakni mengambil cairan serebrospinal dan melihat kandungan didalamya. Pada PSA, lumbal punksi akan menunjukkan keberadaan sel eritrosit yang masif.

.

Pada strok hemoragik jenis  PIS, gambaran CT scan yang nampak tidak jauh berbeda dengan CT scan pada PSA. Kedua jenis perdarahan ini akan memberikan kesan hiperdens dan hanya terletak perbedaan pada lokasi lesinya, pada PIS kesan hiperdens dapat terlihat pada daerah ganglia basalis, nucleus caudatus, atau cerebellum dengan riwayat hipertensi pada pasien.

Studi diagnosis yang dianjurkan selain pemeriksaan di atas yang segera dilakukan pada penderita strok akut adalah kadar gula, elektrolit, EKG,tes fungsi ginjal, dan hitung darah lengkap. Selain hal di atas, terdapat pula beberapa sistem skor untuk mendiagnosis jenis, letak dan besarnya lesi antara lain skor Gajah Mada, Siriraj , dan Hasanuddin akan tetapi ketepatannya masih belum terlalu dapat diandalkan.

Kriteria Skor
Tekanan darah

Sistole >200; diastole <110

Sistole <200;diastole>110

 

7,5

1

Waktu serangan

Sedang bergiat

Tidak bergiat

 

6,5

1

Sakit kepala

Sangat hebat

Hebat

Ringan

Tidak ada

 

10

7,5

1

0

Kesadaran menurun

Langsung, beberapa menit s/d 1 jam setelah onset

1 – 24 jam setelah onset

Sesaat tapi  pulih kembali

>24 jam setelah onset

Tidak ada

 

10

7,5

6

1

0

Muntah proyektil

Langsung, beberapa menit s/d 1 jam setelah onset

1 – 24 jam setelah onset

Sesaat tapi  pulih kembali

>24 jam setelah onset

Tidak ada

 

10

7,5

1

0

Interpretasi : <15 strok non hemoragik, ≥15 strok hemoragik

IX.       PENATALAKSANAAN

Pengobatan strok sedini mungkin sangat penting mengingat beratnya kelainan yang timbul dan komplikasi yang akan terjadi. Penatalaksanaan yang cepat, epat, dan cermat memegang peranan besar dalam menentukan hasil akhir pengobatan. Penatalaksanaan strok hemoragik sendiri memiliki beberapa prinsip dalam penerapannya.2

-          Penatalaksanaan umum

a. Stabilisasi jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi

Airway :  Mengusahakan agar jalan nafas bebas dari segala hambatan.  Perbaiki jalan nafas termasuk pemasangan pipa orofaring pada pasien yang tidak sadar. Berikan bantuan ventilasi pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran.

Breathing : fungsi bernafas, yang mungkin terjadi akibat gangguan di pusat nafas atau oleh karena infeksi di saluran nafas dengan jalan pemberian oksigen 1-2 liter per menit sampai hasil analisa gas darah mencapai batas normal.

Circulation : dapat diatasi dengan pemberian cairan kristaloid intravena (hindari pemberian cairan hipotonik seperti glukosa)

b. Perbaikan gangguan atau komplikasi sistemik

Pada pasien strok harus diawasi gangguan lain yang dapat terjadi setelah onset seperti peningkatan tekanan intrakranial, kejang, pneumoni ,dan gangguan lainnya. Penatalaksanaanpasien dengan peningkatan tekanan intrakranial meliputi :

-          Tinggikan posisi kepala 20-300

-          Posisi pasien menghindari penekanan vena jugulare

-          Osmoterapi atas indikasi:

Mannitol bolus 1 gr/kgBB selama 20 menit diulangi setiap 4-6 jam sebnanyak 0,25-0,5 gr/kgBB selama 48 jam lalu diturunkan perlahan

Kalau perlu beri furosemide 1gr/kgBB iv

-          Intubasi untuk menjaga normoventilasi.

-          Kortikosteroid tidak direkomendasikan untuk mengatasi udem otak .

 

 

-    Penatalaksanaan spesifik

1.  Perdarahan intraserebral:

- Konservatif

1. Memperbaiki faal hemostasis : Asam traneksamat 1gr/6jam

2. Mencegah vasospasme otak akibat perdarahan dengan nimodipine

- Operatif

1. dilakukan bila volume perdarahan lebih dari 30 cc atau diameter diatas 2 cm

2. letak lobar dan kortikal dengan tanda tanda peningkatan akut dan ancaman herniasi otak

3. Hidrosefallus akibat perdarahan intraventrikel atau serebellum dan GCS >7.

2. Perdarahan subaraknoid

 

Konservatif

1. Terapi antifibrinolitik untuk mencegah perdarahan ulang direkomendasikan untuk keadaan klinis tertentu.

2. Pemberian nimodipin untuk pencegahan vasospasme dimulai dengan dosis 1-2 mg/jam iv pada hari ke 3 atau secara oral 60 mg setiap 6 jam selama 21 hari. Pemakaian nimodipine oral terbukti memperbaiki defisit neurologi yang ditimbulkan oleh vasospasme.

Operatif

1. Pasien dengan perdarahan serebelar >3cm dengan perburukan klinis atau kompresi batang otak dan hidrosefalus

2. PIS dengan lesi struktural seperti aneurisme, AVM. Clipping sangat direkomendasi untuk mencegah perdarahan ulang setelah ruptur aneurisma pada PSA ini.

