OBAT ANTIPSIKOTIK

Antipsikotik (juga disebut neuroleptics) adalah kelompok obat-obatan psikoaktif umum tetapi tidak secara khusus digunakan untuk mengobati psikosis, yang ditandai oleh skizofrenia. Obat antipsikotik memiliki beberapa sinonim antara lain neuroleptik dan transquilizer mayor.Seiring waktu berbagai antipsikotik telah dikembangkan. Antipsikotik generasi pertama, yang dikenal sebagai antipsikotik tipikal, ditemukan pada 1950-an.Sebagian besar obat-obatan pada generasi kedua, yang dikenal sebagai antipsikotik atipikal, baru-baru ini telah dikembangkan, meskipun anti-psikotik atipikal pertama, clozapine, ditemukan pada 1950-an, dan diperkenalkan secara klinis pada 1970-an.Kedua kelas obat-obatan cenderung untuk memblokir reseptor di otak jalur dopamin, tetapi obat-obatan antipsikotik mencakup berbagai target reseptor.

Dopamin merupakan salah satu neurotransmitter pada manusia yang sangat berperan pada mekanisme terjadinya gangguan psikotik. Dopamin sendiri diproduksi pada beberapa area di otak, termasuk subtantia nigra  dan area ventral tegmental. Dopamin jua merupakan neurohormon yang dihasilkan oleh hipotalamus. Fungsi utama hormon ini adalah menghambat pembentukan prolaktin dan lobus anterior kelenjer pituitary.

Domain memiliki banyak fugsi di otak, termasuk peran pentingnya pada perilaku dan kognisi, pergerakan volunter, motivasi, penghambat produksi prolaktin (berperan dalam masa menyusui), tidur mood, perhatian, dan proses belajar.

Dopaminergik neurom (neuron yang menggunakan dopamin sebagai neurotransmitter utamanya . terdapat pada area ventral tegmental (AVT) pada midbrain, substantia nigra pars compacta dan nucleus arcuata pada hipotalamu, jalur dopaminergik merupakan jalur  neural pada otak yang mengirimkan dopamin dari satu regio di otak ke regio lainnya. Ada 4 jalur dopaminergik:

–          Jalur mesolimbic

Jalur mesolimbic mengirimkan dopamin dari area ventral tegmental (AVT) , ke nucleus accumbens. AVT terletak pada daerah midbrain dan nucleus accumbens pada sistem limbic

–          Jalur mesocortical

Jalur mesocortical mengirimkan dopamine dari AVT ke frontal korteks. Gangguan pada jalur ini berhubungan dengan skizofrenia

–          Jalur Nigrostriatal

Jalur nigrostrialtal mengirimkan dopamin dari subtantia nigra ke striatum. Jalur ini berhubungan dengan control motorik dan degenerasi pada jalur ini berhubungan dengan penyaikit parkinson.

–          Jalur tuberoinfundibular

Jalur tuberoinfundibular mengirimkan dopamin dari hipotalamus ke kalenjer pituitary. Jalur ini mempengaruhi hormon  tertentu termasuk prolaktin.

 

 

Skizofrenia berhubungan dengan peningkatan aktifitas pada jalur mesolimbik dan jalur mesocortical dopaminergik

Dopamin memiliki reseptor yang berguna untuk menerima sinyal yang dikirmkan dari satu bagian otak ke bagian yang lainnya. Reseptor dopamin sebenarnya dibagi menjadi 2 tipe ( D1 dan D2 ). Saat ini terdapat 5 reseptor dopamin yang digolongkan ke alam 2 tipe ini. Reseptor yang menyerupai D1  termasuk D1 dan D5. Sementara yang menyerupai D2 adalah D2,D3,D4 . penelitian terbaru menggunakan single photon emission computed tomography (SPECT) menunjukkan bahwa pada skizofrenia terdapat lebih banyak reseptor D2 yang di tempati. Hal ini menunjukkan stimulasi dopaminergik yang lebih hebat. Hal ini menyebabkan semua obat-obatan antipsikotik ditujukan untuk memblokade reseptor ini

