Tag Archive | "kanker"

LIPOMA


Definisi:

Lipoma merupakan tumor mesenkim jinak (benign mesenchymal tumors) yang berasal dari jaringan lemak (adipocytes).

Variant Lipoma:

1. Adenolipoma, variasi lipoma di payudara. Seringkali memiliki komponen marked fibrotic. Biasanya dianggap sebagai hamartoma.
2. Angiolipoma mengandung banyak pembuluh darah kecil.
3. Lipoma jantung (cardiac lipomas) dapat mengapur mengikuti nekrosis lemak.

Manifestasi Klinis:

Lipoma seringkali tidak memberikan gejala (asymptomatic).

Gejala yang muncul tergantung dari lokasi, misalnya:
• Pasien dengan lipoma kerongkongan (esophageal lipoma) dapat disertai obstruction, nyeri saat menelan (dysphagia), regurgitation, muntah (vomiting), dan reflux. Esophageal lipomas dapat berhubungan dengan aspiration dan infeksi saluran pernapasan yang berturutan (consecutive respiratory infections).
• Lipoma di saluran napas utama (major airways) dapat menyebabkan gagal napas (respiratory distress) yang berhubungan dengan gangguan bronkus (bronchial obstruction). Pasien datang dengan lesi parenkim (parenchymal lesions) atau endobronchial.
• Lipoma juga sering terjadi pada payudara, namun tak sesering yang diharapkan mengingat luasnya jaringan lemak.
• Lipoma di usus (intestines), misalnya: duodenum, jejunum, colon dapat menyebabkan nyeri perut (abdominal pain) dari obstruksi atau intussusception, atau dapat menjadi jelas melalui perdarahan (hemorrhage).
• Lipoma jantung (cardiac lipomas) terutama berlokasi di subendocardial, jarang intramural, dan normalnya tidak berkapsul (unencapsulated). Terlihat sebagai suatu massa kuning di kamar/bilik jantung (cardiac chamber).
• Lipoma juga dapat muncul di jaringan subkutan vulva. Biasanya pedunculated dan dependent.

Indikasi:

• Lipoma dihilangkan dengan alasan sbb:
o kosmetika (jenis subcutaneous lipomas)
o untuk evaluasi jaringan (histology)
o bila disertai gejala
o saat tumbuh, membesar, lebih dari 5 cm.

Terapi:

Terapi Medis:

• Terapi medis termasuk eksisi endoskopik tumor di traktus gastrointestinal bagian atas (misalnya: esophagus, perut (stomach), dan duodenum) atau colon.

Terapi Pembedahan (Surgical therapy):

Pembedahan (complete surgical excision) dengan kapsul sangatlah penting untuk mencegah kekambuhan setempat (local recurrence).

Terapi tergantung lokasi tumor.

Pada lokasi yang tidak biasanya, pemindahan lipoma menyesuaikan tempatnya.

• Pemindahan setempat diindikasikan pada lipoma di dekat saluran nafas utama (major airways). Lipoma paru-paru memerlukan resection parenkim paru-paru atau saluran pernafasan yang terlibat (the involved airway).
• Pemindahan setempat (Local removal) diindikasikan pada lipoma usus (intestinal lipomas) yang menyebabkan obstruction.
• Jika lipoma esophagus tidak dapat dipindahkan dengan endoskopi, maka diperlukan pembedahan (surgical excision).
• Lipoma pada payudara (breast lipomas) dihilangkan jika pada dasarnya meragukan.
• Lipoma usus, khususnya duodenum, sebaiknya dihilangkan baik secara endoskopi maupun pembedahan karena dapat menyebabkan obstruction, jaundice, atau perdarahan (hemorrhage).
• Lipoma pada vulva dapat dihilangkan di tempat (locally excised).

Catatan:

Lipoma terjadi pada 1% populasi.

Lipoma merupakan tumor jaringan lunak (soft tissue tumor) yang paling umum dijumpai.

Liposuction dapat dikerjakan pada lipoma kecil di wajah (small facial lipomas) karena alasan estetika.

Liposuction diindikasikan untuk perawatan lipoma sedang atau medium (misalnya, 4-10 cm) dan besar (large) (misalnya, >10 cm). Pada lipoma yang kecil, tidak ada keuntungan yang dilaporkan karena tumor dapat diekstraksi (extracted) melalui irisan kecil (small incisions).