3. Pasien usia muda dengan perdarahan lobar sedang sampai besar yang memburuk.

4. Pembedahan untuk mdengevakuasi hematom terhadap pasien muda dengan perdarahan lobar yang luas (>50cm‑3).

 

 

X. KOMPLIKASI

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain : 13,14,15

  1. Ischemic cerebral edema
  2. Trombosis Vena
  3. Emboli paru
  4. Aritmia jantung
  5. Kehilangan kemampuan motorik dan sensorik dari salah satu atau lebih anggota tubuh secara permanen.
  6. Kehilangan fungsi kognitif atau fungsi otak yang lain (demensia).
  7. Kontraktur sendi
  8. Spasme otot
  9. Ulkus dekubitus

10.  Infeksi saluran pernapasan dan saluran kemih

11.  Kesulitan berkomunikasi

12.  Menurunkan kemampuan untuk berinteraksi secara sosial dan merawat diri

13.  Menurunkan angka harapan hidup.

XII.     PROGNOSIS

Strok adalah penyebab ketiga kematian di negara maju. Strok hemoragik jarang terjadi tetapi bersifat lebih fatal dari strok iskemik. Sekitar 25% dari penderita strok hemoragik meninggal sebagai akibat dari strok atau komplikasinya. Sekitar 50% dapat menyebabkan cacat jangka panjang, dan 25% dapat pulih sebagian besar atau seluruh tubuhnya dapat berfungsi kembali.

XIII.    KESIMPULAN

Strok merupakan gejala dan atau tanda gangguan fungsi otak fokal maupun global yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung progresif atau menetap  atau berakhir dengan kematian, tanpa penyebab lain selain gangguan vaskuler, tanpa didahului trauma/ penyakit infeksi. Kategori dasar gangguan sirkulasi yang menyebabkan strok adalah iskemia-infark dan perdarahan intrakranium, yang masing-masing menyebabkan 80% sampai 85% dan 15% sampai 20% dari semua kasus strok. Meskipun insidens strok hemoragik atau perdarahan hanya menempati 15-20% dari kasus yang terjadi, akan tetapi strok hemoragik memiliki tingkat mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan strok iskemik.

Strok hemoragik, yang merupakan sekitar 15% sampai 20 % dari semua strok, dapat terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum mengalami ruptur sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subarkhnoid atau langsung ke dalam jaringan otak. Sebagian dari lesi vaskuler yang dapat menyebabkan perdarahan subarakhnoid  (PSA) adalah aneurisma sakular (Berry) dan malformasi arteriovena (MAV). Mekanisme lain pada strok hemoragik adalah pemakaian kokain atau amfetamin, karena zat-zat ini dapat menyebabkan hipertensi berat dan perdarahan intraserebrum atau subaraknoid.

Strok hemoragik atau strok perdarahan terdiri dari perdarahan intraserebral (PIS) dan perdarahan subarakhnoidal (PSA).  Gejala klinisnya berupa penurunan kesadaran, kejang, gangguan saraf kranial, hemiparesis/ hemiplegia, mual, muntah , defisit neurologik fokal dapat ditemukan pada perdarahan intraserebral sedangkan rangsang menings dapat ditemukan pada perdarahan subarakhnoid. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta skor Hasanuddin bila belum atau tidak dapat dilakukan CT-Scan. Pemeriksaan radiologi yang menjadi pilihan utama untuk strok adalah CT-scan maupun MRI. Pada strok hemoragik akan ditemukan gambaran hiperdens pada parenkim otak maupun dalam ruang subarakhnoid, bergantung pada lokasi terjadinya perdarahan.

Adapun pemeriksaan laboratorium lainnya seperti complete blood count, profil koagulasi, kadar elektrolit, kimia darah, laju endap darah, dan profil koagulasi juga perlu dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis bandingserta untuk menilai faktor risiko dan rencana terapi yang akan diberikan. Selain itu pemeriksaan elektrokardiogram juga penting dilakukan mengingat kejadian cardiac dysrhythmias dan myocardial ischemia sering terjadi bersamaan dengan strok. Prognosis strok hemoragik bergantung pada tingkat keparahan strok, lokasi, serta luasnya perdarahan. Strok hemoragik jarang terjadi tetapi bersifat lebih fatal dari strok iskemik. Sekitar 25% dari penderita strok hemoragik meninggal sebagai akibat dari strok atau komplikasinya.

 

Kategori Artikel Kesehatan :: Kata Kunci: , , , , ,artikel stroke, pengertian vaskularisasi, pengertian sistole dan diastole, askep hemiparese dextra, hemoparesis dextra, askep stroke hemiparese destra, kriteria stroke gajah mada, KTI stroke non hemoragik, penyakit lumpuh setengah badan, pembagian stroke, pdf contoh askep cerebro vascular accident, patofisiologi strok hemoragik adalah, lumpuh stengah tubuh penyakit ap ini, anatomi fisiologi hemorrhagic stroke, hemiparesis dextra adalah, Hemiparesis dextra, hemiparese dextra, hemiparase dextra, DIAGNOSA BANDING STROKE, artikel pengertian hemiparese dextra3 Komentar

3 Responses to “STROKE”

  1. terima kasih atas ilmunya .penjelasan tentang stroke begitu lengkap .mudah-mudahan bermanfaat ya .

  2. ghoffar says:

    penulis artikel ini siapa yaa??
    mohon untuk kasih tau saya,untuk referensi skripsi.,.,,thx

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close