Obat-obatan antipsikotik atipikial selain memblokade reseptor dopamin, ia juga memblokade reseptor serotonin 5HT2. Neurotransmitter serotonin sendiri punya banyak pengaruh diantaranya terhadap kecemasan, nafsu makan, kognisi, prose belajar, memori, mood, mual, tidur. termoregulasi

A number of side effects have been observed in relation to specific medications, including weight gain, agranulocytosis , tardive dyskinesia , tardive akathisia , tardive psychoses, and tardive dysphrenia .Sejumlah efek samping yang telah diamati dalam kaitannya dengan obat-obatan tertentu, termasuk penambahan berat badan, agranulocytosis, tardive dyskinesia, tardive akathisia, tardive psikosis, dan tardive dysphrenia. The development of new antipsychotics, and the relative efficacy of different ones, is an important ongoing field of research. Pengembangan antipsikotik baru, dan relatif kemanjuran yang berbeda, adalah penting bidang penelitian berkelanjutan. The most appropriate drug for an individual patient requires careful consideration. Obat yang paling tepat untuk setiap pasien memerlukan  pertimbangan yang hati-hati.

Penemuan obat generasi yang lebih baru biasanya ditujukan untuk mengoreksi kekurangan obat sebelumnya, atau untuk memperoleh obat yang lebih efektif serta memiliki efek samping yang lebih kecil. Tujuan ini berhasil diraih oleh obat antipsikotik generasi kedua. Menurut sebuah studi teranyar, dipublikasikan dalam Journal of Clinical Psychiatry edisi Desember 2007, antipsikotik generasi kedua yang diberikan secara intramuscular, ternyata efektif mengurangi agitasi dan lebih minim efek ekstrapiramidal-nya dibanding dengan antipsikotik generasi pertama.

KLASIFIKASI ANTIPSIKOTIK

  1. Antipsikotik Tipikal (Antipsikotik Generasi Pertama)

Adapun beberapa contohnya antara lain

a)      Derifat Fenotiazin

b)      Derifat Butirofenon

 

c)      Derifat Thioxanthenes

2.Anti Psikotik Atipikal

Adapun contohnya antara lain:

  • Clozapine (Clozaril)
  • Olanzapine (Zyprexa)
  • Risperidone (Risperdal)
  • Quetiapine (Seroquel)
  • Ziprasidone (Geodon)
  • Amisulpride (Solian)
  • Asenapine
  • Paliperidone
  • Ilioperidone (Fanapt) -
  • Zotepine
  • Sertindole

 

 

 

 

 

 

PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK

A.Antipsikotik Tipikal

    1) DERIVAT FENOTIAZIN

 

KLOROPROMAZIN

Prototip kelompok ini adalah kloropromazin (CPZ). Pembahasan terutama mengenai CPZ dengan mengemukakan tentang fenotiazin lain bila ada.

KIMIA. Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N- (dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivate fenotiazin lain didapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin.

FARMAKODINAMIK. CPZ(Largactil) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactil diambil dari kata large action.

 

Efek pada Susunan Saraf Pusat

CPZ menimbulkan efek sedasi yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dari lingkungan. Pada pemakaian lama, dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emosional penderita sebelum minum obat.

Klorpromazin berefek antpsikosis terlepas dari efek sedasinya. Reflex terkondisi yang diajarkan pada tikus hilang oleh CPZ. Pada manusia kepandaian pekerjaan tangan yang memerlukan kecekatan dan daya pemikiran berkurang. Aktivitas motorik diganggu antara lainterlihat sebagai efek kataleptik pada tikus. CPZ menimbulkan efek menenangkan pda hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat lain, misalnya barbiturate, narkotik, meprobamat, dan klordiazepoksid.