Posted in Info PenyakitComments (0)

Masalah Histologik mengenai Chondrosarcoma


Masalah Histologik mengenai Chondrosarcoma

dr. B. Bratatjandra

Bagian Patologi Anatomik,

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN

Chondrosarcoma ialah tumor ganas dengan ciri khas pembentukan jaringan tulang rawan oleh sel-sel tumor dan merupakan tumor ganas tulang primer terbanyak kedua setelah osteosarcoma. Sebagian besar timbul “de novo ” di dalamtulang dan dinamakan chondrosarcoma primer, sedangkan lainnya berasal dari tumor tulang rawan yang jinak, sehingga merupakan chondrosarcoma sekunder. Penderita exostosis cartilaginea yang multipel dan enchondromatosis (penyakit 011ier) mudah sekali dihinggapi chondrosarcoma. Kadang-kadang tumor ini terjadi akibat terapi penyinaran atau merupakan komplikasi penyakit Paget pada tulang.

Chondrosarcoma terutama ditemukan pada tulang pelvis, iga, scapula, femur dan humerus. Jarang terjadi di dalam tulang-tulang kecil tangan dan kaki. Bila tumor terletak di dalam tulang maka dinamakan chondrosarcoma sentral dan bila di perrnukaan tulang chondrosarcoma perifer, yang oleh Jaffe dan Lichtenstein dimaksudkan hanya chondrosarcoma yang berasal dari exostosis cartilaginea. Sedangkan juxtacortical chondrosarcoma ialah chondrosarcoma di permukaan tulang yang tidak berasal dari exostosis cartilagine. Menurut Spjut dkk. serta Lichtenstein, chondrosarcoma lebih sering ditemukan pada pria daripada wanita, sedangkan Jaffe mengatakan, tidak ada perbedaan insidens.Biasanya ditemukan pada umur antara 30-60 tahun dan jarang di bawah 20 tahun.Secara makroskopik chondrosarcoma merupakan massa tumor yang bulat, condong untuk berlobi dan terdiri atas jaringan tulang rawan yang berwarna putih-kelabu sampai kebiru-biruan. Konsistensinya sangat bervariasi, ada bagian-bagian yang keras dan yang agak lembek. Secara mikroskopik bila tumor ini berdiferensiasi jelek maka mudah dikenal sebagai chondrosarcoma. Menurut Jaffe, jaringan tumor tersebut menunjukkan semua tanda-tanda ganas histologik, termasuk ditemukannya banyak mitosis. Akan tetapi bila berdiferensiasi baik maka tumor mirip dan sukar dibedakan dengan chondroma. Ciri-ciri chondrosarcoma berdiferensiasi baik yang dikemukakan oleh Lichtenstein harus dicari dengan saksama dan mungkin mula-mula memberi kesan kurang jelas sehingga sukar digunakan. Ciri-ciri ini ialah:

a) Adanya banyak sel tumor dengan inti yang”plump”.

b) Ditemukannya sel-sel tumor yang berinti dua lebih daripada secara kebetulan.

c) Adanya sel-sel datia dengan beberapa inti yang hiperkhromatik.

Kriteria Lichtenstein ini tidak berlaku untuk enchondromatosis (penyakit 011ier) dan tumor-tumor tulang rawan kecil daripada tangan. Juga pada periosteal chondromata, dan synovial chondromatosis, dapat ditemukan inti-inti yang atypik seperti pada chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik, tetapi pada “follow-up ” ternyata tidak bersifat ganas.

Degenerasi miksomatosa yang nyata juga sangat mencurigakan adanya keganasan. Karena itu pada chondrosarcoma yang berdeferensiasi baik keterangan klinik dan pemeriksaan radiologik sangat penting untuk menegakkan diagnosis .

Menurut Boyd, diagnosis yang tepat tidak dapat dibuat hanya dengan pemeriksaan histologik saja.

Chondrosarcoma pada umumnya tumbuh perlahan bila dibandingkan dengan osteosarcoma dan bermetastasis lambat. Diferensiasi tumor mempunyai efek pada prognosis, berbeda dengan sarcoma-sarcoma tulang primer lainnya. Chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik (low grade) tumbuhnya lambat dan jarang bermetastasis, sedangkan yang berdiferensiasi jelek (high grade) cepat tumbuh invasif dan condong untuk bermetastasis jauh. Untung sekali yang berdiferensiasi jelek menurut Spjut dkk. hanya merupakan 10%. Sebagai patolog kadang-kadang kami menjumpai kesulitan pada waktu menentukan chondrosarcoma. Ada beberapa masalah histopatologik yang sering dihadapi, yaitu:

1) Chondrosarcoma sering sukar dibedakan dengan osteosarcoma yang mengandung banyak tulang rawan neoplastik.

Membedakan kedua jenis tumor ini penting, baik secara akademik maupun klinik. Secara akademik asalnya kedua tumor ini berbeda. Chondrosarcoma berasal dari tulang rawan sedangkan osteosarcoma dari jaringan yang lebih primitif, yaitu jaringan mesenchym yang membentuk tulang. Secara klinik chondrosarcoma biasanya terjadi pada usia yang lebih tua, lebih jarang dijumpai , dan pada umumnya bersifat tidak begitu ganas, sehingga prognosisnya lebih baik daripada osteosarcoma. Penderita-penderita chondrosarcoma biasanya berumur di antara 30-60 tahun, sedangkan pada osteosarcoma di antara 10-25 tahun. Menurut Donald dan Budd pada tahun 1943 maka “5 year survival ” untuk osttosarcoma ialah rata-rata 11,8 % dan untuk chondrosarcoma 47 ,5%.

2) Chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik sukar dibedakau dengan suatu chondroma: Kedua jenis tumor ini harus dibedakan satu dengan yang lain karena pengobatannya sangat berbeda.

3) Chondrosarcoma kadang-kadang agak menyerupai chondromyxoid fibroma sehingga memberi kesan bahwa tumor ini mungkin berasal dari chondromyxoid fibroma. Tetapi menurut Lichtenstein dan Jaffe. chondromyxoid fibroma jarang sekali menjadi ganas.

4) Chondrosarcoma kadang-kadang mengandung selain jaringan yang serupa dengan fibrosarcoma dan myxosarcoma juga jaringan tumor lain, misalnya jaringan ieiomyosarcoma, sehingga menimbulkan kesulitan mengenai pemberian nama pada tumor tersebut. Tumor sedemikian itu sebetulnya tidak merupakan chondrosarcoma lagi, melainkan telah menjadi suatu “malignant mesenchymoma”.

BAHAN DAN CARA KERJA

Dikumpulkan kasus-kasus tumor ganas tulang yang diterima di Bagian Patologi Anatomik FKUI selama 3 tahun, yaitu dari 1978 s/d 1980. Telah ditemukan 84 kasus tumor ganas tulang dengan perincian sebagai berikut:

Tabel I. 84 kasus tumor ganas tulang dan jenisnya

Osteosarcoma                                                                          40 kasus

Chondrosarcoma                                                                     18 kasus

Tumor sel datia                                                                        9 kasus

Metastasis carcinoma                                                              6 kasus

Ossifying parosteal sarcoma                                                   3 kasus

Fibrosarcoma                                                                           3 kasus

Myeloma sel plasma                                                                2 kasus

Chordoma                                                                               1 kasus

Sarcoma Ewing                                                                       1 kasus

Sarcoma tulang (tidak dapat ditentukan jenisnya                   1 kasus

Jumlah                                                                                     84 kasus

Kedelapan belas kasus chondrosarcoma ini. diperiksa kembali secara mikroskopik. Berhubung prognosis chondrosarcoma dipengaruhi oleh diferensiasinya (1, 2) maka dilakukan usaha untuk membagi chondrosarcoma dalam 3 jenis yaitu yang berdiferensiasi baik, sedang dan jelek. Yang diambil sebagai patokan ialah kekayaan sel jaringan tumor, pleomorfi sel-sel tumor, adanya sel-sel besar (“plump cells”) dengan satu inti besar atau 2 inti yang menyolok, dan adanya mitosis.

Bila tumor masih mirip dengan chondroma, dengan perkataan lain jaringan tumor tidak seluler, pleomorfi hanya sedikit dan tidak menyolok, sel-sel “plump” tidak banyak, dan mitosis tidak atau sukar ditemukan, maka tumor semacam ini digolongkan dalam chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik.

Sebaliknya bila jaringan tumor jelas sarkomatosa, jadi seluler, pleomorfi jelas, tampak banyak

“plumpcellsbahkan sering juga sel-sel datia, dan mitosis sering ditemukan, maka tumor ini dimasukkan dalam golongan chondrosarcoma yang berdiferensiasi jelek. Gambaran histologik chondrosarcoma yang berdiferensiasi sedang terletak di antara yang berdiferensiasi baik dan jelek. Tentu saja pembagian semacam ini sangat subjektif dan individuil. Dari tiap kasus hanya dibuat 2-3 kup.