Berbeda dengan barbiturate, CPZ tidak dapat mencegah timbulnya konvulsi akibat rangang listrik maupun rangsang oleh obat. Semua derivate fenotiazin mempengaruhi ganglia basal, sehingga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal).

CPZ dapat mengurangi atau mencegah muntah yang disebabkan oleh rangsang pada chemoreceptor trigger zone. Muntah yang disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler, kurang dipengaruhi tetapi fenotiazin potensi tinggi dapat berguna untuk keadaan tersebut.

Fenotiazin yang terutama potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan ehingga penggunaannya pada pasien epilepsy harus sangat berhati-hati. Derivate piperazin dapat digunakan secara aman pada penderita epilepsy bila dosis diberikan bertahap dan bersama antikonvulsan.

 

Efek pada Otot Rangka.

CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada dalam keadaan spastic. Cara kerja relaksasi ini diduga bersifat sentral sebab sambungan saraf otot dan medulla spinalis tidak dipengaruhi CPZ.

 

Efek pada Endokrin.

CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi. CPZ juga menghambat sekresi ACTH. Efek terhadap system endokrin ini terjadi berdasarkan efeknya terhadap hipotalamus.

Semua fenotiazin, kecuali klozapin menimbulkan hiperprolaktinemia lewat penghambatan efek entral dopamin

 

Efek pada Kardiovaskular.

CPZ dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa hal yaitu : (1) reflek presor yang penting untuk mempertahankan tekanan darah dihambat oleh CPZ; (2) CPZ berefek α-bloker; dan (3) CPZ menimbulkan efek inotropik negative pada jantung. Toleransi dapat timbul terhadap efek hipotensif CPZ.

 

FARMAKOKINETIK. Pada umumnya semua fentiazin diabsorbsi dengan baik bila diberikan per oral maupun parenteral. Penyebaran luas ke semua jaringan dengan kadar tertinggi di paru-paru, hati, kelenjar suprarenal, dan limpa. Ebagian fenotiazin mengalami hidroksilasi dan konyugai, sebagian lain diubah menjadi sufoksid yang kemudian diekskresi bersama feses dan urin. Setelah pemberian CPZ dosis besar, maka masih ditemukan ekkresi CPZ atau metabolitnya selama 6-12 bulan.

 

EFEK SAMPING. Batas keamanan CPZ cukup lebar sehingga obat ini cukup aman. Efek samping umumnya merupakan efek perluasan farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul berupa ikterus, dermatitis dan leucopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer.

 

Neurologik. Pada dosis berlebihan, semua derivate fenotiazin dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada parkinsonisme. Dikenal 6 gejala sindrom neurologic yang karakteristik dari obat ini. Empat diantaranya biasa terjadi sewaktu obat diminum, yaitu distonia akut, akatisia, parkinsonisme dan sindrom neuroleptik malignant yang terakhir jarang terjadi. Dua sindrom yang terjadi setelah pengobatan berbulan-bulan sampai bertahun-bertahun berupa tremor perioral (jarang) dan diskinesia Tardif.

 

Kardiovaskular. Hipotensi ortostatik sering terlihat pada penderita dengan system vasomotor yang labil. Takar lajak tioridazin (lebih dari 300 mg)menyebabkan aritmia ventricular dan blok jantung. Karena efek terhadap jantung mungkin aditif dengan antitioridazin dan pimozoid dapat menyebabkan kelainan EKG mirip hipokalemia. Efek samping hipotermia dapat digunakan pada terapi hibernasi. Efek antikolinergik berupa takikardia, mulut dan tenggorok kering sering terjadi pada pemberian fenotiazin. Perlu digunakan berhati-hati pada penderita glaucoma dan hipertrofi prostat,

 