Setelah kasus-kasus chondrosarcoma diperiksa kembali maka hasilnya ialah sebagai berikut: mesenchymal chondrosarcoma 1 kasus, malignant mesenchymoma (chondrosarcoma dengan leiomyosarcoma) 1 kasus, chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik 6 kasus, chondrosarcoma yang berdiferensiasi sedang· 1 kasus, chondrosarcoma yang berdiferensiasi jelek 9 kasus, dan 1 kasus chondromyxoid fibroma (lihat Tabel II).

PEMBICARAAN

Sesuai dengan kepustakaan maka pada kasus-kasus kami frekuensi chondrosarcoma. menduduki tempat ke-2 setelah osteosarcoma, yaitu 17 kasus chondrosarcoma terhadap 40 kasus osteosarcoma. Dari kasus-kasus chondrosarcoma, yang paling sering dijumpai ialah chondrosarcoma yang berdiferensiasi jelek, yaitu 9 dari 17 kasus atau 56,3%. Berlainan dengan ini maka Spjut dkk., hanya menemukan 10% (2). Apakah ini ada hubungannya dengan stadium tumor pada waktu biopsi sukar dijawab. Pada umumnya penderita-penderita kasus kami baru datang ke rumah-sakit pada siadium yang telah agak lanjut.

Secara histologik osteosarcoma kadang-kadang sukar, bahkan kadang-kadang disalah-tafsirkan sebagai chondrosarcoma. lni terutama bila hanya dibuat sedikit potongan jaringan, sehingga kemungkinan untuk ditemukannya jaringan osteoid tidak begitu besar. Pada kasus pertama pada Tabel II, diagnosis kliniknya ialah osteosarcoma. Akan tetapi sediaan-sediaan mikroskopik yang diperiksa menunjukkan chondrosarcoma yang di samping tulang rawan neoplastik juga mengandung jaringan seluler dengan sel-sel yang kecil dan berbentuk kumparan, sehingga menyerupai jaringan mesenchym primitif dan oleh karenanya dibuat diagnosis “mesenchymal chondrosarcoma”. Pada kasus ini terdapat banyak mitosis tetapi jaringan osteoid dan sel-sel datia tidak ditemukan. Chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik secara mikroskopik kadang-kadang sukar dibedakan dengan chondroma. Ini terbukti pada kasus kami yang ke-5 yang mula-mula dibuat diagnosis chondtomyxoid fibroma, tetapi setelah dievaluasi kembali , dengan mempergunakan ciri-ciri keganasan yang dikemukakan oleh Lichtenstein, jelas merupakan chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik. Kriteria Lichtenstein ini mungkin mula-mula memberi kesan tidak jelas sehingga sukar dipergunakan, akan tetapi lama-lama dapat digunakan juga. Sayang sekali bahwa kriteria ini tidak berlaku untuk enchondromatosis, periosteal chondromata dan synovial chondromatosis, sehingga untuk diagnosis yang tepat masih diperlukan keterangan klinik yang selengkap-lengkapnya untuk dapat mengabaikan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Selain itu ahli-ahli bedah hendaknya jangan terlalu radikal bila menghadapi chondrosarcoma jenis ini, karena chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik, walaupun tumbuh infiltratif dan dapat menimbulkan residif, mula-mula tidak bermetastasis. Pada kasus ke-8 Tabel II ditemukan sel-sel tulang rawan dan sel-sel jaringan miksomatosa yang agak besar dan hiperkhromatik, sehingga mula-mula diduga merupakan chondrosarcoma yang berdiferensiasi baik atau enchondromatosis, terutama karena umur si penderita baru 9 tahun dan diagnosis kliniknya ialah fibrous dysplasia yang dapat bersifat multipel.