INDIKASI. Indikasi utama fenotiazin adalah skizofrenia gangguan psikosis yang tersering ditemukan. Gejala psikotik yang dipengaruhi secara baik oleh fenotiazin dan antipsikosis lain ialah ketegangan, hiperaktivitas, combativeness, hostility, halusinasi, delusi akut, susah tidur, anoreksia, perhatian diri yang buruk, negativism, dan kadang-kadang mengatasi sifat menarik diri. Pengaruhnya terhadap insight, judgement, daya ingat dan orientasi kurang. Pemebreian antipsikotik sangat memudahkan perawatan pasien. Walaupun antipsikosi angat bermanfaat untuk mengatasi gekala psikosis akut, namun pengunaan antipsikosis saja tidak mencukupi untuk merawat pasien psikotik. Perawatan, perlindungan, dan dukungan mental spiritual terhadap pasien sangatlah penting.

Semua antipsikosis kecuali mesoridazin, molindon, tioridazin, dan klozapin mempunyai efek antiemetic.

 

Domperidon. Derivate benzimidazolin ini secara in vitro merupakan antagonis dopamine, seperti CPZ. Obat ini diindikasikan pada mual dan muntah, jadi efek obat ini secara klini sangat mirip metoklopramid. Domperidon mencegah efek refluks esophagus berdasarkan efek peningkatan tonus sfingter esophagus bagian bawah. Penelitian terbatas melaporkan bahwa hasilnya memuaskan untuk dyspepsia pacamakan pada penderita diabetes dengan gatroparesis; mual dan muntah pada gastroenteritis dan akibat radiasi dan hemodialisis. Obat ini kurang berguna untuk mengatasi mual pascabedah, akibat narkotik dan kemoterapi kanker.

CPZ merupakan obat terpilih untuk mnghilangkan hiccup. Obat ini hanya diberikan pada hiccup yang berlangsung berhari-hari sangat mengganggu. Penyebab hiccup seringkali tidak dapat ditemukan, tetapi nervositas dan kelainan di esophagus atau lambung mungkin merupakan kausanya. Dalam hal yang terakhir, terapi kausal harus dilakukan.

Efek ekstrapiramidal tidak terjadi, mungkin karena obat ini tidak melewati sawar-darah otak. Dosis oral, 10 mg diberikan 4 kali sehari 15-30 menit ebelum makan. Dosis rectal 60 mg per kali. Dosis IM, 10 mg maksimum 6 kali sehari dan dosis IM pada anak 0,1-0,2 mg/kgBB, 3-6 kali sehari. Tetapi sediaan yang ada saat ini hanya tablet 50 mg dan sirup.

 

SEDIAAN. Klorpromazin tersedia dalam bentuk tablet 25 mg dan larutan suntik 25 mg/ml. larutan CPZ dapat berubah warna menjadi merah jambu oleh pengaruh cahaya.

Perfenazin tersedia sebagai obat suntik tablet 2 dan 4 mg.

Tioridazin teredia dalam bentuk tablet 25 mg.

Flufenazin teredia dalam bentuk tablet 1 mg. masa kerja flufenazin cukup lama, sampai 24jam.

 

TIORIDAZIN

Kelebihan obat ini adalah relative jarang menyebabkan rasa kantuk yang berarti. Aktifitas Antikolinergiknya jelas dan bias menyebabkan disfungsi seksual, termasuk ejakulasi retrograde. Dosis tinggi bias menyebabkan degenerasi retina, walaupun jarang terjadi. Tioridazin dapat menyebabkan aritmia ventrikel dan kini merupakan obat lini kedua.

 

 Piperazin (Flufenazin, perfenazin, dan Trifluoperazin)

Aktifitas sedative dan antikolinergiknya kurang dibandingkan klorpromazin, tetapi obat ini mungkin menyebabkan gangguan pergerakan pada orang lanjut usia,.

 

2)BUTIROFENON.