Setelah diperiksa kembali dengan teliti, maka di tepi daerah-daerah chondromiksoid ditemukan jaringan seluler dengan beberapa sel datia jenis osteoclast, sehingga akhirnya dibuat diagnosis chondromyxoid fibroma. Baik menurut Jaffe maupun Lichtenstein maka adanya sedikit sel yang “menakutkan” tidak berarti bahwa tumor tersebut telah menjadi ganas, karena “follow-up” menunjukkan bahwa tumor-tumor itu masih bersifat jinak. Menurut kedua penyelidik tersebut chondromyxoid fibroma juga jarang sekali menjadi ganas. Masalah yang terakhir ialah istilah apa yang sebaiknya diberikan bila suatu chondrosarcoma mengandung jaringan tumor ganas lain, selain jaringan fibrosarcoma dan myxosarcoma, misalnya jaringan leiomyosarcoma. Dalam hal ini istilah apakah yang sebaiknya dipergunakan? “Malignant mesenchymoma”, chondroleiomyosarcoma, atau chondrosarcoma saja? Keuntungan istilah “malignant mesenchymoma” ialah bahwa kita tidak perlu menentukan jenis jaringan yang terdapat di samping chondrosarcoma. Ini tidak selalu mudah, terutama bila jaringan itu diferensiasinya jelek. Tetapi sebaliknya dari istilah tersebut kita tidak dapat mengetahui bahwa tumor mengandung chondrosarcoma. Bila hanya dinamakan chondrosarcoma saja maka agaknya ini kurang tepat, karena adanya jenis jaringan tumor lain dikesampingkan begitu saja, walaupun prognosis mungkin tidak dipengaruhinya . Mungkin sebaiknya dinamakan “malignant mesenchymoma” dengan tambahan “chondrosarcoma dengan leiomyosarcoma” dalam kurung di belakangnya.

Posted in Artikel KesehatanComments (0)

“DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF DARI NUKLIR”


radiasiPada tanggal 11 Maret 2011, dunia dikagetkan dengan bencana tsunami yang terjadi di jepang. Tidak hanya memporak-porandakan Negara sakura ini tapi juga jepang dihadapakan oleh masalah baru yakni kebocoran retor nuklir.

Dalam dunia kesehatan nuklir bagaikan dua buah sisi mata uang, dapat beefek positif maupun negatif. Nuklir digunakan dalam dunia kesehatan sebagai alata untuk mendiagnosa penyakit sekaligus dapat pula memberikan terapi. Henry Bacquerel penemu radioaktivitas telah membuka cakrawala nuklir untuk kesehatan. Kalau Wilhelm Rontgen, menemukan sinar-x ketika gambar jari dan cincin istrinya ada pada film. Maka Marie Currie mendapatkan hadiah Nobel atas penemuannya Radium dan Polonium dan dengan itu pulalah sampai dengan 1960-an Radium telah digunakan untuk kesehatan. Masyarakat kedokteran menggunakan radioisotop Radium ini untuk pengobatan kanker, dan dikenal dengan Brakiterapi. Meskipun kemudian banyak ditemukan radiosiotop yang lebih menjanjikan untuk brakiterapi, sehingga Radium sudah tidak direkomendasikan lagi untuk digunakan. Radioisotop untuk diagnosa penyakit memanfaatkan instrumen yang disebut dengan Pesawat Gamma Kamera atau SPECT (Single Photon Emission Computed Thomography). Sedangkan aplikasi untuk terapi sumber radioisotop terbuka ini seringkali para pakar menyebutnya sebagai Endoradioterapi.

Namun disamping itu nuklir juga dapat memberikan efek negatif terhadap perkembangan kesehatan manusia. Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi maupun pejanan zat kimia berbahaya lainnya. Tetapi radiasi yang terlalu tingggi dapat mengalahkan mekanisme perlindungan ini.

Dr Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi yang dipejankan, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah seberapa lama korban terpejan oleh radiasi.

Ketiga faktor tersebut sangat berperan penting terhadapa dampak yang akan diterima oleh orang-orang yang terpajan reaktor nuklir. Radiasi yang terlalu tinggi dapat menimbulkan gejala akut yang dapat dirasakan oleh pasien, namun walaupun tidak terdapat gejala bukan berarti tidak menimbulkan bahaya karena radiasi dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih berbahaya.

Gejala akut yang dapat ditimbulkan oleh radiasi yang tinggi adalah sebagai berikut:

  1. Mual muntah
  2. Diare
  3. Sakit kepala
  4. Demam.
  5. Pusing, mata berkunang-kunang
  6. Disorientasi atau bingung menentukan arah
  7. Lemah, letih dan tampak lesu
  8. Kerontokan rambut dan kebotakan
  9. Muntah darah atau berak darah
  10. Tekanan darah rendah
  11. Luka susah sembuh.

Dampak reactor nuklir jangka panjang biasanya diakibatkan oleh tingkat radiasi yang rendah namun tingkat pajanan yang meningkat. Adapun dampak jangka panjang dari radiasi nuklir adalah:

1.      Kanker

2.      Penuaan dini

3.      Gangguan sistem saraf dan reproduksi

4.      Mutasi genetik

Posted in Artikel KesehatanComments (4)