Haloperidol berguna untuk menenangkan keadaan mania penderita psikosis yang karena hal tertentu tidak dapat diberi fenotiazin. Reaksi ekstrapiramidal timbul pada 80% penderita yang diobati haloperidol. Oksipertin merupakan derivate butirofenon yang banyak persamaannya dengan CPZ. Oksipertin berefek blockade adrenergic dan antiemetic serta dapat menimbulkan parkinsonisme pada manusia dan katalepsi pada hewan.

 

FARMAKOLOGI. Struktur haloperidol berbeda dengan fenotiazin, tetapi butirofenon memperlihatkan banyak sifat farmakologi fenotiazin. Pada orang normal, efek haloperidol mirip fenotiazin piperazin. Haloperidol memperlihatkan antipsikotik yang kuat dan efektif untuk fase mania penyakit manic depresif dan skizofrenia. Efek fenotiazin piperazin dan butirofenon berbeda secara kuantitatif karena butirofenon selain menghambat efek dopamine juga menghambat turn overratenya.

 

Efek pada SUSUNAN SARAF PUSAT.

Haloperidol menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang mengalami eksitasi. Efek sedative haloperidol kurang kuat disbanding CPZ yakni memperlambat dan menghambat jumlah gelombang teta. Haloperidol dan CPZ sama kuat menurunkan ambang rangsang konvusif. Haloperidol menghambat system dopamine dan hipotalamus. Juga menghambat muntah yang ditimbulkan oleh apomorfin.

 

Efek pada system saraf otonom. Efek haloperidol terhadap system saraf otonom lebih kecil daripada efek antipsikotik lain. Walaupun demikian haloperidol dapat menyebabkan pandangan kabur (blurring of vision). Obat ini menghambat aktivasi reseptor   α yang disebabkan oleh amin simpatomimetik, tetapi hambatannya tidak sekuat hambatan CPZ.

 

Efek pada Sistem Kardiovaskular dan respirasi.

Haloperidol menyebabkan hipotensi, tetapi tidak sesering dan sehebat CPZ. Haloperidol menyebabkan takikardia meskipun kelainan EKG belum pernah dilaporkan. Klorpromazin atau haloperidol dapat menimbulkan potensiasi dengan obat penghambat respirasi.

 

Efek pada Sistem Endokrin

Seperti CPZ, haloperidol menyebabkan galaktore dan repons endokrin lain.

 

FARMAKOKINETIK. Haloperidol cepat diserap dari saluran cerna. Kadar puncaknya dalam plasma tercapai dalam waktu 206 jam sejak menelan obat, menetap sampai 72 jam dan masih dapat ditemukan dalam plasma sampai berminggu-minggu. Obat ini ditimbun dalam hati dan kira-kira 1% dari dosis yang diberikan diekskresikan melalui empedu. Ekskresi haloperidol lambat melalui ginjal, kira-kira 4e0% obat dikeluarkan selama 5 hari sesudah pemberian dosis tunggal.

 

EFEK SAMPING DAN INTOKSIKASI. Haloperidol menimbulkan reaksi ekstrapiramidal dengan insidens yang tinggi terutama pada penderita usia muda. Pengobatan dengan haloperidol harus dimulai dengan hati-hati. Dapat terjadi depresi akibat reversi keadaan mania atau sebagai efek samping yang sebenarnya. Perubahan hematologic ringan dan selintas dapat terjadi tetapi hanya agranulositosis sering dilaporkan. Frekuensi kejadian ikterus akibat haloperidol rendah. Haloperidol sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil sampai terdapat bukti bahwa obat ini tidak menimbulkan efek teratogenik.

 

INDIKASI. Indikasi utama haloperidol ialah untuk psikosis. Butirofenon merupakan obat pilihan untuk mengobati sindrom Gilles de la Tourette, suatu kelainan neurologic yang aneh yang ditandai dengan kejang otot hebat, menyeringai (grimacing) dan explosive utterances of foul expletives (coprolalia, mengeluarkan kata-kata jorok).

 

B.OBAT ANTIPSIKOTIK ATIPIKAL

Obat-obatan jenis ini disebut atipikal karena obat ini berhubungan dngan insidensi gangguan pergerakan yang lebih rendah dan ditoleransi lebih baik daripada antipsikosis lainnya. Mekanisme kerja secara umum obat ini adalah dengan menghambat reseptor diopamin D2  dan reseptor serotonin 5HT2.

1)KLOZAPIN.

Merupakan salah satu golongan obat ini yang menunjukkan efek antipsikosi lemah. Profil farmakologiknya atipikal bila dibandingkan antipsikosis yang lain. Terutama resiko timblnya efek samping ekstrapiramidal obat ini sangat minimal, dan kadar prolaktin serum pada manusia tidak ditingkatkan. Diskinesia Tardif belum pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang diberi obat ini, walaupun beberapa pasien telah diobati hingga 10 tahun. Dibandingkan terhadap psikotropik yang lain, klozapin menunjukkan efek dopaminergik lemah, tetapi dapat mempengaruhi fungsi saraf dopamine pada system mesolimbik-mesokortikal otak; yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental yang lebih tinggi, yang berbeda dari dopamine neuron di daera nigrostriatal (daerah gerak) dan tuberinfundibular (daerah neuroendokrin).

Klozapin efektif untuk mengontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif (iritabilitas) maupun yang negative (social disinterest dan incompetence, personal neatness). Efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2 minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Obat ini berguna untuk pengobatan pasien yang refrakter dan terganggu berat selama pengobatan. Selain itu, karena risiko efek samping ekstrapiramidal yangs sangat rendah, obat ini cocok untuk pasien yang menunjukkan gejala ekstrapiramidal yang berat bila diberikan antipsikosis yang lain, maka penggunaannya hanya dibatasi pada pasien yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis yang lain. Pasien yang diberi klozapin perlu dipantau jumlah sel darah putihnya setiap minggu.

 

EFEK SAMPING DAN INTOKSIKASI. Agranulositosis merupakan efek samping utama yang yang ditimbulkan pada pengobatan dengan klozapin. Pada pasien yang mendapata klozapin selama 4 minggu atau lebih, resiko terjadinya kira-kira 1,2%. Gejala ini paling sering timbul 6-18 minggu setelah pemberian obat. Pengobatan dengan obat ini tidak boleh lebih dari 6 minggu kecuali bila terlihat adanya perbaikan.

Efek samping lain yang dapat terjadi antara lain hipertermia, takikardia, sedasi, pusing kepala, hipersalivasi.

Gejala takar lajak meliputi antara lain: kantuk, letargi, koma, disorientasi, delirium, takikardia, depresi napas, aritmia, kejang dan hipertemia.

FARMAKOKINETIK. Klozapin diabsorbsi secara cepat dan sempurna pada pemberian per oral; kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 1,6 jam setelah pemberian obat. Klozapin secara ekstensif diikat protein plasma (>95%), obat ini dimetabolisme hampir sempurna sebelum diekskresi lewat urin dan tinja, dengan waktu paruh rata-rata 11,8 jam.

 

2)Olanzapine (Zyprexa)

Digunakan untuk mengobati gangguan psikotik termasuk skizofrenia, akut manic episode, dan pemeliharaan dari gangguan bipolar. Dosing 2.5 to 20 mg per day. Dosis 2,5-20 mg per hari.

3)Risperidone (Risperdal)

Dosis 0,25-6 mg per hari dan dititrasi ke atas; dibagi dianjurkan dosis titrasi awal sampai selesai, dan pada saat obat dapat diberikan sekali dalam sehari. Digunakan off-label untuk mengobati sindrom Tourette dan gangguan kecemasan.

4)Quetiapine (Seroquel)

Digunakan terutama untuk mengobati gangguan bipolar dan skizofrenia, dan “off-label” untuk mengobati kronis insomnia dan sindrom kaki resah, melainkan obat penenang yang kuat. Dosis dimulai pada 25 mg dan terus sampai maksimum 800 mg per hari, tergantung pada keparahan dari gejala (s) sedang dirawat.

5)Ziprasidone (Geodon)

Disetujui pada tahun 2006 [rujukan?] Untuk mengobati gangguan bipolar. Dosis 20 mg dua kali sehari pada awalnya sampai 80 mg dua kali sehari. Termasuk efek samping yang berkepanjangan Interval QT di jantung, yang dapat berbahaya bagi pasien dengan penyakit jantung atau mereka yang memakai obat lain yang memperpanjang interval QT.

6)Amisulpride (Solian)

Selektif dopamin antagonis. Dosis yang lebih tinggi (lebih dari 400 mg) bertindak atas post-sinaptik reseptor dopamin yang mengakibatkan pengurangan dalam gejala positif skizofrenia, seperti psikosis. Dosis yang lebih rendah, bagaimanapun, bertindak atas dopamin autoreceptors, mengakibatkan peningkatan dopamin transmisi, memperbaiki gejala negatif skizofrenia. Dosis rendah amisulpride juga telah terbukti mempunyai antidepresan dan anxiolytic efek non-pasien skizofrenia, menyebabkan dysthymia dan fobia sosial.. Amisulpride belum disetujui untuk digunakan oleh Food and Drug Administration di Amerika Serikat.

7)Asenapine

adalah 5-HT2A-dan D2-reseptor antagonis yang sedang dikembangkan untuk pengobatan skizofrenia dan mania akut berhubungan dengan gangguan bipolar.

Derivatif dari risperidone yang disetujui pada tahun 2006.

8)Ilioperidone (Fanapt) – Approved by the FDA on May 6, 2009. Ilioperidone (Fanapt) – Disetujui oleh FDA pada 6 Mei 2009.

9) ZOTEPINE.

Sebuah antipsikotik atipikal diindikasikan untuk skizofrenia akut dan kronis. It was approved in Japan circa 1982 and Germany in 1990, respectively. Ini disetujui di Jepang sekitar tahun 1982 dan Jerman pada tahun 1990, masing-masing.

 

10)Sertindole

dikembangkan oleh perusahaan farmasi Denmark H. Lundbeck .. Seperti antipsikotik atipikal yang lain, itu diyakini telah antagonis aktivitas pada reseptor dopamin dan serotonin di otak.

 

PEMILIHAN SEDIAAN

Berbeda dengan antibiotic, obat golongan ini merupakan obat simtomatik.  Disini pemilihan obat ditujukan untuk sejauh mungkin menghilangkan gejala penyakit dalam rangka pemulihan kesehatan mental penderita, obat dengan efek samping seringan mungkin, dan bebas interaksi merugikan dengan obat lain yang mungkin diperlukan.

Pemilihan sediaan obat antipsikosis dapat didasarkan atas strukur kimia serta efek farmakologik yang menyertainya. Berhubung perbedaan antargolongan antipsikosis lebih nyata daripa perbedaan masing-masing obat dalam golongannya, maka cukup dipilih salah satu obat dari tiap golongan untuk tujuan tertentu.

Menonjolnya salah satu gejala umumnya bukan merupakan patokan dalam pemilihan obat. Tidak perlu mengenal semua obat psikotik untuk pengobatan jangka panjang, tetapi 1 atau 2 obat dari tiap kelompok perlu dikenal secara baik efeknya maupun efek sampingnya. Pedoman terbaik dalam memilih obat secara individual ialah riwayat respons pasien terhadap obat.

Kecendurungan pengobatan saat ini ialah meninggalkan obat antipsikosis berpotensi rendah, misalnya klorpromazin, dan tioridazin, kearah penggunaan obat berpotensi tinggi, misalnya tiotiksen, haloperidol dan flufenazin.

Pada saat ini penggunaan klozapin dibatasi hanya diindikasikan pada pasien yang gagal diobati dosis tinggi antipsikosis konvensional dan yang mengalami diskinesia Tardif berat; sehubungan dengan efek agranulositosis dan kejang yang disebabkannya.

Sebagai pedoman pemilihan antipsikosis dapat disebutkan hal-hal sebagai berikut: (1) bila resiko tidak diketahui atau tidak ada komplikasi yang diketahui sebelumnya maka pilihan jatuh pada fenotiazin berpotensi tinggi ; (2)bila kepatuhan penderita (compliance) dalam menggunakan obat tidak terjamin, maka pilihan jatuh pada flufenazin oral dan kemudian tiap dua minggu diberikan suntikan flufenazin enantan dan ekanoat; (3) bila penderita mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular atau stroke sehingga hipotensi merupakan hal yang membahayakan maka pilihan jatuh pada fenotiazin piperazin atau haloperidol; (4)bila karena alasan usia atau factor penyakit, terdapat resiko efek samping gejala ekstrapiramidal yang nyata, maka pilihan jatuh pada tioridazin; (5) tioridazin tidak boleh digunakan apabila terdapat gangguan ejakulasi; (6) bila efek sedasi berat perlu dihindari, maka pilihan jatuh pada haloperidol atau fenotiazin piperazin; dan (7) bila penderita mempunyai kelainan hepar atau cenderung menderita ikterus, haloperidol merupakan obat yang paling aman pada stadium awal pengobatan.

Pemilihan jenis obat anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekuivalen.misalnya contoh sebagai berikut: CPZ dan Thioridazine  yang efek sedative  kuat, terutama digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala dominan: gaduh gelisah, hiperaktif, susah tidur, kekacauan pikiran, perasaan, perliaku, dan lain sebagainya. Sedangkan Trifluoroperazine, Fluphenzine dan Haloperidol yang efek samping sedatif lemah digunakan terhadap Sindrom psikosis dengan gejala dominan : apatis, menarik diri, persaan tumpul, kehilangan minat, dan inisiatif, hipoaktif, waham halusinasi dan lain-lain. Tetapi obat yang terakhir ini paling mudah menyebabkan gejala ekstrapiramidal, pada pasien yang rentan terhadap efek samping tersebut,  perlu digantikan dengan Thioridazine (dosis ekuivalen) di mana efek samping ekstrapiramidalnya sangat ringan. Untuk Pasien yang sampai timbul “Tardive Dyskinesia” obat antipsikotik yang tanpa efek samping ekstrapiramidalnya adalah Clozapine

 

KESIMPULAN

  1. Pengobatan antipsikotik ditujukan untuk menghambat aktifitas berlebihan pada neurotransmitter otak utamanya dopamin.
  2. Obat-obatan antipsikotik terbagi atas 2 jenis yaitu golongan tipikal yang hanya bekerja dengan menghambar reseptor dopamin D2 dan golongan atipikal yang selain menghambat reseptor dopamin D2, dia juga menghambat reseptor serotonin 5HT2
  3. Pemberian obat-obatan antipsikotik didasarkan pada gejala klinis yang timbul dan efek samping masing-masing obat.

Kategori Referat Kedokteran :: Kata Kunci: , , , , , , ,dumolid, obat antipsikotik, antipsikotik, antipsikotik adalah, anti psikotik, obat anti psikotik, obat stelazine, obat psikotik, antipsikosis adalah, obat antipsikotik adalah, contoh obat antipsikotik, mekanisme kerja obat antipsikotik, keuntungan dan kerugian pengobatan Clozapine, keuntungan dan kerugian dari pengobatan clozapine, mekanisme kerja haloperidol, obat anti psikosis, obat obat antipsikotik, thioridazine farmakodinamik dan farmakokinetik, obat anti psikotik apa?, pengertian antipsikotik0 Komentar

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Menarik Ini close